Doktrin Tritunggal IV

Tritunggal

ALLAH TRITUNGGAL
(Sebuah Pembahasan Teologis Alkitabiah)
Esra Alfred Soru*

Bagian Keempat Dari Enam Tulisan

Setelah memahami kesulitan dan cara sikap yang benar di dalam mempelajari doktrin Tritunggal, maka pada bagian ini akan dipaparkan suatu dasar teologis-alkitabiah yang menjadi landasan doktrin ini.

Perjanjian Lama

Karena kebenaran Tritunggal adalah wahyu Allah, dan wahyu Allah itu bersifat progresif, maka haruslah disadari bahwa Perjanjian Lama tidak memberikan bukti-bukti secara eksplisit tentang ketritunggalan Allah, melainkan hanya memberikan indikasi-indikasi ke arah kenyataan ini. Louis Berkhof berkata : “Alkitab tak pernah berhubungan dengan doktrin Tritunggal sebagai suatu kebenaran yang abstrak, akan tetapi Alkitab mengungkapkan kehidupan Tritunggal dalam berbagai hubungan sebagai suatu kenyataan yang hidup….” (Teologi Sistematika (Doktrin Allah); 1993; hal. 148). Oleh sebab itu maka konsep yang akan dipaparkan di dalamnya tentu hanya bersifat indikatif saja.

Ayat pertama dalam PL yang perlu diperhatikan lebih awal adalah Kej 1:26 :  “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” dan ayat-ayat lainnya yang mirip dengan itu antara lain seperti Kej 3:22; 11:7; Yesaya 6:8, dan lain-lain. Harus diakui bahwa sebenarnya bentuk jamak (plural) dalam ayat ini tidak secara langsung menunjuk kepada Allah Tritunggal, sebab dalam corak Perjanjian Lama penggunaan bentuk jamak adalah untuk menggambarkan atau merupakan suatu jamak kehormatan “plural maiestaticus” (Walter Lempp: Tafsiran Kej; 1974; hal. 36). Sekalipun demikian tak dapat disangkal bahwa ayat-ayat itu mengandung petunjuk tentang adanya perbedaan pribadi dalam diri Allah dan juga menunjuk kepada keadaan jamak dari pribadi-pribadi itu. (Berkhof : 149). Mungkin hal menarik yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memikirkan kebenaran Tritunggal adalah bahwa ada pribadi lain yang sangat jelas dibedakan dari Allah (Bapa). Contoh dalam Alkitab yang memaparkan kebenaran ini adalah Kej 1:1-2 : “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi…dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Selain itu Alkitab juga mencatat adanya pribadi lain di samping Allah yang esa dan memiliki kualitas yang sama dengan Allah dalam segala hal, tetapi sekali lagi semuanya ini masih bersifat indikasi-indikasi ke arah doktrin Tritunggal.

Ada penyataan tentang pribadi lain di samping Allah (Bapa). Yang dimaksud di sini adalah bahwa dalam Alkitab dibedakan juga tentang Tuhan yang dibedakan dari Tuhan (Allah) (Henry C. Thiessen; Teologi Sistematika; 1992, hal. 140). Contohnya seperti yang terdapat dalam Kej 19:24 : “Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari Tuhan, dari langit.”  Hos 1:7 : “Tetapi Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka demi TUHAN, Allah mereka.” Zak 3:2 : “Lalu berkatalah malaikat TUHAN kepada iblis itu: ‘TUHAN kiranya menghardik engkau, hai iblis!’” Jadi ayat-ayat di atas sungguh menunjukkan perbedaan yang jelas antara Tuhan (Allah) dengan Tuhan.
 
