Arsip untuk ‘Khotbah’

Kamulah Garam Dunia

Khotbah
Matius 15:13
Esra Soru
Ayat ini berkata bahwa kita adalah garam dunia. Kalau kita digambarkan sebagai ‘garam’ itu tidak berarti bahwa kita harus sama dengan garam dalam segala hal. Ini sama seperti kalau saudara mengatakan kepada seseorang ‘kamu itu seperti babi’. Tentu saudara hanya menyamakan dia dengan babi dalam hal-hal tertentu, bukan dalam segala sesuatu. …» Baca selengkapnya »

Kamulah Terang Dunia

Khotbah
Mat 5:14-16
Esra Soru

Dalam ayat ini (Mat 5:14) dikatakan bahwa kita adalah terang dunia. Kalau hal ini dipikir lebih luas maka sebetulnya kita bukan terang dunia (bdk. Yoh 1:6-8). Tuhan Yesuslah yang merupakan Terang dunia (Yoh 1:9  8:12  9:5). …» Baca selengkapnya »

Pemeliharaan Tuhan Yang Ajaib

Khotbah
1 Raj 17:1-16
Esra Soru

1 Raj 17:1-16 : (1) Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: “Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.” (2) Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya: (3) “Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. …» Baca selengkapnya »

Iman Yang Dewasa

Khotbah
2 Tim 3:10-17
Esra Soru

2 Tim 3:10-17 – (10) Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. (11) Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. …» Baca selengkapnya »

Anak yang Terhilang

Khotbah

Lukas 15:11-32

Esra A Soru

Dalam kisah ini kita melihat bahwa sang bapa yang diceritakan di sana mempunyai dua orang anak yaitu si sulung dan si bungsu. Tetapi dalam konteks ini, yang dimaksud dengan anak yang terhilang di sini adalah si bungsu. Si bungsu ini dalam perumpamaan ini sebagai gambaran dari orang berdosa. …» Baca selengkapnya »

