Doktrin Tritunggal I

Tritunggal

APA ITU DOKTRIN TRITUNGGAL
Esra Alfred Soru*
Bagian Pertama Dari Enam Tulisan

Sebenarnya beberapa tulisan saya tentang doktrin Tritunggal sudah pernah dimuat di Harian Timor Express di antaranya adalah ketika berpolemik dengan David Yohanes Meyners si Saksi Yehovah itu beberapa bulan yang lalu. Namun demikian, untuk melengkapi pemahaman umat Kristen tentang doktrin ini, maka dalam beberapa hari ini saya akan menurunkan tulisan-tulisan yang lebih lengkap tentang doktrin ini.Β 

Sebelum kita membahas arti Tritunggal, maka pertama-tama yang harus dipikirkan adalah tentang masalah terminologi (penggunaan istilah) dalam konteks ini. Selain Tritunggal, kata lain yang sering dipakai adalah β€œTrinitas” (Ing: Trinity). Louis Berkhof berkata bahwa kata bahasa Inggris β€œTrinity” tidaklah seefektif kata bahasa Belanda β€œDrie enheid” sebab kata itu bisa saja hanya untuk menunjukkan arti tiga tanpa adanya implikasi kesatuan dari ketigaannya. (Teologi Sistematika (Doktrin Allah); 1993; hal. 145). Karena itu selain kata ini banyak digunakan, tetapi demi ketidaksimpangan pengertian, lebih baik digunakan kata β€œTritunggal”.

Secara etimologi, kata β€œTritunggal” berasal dari kata bahasa Latin β€œTrinitas” yang terdiri dari dua kata, yaitu β€œtres” yang artinya β€œtiga”, dan β€œunus” yang berarti β€œesa”, β€œtunggal” atau β€œsatu”. (Thomas N. Raltson; Elements of Divinity; 1924; hal. 58). Jadi, Tritunggal artinya tiga satu. Tiga satu apa? Atau apa yang tiga satu ? Memang sulit mengartikan kata ini di luar konteks kekristenan, sebab kata ini secara eksklusif digunakan dalam dunia Teologia Kristen, sehingga arti yang dikenakan kepadanya menjadi eksklusif pula. Adapun pengertian Tritunggal (tiga satu) ini dalam konteks Teologia Kristen adalah pengertian yang seimbang antara tiga dan satu. Penekanan terhadap tiga dan mengabaikan satu ataupun penekanan terhadap satu dan mengabaikan tiga, menjadikan kata ini kehilangan pengertiannya yang benar di dalam Teologia Kristen. Pandangan para teolog Injili biasanya adalah pandangan dengan konsep seperti di jelaskan di atas. Seperti pandangan yang dikemukakan oleh B.B. Warfield bahwa : β€œAda satu Allah yang benar dan satu-satunya, tetapi di dalam keesaan dari keallahan ini ada tiga pribadi yang sama kekal dan sepadan, sama di dalam hakikat, tetapi berbeda di dalam pribadi” (Charles C. Ryrie; Basic Theology; 1988; hal. 53). A.W.Tozer juga berkata bahwa : β€œDi dalam Tritunggal ini tidak ada yang lebih dahulu atau lebih kemudian, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil, tetapi ketiga pribadi itu sama-sama kekal, bersama-sama, dan setara”. (Mengenal Yang Maha Kudus; 1995; hal. 35; lihat juga Peter Wongso: Doktrin Tentang Allah (Diktat); 1988; hal. 31). Dan mungkin pandangan yang paling lengkap adalah pandangan atau pengertian yang disampaikan oleh Stephen Tong : β€œDoktrin Tritunggal termasuk doktrin monoteisme yang percaya kepada Allah Yang Maha Esa. Dan Allah Yang Maha Esa itu mempunyai tiga pribadi, bukan satu. Pribadi pertama adalah Allah Bapa, pribadi kedua adalah Allah Anak (Yesus Kristus) dan pribadi ketiga Roh Kudus. Tiga pribadi bukan berarti tiga Allah, dan satu Allah bukan berarti satu pribadi. Tiga pribadi itu mempunyai satu esensi atau sifat dasar (Yunani: Ousia; Inggris : substance) yang sama, yaitu Allah. Allah Bapa adalah Allah, Allah Anak adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah, namun ketiga-Nya mempunyai satu ousia, yaitu esensi Allah (Allah Tritunggal; 1990; hal. 20-21). Dengan demikian dalam konteks Teologia Kristen yang memahami Allah sebagai tiga pribadi dalam satu kesatuan, maka penekanan terhadap β€œkeesaan” atau β€œketigaan-Nya” saja, membuat doktrin ini kehilangan artinya, sekaligus menyebabkan kejatuhan ada dua ekstrim yaituΒ  pandangan yang menganggap adanya tiga Allah dan pandangan yang menganggap adanya satu Allah dan menyatakan diri dalam tiga keadaan yang berbeda. Jadi, pengertian yang benar adalah pengertian yang mampu mengakomodasi kedua konsep ini (keesaan dan ketigaan), atau dengan kata lain mampu menyeimbangkan antara keesaan (ketunggalan) dan ketigaan Allah.