Ada penyataan tentang pribadi kedua dari Allah Tritunggal. Selain mengungkapkan suatu perbedaan antara TUHAN dan TUHAN (Allah) secara umum, Alkitab juga memberi penyataan tentang pribadi kedua dari Allah Tritunggal. Di dalam Perjanjian Lama sering digunakan istilah atau sebutan “Malaikat Tuhan” yang sering menampakkan diri kepada orang-orang tertentu seperti pada Hagar (Kej 16:7-14), Abraham (Kej 22:11-18), Yakub (Kej 31:11-13), Musa (Kel 3:2-5), Israel (Kel 14:19), Bileam (Bil 22:22-35), Gideon (Hak 6:11-23), Manoah (Hak 13:2-25), Elia (I Raj 19:5-7), dan Daud (I Taw 21:15-17). Menurut R. Soedarmo istilah atau sebutan “Malaikat Tuhan” ini tidaklah menunjuk kepada malaikat biasa (R. Soedarmo; Ikhtisar Dogmatika; 1985; hal. 94-95) karena : (1) Ia berfirman atas nama-Nya sendiri (Kej 16:10) (2) Ia mau disembah oleh orang (Yosua 5, Hakim-hakim 2) padahal malaikat  biasa tidak boleh dan tidak mau disembah (Wahyu 19:10 ; 22:9) (3) Ia juga disebut Allah (Kej 16:13) tetapi merupakan petunjuk khusus kepada pribadi kedua dari Allah Tritunggal pada masa pra inkarnasi. Penampilan-Nya dalam Perjanjian Lama ini merupakan pertanda dari kedatangan-Nya sebagai manusia di kemudian hari. (Thiessen :140)
 
Ada penyataan tentang pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Dalam Perjanjian Lama, pribadi ketiga dari Allah Tritunggal yaitu Roh Kudus pun dinyatakan dan dibedakan dari Allah (Bapa). Kej 1:1-2 : “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi…dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Kel 31:1-3 : “Berfirmanlah Tuhan kepada Musa…dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah.” Demikianlah beberapa indikasi yang mengarah kepada konsep Tritunggal yang nampak dalam Perjanjian Lama.

Perjanjian Baru
 
Kalau dalam Perjanjian Lama konsep Tritunggal tidak terlalu jelas dan hanya bersifat indikatif saja, maka dalam Perjanjian Baru, kebenaran ini sangat jelas dan sungguh ditekankan. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa:

Ada tiga pribadi (Bapa, Anak dan Roh Kudus) yang sering disebutkan secara bersama-sama. Ayat-ayat di bawah ini memperlihatkan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus disebutkan secara bersama-sama. Mat 3:16-17 : “Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan : “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku (Bapa) berkenan.”  Mat 28:19 : “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Juga 2 Kor 13:13 : “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus  menyertai kamu sekalian.” Bandingkan juga dengan ayat-ayat lain seperti 1 Kor 12:4-6; Efesus 1:13-14; 1 Petrus 1:2; 3:18 dan Wahyu 1:4-5.

