Bapa yang Mengampuni

Ragam
Lukas 15:11-32
Esra A Soru
Kalau kita bertanya ‘siapa lakon (tokoh utama) dalam cerita anak yang terhilang ini? Maka jawabannya bukanlah anak bungsu atau anak sulung melainkan ‘Bapanya’. Memang, bapa itulah yang merupakan lakon dalam perumpamaan ini, karena penekanan utama dari perumpamaan ini adalah untuk menunjukkan sikap Allah kepada orang berdosa yang bertobat. Karena itu mari kita sekarang menyoroti sikap bapa ini.
1. Bapa ini Menunggu-nunggu.
Dari mana kita bisa melihat hal itu? Dari ayat 20 yang mengatakan :
“Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya. …Ayahnya itu berlari mendapatkan dia”.
Di surat kabar kita sering membaca ada orang tua, yang karena anaknya yang kurang ajar / meninggalkannya, lalu menulis bahwa mulai hari itu mereka tidak bertanggung jawab atas perbuatan anak itu. Tetapi bapa dalam perumpamaan ini tidaklah demikian. Bahkan mungkin sekali sejak kepergian anak bungsunya itu, bapa ini sering melihat ke arah jalanan, sambil mengharap kembalinya anak bungsunya ini. Karena itu pada waktu anak bungsu itu masih jauh, bapa itu telah melihatnya, dan lalu lari mendapatkannya.
Apakah saudara adalah orang berdosa yang belum pernah sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, atau apakah saudara adalah orang Kristen sejati yang telah menjauhkan diri dari Tuhan, ingatlah bahwa Bapa yang mencintai saudara itu menunggu-nunggu kedatangan/pertobatan saudara! Ia ingin saudara datang / kembali kepada Dia. Maukah saudara mengecewakan Dia, atau maukah saudara datang / kembali kepada Dia?
2. Bapa ini Tergerak oleh Belas Kasihan (ayat 20a).
Sang bapa ini melihat keadaan anaknya yang mungkin sekali kurus, kotor, berpakaian compang camping, dan hatinya tergerak oleh belas kasihan. Puji Tuhan bahwa Allah itu mempunyai belas kasihan kepada manusia berdosa. Ini menyebabkan Ia memberikan kasih karunia, yaitu hal baik yang sama sekali tidak layak kita dapatkan, kepada kita yang adalah manusia berdosa. Andaikata Allah selalu menemui orang berdosa dengan keadilan, celakalah kita! Tetapi Dia tidak demikian! Karena itu janganlah takut untuk bertobat dan datang / kembali kepada Dia.
Maz 103:8-9 – “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita”.
Kata-kata yang saya garisbawahi itu akan menunjukkan bahwa Allah tidak adil, andaikata Yesus tidak pernah menderita dan mati untuk menebus dosa kita! Tetapi dengan adanya penebusan Kristus terhadap dosa-dosa kita, Allah bisa melakukan hal itu dan tetap adil. Allah bisa mengampuni / tidak menghukum orang berdosa karena Yesus sudah membayar hutang dosa itu.
3. Bapa itu Lari Mendapatkan Anaknya, Merangkul dan Mencium Dia (ayat 20b).
Ia berlari. Ia tidak berjalan perlahan-lahan atau menunggu anaknya yang datang kepadanya, tetapi ia lari kepada anaknya. Ini menunjukkan kerinduan yang luar biasa kepada anaknya. Ia juga merangkul dan mencium anaknya padahal anaknya mungkin sekali berbau babi. Kata Yunani yang diterjemahkan ‘mencium’ sebetulnya berarti ‘kissed fervently’ (= mencium dengan keras / sungguh-sungguh). Jadi bapa itu tidak mencium asal-asalan (seperti ciuman antara suami istri yang sudah saling bosan), tetapi mencium dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang penuh kasih.
Dari semua ini jelas terlihat bahwa bapa itu tidak jual mahal dalam menerima anaknya kembali. Ia juga tidak memberikan persyaratan-persyaratan lebih dahulu sebelum menerima kembali anaknya. Bandingkan ini dengan ajaran Roma Katolik, yang kalau pastornya memberikan pengampunan dosa, selalu memberikan ‘semacam hukuman’ (acts of penance) yang harus dilakukan lebih dulu oleh orang yang minta ampun dosa. Selanjutnya ia menerima kembali anaknya dengan tangan terbuka, padahal anaknya ragu-ragu apakah bapanya mau menerimanya kembali atau tidak (ia minta diterima sebagai hamba, karena merasa tidak layak menjadi anak  (ay 19, 21).
Kalau saudara ragu-ragu apakah Allah mau menerima saudara atau tidak, maka sadarilah bahwa semua keraguan itu datang dari setan! Allah pasti mau menerima semua orang yang bertobat / datang kepadaNya melalui Kristus.
Yoh 6:37 – “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang”.
4. Bapa itu Tidak Lagi Mengingat-ingat Dosa Anak Bungsu itu.
Dalam ayat 21 anak bungsu itu mengakui dosa, tetapi jawaban bapa dalam ayat 22 sama sekali tidak menyinggung-nyinggung dosa anak bungsu itu. Di sinilah terletak keindahan kasih Allah! Kalau kita manusia mengampuni seseorang, kita masih mengingat kesalahan orang itu. Tetapi kalau Bapa mengampuni kesalahan kita, Ia tidak mengingat-ingatnya lagi!
Yes 43:25 – “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu”.
Mikha 7:19 – “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kembali kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut”.
5. Bapa itu Menerima Anak Bungsu itu Sebagai Anak.
Ini terlihat dari ayat 18b-19 di mana anak itu merencanakan untuk berkata :
“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”
Tetapi dalam ayat 21 ia baru mengucapkan :
“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa”.
Sebelum ia mengucapkan kata-kata “jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”, bapanya sudah memotong kata-katanya. Bapanya tidak mau mendengarkan kata-kata yang berhubungan dengan ketidaklayakkan anak itu menjadi anak. Mengapa? Jelas karena ia mau menerimanya sebagai anak.
Yoh 1:12 – “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya”.
Selain itu ini juga terlihat dari tindakan bapa itu yang lalu memerintahkan supaya anak itu diberi jubah, cincin dan sepatu (ay 22). Bapa itu menyuruh memberi jubah (bukan koteka) yang adalah tanda kehormatan (Ester 6:8-9). Bapa itu menyuruh memberi cincin, yang merupakan pemberian otoritas (Ester 3:10  8:2). Bapa itu menyuruh memberi sepatu (ini seharusnya adalah ‘sandal’). Perlu diketahui bahwa seorang hamba selalu telanjang kaki. Semua pemberian ini menunjukkan secara jelas bahwa Bapa itu menerima anak itu sebagai anak.
6. Bapa itu Mengadakan Pesta (ayat 23-24 ; band. Luk 15:7,10).
Kalau saudara adalah orang berdosa yang belum pernah datang kepada Kristus, datanglah sekarang juga kepada Bapa melalui Yesus Kristus yang adalah satu-satunya Penebus, Juruselamat dan Pengantara antara Allah dan manusia! Dia pasti menerima saudara! Kalau saudara adalah orang Kristen yang sudah menjauh dari Tuhan, bertobatlah dan kembalilah kepadaNya. Ia pasti mau menerima saudara!

