<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PD Air Hidup</title>
	<atom:link href="http://airhidup.info/wp/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://airhidup.info/wp</link>
	<description>Jl. Bhakti Warga 5 Kupang - NTT</description>
	<lastBuildDate>Sun, 10 Jan 2010 10:59:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kamulah Garam Dunia</title>
		<link>http://airhidup.info/wp/kamulah-garam-dunia/</link>
		<comments>http://airhidup.info/wp/kamulah-garam-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 10:59:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airhidup.info/wp/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Matius 15:13
Esra Soru

Ayat ini berkata bahwa kita adalah garam dunia. Kalau kita digambarkan sebagai ‘garam’ itu tidak berarti bahwa kita harus sama dengan garam dalam segala hal. Ini sama seperti kalau saudara mengatakan kepada seseorang ‘kamu itu seperti babi’. Tentu saudara hanya menyamakan dia dengan babi dalam hal-hal tertentu, bukan dalam segala sesuatu. Demikian juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><strong>Matius 15:13</strong></div>
<div id="_mcePaste"><strong><em>Esra Soru</em></strong></div>
<div></div>
<div><strong><em><span style="font-style: normal; font-weight: normal;">Ayat ini berkata bahwa kita adalah garam dunia. Kalau kita digambarkan sebagai ‘garam’ itu tidak berarti bahwa kita harus sama dengan garam <span style="text-decoration: underline;">dalam segala hal</span>. Ini sama seperti kalau saudara mengatakan kepada seseorang ‘</span><span style="font-weight: normal;">kamu itu seperti babi</span><span style="font-style: normal; font-weight: normal;">’. Tentu saudara hanya menyamakan dia dengan babi<span style="text-decoration: underline;"> dalam hal-hal tertentu</span>, <span style="text-decoration: underline;">bukan dalam segala sesuatu</span>.<span id="more-518"></span> Demikian juga kalau kita digambarkan sebagai ‘garam’. Jangan mengambil persamaan yang salah, yang bertentangan dengan ayat-ayat lain dalam Kitab Suci, misalnya garam larut kalau kena air, jadi kalau hujan kita boleh bolos ke gereja. Kalau makanan terlalu banyak garam rasanya jadi tidak enak, jadi sebaiknya dunia ini jangan terlalu banyak orang Kristen.</span></em></strong></div>
<div id="_mcePaste">Lalu dalam hal apa kita harus sama seperti garam?</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong>1.	Garam itu Berfungsi Untuk Mengawetkan atau Mencegah Kebusukan.</strong></div>
<div id="_mcePaste">Pada jaman di mana belum ada kulkas / freezer, maka garam penting sekali baik bagi pemburu maupun nelayan untuk mengawetkan daging binatang buruan/ikan, karena garam bisa mencegah pembusukan. Jadi kalau dikatakan bahwa kita adalah garam dunia, maka artinya adalah bahwa kita harus mencegah dunia dari kebusukan rohani. Kita bisa melakukan hal itu dengan memberitakan Injil kepada dunia. Dan Pemberitaan Injil itu harus disertai dengan kesaksian hidup yang baik dan dengan doa.  Tujuannya adalah membawa orang kepada Kristus, karena Kristus adalah satu-satunya jalan ke surga (Yoh 14:6; Kis 4:12;  1 Yoh 5:11-12).</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Saya ingin tekankan tentang ‘memberitakan Injil’. Apa artinya? Arti yang salah dari memberitakan Injil adalah apa yang disebut sebagai “<em>Social Gospel</em>” (Injil Sosial). Ini banyak dalam kalangan gereja Protestan, di mana aktivitas pemberitaan Injil dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat yang dilanda bencana alam, yatim piatu, dsb, dan apa yang mereka lakukan di sana hanyalah memberikan bantuan sosial. Orang-orang yang dibantu senang, tetapi tetap tidak bisa mengenal Kristus, dan mereka akan masuk ke neraka pada saat mereka mati. Juga arti yang salah lainnya adalah bahwa Yesus ditekankan sebagai pemberi berkat jasmani, penyembuh, pembuat mujizat, penolong dalam kesukaran duniawi. Ini banyak dalam kalangan Pentakosta / Kharismatik.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Memberitakan Injil yang benar, mencakup menyatakan dosa, menyatakan keadilan Allah / hukuman dosa, khususnya neraka, memberitakan Yesus sebagai Allah yang menjadi manusia, yang lalu mati di salib sebagai pengganti manusia berdosa/untuk memikul hukuman manusia berdosa, mendorong orang itu untuk mau percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya dan menjelaskan hubungan iman dengan pertobatan dari dosa. Inilah memberitakan Injil yang benar.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Kalau kita memberitakan Injil dan orang yang kita injili itu mau datang kepada Kristus, maka ia akan dicegah dari pembusukan secara rohani. Dulu Saulus adalah orang yang sedang membusuk. Tetapi setelah bertobat, ia menjadi Paulus, orang yang hidup bagi Tuhan dan berguna untuk Tuhan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong>2.	Garam Mengenakkan Makanan.</strong></div>
<div id="_mcePaste">Bagaimanapun pandainya seseorang memasak, kalau tidak ada garam, makanan menjadi hambar dan tidak enak. Jadi, garam mengenakkan makanan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Kita adalah garam dunia. Artinya kehadiran kita harus mengenakkan orang-orang di sekitar kita. Mereka harus merasa senang dengan kehadiran kita. Ini bisa kita lakukan dengan mengasihi/menolong orang-orang di sekitar kita, mentaati dan menghormati orang tua, menghibur orang yang kesusahan, dll. Tapi semua ini tentu ada batasnya, yaitu kita tidak boleh melakukan sesuatu yang menyenangkan orang tetapi bertentangan dengan Firman Tuhan. Contohnya mengantar orang ke dukun, memberi tahu jawaban soal waktu ulangan/ujian, membelikan orang rokok, dll.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Hal lain yang harus kita ingat adalah bahwa hidup orang Kristen yang bagaimanapun baiknya tidak selalu menyenangkan orang dunia. Tuhan Yesus sendiri, yang hidupnya suci murni dan penuh kasih, tidak disenangi oleh banyak orang. Pada waktu kita memberitakan Injil, menegur dosa dan sebagainya, kita bisa mendapatkan permusuhan / kebencian (bdk. Gal 4:16  1Pet 3:13-14).</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong>3.	Garam Mempengaruhi, Bukan Dipengaruhi.</strong></div>
<div id="_mcePaste">Kalau garam dimasukkan ke dalam makanan, garam menjadikan makanan itu asin. Jadi garam mempengaruhi makanan. Karena itu, kalau kita adalah garam dunia, maka kita harus mempengaruhi orang dunia, dan bukan sebaliknya, orang dunia yang mempengaruhi kita (band. Rom 12:2). Apakah saudara mempengaruhi dunia atau dipengaruhi oleh orang dunia? Misalnya dalam soal rokok, minuman keras, ecstasy dan sebagainya, apakah saudara berani berkata ‘tidak!’ kalau ditawari? Kalau saudara diajak berzinah, apakah saudara bisa menolak dengan tegas? Kalau teman-teman di sekolah menyontek, dan saudara diajak, bisakah saudara menolak? Kalau dunia menggunakan ‘jam karet’ / suka datang terlambat, apakah saudara juga demikian? Sebaliknya, apakah saudara bisa mempengaruhi orang-orang di sekitar saudara dalam hal pergi ke gereja, membaca atau belajar Firman Tuhan, berdoa, melayani Tuhan? Berbuat baik, seperti menolong orang? Rajin belajar dan bekerja dengan baik? Ketundukan atau hormat kepada orang tua, kesetiaan kepada isteri /suami?</div>
<div id="_mcePaste">Kalau ketiga hal tersebut di atas tidak ada di dalam hidup kita, kita menjadi garam yang tawar, yang tidak berguna (ay 13).</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airhidup.info/wp/kamulah-garam-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamulah Terang Dunia</title>
		<link>http://airhidup.info/wp/kamulah-terang-dunia/</link>
		<comments>http://airhidup.info/wp/kamulah-terang-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 10:53:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airhidup.info/wp/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Mat 5:14-16
Esra Soru