Ibadah dan Kerja

Khotbah
Kej 1:28
Esra A Soru
Ibadah dan Kerja. Ini tentu adalah tema yang bagus dan menarik. Mengapa? Karena tema ini ingin mempertemukan dua hal yang seolah-olah bertolak belakang. Di satu sisi ada orang yang bekerja sampai lupa beribadah. Mereka terlalu sibuk dengan urusan-urusan pekerjaan di kantor, di laut, di kebun, di pasar dan tempat-tempat lainnya sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan atau lupa untuk beribadah kepada Tuhan. Itulah sebabnya Mat 6:33 berkata :
‘Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu’.
Di sisi yang lain ada orang-orang yang terlalu bersemangat dalam beribadah sampai mereka lupa untuk bekerja. Bagi mereka, ibadah adalah segala-galanya. Dan mereka bisa menghabiskan seluruh waktu mereka untuk beribadah dan enggan untuk bekerja. Aliran-aliran sesat yang berkaitan dengan akhir zaman yang sering menubuatkan bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali tanggal sekian bulan sekian tahun sekian biasanya mempunyai gejala semacam ini. Mereka biasanya menghentikan diri dari segala macam aktivitas dunia dan hanya berkonsentrasi pada ibadah (menyanyi, berdoa, baca Kitab Suci) saja. Ambil contoh grupnya Mangapin Sibuea yang heboh beberapa tahun yang lalu yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali di kampung Baleendah di Bandung pada tanggal 10 November 2003. Mereka lalu berkumpul di kampung itu dan hanya beribadah mempersiapkan diri menanti kedatangan Tuhan Yesus dan menghentikan diri dari berbagai aktivitas pekerjaan. Ada begitu banyak orang dari NTT yang termakan tipu daya si Sibuea itu dan menjual semua harta benda mereka (rumah, sawah, tanah, dll) bahkan ada juga yang mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri hanya untuk pergi ke Baleendah untuk menanti kedatangan Tuhan Yesus. Demikian juga dengan sekte pimpinan Jim Jones di Amerika yang karena percaya bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali pada tanggal, bulan dan tahun tertentu lalu menyerukan kepada semua pengikutnya : ‘Hai suami-suami, ceraikanlah isterimu, hai isteri-isteri, ceraikanlah suamimu. Juallah rumahmu dan semua hartamu, berhentilah dari segala pekerjaan duniawi, para pelajar, berhentilah dari sekolah/kuliahmu dan marilah berhimpun bersama menyongsong kedatangan Tuhan Yesus’. Itulah ciri-ciri dari hampir semua sekte akhir zaman. Berhenti dari segala macam pekerjaan dan hanya beribadah saja. Jadi ada orang-orang yang hanya mau bekerja dan lupa ibadah, ada orang lain lagi yang hanya mau beribadah dan lupa bekerja.
Bagaimana pandangan Alkitab tentang kedua sikap ekstrim ini ? Ternyata Alkitab mengecam keduanya. Alkitab mengecam orang yang tidak mau beribadah dan juga mengecam orang yang tidak mau bekerja. Bagi orang yang tidak mau beribadah, Kitab Suci berkata :
“Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu — kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kau dirikan;  rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kau isi; sumur-sumur yang tidak kau gali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kau tanami — dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah’. (Ul 6:10-13).
Tetapi bagi yang tidak mau bekerja, Kitab Suci berkata :
‘Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya…., karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu…..Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.  Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri’. (2 Tes 3:6-12).
Memang ada juga orang yang menyeimbangkan “ibadah” dan “kerja” tetapi tidak dalam pengertian yang benar. Mereka menganggap ibadah adalah hal-hal yang sifatnya rohani saja seperti baca Alkitab, berdoa, menyanyi, dll. Dan kerja adalah hal-hal yang sifatnya duniawi seperti main bola, memasak, kerja kantoran, dll. Dari sini kita bisa melihat bahwa pemahaman tentang ibadah dan kerja bagi kebanyakan orang Kristen masih terlalu kabur. Karena itu lewat tulisan ini akan saya ungkapkan 3 hal penting.
1. Allah Adalah Allah Yang Bekerja
Allah adalah Allah yang bekerja. Alkitab selalu menampilkan Allah sebagai Allah yang aktif, Allah yang bekerja. Misalnya dalam cerita penciptaan alam semesta. Jelas Allah telah bekerja yakni mencipta. Memang ada kalanya Allah hanya berfirman dan semuanya jadi tetapi itu tidak menghilangkan kesan bekerjanya Allah. Toh waktu Ia menciptakan manusia, Alkitab bersaksi :
‘Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup’ (Kej 2:7).
Juga Kej 2:21-22 :
“Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu’.
Sebelum penciptaan manusia perempuan, Allah juga membentuk binatang dari tanah :
“Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu’ (Kej 2:19).
Semua ini membuktikan bahwa dalam peristiwa penciptaan, Allah telah menampilkan diri sebagai Allah yang bekerja walau harus ditambahkan bahwa kerjanya Allah tidak boleh dibayangkan sebagai sesuatu yang melelahkan Dia.
Bukan hanya dalam peristiwa penciptaan Allah tampil sebagai Allah yang bekerja. Allah adalah Allah yang bekerja juga terlihat dari karya providensi-Nya atau karya pemeliharaan-Nya atas alam semesta yang telah dijadikanNya. Aliran Deisme percaya bahwa setelah menciptakan alam semesta ini, Allah lalu meninggalkannya berjalan menurut hukum-hukumnya sendiri. Jadi Allah tidak lagi berurusan dengan dunia ini sama seperti seorang pembuat jam tangan. Ia merancangkan jam tangan sedemikian rupa dan setelah itu jam tangan itu berjalan berdasarkan hukum-hukumnya tanpa kontrol dari si pembuat jam lagi. Jadi apa yang terjadi dengan jam tangan itu di kemudian hari bukanlah urusan si pembuat jam tadi. Kita tidak percaya dengan teori omong kosong dari aliran Deisme ini. Alkitab mengatakan bahwa Allah setelah menciptakan alam semesta tidak lalu meninggalkannya sendiri. Ia tetap berurusan dengan alam semesta ini terutama manusia yang ada di bumi. Ia memelihara manusia dengan memenuhi kebutuhannya seperti memberikan matahari dan hujan. Mat 5:45 berkata :
“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar’.
Juga dalam Kis 14:15-17 dikatakan :
“….supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.”
Pemeliharaan Allah juga nampak dalam hubungan dengan bangsa-bangsa. Ia mendisiplin Israel yang tidak taat (Ul 28:15-68) tetapi Ia juga memulihkan mereka (Ul 30:1-10). Ia menghakimi Mesir (Kel 7-11), Ia membangkitkan bangsa-bangsa untuk berkuasa dan menurunkan mereka (Dan 2:21a, 31-43). Penulis surat Ibrani menulis dengan sangat indah tentang Yesus Kristus bahwa :
‘Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan…”.
Jelas bahwa setelah Allah bekerja menciptakan alam semesta ini, Ia terus bekerja di dalam memelihara kelangsungan alam semesta ini. Ia tidak berhenti bekerja.
Pekerjaan Allah terus berlanjut. Ya, Ia bekerja dalam karya penebusan dosa manusia. Bapa mengutus Yesus ke dalam dunia ini dan bekerja keras demi menebus dosa manusia. Yesus adalah Allah sendiri tapi dalam masa inkarnasi-Nya, Ia juga menjadi manusia. Dan sebagai manusia Ia terkenal sebagai orang yang suka bekerja. Alkitab memang mengatakan bahwa Ia adalah anak tukang kayu (Mat 13:55) tetapi juga mengatakan bahwa Ia adalah tukang kayu.
“Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? ….’. (Mark 6:3).
Pastilah Ia adalah orang yang bekerja. Dalam konteks yang lain Ia berkata :
“Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” (Yoh 5:17).
Apakah pekerjaan Allah sudah selesai sampai di situ saja? Tidak! Pekerjaan-Nya masih berlanjut dalam kaitan dengan eskatologi Kristen di mana pada akhir zaman nanti Ia akan bekerja untuk menghakimi dunia ini. Kis 17:31 berkata :
“Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, …
Demikian juga Roma 2:16 :
“Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus”
dan masih banyak ayat lainnya.
Jadi jelas bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang bekerja. Memang di dalam Kej 2:2-3 dikatakan bahwa :
“Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu”
tapi itu hanya menunjukkan bahwa Ia berhenti mencipta bukan berhenti bekerja dalam segala hal. Fakta ini menarik. Allah adalah Allah yang bekerja! Artinya, jika kita bekerja maka kita mirip Allah. Kalau kita tidak bekerja atau malas bekerja berarti kita mirip siapa? Setan? Tidak! Karena setan pun bekerja bahkan rajin bekerja untuk tujuannya. Tuhan bekerja! Setan juga bekerja! Kalau engkau tidak bekerja maka engkau menjadi makhluk aneh yang tidak mirip Tuhan juga tidak mirip setan. Entah mirip apa? Jawab saja sendiri!!!
2. Mandat Kebudayaan = Mandat Kerja
Saya pernah mendengar ada orang yang berkata demikian : “Coba kalau Adam dan Hawa tidak jatuh ke dalam dosa, mungkin kita tidak akan bekerja repot-repot. Kita pasti tinggal seperti dalam taman Eden. Makan, minum, tidur, bermain, dll. Pokoknya semua serba santai !’ Benarkah demikian ? Tidak ! Setelah Allah menciptakan manusia, Ia telah memberikan kepada manusia suatu mandat atau perintah untuk bekerja. Ini terjadi sebelum manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Perintah kerja ini tertuang dalam Kej 1:28 yang berbunyi demikian :
“Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi’.
Di dalam Alkitab terjemahan lama (TL) bunyinya demikian :
“Maka diberkati Allah akan keduanya serta firman-Nya kepadanya: Berbiaklah, dan bertambah-tambahlah kamu, dan penuhilah olehmu akan bumi itu dan taklukkanlah dia, dan perintahkanlah segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang di udara dan segala binatang yang menjalar di atas bumi”.
Lebih jelas lagi dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) :
“Kemudian diberkati-Nya mereka dengan ucapan “Beranakcuculah yang banyak, supaya keturunanmu mendiami seluruh muka bumi serta menguasainya. Kamu Kutugaskan mengurus ikan-ikan, burung-burung, dan semua binatang lain yang liar”.
Ayat lainnya yang senada dengan Kej 1:28 adalah Kej 2:15 yang berbunyi :
“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Terjemahan BIS berbunyi : “Kemudian TUHAN Allah menempatkan manusia itu di taman Eden untuk mengerjakan dan memelihara taman itu”.
Terjemahan Today’s English Version (TEV) berbunyi :
“Then the LORD God placed the man in the Garden of Eden to cultivate it and guard it (Lalu Tuhan Allah menempatkan manusia di taman Eden untuk mengolah/ menanami dan menjaga / memeliharanya”).
Jadi manusia sesaat setelah diciptakan langsung diberi perintah oleh Allah untuk bekerja, mengolah, menanami, memelihara/menjaga lingkungannya. Tentu saja kerja manusia saat itu dalam hubungan dengan konteks mereka yakni mengurus ikan-ikan, burung-burung dan semua binatang serta lingkungan mereka (taman Eden). Dalam konteks kita, ayat ini harus dimengerti secara lebih luas berkaitan dengan semua bentuk pekerjaan atau tugas harian kita yang membawa keseimbangan bagi kelangsungan hidup bersama.  Jadi pada saat seorang pegawai bekerja dengan sungguh-sungguh di kantor, seorang nelayan bekerja di laut, seorang petani bekerja di sawah dan ladang, seorang sopir dan tukang ojek bekerja di jalan, seorang pedagang bekerja di pasar, seorang guru/dosen bekerja di kelas dan lain-lainnya, itu berarti bahwa mereka semua sementara melakukan mandat kerja yang diberikan oleh Tuhan. Ini juga berarti bahwa yang malas kerja atau bekerja dengan malas-malasan, yang absent terus, yang pura-pura sakit, yang kerja “curi tulang”, yang kerja sambil ngomel, dsb sama dengan melawan perintah Tuhan dan itu adalah dosa. Ingat, Alkitab menentang orang yang malas. Di dalam kitab Amsal ada begitu banyak kecaman terhadap kemalasan seperti :
Ams 6:6 – “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak..”
Ams 6: 9-11 – “Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” – maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata”.
Ams 18:9 : ‘Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak’
dan masih banyak ayat lainnya. Juga rasul Paulus memberi nasihat yang tegas dalam 2 Tes 3:6-12 :
(6) Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. (7) Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, (8) dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu. (9) Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. (10) Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. (11) Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. (12) Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.
Jadi tidak bekerja adalah dosa !!!
3. Kerja adalah Ibadah
Di bagian awal tulisan ini sudah saya katakan bahwa ada orang yang hidupnya tidak seimbang. Ada yang rajin bekerja tapi tidak suka beribadah dan ada orang lain lagi yang sukanya hanya beribadah dan malas bekerja. Keduanya salah! Manusia harus bekerja dan juga harus beribadah. Lebih dalam dari itu, ternyata bekerja juga dapat dilihat sebagai suatu bakti atau ibadah kepada Tuhan. Ibadah tidak boleh dibatasi pada ritual-ritual religius saja atau aktivitas-aktivitas rohani saja seperti berdoa, baca Kitab Suci, menyanyi, dll tetapi pada seluruh bakti kita kepada Tuhan dan sesama. Efesus 6:5-7 berkata :
“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia”.
Itu berarti bahwa setiap orang adalah hamba Tuhan. Jadi salah kalau kita menganggap bahwa hamba Tuhan hanyalah para pendeta atau penginjil. Semua orang percaya yang bekerja dalam profesi masing-masing adalah hamba-hamba Tuhan termasuk Pak John yang adalah pegawai di kantor, Pak Charles yang adalah dosen/guru di kelas, Ama Tobo yang adalah nelayan di laut, Om Tinus yang adalah petani di ladang, Minggus, Jefry dan Maksi yang adalah sopir, kondektur dan tukang ojek di jalanan, Ina Dohe yang adalah pedagang di pasar, dll. Semuanya adalah hamba Tuhan asal semuanya melakukan pekerjaan masing-masing dengan kesadaran bahwa itu dilakukan sebagai orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Karena semua itu dilakukan untuk Tuhan, dapatlah dikatakan bahwa kerja kita adalah ibadah kita.
Anda pernah mendengar kata “liturgi”? Kata “liturgi” ini biasa dikaitkan dengan susunan acara dalam sebuah ibadah atau ritual keagamaan yang bersifat resmi seperti di gedung gereja misalnya. Kata “liturgi” ini sebenarnya sudah dipakai sejak 400 tahun sebelum Yesus lahir ke dalam dunia ini. Kata ini berasal dari 2 kata bahasa Yunani yakni “LEOS” yang berarti rakyat dan “ERGON” yang berarti kerja. Jadi “Leitorgia” berarti kerja bakti yang dilakukan oleh penduduk kota. Inilah arti kata “liturgi” yang mula-mula. Jadi pada saat itu ‘liturgi’ menunjuk pada apa yang dibaktikan seseorang bagi kehidupan bersama. 100 tahun kemudian (300 SM) barulah kata tsb dikaitkan dengan ritual dalam kuil penyembahan dan pada waktu yang lebih kemudian barulah secara eksklusif dipakai dalam tata ibadah di Bait Allah, Sinagoge dan kemudian Gereja. Dengan demikian ibadah dan kerja adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kerja kita adalah ibadah kita. Jadi kalau ada orang yang rajin berbakti di gereja tetapi di dalam pekerjaan setiap hari bermalas-malasan maka sebenarnya ia tidak beribadah dengan baik atau dengan kata lain ibadahnya pincang.
Karena kerja kita adalah ibadah maka tidak bekerja / malas bekerja sama dengan tidak beribadah / malas beribadah. Bekerja tidak sungguh-sungguh sama dengan beribadah tidak sungguh-sungguh. Bekerja tidak jujur sama dengan beribadah tidak jujur. Menipu dalam bekerja sama dengan menipu dalam ibadah. Dan semua itu adalah dosa di hadapan Tuhan.  Ingat, ibadahmu adalah kerjamu; kerjamu adalah ibadahmu. C.S. Lewis ketika mengomentari bidat-bidat yang hanya menantikan kedatangan Yesus kembali dan melarang pengikut-pengikutnya untuk bekerja berkata demikian :
“Berbahagialah seorang petani yang pergi mengerjakan sawahnya supaya dapat memberikan makanan kepada yang lapar, atau seorang ilmuwan yang mencoba atau berupaya menemukan pengobatan yang berguna untuk menyelamatkan beribu-ribu nyawa. Bila Kristus datang, si petani tidak akan menuai tuaiannya, si ilmuwan tidak berhasil dalam pencariannya. Hal tersebut tidak menjadi masalah. Yang penting mereka berada dalam tugasnya masing-masing ketika Sang Pemeriksa datang. (The Christian Hope; hal 50).
SELAMAT BERIBADAH, SELAMAT BEKERJA!