Ada tiga pribadi yang dinyatakan sebagai Allah dan memiliki kualitas ilahi yang sama dalam berbagai hal. Setelah melihat ayat-ayat di atas, maka pertanyaan penting yang harus dipikirkan adalah “Siapakah Anak (Yesus Kristus) dan Roh Kudus ini sehingga Nama “Mereka” layak disejajarkan dengan Nama Allah (Bapa)?”  Tentang Allah Bapa, tentunya tidak ada masalah lagi yang berkaitan dengan keilahian-Nya, sebab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dengan sangat jelas berbicara tentang Ia sebagai Allah, dan juga bahwa dalam kerangka doktrin Tritunggal, pribadi Bapa sangat jarang dipersoalkan. Tetapi bagaimana dengan Anak dan Roh Kudus? Kedua oknum ini sungguh-sungguh menjadi persoalan dan titik pusat perdebatan (terutama Sang Anak). Siapakah Mereka? Apa hubungan Mereka dengan Allah (Bapa)? Untuk lebih jelasnya, betapa perlu melihat kedua pribadi ini (Anak dan Roh Kudus) satu per satu secara khusus tentang keilahian Mereka : (1) Anak (Yesus Kristus). Iman Kristen yang ortodoks berdiri dengan kokoh di atas dasar keilahian Kristus. Jikalau Yesus Kristus ternyata bukan Allah, maka runtuhlah fondasi iman Kristen. Itulah sebabnya betapa penting untuk memahami pribadi Kristus dengan benar. Di Kaisarea Filipi Yesus pernah mengajukan suatu pertanyaan tantangan, “Kata orang banyak siapakah Aku ini?” (Luk 9:18-21). Lalu murid-murid pun menjawab sesuai dengan pendapat orang banyak bahwa ada yang mengatakan Yoh Pembaptis, ada juga yang mengatakan Elia, Yeremia atau seorang dari para nabi. Tetapi setelah itu Yesus melanjutkan pertanyaan-Nya yang sangat bersifat pribadi, “Menurut kamu siapakah Aku ini?” Lalu Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup.” Menanggapi jawaban Petrus, Yesus berkata “…engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Kata “di atas batu karang ini” sebenarnya tidak menunjuk kepada Petrus secara pribadi melainkan kepada pengakuannya itu. Jadi dengan kata lain gereja berdiri atas dasar pengakuan terhadap keilahian Kristus. ”Apakah pendapatmu tentang Kristus?”  merupakan pertanyaan utama  dalam kehidupan setia orang Kristen. (Thiessen : 142). Atas kebenaran inilah maka betapa pentingnya memikirkan keilahian Kristus. Secara ringkas iman Kristen mengakui keilahian Kristus karena beberapa hal. Ia memiliki nama ilahi di mana Ia disebut Allah (Ibr 1:8), Ia disebut Anak Allah (Mat 16:16-17), Ia disebut Raja segala raja, Tuhan segala tuan (Wahyu 19:16). Ia juga  memiliki sifat-sifat ilahi di mana Ia kekal (Yoh 1:15; 8:58; 17:5, 24; Kolose 1:15, dll), Ia maha hadir (Mat 18:20; 28:20, dll), Ia maha tahu (Yoh 2:24-25; 16:30; 21:17; Luk 6:8; 11:17, dll), Ia maha kuasa. Ia berkuasa atas penyakit (Luk 4:39), atas setan (Luk 4:34-35), atas segala yang hidup (Yoh 17:2), atas alam semesta (Mat 8:26) dan atas kematian (Luk 7:12-17). Ia juga suci (Ibr 7:26-28) dan tidak berubah (Ibr 13:8; 1:12). Ia melakukan tindakan-tindakan ilahi & tidak menolak diperlakukan sebagai yang ilahi di mana Ia mencipta (Yoh 1:3; Kolose 1:16; Ibr 1:10), menopang segala sesuatu (Kolose 1:17), mengampuni dosa (Mat 9:2, 6; Luk 7:47-48), membangkitkan orang mati (Luk 7 :11-17), menghukum manusia (2 Timotius 4 :1 ; Yoh 5 :22-23) dan juga memberi hidup yang kekal (Yoh 10:28; 17:2) serta menerima penyembahan dari manusia (Mat 14:33; Luk 24:52; Ibr 1:6; Yoh 20:28; Wahyu 5:8). (2) Roh Kudus. Sama seperti Kristus, Roh Kudus juga adalah oknum ilahi yang berada di samping dan bersama-sama dengan Allah. Tetapi sebelum melihat bukti-bukti alkitabiah tentang keilahian Roh Kudus, haruslah diingat bahwa doktrin Roh Kudus juga mendapat tantangan yang sangat berat. Roh kudus tidak diakui sebagai suatu pribadi, seperti pandangan Schleirmacher yang melihat Roh Kudus hanya sebagai suatu gerakan dan inspirasi yang bersifat agama saja. (Stephen Tong; Roh Kudus, Doa dan Kebangunan; 1995; hal. 2). Oleh sebab itu, sangatlah penting melihat dan meneliti apa kata Alkitab tentang hal ini. Sebab, sama seperti apa yang dikatakan oleh Loraine Boettner bahwa setelah kepribadian Roh Kudus didirikan, hanya sedikit orang yang menyangkal keilahian-Nya. Jelas Ia bukan makhluk ciptaan, maka kalau mengakui kepribadian-Nya, haruslah menerima keilahian-Nya juga (Loraine Boettner, 1947: 89). Alkitab juga jelas memberikan bukti-bukti tentang kepribadian Roh Kudus antara lain : Bukti melalui keberadaan-Nya di mana Ia memiliki pikiran (Rom 8:27), perasaan (Efesus 4:30) dan  kehendak (1 Kor 12:11). Bukti melalui karya-karya-Nya di mana Ia mengajar (Yoh 14:26), memimpin (Rom 8:14), memerintah (Kis 8:29) dan juga berkata-kata (Yoh 15:26; 2 Petrus 1:21). Bukti melalui pengakuan yang dikenakan kepada-Nya di mana Ia bisa ditipu (Kis 5:3), bisa ditentang (Kis 7 :51), bisa dihujat (Mat 12 :31), didukakan (Efesus 4:30) dan dihina (Ibr 10:29). Dengan demikian Roh Kudus adalah suatu pribadi, namun bukan hanya pribadi saja tetapi pribadi ilahi. Keilahian-Nya ini dapat dilihat dari kenyataan-kenyataan bahwa : Ia memiliki nama-nama ilahi di mana Ia disebut Allah (1 Kor 6:11), disebut Roh Kristus (Rom 8:9), disebut Roh yang kekal (Ibr 9:11), disebut Roh kebenaran (Yoh 16:13), disebut Roh kemuliaan (1 Petrus 4:14) dan disebut Roh kekudusan (Rom 1:4). Ia juga disetarakan dengan Bapa dan Anak (Mat 28:19; 2 Kor 13:13). Ia memiliki sifat-sifat ilahi seperti maha tahu (Yoh 14:26; 16:13; 1 Kor 2:10-11), maha kuasa (Luk 1:35; Kis 1:2), maha hadir (Maz 139 :7-10), memberi hidup (Rom 8:2) dan Ia kekal (Ibr 9:14) dan Ia melakukan tindakan-tindakan ilahi seperti  terlibat dalam karya penciptaan (Kej 1:2), mengilhamkan Firman Allah (2 Pet 1 :21), berkarya dalam proses inkarnasi (Luk 1:35), meyakinkan orang percaya (Yoh 16:8), melahirbarukan manusia (Yoh 3:5-6), memberi penghiburan (Yoh 14:26) dan menyucikan /menguduskan (2 Tes 2:13). Fakta-fakta di atas (tentang Anak dan Roh Kudus) telah membuktikan bahwa Anak dan Roh Kudus memiliki kualitas ilahi yang sama dengan Bapa. Dengan demikian dapat dilihat bahwa ada tiga pribadi ilahi yang hidup berdampingan dari kekal hingga kekal, yakni Bapa, Anak dan Roh Kudus. Inilah Tritunggal.
  