Kedudukan Doktrin Tritunggal Dalam Teologia Kristen

Doktrin Tritunggal adalah doktrin yang sangat penting dalam Teologia Kristen. Jatuh bangunnya iman Kristen sungguh-sungguh bergantung pada benar-tidaknya doktrin ini. Semua doktrin kekristenan secara otomatis akan runtuh, jika doktrin Tritunggal runtuh. Sebab, hampir semua pokok penting dalam agama Kristen, bergantung pada ajaran bahwa Allah adalah tiga dalam satu. (Bruce Milne : Mengenal Kebenaran ; 1993, hal. 90). Henry B. Smith berkata :Β  β€œKetika doktrin tentang Trinitas ditinggalkan, bagian-bagian lain dari iman, seperti pendamaian dan regenerasi selalu juga ditinggalkan.” (Henry B. Smith dalam buku A.H. Strong: Systematic Theology, Vol. I: The Doctrine of God); 1907; hal. 351). Jadi dengan kata lain dapat dikatakan bahwa doktrin Tritunggal adalah fondasi Teologia Kristen. Mungkin karena alasan inilah maka aliran sesat seperti Saksi Yehovah dan penyiar Kerajaan Allahnya (David Yohanes Meyners) berjuang mati-matian untuk meruntuhkan doktrin ini. Untuk lebih jelas tentang kedudukan doktrin Tritunggal dalam Teologia Kristen, berikut ini akan dipaparkan hubungan doktrin Tritunggal dengan beberapa doktrin pokok dalam kekristenan di antaranya adalah Teologia (doktrin Allah), Kristologi (doktrin Kristus), Pneumatologi (doktrin Roh Kudus), dan Soteriologi (doktrin keselamatan).

Hubungan Doktrin Tritunggal Dengan Teologia
Β 
Dalam doktrin tentang Allah secara umum (Teologia), yang dikaitkan dengan Tritunggal maka hal yang menarik untuk disoroti adalah masalah wahyu (revelation) sebab wahyu adalah satu-satunya cara manusia untuk dapat memahami Allah yang transenden. Tanpa wahyu, manusia tak mungkin mengenal Allah, apalagi mengenalnya dengan benar. Wahyu (revelation) adalah tindakan Allah keluar dari β€œselubung-selubung-Nya” untuk memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Pertama-tama Allah melakukannya melalui apa yang disebut sebagai wahyu umum (General revelation of God) yaitu melalui penciptaan dunia ini. Tetapi karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, mengakibatkan terjadinya distorsi dalam keseluruhan aspek hidup yang membuat manusia tak mampu mengenal Allah melalui wahyu umum-Nya. Karena itu Allah memberikan wahyu khusus (Special revelation of God), yaitu melalui pribadi kedua dari Allah Tritunggal. Demi kepentingan wahyu khusus ini, maka ketiga oknum Allah terlibat di dalamnya. Allah Bapa sebagai β€œYang dinyatakan”, Allah Anak sebagai β€œYang menyatakan” dan Allah Roh Kudus sebagai β€œYang memungkinkan penyataan”. Dalam konteks ini, penting juga untuk memikirkan apa yang dikatakan oleh Augustus Hopkins Strong bahwa β€œTrinitas adalah cara yang paling inteligen untuk mengerti Allah sebagai pribadi.”