Kej 1:28

Esra A Soru

Ibadah dan Kerja. Ini tentu adalah tema yang bagus dan menarik. Mengapa? Karena tema ini ingin mempertemukan dua hal yang seolah-olah bertolak belakang. Di satu sisi ada orang yang bekerja sampai lupa beribadah. Mereka terlalu sibuk dengan urusan-urusan pekerjaan di kantor, di laut, di kebun, di pasar dan tempat-tempat lainnya sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan atau lupa untuk beribadah kepada Tuhan. …» Baca selengkapnya »

Satu Sakit Semua Sakit

Khotbah
Gal 6:1-10 ; 1 Kor 12 :12-26
Esra A Soru
Satu sakit semua sakit’ adalah sebuah tema yang menggambarkan kesatuan, kebersamaan dan kepedulian. Konsep ini dibangun dari kenyataan bahwa orang percaya adalah satu ‘TUBUH’.  Kepada jemaat di Korintus yang bertikai tentang masalah karunia, Paulus memberi nasihat dengan memakai analogi tubuh (1 Kor 12 :12-26) di mana Paulus katakan bahwa orang percaya adalah satu tubuh (ay.12-14) dan ini menunjuk pada gereja universal.
1 Kor 12:12-14 – (12) Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. (13) Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. (14) Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.
Juga tidak ada satu pun dari antara orang-orang percaya yang tidak masuk ke dalam tubuh ini (ay.15-16).
1 Kor 12 :15-16 – (15) Andaikata kaki berkata: “Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? (16) Dan andaikata telinga berkata: “Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?
Masing-masing anggota tubuh itu mempunyai fungsi dan peranan sendiri-sendiri (ay.17-19)
1 Kor 12 :17-19 – (17) Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? (18) Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. (19) Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh?
Dan akhirnya, masing-masing anggota itu saling membutuhkan dan melengkapi (ay.19-24)
1 Kor 12:20-24 – (20) Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. (21) Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.” (22) Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. (23) Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. (24) Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus
Inti dari semuanya adalah agar masing-masing anggota itu saling memperhatikan, saling bersimpati (ay.25-26)
1 Kor 12:25-26 – (25) supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. (26) Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.
Jadi jika kita adalah orang percaya maka kita semua adalah satu tubuh. Karena kita semua adalah satu tubuh maka satu sakit semua sakit.
“Satu sakit semua sakit” menggambarkan sifat di mana turut merasakan penderitaan saudara seiman. Penderitaan seseorang adalah penderitaan bersama. Kebahagiaan seseorang juga menjadi kebahagiaan bersama.
Roma 12:15 : Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!
Di dalam surat Galatia ini, Paulus juga menganjurkan 2 sikap praktis agar dapat mencapai kondisi kebersamaan itu yakni :
I. Kesediaan Untuk Mengangkat Orang Lain Yang Jatuh
Ayat 1 mengatakan :
“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.
Salah satu cara praktis yang perlu dilakukan dalam rangka hidup dalam prinsip “Satu sakit semua sakit” adalah kesediaan untuk menuntun orang yang jatuh ke dalam dosa kepada jalan yang benar. Ini yang diajarkan firman Tuhan tetapi seringkali yang terjadi adalah kita mensyukuri dan menghakimi orang yang telah jatuh ke dalam dosa, bahkan mengucilkan mereka. Kita diperintahkan untuk memimpin orang itu kembali ke jalan yang benar. Apa maksudnya? Alkitab terjemahan DRB menerjemahkannya sebagai “instruct” (memerintahkan) sedangkan KJV menerjemahkan kata ini sebagai “restore” (memulihkan).
Kata ‘memimpin’ di sini memakai bahasa Yunani ‘katartizo’ . Kata ini biasa digunakan untuk seorang dokter yang mengambil sesuatu (membedah) yang tumbuh dalam tubuh seseorang atau seorang tabib yang sementara menyambung tulang yang patah maupun seorang yang sementara mereparasi barang yang rusak. Dengan demikian ide yang nampak dalam bagian ini sama sekali tidak memberikan kesan penghakiman melainkan penyembuhan. Bukan penghukuman melainkan perbaikan. Perhatikan bunyi ayat tersebut dalam terjemahan lama :
TL : Hai saudara-saudaraku, jikalau seorang kedapatan di dalam barang sesuatu kesalahan, hendaklah kamu, yang rohani itu, membaikkan orang yang demikian, dengan roh yang lemah lembut sambil memperhatikan dirimu sendiri, supaya jangan engkau juga kena pencobaan.
Satu hal lagi yang dikatakan oleh Paulus adalah bahwa semua itu harus dilakukan dalam roh lemah lembut.
Ay 1 : “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.
Tingkat kasih kita diukur dengan bagaimana kita memandang orang yang jatuh ke dalam dosa. Contohilah Yesus sewaktu ia menghadapi kasus perempuan berzinah yang diceritakan dalam Yoh 8 di mana Yesus membenci dosanya tetapi mengasihi orangnya.  Ini sama dengan kita harus membenci kanker, tapi tetap menyayangi penderitanya.
Sementara semua itu kita lakukan, kita juga perlu berhati-hati supaya kita sendiri tidak kena pencobaan (ay.1).
Ay 1 : “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.
Pencobaan apa? Pencobaan merasa diri lebih baik daripada orang yang sudah jatuh itu. Bandingkan dengan ayat 3 maupun terjemahan lama dan CEV :
Ay. 3 : “Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.
TL : Karena jikalau barang seorang menyangkakan dirinya indah padahal ia bukannya indah, ialah menipu dirinya sendiri.
CEV : If you think you are better than others, when you really aren’t, you are wrong.
Inilah tantangan kita semua. Kita sering merasa diri lebih baik dari orang yang jatuh dalam dosa. Itulah sebabnya Paulus memberi nasihat :
Ay 4 – “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain”.
Bandingkan dengan Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari :
BIS – Setiap orang harus memeriksa sendiri apakah kelakuannya baik atau tidak. Kalau baik, ia boleh merasa bangga atas hal itu. Tetapi tidak usah ia membandingkannya dengan apa yang dilakukan orang lain.
Karena itu janganlah kita membandingkan diri dengan orang lain tetapi bandingkan diri kita yakni apa yang kita sudah capai dengan apa yang seharusnya kita capai. Dengan cara seperti ini maka kita dapat mengembangkan pola hidup “Satu sakit semua sakit”.
II. Kesediaan Untuk Membantu Orang Lain Yang Kekurangan
Hal praktis yang kedua dalam pola hidup “Satu sakit semua sakit” adalah kerelaan untuk membantu orang yang kekurangan. Ide ini muncul beberapa kali dalam teks kita :
Ay 2 : Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.
Ay 6 : Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.
Ay 9-10 : Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.
Kita adalah satu tubuh. Jika satu menderita maka semua menderita. Itulah sebabnya kita perlu hidup tolong menolong.
Kelihatannya tolong menolong dan perbuatan baik di sini dikaitkan dengan masalah materi. Perhatikan ay 6 :
TL : Hendaklah orang yang diajarkan firman itu memberi bahagian segala hartanya kepada yang mengajar itu.
Dengan demikian “perbuatan baik” yang dibicarakan dalam ayat-ayat selanjutnya adalah perbuatan baik dalam hal bantuan materi. Di sinilah dibutuhkan kepekaan kita untuk melihat saudara-saudara kita yang kekurangan.
Marilah belajar memberi kepada mereka yang kekurangan. Mungkin Rp. 10.000 tidak berarti bagi kita tetapi sangat berarti bagi mereka. Dengan melakukan itu kita bukan saja telah hidup dalam pola “Satu sakit semua sakit” tetapi juga kita akan diberkati.
Beberapa ayat berkaitan dengan sikap terhadap orang miskin :
Ams 17:5 : Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya; siapa gembira karena suatu kecelakaan tidak akan luput dari hukuman.
Ams 19:17 : Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.
Bandingkan bunyi Ams 19:17 ini dalam terjemahan lamanya :
TL : Barangsiapa yang mengasihani orang miskin, ia itu memberi pinjam kepada Tuhan, maka Tuhanpun akan membalas kebajikannya.
Ayat-ayat lainnya adalah :
Ams 22:9 : Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.
Ams 28:27 – Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki.
Seorang bernama Ang Tek Kun menulis sebuah puisi berjudul “Moment Kasih Sayang“. Bunyinya sebagai berikut :
Aku ingin mempersembahkan sekeranjang bunga tercantik untuk-Mu sebagai ungkapan aku mengasihi-Mu tapi engkau menolaknya : “Berikanlah bagi janda-janda miskin, karena demikianlah Aku ingin dikasihi”
Aku ingin membeli sekotak cokelat termanis untuk-Mu sebagai bahasa aku mencintai-Mu tapi Engkau menolaknya :“Berikan bagi anak-anak jalanan, karena demikianlah Aku ingin dicintai”
Aku ingin menyediakan makan malam tersyahdu untuk-Mu sebagai pertanda penuh perhatian tapi Engkau menolaknya : “Ajaklah kaum papa bersamamu karena demikian Aku ingin diperhatikan”
Bandingkan ini dengan 1 Yoh 3:17 yang berbunyi :
‘Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?’
Kiranya ayat-ayat ini mendorong kita untuk memperhatikan kebutuhan orang-orang miskin dan kekurangan di sekitar kita.