Hal berikut yang tak boleh dilalaikan adalah tentang masalah keesaan dari ketiga pribadi ilahi itu. Memang ada tiga pribadi ilahi, tetapi doktrin tritunggal tidak berhenti sampai di situ. Doktrin tritunggal menyatakan bahwa ketiga-Nya itu esa. Jika pembahasan tentang konsep Allah hanya berhenti sampai pada adanya tiga pribadi ilahi, maka hal ini sama dengan berkata bahwa ada tiga Allah. Itu berarti konsepsi tersebut telah jatuh ke dalam salah satu ekstrim, yaitu politeisme. Untuk itu maka sangatlah perlu menyoroti aspek keesaan ini secara khusus. Allah itu “Tritunggal”. Dari pembahasan sebelumnya telah jelas bahwa “tri-Nya” terletak pada adanya tiga pribadi ilahi, atau seperti konsep Boettner bahwa ada tiga pusat pengetahuan, kesadaran, kasih dan kehendak yang terpisah satu dari yang lain, sedangkan “tunggal-Nya” (keesaan-Nya) terletak pada esensi-Nya. Secara singkat, pengertian esensi secara umum adalah hakikat barang sesuatu (Louis O. Kattsoff : Pengantar Filsafat;  1986 ; hal. 51). Maksudnya adalah bahwa esensi itu merupakan sesuatu yang menjadikan sesuatu itu seperti dirinya sesuatu itu. Contohnya sebuah segi tiga merupakan sebuah segi tiga. Jika pengertian ini dikaitkan dengan konteks teologis, dapatlah dikatakan bahwa esensi itu hakikat dasar atau “unsur pembentuk” keallahan, atau mungkin lebih dapat dikatakan sebagai “inti dasar” keallahan. Selanjutnya sesuai dengan konsepsi Tritunggal yang mengatakan bahwa letak keesaan pribadi-pribadi Allah Tritunggal adalah pada esensi-Nya, maka esensi di sini mempunyai pengertian sebagai apa yang sama  (“unsur pembentuk” atau “inti dasar”) di antara Mereka bertiga (pribadi-pribadi Allah Tritunggal) di dalam keallahan (Boettner : 106). Maksudnya adalah bahwa : Setiap pribadi itu memiliki “in toto” esensi yang tak terbagi atau terpisahkan dari ilahi di mana  sifat dan kuasa ada di dalamnya, maka setiap pribadi memiliki pengetahuan ilahi, hikmat, kuasa,  kesucian, keadilan, kebaikan dan kebenaran yang sama. Mereka bekerja sama dalam suatu harmonisasi yang sempurna dan bersatu, sehingga kita boleh mengatakan bahwa Allah Tritunggal  bekerja dengan satu pikiran dan satu kehendak. Karena ketiga pribadi dari Tritunggal ini memiliki esensi yang sama, dan karena sifat-sifat yang ada tak dapat dipisahkan dari esensi, maka berarti bahwa semua sifat ilahi dimiliki bersama oleh masing-masing pribadi, dan bahwa ketiga pribadi memiliki tingkatan yang sama dan sama-sama kekal. Setiap pribadi adalah Allah, memakai kuasa yang sama, mengambil bagian di dalam kemuliaan yang sama dan sama-sama berhak disembah. Dengan demikian maka doktrin Tritunggal tidak dapat membawa kepada “triteisme”, karena meskipun ada tiga pribadi di dalam keallahan, tetapi hanya ada satu esensi. Dengan demikian maka hanya ada satu Allah. Satu esensi hidup yang berada dalam tiga pribadi. Ketiga pribadi yang dihubungkan dengan esensi ilahi bukan sebagai 3 individu seperti Abraham, Ishak dan Yakub kepada sifat manusia seperti yang pernah dikemukakan oleh David Yohanes Meyners si Saksi Yehovah yang sesat itu. Mereka hanya satu Allah, buka triad tetapi trinitas.