Lukas 15:11-32

Esra A Soru

Kalau kita bertanya ‘siapa lakon (tokoh utama) dalam cerita anak yang terhilang ini? Maka jawabannya bukanlah anak bungsu atau anak sulung melainkan ‘Bapanya’. Memang, bapa itulah yang merupakan lakon dalam perumpamaan ini, karena penekanan utama dari perumpamaan ini adalah untuk menunjukkan sikap Allah kepada orang berdosa yang bertobat. Karena itu mari kita sekarang menyoroti sikap bapa ini.

1. Bapa ini Menunggu-nunggu.

Dari mana kita bisa melihat hal itu? Dari ayat 20 yang mengatakan :

“Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya. …Ayahnya itu berlari mendapatkan dia”.

Di surat kabar kita sering membaca ada orang tua, yang karena anaknya yang kurang ajar / meninggalkannya, lalu menulis bahwa mulai hari itu mereka tidak bertanggung jawab atas perbuatan anak itu. Tetapi bapa dalam perumpamaan ini tidaklah demikian. Bahkan mungkin sekali sejak kepergian anak bungsunya itu, bapa ini sering melihat ke arah jalanan, sambil mengharap kembalinya anak bungsunya ini. Karena itu pada waktu anak bungsu itu masih jauh, bapa itu telah melihatnya, dan lalu lari mendapatkannya.

Apakah saudara adalah orang berdosa yang belum pernah sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, atau apakah saudara adalah orang Kristen sejati yang telah menjauhkan diri dari Tuhan, ingatlah bahwa Bapa yang mencintai saudara itu menunggu-nunggu kedatangan/pertobatan saudara! Ia ingin saudara datang / kembali kepada Dia. Maukah saudara mengecewakan Dia, atau maukah saudara datang / kembali kepada Dia?

2. Bapa ini Tergerak oleh Belas Kasihan (ayat 20a).

Sang bapa ini melihat keadaan anaknya yang mungkin sekali kurus, kotor, berpakaian compang camping, dan hatinya tergerak oleh belas kasihan. Puji Tuhan bahwa Allah itu mempunyai belas kasihan kepada manusia berdosa. Ini menyebabkan Ia memberikan kasih karunia, yaitu hal baik yang sama sekali tidak layak kita dapatkan, kepada kita yang adalah manusia berdosa. Andaikata Allah selalu menemui orang berdosa dengan keadilan, celakalah kita! Tetapi Dia tidak demikian! Karena itu janganlah takut untuk bertobat dan datang / kembali kepada Dia.