Gal 6:1-10 ; 1 Kor 12 :12-26

Esra A Soru

Satu sakit semua sakit’ adalah sebuah tema yang menggambarkan kesatuan, kebersamaan dan kepedulian. Konsep ini dibangun dari kenyataan bahwa orang percaya adalah satu ‘TUBUH’.  Kepada jemaat di Korintus yang bertikai tentang masalah karunia, Paulus memberi nasihat dengan memakai analogi tubuh (1 Kor 12 :12-26) di mana Paulus katakan bahwa orang percaya adalah satu tubuh (ay.12-14) dan ini menunjuk pada gereja universal. …» Baca selengkapnya »

Sang Pembaharu

Khotbah
Kitab Ezra
Dalam sejarah bangsa Israel, ada 2 orang yang terkenal sebagai pembaharu Israel. Mereka adalah Ezra dan Nehemia. Ezra adalah orang yang melakukan suatu pembaharuan secara rohani yang menuntun Israel sampai pertobatan sedangkan Nehemia adalah orang yang melakukan pembaharuan secara fisik karena dialah yang membangun kembali tembok Yerusalem. (Silahkan baca kitab Ezra dan Nehemia). Kali ini kita tidak akan membahas kedua tokoh ini sekaligus, kita hanya akan membahas salah satunya yakni Ezra.
Nama Ezra artinya penolong / pertolongan (disebut 24 kali dalam Alkitab). Ia adalah seorang imam (7:11), seorang ahli kitab dan juga guru/pengajar Taurat (7:6,10-12), anak dari Seraya (Ez 7:1) yang lahir di Persia dan mati di Yerusalem. Ialah yang memimpin kelompok ke 2 dari 3 kelompok orang Yahudi yang pulang dari pembuangan di Persia (Irak). Ada 3 sikap yang menarik dari kehidupan Ezra yang perlu kita pelajari :
1. Sikap Ezra Dalam Hubungannya Dengan Firman Tuhan.
Kita dapat melihat tekad Ezra dalam kaitan dengan Firman Tuhan dalam Ezra 7:10 :
“Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.”
Jadi Ezra mempunyai tekad untuk meneliti, melakukan dan mengajarkan Firman Tuhan. Itulah sebabnya ia terkenal sebagai ahli kitab dan pengajar hukum Taurat (7:11) di mana raja Artahsasta pun mengakuinya (7:12,25) :
Ezra 7:25 : Maka engkau, hai Ezra, angkatlah pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allahmu yang menjadi peganganmu, supaya mereka menghakimi seluruh rakyat yang diam di daerah seberang sungai Efrat, yakni semua orang yang mengetahui hukum Allahmu; dan orang yang belum mengetahuinya haruslah kau ajar.
Perhatikan urutan kronologi dari tekad Ezra ini. Yang paling pertama adalah meneliti Firman Tuhan, kedua melakukannya dan yang terakhir barulah mengajarkannya. Ini adalah 3 urutan kronologi yang sangat tepat. Orang harus meneliti Firman Tuhan, melakukannya dan kemudian baru mengajarkannya. Faktanya, ada banyak orang hanya mau meneliti saja tapi tidak mau melakukannya seperti ahli-ahli taurat zaman Yesus yang tidak bertobat (band, Mat 7). Orang seperti ini akan tahu banyak Alkitab, tapi bisa menjadi penyesat. Mereka meneliti Alkitab bukan untuk dilakukan tapi untuk dikritik atau dicari-cari kesalahannya saja.
Selain itu ada juga orang yang mau melakukan Firman Tuhan tanpa menelitinya dengan cermat.  Ini baik juga tapi bisa masuk ke dalam bahaya fanatisme buta (band. 1 Tim 1:6-7). Sebaliknya, ada juga yang mau mengajar Firman Tuhan tanpa terlebih dahulu meneliti dan melakukannya. Orang-orang seperti inilah yang akhirnya banyak menjadi penyesat dan nabi palsu. Lihat 1 Tim 1 :6-7 :
1 Tim 1:6-7 : Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia. Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan.
Karena itu, marilah kita sungguh-sungguh menjadi peneliti, pelaku dan pemberita/pengajar Firman Tuhan (Maz 1:1-2). Menjadi peneliti dengan cara rajin membaca Firman Tuhan dan juga buku-buku rohani lainnya, menjadi pelaku dengan melakukan semua perintah Firman Tuhan, menjadi pengajar dengan jalan mengkomunikasikan apa yang kita pelajari kepada orang lain.
2. Sikap Ezra Dalam Hubungan Dengan Tugasnya.
Dalam tugasnya Ezra tidak bekerja sendiri (one man show) tetapi melibatkan orang lain di dalamnya. Dalam Ezra 7:25, ada perintah dari Artahsasta kepada Ezra :
Ez 7:25 : Maka engkau, hai Ezra, angkatlah pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allahmu yang menjadi peganganmu, supaya mereka menghakimi seluruh rakyat yang diam di daerah seberang sungai Efrat, yakni semua orang yang mengetahui hukum Allahmu; dan orang yang belum mengetahuinya haruslah kau ajar.
Setelah perintah itu maka Ezra mulai meminta bantuan orang Lewi (8:15-20), ia juga memilih pemuka imam  sebanyak 12 orang (8:24), lalu memilih keluarga untuk bersidang (10:16-17). Ini berarti bahwa Ezra bisa bekerja sama dengan baik. Ia melibatkan orang lain dalam pekerjaan Allah yang besar. Ia tidak hanya mengandalkan dirinya sendiri dan mengabaikan orang lain.
Hal yang sama dilakukan oleh Yesus yang walaupun mampu melakukan misi-Nya sendiri tapi Ia memilih 12 murid. Yesus juga saat mengutus murid-murid-Nya, Ia mengutus mereka dua-dua orang. (Mark 6 :7). Tentu itu dimaksudkan agar mereka bisa bekerja sama satu dengan yang lain. Demikian juga seperti yang terjadi saat Yosua berperang, di mana Musa berdoa sedangkan Harun dan Hur menopang tangan Musa.
Kel 17:9-10 :  Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.” Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit.
Kel 17:11-12 :  Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam.
Marilah kita belajar bekerja sama. Ingat bahwa bekerja sama-sama atau sama-sama bekerja belum tentu bisa bekerja sama. Secara empiris, suatu tugas berat akan dengan mudah diselesaikan kalau itu dikerjakan bersama-sama. Visi Tuhan bagi kita akan tercapai kalau kita dapat bekerja sama.
3. Sikap Ezra Dalam Hubungan Dengan Dosa
Rupanya ada dosa kawin campur dalam jemaat Israel (9:1-2; 10)
Ez 9:1-2 : Sesudah semuanya itu terlaksana datanglah para pemuka mendekati aku dan berkata: “Orang-orang Israel awam, para imam dan orang-orang Lewi tidak memisahkan diri dari penduduk negeri dengan segala kekejiannya, yakni dari orang Kanaan, orang Het, orang Feris, orang Yebus, orang Amon, orang Moab, orang Mesir dan orang Amori. Karena mereka telah mengambil isteri dari antara anak perempuan orang-orang itu untuk diri sendiri dan untuk anak-anak mereka, sehingga bercampurlah benih yang kudus dengan penduduk negeri, bahkan para pemuka dan penguasalah yang lebih dahulu melakukan perbuatan tidak setia itu.”
Ada beberapa sikap yang menarik dari Ezra :
Pertama, Ezra begitu sedih dan terpukul dengan dosa jemaatnya sampai ia berkabung dan menyiksa dirinya (9:3)
Ez 9:3 : Ketika aku mendengar perkataan itu, maka aku mengoyakkan pakaianku dan jubahku dan aku mencabut rambut kepalaku dan janggutku dan duduklah aku tertegun.
Bandingkan :
Ez 10:1 : Sementara Ezra berdoa dan mengaku dosa, sambil menangis dengan bersujud di depan rumah Allah, berhimpunlah kepadanya jemaah orang Israel yang sangat besar jumlahnya, laki-laki, perempuan dan anak-anak. Orang-orang itu menangis keras-keras.
Ez 10:6 : Sesudah itu Ezra pergi dari depan rumah Allah menuju bilik Yohanan bin Elyasib, dan di sana ia bermalam dengan tidak makan roti dan minum air, sebab ia berkabung karena orang-orang buangan itu telah melakukan perbuatan tidak setia.
Para Hamba Tuhan, majelis, guru Sekolah Minggu, pengurus komisi gereja, dll, apakah kita bersedih seperti ini kalau ada jemaat yang berdosa? Ataukah kita hanya bersikap acuh saja? Ataukah kita malah semakin menghina dan menjelekkan mereka? Para guru, apakah kita bersedih jika ada murid-murid kita yang gagal/nakal? Para orang tua, apakah engkau bersedih melihat anak-anakmu hidup tidak beres? Atau engkau acuh saja? Teladani sikap Ezra dalam hal ini.
Kedua, Ia berdoa mengakui dosa itu dan memohon pengampunan Tuhan (9:5-15).
Menariknya adalah bukan Ezra yang berdosa tetapi ia berdoa seolah-olah ia yang berdosa. Perhatikan kata “kami” dalam doanya (9:6-15) :
Ez 9:6-15 : dan kataku: “Ya Allahku, aku malu dan mendapat cela, sehingga tidak berani menengadahkan mukaku kepada-Mu, ya Allahku, karena dosa kami telah menumpuk mengatasi kepala kami dan kesalahan kami telah membubung ke langit. Dari zaman nenek moyang kami sampai hari ini kesalahan kami besar, dan oleh karena dosa kami maka kami sekalian dengan raja-raja dan imam-imam kami diserahkan ke dalam tangan raja-raja negeri,….. Tetapi sekarang, ya Allah kami, apa yang akan kami katakan sesudah semuanya itu? Karena kami telah meninggalkan perintah-Mu,….. Sesudah semua yang kami alami oleh sebab perbuatan kami yang jahat, dan oleh sebab kesalahan kami yang besar, sedangkan Engkau, ya Allah kami, tidak menghukum setimpal dengan dosa kami, dan masih mengaruniakan kepada kami orang-orang yang terluput sebanyak ini, ….Lihatlah, kami menghadap hadirat-Mu dengan kesalahan kami. Bahwasanya, dalam keadaan demikian tidak mungkin orang tahan berdiri di hadapan-Mu.”
Jadi kelihatannya Ezra merasa bahwa kejatuhan dan kegagalan jemaatnya adalah kejatuhan dan kegagalannya juga. Ini berbeda dengan sikap kebanyakan orang. Kalau senang, senang bersama, kalau susah, susah sendiri-sendiri. Bagaimana dengan saudara?
Ketiga, akhirnya ia memberi nasihat kepada jemaatnya untuk kembali pada Tuhan (10:5,10-11).
Ez 10:5 : Kemudian bangkitlah Ezra dan menyuruh para pemuka imam dan orang-orang Lewi dan segenap orang Israel bersumpah, bahwa mereka akan berbuat menurut perkataan itu, maka bersumpahlah mereka.
Ez 10:10-11 : Maka bangkitlah imam Ezra, lalu berkata kepada mereka: “Kamu telah melakukan perbuatan tidak setia, karena kamu memperisteri perempuan asing dan dengan demikian menambah kesalahan orang Israel. Tetapi sekarang mengakulah di hadapan TUHAN, Allah nenek moyangmu, dan lakukanlah apa yang berkenan kepada-Nya dan pisahkanlah dirimu dari penduduk negeri dan perempuan-perempuan asing itu!”
Banyak orang hanya bisa protes dan menghakimi orang lain namun tidak pernah menuntun mereka kembali pada Tuhan. Tapi Ezra melakukan semuanya. Inilah sikap yang menarik dari Ezra, Sang Pembaharu itu.
Kita telah belajar dari Ezra tentang sikapnya terhadap Firman Tuhan, sikapnya dalam melaksanakan tugasnya, dan sikapnya terhadap dosa. Maukah kita meneladaninya ?