Beberapa ayat Alkitab yang membuktikan kesamaan esensi di antara pribadi-pribadi Allah Tritunggal antara lain Kol 2 :9 :“Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan”, Yoh 10 :30 : “Aku dan Bapa adalah satu“, Yoh 14 :11 : “Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku…” dan 2 Kor 5 :19 : “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus…”. Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa sekalipun kata ‘Tritunggal’ tidak terdapat dalam Alkitab namun onsep ini menemukan dasarnya dari seluruh berita Alkitab, baik erjanjian lama maupun Perjanjian Baru.

Ilustrasi Tentang Allah Tritunggal

Adalah baik untuk menambahkan kepada pengertian kita ilustrasi tentang ketritunggalan Allah. Namun sebelum kita menemukan ilustrasi yang cocok, harus kembali diingat konsep yang benar tentang ketritunggalan Allah dimana hanya ada satu Allah namun terdiri dari 3 prbadi. (Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah namun ketiganya jika bergabung bukanlah 3 Allah melainkan 1 Allah).

Apakah ilustrasi yang cocok bagi konsep semacam ini ? Hal pertama yang perlu disadari dan patut dipikirkan adalah bahwa semua ilustrasi atau apapun yang dipakai untuk menggambarkan kebenaran tritunggal masih sangat jauh dari kenyataan yang sesungguhnya. Hal ini dikaitkan dengan kesulitan empiris di dalam mempelajari doktrin tersebut seperti pendapat Floyd C. Woodworth, Jr. dan D. Duncan yang mengatakan bahwa: “Dalam pengalaman kita, tidak ada sesuatu yang sebanding dengan ketritunggalan dalam  keesaan dan keesaan dalam ketritunggalan. Kita tahu bahwa tidak ada tiga orang yang secara  struktur ada satu manusia. Tidak ada tiga orang yang masing-masing mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang apa yang dibuat atau yang dipikirkan oleh yang lainnya. Setiap orang memagari dirinya sendiri dengan kebebasan pribadi. Tidak ada manusia yang memiliki kepribadian jamak seperti yang dinyatakan tentang Allah.” (Dasar-Dasar Kebenaran; 1989 ; hal. 26-27). Sekalipun demikian ilustrasi-ilustrasi yang dipakai untuk menggambarkan kebenaran ini perlu diperhatikan agar tidak menyimpang dari kebenaran yang sesungguhnya.