Hubungan Doktrin Tritunggal Dengan Kristologi
Β 
Sebenarnya agak sulit untuk memberikan garis pemisah yang jelas antara doktrin Tritunggal dan Kristologi sebab keduanya mempunyai hubungan atau keterkaitan yang sangat erat satu dengan lainnya. Kristus adalah salah satu oknum dari Allah Tritunggal di samping Sang Bapa dan Roh Kudus. Itulah sebabnya Otto Weber berkata, β€œMemang kita tak dapat membahas soal Trinitas tanpa menyinggung soal Kristologi.” (Otto Weber dalam buku Andar Tobing: Apologetika Tentang Trinitas: 1972; hal. 19). Memang secara historis perdebatan Kristologi terjadi lebih dahulu daripada perdebatan tentang doktrin Tritunggal, namun secara hakiki sebenarnya ada hubungan timbal balik antara kedua doktrin ini. Doktrin Tritunggal tak dapat dibenarkan jika ternyata doktrin Tritunggal keliru. John F. Walvoord mengaitkan Kristologi dengan doktrin Tritunggal dengan mengatakan bahwa : β€œSetiap serangan terhadap doktrin Tritunggal merupakan serangan pula terhadap pribadi Kristus. Sebaliknya setiap serangan terhadap pribadi Kristus merupakan serangan terhadap doktrin Tritunggal, karena keduanya berdiri dan jatuh bersama.” (Yesus Kristus Tuhan Kita ; tt; hal. 25).
Β 
Hubungan Doktrin Tritunggal Dengan Pneumatologi
Β 
Mungkin hubungan Pneumatologi dengan doktrin Tritunggal tak berbeda jauh dengan hubungan Kristologi dengan doktrin Tritunggal, sebab sama seperti Kristus, Roh Kudus pun adalah salah satu dari oknum-oknum Tritunggal. Dengan demikian, kekeliruan doktrin Tritunggal menggugurkan Pneumatologi, dan kekeliruan pneumatologi menggugurkan doktrin Tritunggal. Sama seperti pandangan Walvoord di atas, walaupun ia hanya mengaitkan doktrin Tritunggal dengan Kristologi, tetapi adalah benar kalau hal ini pun dikaitkan dengan Pneumatologi. Setiap serangan terhadap pribadi Roh Kudus adalah serangan terhadap doktrin Tritunggal, dan setiap serangan terhadap doktrin Tritunggal juga merupakan serangan terhadap pribadi Roh Kudus. Selain itu perlu ditambahkan pula bahwa Roh Kudus adalah pribadi yang aktif dalam semua tindakan ilahi. Ia terlibat dalam tindakan penciptaan, Ia terlibat dalam karya penebusan dan memberi hidup baru, Ia juga terlibat dalam tindakan pewahyuan dengan menurunkan Firman ke dunia. (Stephen Tong: Roh Kudus, Doa dan Kebangunan, 1995: 10).

Hubungan Doktrin Tritunggal Dengan Soteriologi

Selain hubungan dengan Teologi, Kristologi dan Pneumatologi, doktrin Tritunggal pun memiliki hubungan yang sangat erat dengan doktrin keselamatan (Soteriologi). Keeratan hubungan ini dapat dijelaskan melalui peranan ketiga oknum Allah ini dalam rencana keselamatan manusia.

Seluruh tindakan Allah harus dilihat dari kaca mata soteriologi, karena segala sesuatu yang dilakukan Allah seperti tindakan penciptaan, (oleh Allah Bapa), penebusan (oleh Allah Anak), dan pewahyuan (oleh Allah Roh Kudus) merupakan β€œisi” dari sejarah keselamatan yang telah dirancang-Nya sejak kekekalan. Jadi, rencana atau sejarah keselamatan manusia tak dapat dilepaskan dari keterlibatan ketiga oknum Allah ini. Inilah arti praktis dari dogma ketritunggalan. (Niftrik & Boland : Dogmatika Masa Kini ; 1984; hal. 553). Memang dalam semua tindakan ilahi ini ketiga-Nya terlibat secara aktif, tetapi secara khusus dapatlah dikatakan bahwa Allah Bapa adalah perancang keselamatan, Allah Anak adalah pelaksana karya keselamatan, dan Allah Roh Kudus adalah mediator dalam karya keselamatan itu. Jadi seluruh pengertian keselamatan Kristen dan penerapannya pada pengalaman manusia, tergantung pada ketritunggalan Allah (Bruce Milne : 91). Boettner mengatakan bahwa : β€œJika tidak ada trinitas, maka tak akan ada penjelmaan, tidak ada penebusan yang obyektif, dan karena itu tak ada penyelamatan; karena tak akan ada oknum yang mampu bertindak sebagai pengantara antara Allah dan manusia.” (Boettner dalam buku Thiessen: Teologi Sistematika ; 1992; hal. 152). Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh A.H. Strong bahwa : β€œJika Allah itu hanya satu secara absolut, maka tidak ada perantaraan atau pendamaian, karena antara Allah dan makhluk ciptaan tertinggi ada jurang pemisah yang kekal. Kristus tidak dapat membawa kita lebih dekat kepada diri-Nya sendiri. Hanya Allah sajalah yang dapat memperdamaikan kita dengan Allah. Demikian juga hanya Allah sajalah yang dapat menyucikan jiwa kita. Allah yang hanya satu, tetapi di dalam-Nya tidak ada pluralitas, dapat menjadi hakim kita, tetapi – sejauh kami lihat – tidak bisa menjadi Juruselamat atau yang menyucikan kita. (A.H. Strong : 350).

* Penulis adalah kuli bengkel Teologi β€œPELANGI KASIH”, lahir dan tinggal di Kupang

Selanjutnya :

Sebelumnya :

Comments are closed.

Trackback URL for this entry

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.