Kitab Ezra

Esra A Soru

Dalam sejarah bangsa Israel, ada 2 orang yang terkenal sebagai pembaharu Israel. Mereka adalah Ezra dan Nehemia. Ezra adalah orang yang melakukan suatu pembaharuan secara rohani yang menuntun Israel sampai pertobatan sedangkan Nehemia adalah orang yang melakukan pembaharuan secara fisik karena dialah yang membangun kembali tembok Yerusalem. …» Baca selengkapnya »

Orang Kaya & Lazarus Yang Miskin “AJARAN TENTANG KEHIDUPAN”

Khotbah
Orang Kaya & Lazarus Yang Miskin “AJARAN TENTANG KEHIDUPAN”
Luk 16:19-31
Esra Alfred Soru*
Mungkin hal pertama yang perlu dipikirkan dalam penelitian teks ini adalah apakah cerita orang kaya dan Lazarus yang miskin ini adalah sebuah cerita historis? Maksudnya adalah bahwa apakah benar cerita ini sungguh-sungguh terjadi? Ataukah ini hanyalah sebuah ilustrasi? Jika kita perhatikan dengan seksama, maka kita akan menemukan bahwa Lukas meletakkan kisah ini dalam deretan perumpamaan-perumpamaan yang dimulai dari perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah (13:6-9), perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi (13:18-21), perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih (14:15-24), perumpamaan tentang domba yang hilang (15:8-10) perumpamaan tentang anak yang hilang (15-:11-32), perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (16:1-9) dan setelah itu barulah cerita tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin (16:19-31). Melihat konteks ini maka sangat  mungkin bahwa cerita tersebut tergolong ke dalam kelompok perumpamaan (walaupun tidak sama persis) yang dipakai oleh Yesus sebagai contoh yang menjelaskan pengajaran tentang ”setia dalam perkara yang kecil” (16:10-12) yang masih mempunyai kaitan dengan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (16:1-9). Jadi cerita ini bukanlah merupakan suatu peristiwa atau fakta historis. Masalah kehistorisan dari cerita ini tidak terletak pada isi cerita itu sendiri melainkan pada kenyataan bahwa cerita itu (pernah) diceritakan.
Dalam pasal 16:1-9 Yesus menceritakan tentang bendahara yang tidak jujur dan diakhiri dengan suatu pernyataan yang sulit dimengerti : “Dan Aku berkata kepadamu  : ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur, supaya jika  mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima dalam kemah abadi” (16:9). Tanpa bermaksud memberikan tafsiran tentang ayat ini, tetapi dilihat dari kata “mamon”  yang berarti harta benda, maka dapat ditafsirkan bahwa Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk menjalin/mengikat persahabatan dengan mempergunakan “mamon” (= harta ; dalam arti perbuatan amal atau pemberian sedekah) yang tidak jujur (harta duniawi) agar ketika harta yang demikian itu tidak dapat menolong lagi (setelah mati) maka mereka dapat diterima dalam kemah abadi (sorga). Dengan kata lain inti pengajaran Yesus adalah agar murid-murid mau mempergunakan harta benda duniawi ini (mamon yang tidak jujur) untuk pelayanan kasih, dan jelas hal ini membutuhkan kesetiaan. Itulah sebabnya Yesus menambahkan pengajaran seperti yang tercatat dalam ayat 10-12 yang intinya sangat jelas dalam ayat 11 : “Jadi jika kamu tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur (pemberian amal/pelayanan dengan mempergunakan harta duniawi), siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya (harta abadi di sorga)? Jadi rupanya pokok pembicaraan sejak ps. 16:1 adalah tentang masalah mempergunakan harta demi kebajikan. Atas dasar inilah maka Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan cerita tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin di mana orang kaya itu gagal mengikat persahabatan dengan Lazarus dengan mempergunakan “mamon yang tidak jujur” (harta bendanya) ketika ia membiarkan Lazarus yang miskin tetap dalam kemiskinannya hingga mati. Demikianlah kira-kira konteks cerita tersebut.
Namun demikian pada kesempatan ini kita tidak akan berbicara seturut dengan tekanan utama atau arah dari cerita ini melainkan mengarahkan perhatian kita kepada kebenaran-kebenaran lain yang terkandung di dalamnya. Ini mungkin karena sifat cerita ini lebih unik daripada perumpamaan-perumpamaan yang lain (karena terjadi dalam 2 dimensi yakni dimensi fisik dan dimensi roh) maka cerita ini pun sesungguhnya mengandung kebenaran-kebenaran yang bersifat kekal. Cerita orang kaya dan Lazarus yang miskin ini memperlihatkan kepada kita 3 kebenaran yang terkandung di dalamnya :
Pertama : Cerita ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan kita tidak akan pernah berakhir
Cerita orang kaya dan Lazarus ini pertama kali digambarkan di dunia ini (ay 19-20) dengan segala macam detailnya (si kaya bergelimang harta dan Lazarus bergelimang air mata) namun ay 22 dan 23 menggambarkan bahwa Lazarus dan orang kaya itu akhirnya mati dan cerita tentang mereka berlanjut ke episode 2 namun di alam lain di mana Lazarus berada di pangkuan Abraham (sebagai gambaran surga) dan orang kaya di alam maut (sebagai gambaran neraka). Ini berarti bahwa kehidupan di dunia ini bukanlah satu-satunya kehidupan dan bukanlah kehidupan yang terakhir. Masih ada realitas lain di balik hidup ini. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang kekal (Man is the eternal being). Dengan demikian kehidupan manusia tidak akan pernah berakhir. Itu berarti bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kematian hanya merupakan jalan/gerbang menuju kehidupan berikutnya. Kematian bukan untuk mengakhiri kehidupan melainkan untuk melanjutkannya. Kematian menghantar kehidupan ini ke dalam dimensi yang lain, dimensi rohani.
Satu hal yang penting diketahui adalah bahwa kehidupan kita dalam dimensi berikutnya sangat bergantung pada kehidupan kita sekarang. Ini penting untuk dipahami sebab kalau orang tidak mempercayainya atau percaya bahwa kehidupan ini akan berakhir saat mati maka orang berbuat akan berbuat seenaknya dan sesuka hatinya. Kalau kita sadari bahwa kehidupan kita akan berlanjut dan itu ditentukan dari kehidupan saat ini maka kita tidak akan hidup dengan sembarangan sebaliknya akan memperhatikan hidup kita dengan seksama (Efs 5 :15) dan mempergunakan setiap waktu yang ada untuk mempersiapkan diri bagi kehidupan selanjutnya. (Efs 5 :16). Efs 5 :16 berbunyi : “Pergunakanlah waktu yang ada…”.  Bahasa Yunani mempunyai 2 macam waktu. Yang pertama disebut ‘kronos’ yakni waktu yang senantiasa ada. Minggu lalu ada pagi, kemarin ada pagi, besok ada pagi, minggu depan juga ada pagi. Waktu atau ‘kronos’ ini selalu ada. Dari kata ‘kronos’ inilah kita mengenal istilah ‘kronologi’. Kata yang kedua adalah ‘kairos’. ‘Kairos’ ini adalah kebalikan dari ‘kronos’ di mana ini menunjuk kepada waktu yang tidak selalu datang. Ia bisa ada saat ini dan tidak akan pernah ada lagi. ‘Kairos’ ini lebih tepat diterjemahkan ‘kesempatan’. Di dalam Efs 5 :16 ini ternyata tidak memakai kata ‘kronos’ melainkan ‘kairos’. Jadi Alkitab menasihatkan kita agar kita memperhatikan dengan seksama bagaimana kita hidup dan mempergunakan setiap kesempatan (hidup sebagai sebuah kesempatan) dnegan hal-hal yang berguna yang akan menentukan kehidupan selanjutnya.
Orang kaya itu gagal mempergunakan “kairos” hidupnya sehingga semuanya jadi terlambat ketika ia mati. Ia terlambat percaya kepada kesaksian para nabi (band. Ay 29), terlambat berbuat kasih (tidak menolong Lazarus) dan terlambat menginjili (ay 27-28). Aneh sekali, semasa di dunia tidak mempunyai beban penginjilan, setelah mati baru punya beban penginjilan.  Tapi semuanya sudah terlambat. Marilah kita perhatikan hidup kita, pergunakan setiap kesempatan yang ada sebagai persiapan bagi kehidupan selanjutnya.
Kedua : Cerita ini mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara orang hidup dan orang mati