Ada banyak ilustrasi yang sering dipakai untuk menjelaskan ide tentang Tritunggal, antara lain seperti matahari terdiri dari panas, cahaya dan gas heliumnya (Charles C. Ryrie; Basic Theology; 1988 ; hal. 56), sebuah ruangan yang terdiri panjang, tinggi dan lebarnya (Lembaga Pendidikan Kader GKJ/GKI Jateng: Berkumpul di Sekitar Kristus; 1985 ; hal. 161), sebatang rokok yang terdiri dari kertas pembungkus, tembakau, dan filternya (dikembangkan dari ilustrasi yang disampaikan Antonius Widuri dalam: Dialog Masalah Ketuhanan Yesus; 1981 ; hal. 113-114), namun ilustrasi-ilustrasi semacam itu mempunyai dua kelemahan besar yaitu: (1) Eksistensi sesungguhnya (matahari, ruangan dan rokok) adalah hasil “pencampuran” atau penggabungan unsur-unsurnya. Matahari adalah hasil pencampuran antara panas, cahaya dan gas helium; ruangan adalah hasil pencampuran atau penggabungan antara panjang, tinggi dan lebar, dan rokok adalah pencampuran atau penggabungan antara kertas pembungkus, tembakau dan filter. (2) Unsur-unsur dari eksistensi sebenarnya jika berdiri sendiri tak dapat disebut sebagai eksistensi itu sendiri. Contohnya adalah bahwa kertas pembungkus tanpa tembakau dan filter bukanlah rokok, tembakau tanpa kertas pembungkus dan filter bukanlah rokok, dan filter tanpa kertas pembungkus dan tembakau bukanlah rokok. Demikian juga dengan matahari dan ruangan. Kebenaran Tritunggal menyatakan bahwa ketiga oknum itu (Bapa, Anak dan Roh Kudus) adalah Allah walaupun berdiri sendiri-sendiri, dan keallahan Mereka bukanlah hasil penggabungan ketiga-Nya. Jadi Bapa sendiri adalah Allah, Anak sendiri adalah Allah, dan Roh Kudus sendiri adalah Allah. Walaupun demikian Mereka bukanlah tiga Allah, melainkan satu Allah.

Tentu sulit untuk mencari ilustrasi yang tepat untuk menggambarkan ide ini, tetapi minimal ilustrasi yang dipakai tidak menyimpang dari ide sebenarnya.  Ilustrasi yang mendekati kebenaran ini seperti sebuah jeruk yang setelah dikupas kulitnya ditemukan bagian-bagian di dalamnya. Masing-masing bagian ini jika dipisahkan masih dapat disebut jeruk, tetapi jika digabungkan seluruh bagian itu maka semuanya itu adalah satu jeruk dan buka banyak jeruk. Hampir mirip dengan ini adalah sebuah salak. Biasanya terdapat tiga siung di dalamnya. Masing-masing siung itu jika kita pisahkan masih disebut salak tetapi ketika kita satukan kembali ke dalam kulitnya maka itu bukanlah 3 salak melainkan 1 salak. Demikian juga seperti ilustrasi yang dikemukakan Stephen Tong yaitu bahwa ada begitu banyak jumlah Alkitab yang dipegang oleh orang Kristen, tetapi itu tidak berarti bahwa orang Kristen mempunyai lebih dari satu Alkitab. (Ilustrasi ini disampaikan dalam salah satu acara SPIK di kota Malang). Demikianlah beberapa ilustrasi yang dapat digunakan untuk menggambarkan ketritunggalan Allah.

* Penulis adalah kuli bengkel Teologi “PELANGI KASIH”, lahir dan tinggal di Kupang

Selanjutnya :

Sebelumnya :

Comments are closed.

Trackback URL for this entry

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.