Maz 103:8-9 – “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita”.

Kata-kata yang saya garisbawahi itu akan menunjukkan bahwa Allah tidak adil, andaikata Yesus tidak pernah menderita dan mati untuk menebus dosa kita! Tetapi dengan adanya penebusan Kristus terhadap dosa-dosa kita, Allah bisa melakukan hal itu dan tetap adil. Allah bisa mengampuni / tidak menghukum orang berdosa karena Yesus sudah membayar hutang dosa itu.

3. Bapa itu Lari Mendapatkan Anaknya, Merangkul dan Mencium Dia (ayat 20b).

Ia berlari. Ia tidak berjalan perlahan-lahan atau menunggu anaknya yang datang kepadanya, tetapi ia lari kepada anaknya. Ini menunjukkan kerinduan yang luar biasa kepada anaknya. Ia juga merangkul dan mencium anaknya padahal anaknya mungkin sekali berbau babi. Kata Yunani yang diterjemahkan ‘mencium’ sebetulnya berarti ‘kissed fervently’ (= mencium dengan keras / sungguh-sungguh). Jadi bapa itu tidak mencium asal-asalan (seperti ciuman antara suami istri yang sudah saling bosan), tetapi mencium dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang penuh kasih.

Dari semua ini jelas terlihat bahwa bapa itu tidak jual mahal dalam menerima anaknya kembali. Ia juga tidak memberikan persyaratan-persyaratan lebih dahulu sebelum menerima kembali anaknya. Bandingkan ini dengan ajaran Roma Katolik, yang kalau pastornya memberikan pengampunan dosa, selalu memberikan ‘semacam hukuman’ (acts of penance) yang harus dilakukan lebih dulu oleh orang yang minta ampun dosa. Selanjutnya ia menerima kembali anaknya dengan tangan terbuka, padahal anaknya ragu-ragu apakah bapanya mau menerimanya kembali atau tidak (ia minta diterima sebagai hamba, karena merasa tidak layak menjadi anak  (ay 19, 21).

Kalau saudara ragu-ragu apakah Allah mau menerima saudara atau tidak, maka sadarilah bahwa semua keraguan itu datang dari setan! Allah pasti mau menerima semua orang yang bertobat / datang kepadaNya melalui Kristus.

Yoh 6:37 - “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang”.

4. Bapa itu Tidak Lagi Mengingat-ingat Dosa Anak Bungsu itu.

Dalam ayat 21 anak bungsu itu mengakui dosa, tetapi jawaban bapa dalam ayat 22 sama sekali tidak menyinggung-nyinggung dosa anak bungsu itu. Di sinilah terletak keindahan kasih Allah! Kalau kita manusia mengampuni seseorang, kita masih mengingat kesalahan orang itu. Tetapi kalau Bapa mengampuni kesalahan kita, Ia tidak mengingat-ingatnya lagi!

Yes 43:25 – “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu”.

Mikha 7:19 - “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kembali kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut”.

5. Bapa itu Menerima Anak Bungsu itu Sebagai Anak.

Ini terlihat dari ayat 18b-19 di mana anak itu merencanakan untuk berkata :

“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa

Tetapi dalam ayat 21 ia baru mengucapkan :

“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa”.

Sebelum ia mengucapkan kata-kata “jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”, bapanya sudah memotong kata-katanya. Bapanya tidak mau mendengarkan kata-kata yang berhubungan dengan ketidaklayakkan anak itu menjadi anak. Mengapa? Jelas karena ia mau menerimanya sebagai anak.

Yoh 1:12 – “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya”.

Selain itu ini juga terlihat dari tindakan bapa itu yang lalu memerintahkan supaya anak itu diberi jubah, cincin dan sepatu (ay 22). Bapa itu menyuruh memberi jubah (bukan koteka) yang adalah tanda kehormatan (Ester 6:8-9). Bapa itu menyuruh memberi cincin, yang merupakan pemberian otoritas (Ester 3:10  8:2). Bapa itu menyuruh memberi sepatu (ini seharusnya adalah ‘sandal’). Perlu diketahui bahwa seorang hamba selalu telanjang kaki. Semua pemberian ini menunjukkan secara jelas bahwa Bapa itu menerima anak itu sebagai anak.

6. Bapa itu Mengadakan Pesta (ayat 23-24 ; band. Luk 15:7,10).

Kalau saudara adalah orang berdosa yang belum pernah datang kepada Kristus, datanglah sekarang juga kepada Bapa melalui Yesus Kristus yang adalah satu-satunya Penebus, Juruselamat dan Pengantara antara Allah dan manusia! Dia pasti menerima saudara! Kalau saudara adalah orang Kristen yang sudah menjauh dari Tuhan, bertobatlah dan kembalilah kepadaNya. Ia pasti mau menerima saudara!

You must be logged in to post a comment.

Trackback URL for this entry

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.