Ayat 22-23 mengatakan bahwa setelah kematian Lazarus dan orang kaya ini, mereka langsung berpindah ke alam lain (dimensi rohani). Tidak ada kesan adanya tenggang waktu di sini. Itu berarti segera setelah kematian, roh orang mati langsung berpindah ke alam lain. Tidak menunggu hingga hari ke 3 atau hari ke 40. Selain itu kisah ini juga mengandung kebenaran yang lain yaitu bahwa sesungguhnya setelah kematian, roh orang mati tidak mungkin kembali lagi ke dunia ini. Ayat 26 berkata : “…di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Jadi rupanya ada jurang yang terbentang yang tak terseberangi.
Memang ayat ini tidak membicarakan hubungan alam roh dan dunia ini namun kalau sama-sama di alam roh saja tidak dapat saling mengunjungi, bagaimana mungkin dapat berkunjung ke dunia? Jadi jelaslah bahwa tidak mungkin ada roh orang mati yang masih gentayangan di dalam dunia. Ayub 7:9-10 berbunyi : “Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali. Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.”  Lihat juga Ayub 10:20-22 : “Bukankah hari-hari umurku hanya sedikit? Biarkanlah aku, supaya aku dapat bergembira sejenak, sebelum aku pergi, dan tidak kembali lagi, ke negeri yang gelap dan kelam pekat, ke negeri yang gelap gulita, tempat yang kelam pekat dan kacau balau, di mana cahaya terang serupa dengan kegelapan.” Jadi sekali lagi firman Tuhan menegaskan bahwa setelah orang meninggal dan berpindah ke alam roh, tidak mungkin lagi mereka atau roh/arwah mereka kembali ke dalam dunia ini.
Kalau begitu bagaimana dengan penampakan-penampakan roh orang mati? Bukankah ada banyak orang yang mempunyai pengalaman berjumpa atau melihat orang-orang yang sudah mati? Perhatikan apa yang sudah dikatakan firman Tuhan. Jika firman Tuhan mengatakan bahwa roh atau arwah orang mati sudah tidak dapat kembali lagi maka itu pasti bukan roh orang mati melainkan iblis yang menyamar sebagai roh orang mati. Baiklah kita berhati-hatilah dengan mimpi-mimpi, penampakan-penampakan ‘roh orang mati’ yang meminta ini dan itu. Itu semua tipuan setan! Mengapa setan berbuat seperti itu? Karena setan tahu bahwa tentu kita tidak akan menolak permintaan orang-orang yang kita kasihi (yang sudah mati) bukan? Kalau setan berhasil mengecoh dan menipu kita saat itu maka selanjutnya ia mempunyai kesempatan untuk menyeret kita kepada kesesatan-kesesatan yang lain.
Ketiga : Cerita ini mengajarkan kepada kita bahwa iman yang sejati bukan lahir dari mujizat
Setelah mati orang kaya ini baru punya beban penginjilan. Ini terlihat dari kenyataan bahwa ia meminta kepada Abraham agar Lazarus diutus ke rumah bapanya untuk menginjili 5 saudaranya (ay 27-28) agar mereka jangan masuk ke neraka. Rupanya Abraham menolak permintaannya itu dengan alasan bahwa ada kesaksian Musa dan para nabi, namun orang kaya ini terus mendesak dengan alasan bahwa saudara-saudaranya akan bertobat kalau ada orang mati bangkit (ay 30). Dengan kata lain menurut orang kaya ini : orang akan bertobat/beriman kalau melihat mujizat (orang mati bangkit). Namun perhatikan jawaban Abraham selanjutnya : “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” Dengan kata lain Abraham mau berkata bahwa kalau orang tidak percaya kepada firman Tuhan maka orang tidak akan percaya juga meskipun melihat mujizat.
Dari sini kita bisa mengerti sebuah kebenaran bahwa iman yang sejati haruslah lahir dari pendengaran terhadap firman Tuhan (Roma 10 :17) dan bukan dari melihat mujizat. Kalau kita peka melihat kekristenan sekarang ini, maka kita akan menemukan bahwa kekristenan telah bergeser dari firman Tuhan kepada mujizat. Orang lebih tertarik kepada mujizat daripada kepada firman Tuhan. Orang lebih senang menyaksikan acara “Kesembuhan Ilahi” daripada mendengar khotbah. Padahal mujizat tidak pernah melahirkan iman yang sejati.
Coba perhatikan kehidupan bangsa Israel. Tidak ada satu orang pun yang pernah menyaksikan mujizat dan tanda ajaib yang lebih banyak dari mujizat atau tanda ajaib yang dilihat oleh orang-orang Israel yang keluar dari tanah Mesir. Sejak dari tanah Mesir mereka telah menyaksikan tulah air berubah menjadi darah (Kel 7:14-25), tulah katak (Kel 8:1-15), tulah nyamuk (Kel 8:16-19), tulah lalat pikat (Kel 8:20-32), tulah Penyakit sampar (Kel 9:1-7), tulah barah (Kel 9:8-12), tulah hujan es (Kel 9:13-35), tulah belalang (Kel 10:1-20), tulah gelap gulita (Kel 10:21-29), tulah kematian anak-anak sulung (Kel 12:29-42), kemurahan hati orang Mesir (Kel 12:34-36), tiang awan dan tiang api (Kel 13:21-22), air laut dibelah dan berjalan di tanah kering (Kel 14:21-22), air pahit menjadi manis di Mara (Kel 15:22-27), makanan manna dan burung puyuh (Kel 16:13-15). Tetapi ketika mereka tiba di masa dan Meriba dan di sana tidak ada air untuk diminum, maka mereka mulai bertengkar dan bersungut-sungut terhadap Musa (Kel 17) lalu mereka berkata “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” (Kel 17:7). Aneh sekali. Heran bin ajaib. Mereka telah menyaksikan tangan Tuhan dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib sejak dari tanah Mesir, mereka telah menyaksikan 10 tulah, laut dibelah, tiang awan dan tiang api, air pahit berubah menjadi manis, mereka memperoleh makanan manna dan burung puyuh dengan cara yang ajaib, namun sekarang hanya karena masalah air lalu mereka mulai mempertanyakan keberadaan Allah di tengah-tengah mereka. “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Di sini kita bisa belajar satu hal penting bahwa sekian banyak mujizat yang telah dilihat bangsa Israel ternyata tidak dapat menimbulkan iman yang sejati di dalam hati mereka. Ketika berhadapan dengan pergumulan hidup, maka semua mujizat itu terlupakan. Jadi iman yang sejati tidak lahir dari penglihatan akan mujizat dan tanda-tanda heran. ‘Iman’ yang lahir dari mujizat akan segera berakhir kalau mujizat berakhir, tetapi iman yang lahir dari firman Tuhan akan tetap bertahan dalam berbagai sikon dan pergumulan hidup. Iman yang kanak-kanak bergantung pada mujizat tetapi iman yang dewasa bergantung pada firman Tuhan.
Ketika Nebukadnezar raja Babel itu membuat patung berhala dan memerintahkan semua orang untuk sujud menyembah kepadanya, maka Zadrakh, Mesakh dan Abednego menolak melakukan hal itu. Sebagai akibatnya, mereka terancam dibuang ke dalam perapian yang menyala-nyala, namun kata dan kalimat yang keluar dari mulut mereka sangat indah dan menunjukkan bahwa iman mereka kepada Allah Israel bukan lagi iman kanak-kanak tetapi iman yang telah dewasa. Iman mereka tidak bergantung pada mujizat tetapi pada firman Allah. Mereka berkata : “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu ya raja, tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Dan 3:17-18. Luar biasa! Di sini kita bisa melihat bahwa mereka tidak akan bergeser dari iman dan kepercayaan mereka sekalipun Allah memilih untuk tidak menyelamatkan mereka (melakukan mujizat). Itulah iman yang dewasa dan sejati.
Contoh lain yang menggambarkan hal ini adalah apa yang diungkapkan oleh nabi Habakuk. Ia berkata dalam doanya : “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan  bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Hab 3:17-18). Nabi Habakuk tidak hanya mau bersorai-sorai dan beria-ria di dalam Tuhan jika segala sesuatu berjalan dengan aman dan menguntungkan, tetapi juga dalam keadaan yang sangat merugikan. Dalam kondisi seperti itu ia tidak mengajukan tuntutan dan ancaman kepada Allah untuk merubah kondisi itu namun memilih untuk tetap memuji Dia. Ia tidak bergeser dari iman dan kepercayaannya sekalipun sepertinya Allah tidak menolongnya (membuat mujizat). Adakah imanmu seperti iman ketiga anak muda Israel itu (Zadrakh, Mesakh dan Abednego)? Adakah imanmu seperti iman nabi Habakuk? Ataukah anda masih suka menggantungkan iman pada mujizat? Ingatlah, iman yang dewasa bukanlah iman yang bergantung pada mujizat! Karena itu kita tidak boleh membangun iman kita di atas dasar mujizat melainkan firman Tuhan.

Luk 16:19-31

Esra Alfred Soru*

Mungkin hal pertama yang perlu dipikirkan dalam penelitian teks ini adalah apakah cerita orang kaya dan Lazarus yang miskin ini adalah sebuah cerita historis? Maksudnya adalah bahwa apakah benar cerita ini sungguh-sungguh terjadi? Ataukah ini hanyalah sebuah ilustrasi? …» Baca selengkapnya »

Menang Atas Kegagalan

Khotbah
Esra Alfred Soru*
Di dalam kehidupan ini, sesungguhnya semua orang ingin berhasil. Tidak ada seorang pun yang ingin gagal. Kalaupun ada orang yang ingin gagal, pastilah ada yang tidak beres dengan orang tersebut lagi pula tentunya jika ia ingin gagal maka ia ingin berhasil dalam kegagalan itu. Secara umum, keinginan untuk berhasil ini mencakup seluruh bidang kehidupan. Kita ingin berhasil dalam pekerjaan kita, rumah tangga, studi, pelayanan dan termasuk juga dalam hal cinta atau asmara. Ini adalah hal yang wajar karena kita adalah manusia. Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang unik di mana ia diberikan sesuatu di dalam dirinya yang bernama “harapan”. Seorang mahasiswa belajar dengat siang dan malam karena ia mempunyai harapan bahwa suatu saat nanti ia akan meraih gelar sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya. Seorang yang karam di tengah laut dengan erat memeluk sebatang kayu tanpa mau melepaskannya karena ia mempunyai harapan. Ia berharap agar sebentar lagi datang pertolongan. Seorang yang sakit berusaha mencari dokter ke sana kemari karena ia mempunyai harapan untuk sembuh. Harapan adalah kekuatan untuk hidup. Itulah keunikan manusia.
Namun demikian karena memiliki harapan inilah maka manusia bisa kehilangan harapan. Seseorang hanya bisa kehilangan sesuatu yang ia punyai. Tidak mungkin saya kehilangan apa yang tidak saya punyai. Manusia mempunyai harapan maka manusia bisa kehilangan harapan. Jika mahasiswa tadi kehilangan harapan maka ia akan kehilangan gairah belajar. Jika orang yang karam tadi kehilangan harapan, maka secara perlahan-lahan ia akan melepaskan pegangannya pada kayu itu dan mati tenggelam. Jika si sakit sudah kehilangan harapan maka ia pun berhenti berusaha mencari dokter. Jadi dapatlah dikatakan bahwa sepanjang manusia hidup ia mempunyai harapan, dan sepanjang ia mempunyai harapan ia akan tetap hidup. Keadaan memiliki harapan dan kemungkinan kehilangan harapan inilah yang membuat manusia berbeda dengan binatang. Binatang tidak mempunyai harapan, dan karena itu ia tidak bisa kehilangan harapan. Mana pernah kita mendengar bahwa ada kambing yang mati gantung diri? Mana pernah kita membaca di koran bahwa ada kucing yang mencoba membunuh diri dengan meminum baygon karena cintanya bertepuk sebelah tangan? Tidak ada kan? Mengapa? Karena mereka tidak memiliki harapan dan karenanya tidak bisa kehilangan harapan.
Manusia bisa kehilangan harapan. Pertanyaan kita adalah apa sajakah yang membuat manusia kehialangan harapan? Jawabannya adalah karena kenyataan hidup tidaklah sesuai dengan harapan itu sendiri. Apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Apa yang real tidak selaras dengan apa yang ideal. Dalam hubungannya dengan ide tentang keberhasilan dan kegagalan yang telah disebutkan di atas maka dapat dikatakan pula bahwa harapan menjadi hilang karena orang gagal mencapai apa yang ingin dicapai. Inti dari semuanya itu adalah “kegagalan”. Dengan kenyataan semacam ini maka harapan itu menjadi pudar dan mati. Keadaan semacam inilah yang disebut sebagai putus pengharapan atau putus asa.
Hal kehilangan pengharapan atau putus asa ini sering juga dialami oleh kita yang percaya kepada Tuhan. Mengapa? Karena seringkali apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang kita alami. Apa yang kita yakini melalui Firman Tuhan tidak sesuai dengan apa yang kita alami dalam kehidupan nyata hari lepas hari. Firman Tuhan yang kita baca, renungkan dan terima seolah-olah gugur di hadapan fakta kehidupan kita. Alkitab memang berisi janji-janji Allah yang luar biasa tentang keberhasil orang-orang yang mempercayai-Nya. Mazmur 1:3 : “Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” Yes 48:15 : “Aku, Akulah yang mengatakannya, dan yang memanggil dia juga, Akulah yang mendatangkan dia, dan segala usahanya akan berhasil.” Itulah janji Firman Tuhan, dan benarlah bahwa tokoh-tokoh Alkitab digambarkan sebagai orang yang berhasil sesuai dengan janji Firman Tuhan itu. Yusuf adalah contohnya. Alkitab berkata : “Tetapi Tuhan menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi
orang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu” (Kej 39:2. Tokoh lainnya yang juga menonjol dalam keberhasilannya adalah Daud. 1 Sam 18:5 berkata : “Daud maju berperang dan selalu berhasil ke mana juga Saul menyuruhnya…” Demikian juga 1 Sam 18:30 : “…setiap kali mereka maju berperang, maka Daud lebih berhasil dari semua pegawai Saul, sehingga namanya sangat masyur”. Namun demikian hal yang tidak bisa kita mengerti adalah bahwa kadang yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari bukanlah keberhasilan seperti yang dijanjikan Firman Tuhan dan yang dialami oleh tokoh-tokoh Alkitab seperti Yusuf dan Daud melainkan kegagalan-kegagalan. Di sini kita diperhadapkan dengan sebuah kontradiksi; kontradiksi antara harapan dengan fakta, antara Firman Tuhan dan pengalaman. Pengalaman berumah tangga tidak sesuai dengan janji Firman Tuhan untuk itu. Pengalaman di dalam bekerja dan studi tidak sesuai dengan janji Firman Tuhan untuk itu, dan juga tidak kalah menyakitkan adalah bahwa pengalaman bercinta bagi para pemuda dan pemudi tidak sesuai dengan janji Firman Tuhan untuk itu.
Semua yang telah digambarkan di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa apa yang kita harapkan tidak selalu menjadi kenyataan. Dengan kata lain hidup kita terbentur pada onggokkan-onggokan karang kegagalan dan karena kegagalan-kegagalan inilah banyak orang mulai kehilangan pengharapan atau putus asa. Lalu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai orang-orang percaya dalam menghadapi fakta kegagalan-kegagalan ini?
1. Mengoreksi diri sendiri
Langkah pertama yang mesti dilakukan ketika kita berhadapan dengan kegagalan adalah mengoreksi diri sendiri. Kadangkala ketika kita mengalami kegagalan, hal pertama yang biasanya kita lakukan adalah menyalahkan Tuhan. Betapa sering Tuhan telah dijadikan “kambing hitam” oleh kita. Kita gagal naik kelas karena malas belajar lalu Tuhan yang disalahkan. Kita gagal dalam bisnis karena kurang bijaksana lalu Tuhan yang disalahkan. Kita gagal membangun komunikasi dalam keluarga sehingga muncul perceraian lalu Tuhan yang disalahkan. Kita seharusnya mengoreksi diri sendiri pada langkah pertama kegagalan kita. Mengapa kita sampai gagal? Adakah itu adalah salah kita sendiri. Firman Tuhan memang menjanjikan keberhasilan tetapi mengapa saya gagal? Mungkinkah ada dosa yang belum diselesaikan di hadapan Tuhan? Bukankah dosa adalah penghambat doa? Atau mungkin karena kita sendiri yang malas-malasan dalam belajar, bekerja dan berusaha? Atau mungkin karena kita terlalu bersandar pada kemampuan, kepintaran dan pengalaman pribadi kita sehingga mengabaikan kuasa Allah? Kira-kira begitulah yang sering kita alami. Kita terlalu mengandalkan kemampuan dan pengalaman serta kepintaran kita daripada kerja kuasa Allah yang berada di atas kita. Marilah kita mengoreksi diri kita sendiri, siapa tahu diri kita sendirilah sumber kegagalan itu. Penggalan syair sebuah lagi berbunyi : “Kegagalan-kegagalan mungkin salahku sendiri Tuhan Kau mata hatiku….
2. Jangan cepat putus asa, sabar dan tetaplah berusaha
Langkah kedua menghadapi kegagalan adalah jangan cepat-cepat putus asa atau kehilangan harapan atau dengan kata lain kita harus bersabar. Selanjutnya siapkanlah diri untuk terus maju dan berusaha karena itu adalah rahasia keberhasilan. Salah satu tantangan yang paling berat dalam hal ini adalah sifat dasar manusia yang pada dasarnya selalu menginginkan jalan pintas yang singkat dan cepat. Bukankah orang lebih suka menjadi kaya mendadak karena menang undian atau karena korupsi daripada bekerja dengan giat untuk mencapai sukses? Bukankah orang lebih suka sogok sini sogok sana daripada menempuh jalur yang semestinya? Manusia memang suka jalan yang pintas yang singkat. Itulah sebabnya bunga-bunga dan rumput-rumput di taman lebih cepat mati karena terinjak  pejalan kaki yang tidak sabar jika berjalan di jalan yang telah disediakan. Itulah juga sebabnya para produsen selalu menyediakan makanan-makanan yang serba instant. Ada mie instant, kopi instant, susu instant, dll. Yang lebih parah lagi banyak hamba Tuhan yang tidak suka sekolah atau menempuh pendidikan yang lama. Cukup dengan membayar saja dan ditambah kursus Alkitab 6 bulan sudah menjadi Pendeta dengan gelar STh (Sarjana Theologia) di belakang namanya. Itulah sifat manusia, tetapi rupanya Alkitab dan pengalaman hidup mengajarkan kepada kita bahwa keberhasilan bukanlah sesuatu yang instant, keberhasilan bukanlah sesuatu yang dapat diraih dengan jalan pintas, keberhasilan adalah sesuatu yang harus dibayar mahal. Salah satu bayaran mahal dari keberhasilan itu adalah ketegaran hati menghadapi kegagalan, sabar dan tidak mudah menjadi putus asa.
Marilah kita melihat beberapa tokoh yang pernah berhadapan dengan kegagalan namun mereka tidak menjadi putus asa melainkan bersabar sambil terus berusaha. Kegagalan mereka tidaklah menjadi alasan untuk mundur melainkan menjadi motivator untuk tetap maju.
Iblis.
Salah satu hal yang seharusnya menjadi pelajaran berarti bagi kita adalah pribadi dan cara kerja iblis. Di dalam cerita iblis mencobai Yesus (Luk 4:1-13), ia (iblis) memperlihatkan dirinya sebagai pribadi yang tidak gampang putus asa. Dikisahkan bahwa iblis mencobai Yesus sebanyak tiga kali. Pertama-tama ia mencobai Yesus yang sedang lapar dengan menyuruh Yesus merubah batu-batu menjadi roti tetapi ia gagal.  Selanjutnya iblis melancarkan pencobaannya yang kedua tetapi gagal juga. Iblis melanjutkan dengan cobaan ketiga dan ternyata bukan saja Yesus tidak tergoda, tetapi ia malah diusir oleh Yesus (Matius 4:10).
Walaupun iblis tidak berhasil menggoda Yesus, tetapi minimal kita dapat melihat bahwa iblis tidak mudah putus asa dalam pekerjaannya. Kegagalan cobaan pertama tidak membuat ia mundur. Ia masih mencobai untuk kedua kalinya, dan ternyata gagal juga maka ia mencobai untuk ketiga kalinya. Ketika cobaan yang ketiga pun gagal, apakah ia putus asa? Tidak! Alkitab berkata : “iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu watu yang baik” (Luk 4:13). Setelah beberapa waktu kemudian, iblis mulai mengadakan serangan lewat Petrus (Mat 16:21-23), lewat Yudas Iskariot (Luk 22:3) dan lewat Petrus lagi saat Petrus ia meyangkal Yesus. Bukankah semuanya itu sudah cukup untuk membuktikan ketidakputusasaan iblis? Memang ia tidak berhasil mencobai Yesus di padang gurun karena kuasa, otoritas dan komitmen Yesus kepada kebenaran, tetapi bukankah ketidakputusasaannya cukup membuahkan hasil dengan tergodanya Yudas dan penyangkalan Petrus pada Yesus? Bukankah ketidak-putusasaannya banyak membuahkan hasil  dengan banyaknya hamba Tuhan  yang jatuh ke dalam dosa walaupun di awalnya begitu kuat menghadapi godaan? Rupanya hal inilah yang merupakan kunci keberhasilan iblis.
Thomas Alfa Edison
Tentu nama Thomas Alfa Edison bukanlah nama yang asing bagi kita. Ia adalah penemu lampu pijar pertama kali yang akhirnya dikembangkan menjadi lampu listrik yang ada sekarang ini. Ia lahir pada tanggal 11 Februari 1847 di Milan, Ohio Amerika Serikat. Pada umur 7 tahun masuk sekolah dan 3 bulan kemudian dikeluarkan karena dianggap sangat bodoh dan kepalanya kosong. Pada umur 10 tahun tertarik dengan ilmu pengtetahuan kue di kereta api. Pada umur 12 tahun menjadi penjual koran. Pada umur 14 tahun kondektur Kereta Api menampar kepalanya sehingga gendang telinga kanannya pecah dan ia menjadi tuli. Pada umur 15 tahun menyelamatkan anak kepala stasiun. Pada umur 16 tahun menjadi petugas telegram. Pada umur 22 tahun mendapat pekerjaan di New York, gajinya cukup besar. Pada umur 23 tahun membuat telegraf dan mendirikan pabrik kecil di New Ark, New Jersey. Pada umur 29 tahun pindah ke Menlo Park, New Jersey. Di sini ia mendirikan laboratorium riset yang merupakan fondasi bagi industri modern. Laboratorium ini mendapat julukan “Pabrik Penemuan”. Pada umur 30 tahun, secara kebetulan ia menemukan fonograf. Inilah satu-satunya penemuan Edison yang tidak mengalami kegagalan sekalipun. Pada tanggal 21 Oktober pada umur 32 tahun, berhasil membuat lampu listrik yang lebih baik mutunya daripada lampu listrik tenaga ciptaan Swan. Pada umur 33 tahun membuat lokomotif listrik eksperimental. Pada umur 35 tahun membuat pusat listrik tenaga uap di London dan New York. Pada umur 41 tahun membuat kamera film dan proyektor film. Dan akhirnya pada tanggal 18 Oktober 1931, umur 84 tahun ia menutup usia. Edison adalah seorang jenius, artinya orang yang berbakat besar untuk menciptakan sesuatu. Tetapi, waktu ia ditanya “Apakah jenius itu?” Jawabnya “Jenius adalah 1 % bakat, 99 % keringat.” Maksudnya, kalau ingin berhasil kita harus bekerja keras.
Edison sering mengalami kegagalan, tetapi ia tidak kenal putus asa untuk menemukan kawat pijar, ia mengalami kegagalan 9000 kali. Untuk menemukan aki, ia mengalami kegagalan 10.000 kali. Namun ia terus berusaha sampai ia mendapatkan yang ia cari. Dalam perkembangan selanjutnya ada murid Edison yang datang mengeluh karena sudah mengalami 99 kali kegagalan, dan Edison menjawab “Engkau bukan mengalami 99 kali kegagalan melainkan 99 kali pelajaran. Dengan gagal 99 kali berarti engkau tahu bahwa ada 99 hal yang tidak boleh dilakukan. Jadi kegagalan adalah pelajaran”. Rajin belajar, giat bekerja, gemar berpikir. Tentang berpikir, Edison berkata “Orang yang tidak mau mengembangkan kebiasaan berpikir, kehilangan kenikmatan hidup yang paling besar.” Hasil pemikiran Edison telah membuat umat manusia menikmati terang listrik, bioskop, telepon, telegraf, radio, televisi, tape recorder, dsb. Itulah pengalaman yang dapat kita timba dari kehidupan dan prestasi Edison. Ia mengalami kegagalan demi kegagalan, namun itu tidak membuatnya menjadi putus asa dan menyerah melainkan memberinya semangan untuk terus berpestasi dan meraih keberhasilan.
Abraham Lincoln
Siapakah Abraham Lincoln sebenarnya? Berikut marilah kita melihat sejarah hidup tokoh ini yang tidak jarang mengalami kegagalan dalam hidupnya. Tahun 1831 ia mengalami kebangkrutan dalam usahanya. Tahun 1832 ia kalah dalam pemilihan lokal. Tahun 1833 ia kembali mengalami kegagalan dalam usahanya. Tahun 1835 isterinya meninggal dunia. Tahun 1836 ia stres dan menderita tekanan mental sedemikian rupa sehingga hampir saja masuk rumah sakit jiwa. Tahun 1837 ia kalah dalam lomba pidato. Tahun 1840 ia gagal dalam pemilihan anggota Senat Amerika Serikat. Tahun 1842 ia menderita kegagalan untuk duduk sebagai anggota kongres Amerika. Tahun 1847 ia ka kalah lagi di kongres. Tahun 1855 ia kalah lagi di senat Amerika Serikat. Tahun 1856 ia gagal untuk duduk sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat. Tahun 1858 ia  gagal lagi di Senat. Akhirnya pada tahun 1860 ia berhasil terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat.
Sungguh ini adalah suatu pengalaman yang luar biasa. Saya belum pernah berjumpa dengan seorang pun yang begitu banyak mengalami kegagalan seperti Lincoln, tetapi fakta memperlihatkannya sebagai orang yang tidak gampang menjadi putus asa dengan sekian banyak kegagalan itu.  Inilah cara kedua yang seharusnya kita miliki ketika hidup kita diperhadapkan dengan berbagai kegagalan. Janganlah cepat putus asa, tetaplah bersabar dan teruslah berusaha, maka keberhasilan akan menjadi bagian hidup kita.
3. Bersyukurlah dan belajarlah untuk melihat rencana Allah yang lebih indah.
Sebagai langkah terakhir yang perlu kita lakukan di dalam menghadapi kegagalan setelah mengoreksi diri dan terus berusaha adalah bersyukur dan belajar untuk melihat rencana Allah yang lebih indah di balik semua kegagalan itu. Sebenarnya konsep yang ada di balik sikap ini adalah iman dan kepercayaan bahwa Allah adalah Allah yang baik dan selalu menginginkan yang terbaik bagi kita sebagai anak-anak-Nya. Kebaikan Allah ini adalah sifat yang unik karena kebaikan ini kadang disalurkan melalui kegagalan-kegagalan kita. Ia menginginkan yang terbaik bagi kita namun apa yang kita inginkan kadang tidak baik bagi diri kita sendiri tetapi kita tidak mengetahui hal itu. Itulah sebabnya demi menghindarkan kita dari “kecelakaan” karena keinginan semacam itu maka Ia mengijinkan kegagalan kedalam setiap usaha dan keinginan kita sehingga kegagalan demi kegagalan selalu mendampingi kita. Menghadapi kebenaran semacam ini maka sikap yang paling bijaksana adalah keberanian untuk belajar bersyukur dan mata untuk melihat rencana-Nya yang lebih indah.
Kalau demikian, apakah kegagalan itu selalu adalah kemalangan? Tentu tidak! Ada kegagalan yang adalah kemalangan dan itu datangnya dari diri kita sendiri, tetapi ada kegagalan yang justru adalah keuntungan. Kegagalan semacam ini biasanya datang dari sifat kebaikan Allah. Di sini kita seharusnya mempunyai cara pandang yang baru terhadap kegagalan bahwa kegagalan kadangkala menguntungkan kita. Di hadapan fakta semacam inilah seharusnya ketika berhadapan dengan kegagalan maka setelah mengoreksi diri langkah yang perlu kita lakukan adalah bersyukurlah kepada Allah dan belajarlah untuk melihat rencana-Nya yang lebih indah karena Dia adalah Allah yang baik yang dapat menyediakan keberhasilan bagi kita di balik semua kegagalan kita.

Esra Alfred Soru*

Di dalam kehidupan ini, sesungguhnya semua orang ingin berhasil. Tidak ada seorang pun yang ingin gagal. Kalaupun ada orang yang ingin gagal, pastilah ada yang tidak beres dengan orang tersebut lagi pula tentunya jika ia ingin gagal maka ia ingin berhasil dalam kegagalan itu. …» Baca selengkapnya »

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.