Dalam ayat ini (Mat 5:14) dikatakan bahwa kita adalah terang dunia. Kalau hal ini dipikir lebih luas maka sebetulnya kita bukan terang dunia (bdk. Yoh 1:6-8). Tuhan Yesuslah yang merupakan Terang dunia (Yoh 1:9  8:12  9:5).

Yoh 1:6-9 – (6) Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; (7) ia datang sebagai saksi untuk memberi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><strong>Mat 5:14-16</strong></div>
<div id="_mcePaste"><strong><em>Esra Soru</em></strong></div>
<div><strong><em><br />
</em></strong></div>
<div id="_mcePaste">Dalam ayat ini (Mat 5:14) dikatakan bahwa kita adalah terang dunia. Kalau hal ini dipikir lebih luas maka sebetulnya kita bukan terang dunia (bdk. Yoh 1:6-8). Tuhan Yesuslah yang merupakan Terang dunia (Yoh 1:9  8:12  9:5).<span id="more-516"></span></div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Yoh 1:6-9 – (6) Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; (7) ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. (8) Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. (9) Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.</div>
</blockquote>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Yoh 8:12 &#8211; Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: &#8220;Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.&#8221;</div>
</blockquote>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Yoh 9:5 &#8211; Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.&#8221;</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Kalau begitu bagaimana dengan kita? Kita adalah terang di dalam Tuhan (Ef 5:8), atau dengan kata lain, kita memantulkan terang dari Tuhan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Menarik bahwa kita disebut sebagai “terang dunia” dan ini adalah satu-satunya status kita yang sama dengan Yesus. Yesus adalah jalan tapi orang percaya tidak pernah disebut sebagai jalan. Yesus adalah kebenaran tapi orang percaya tidak pernah disebut sebagai kebenaran. Yesus adalah hidup tapi orang percaya tidak pernah disebut sebagai hidup. Yesus adalah pintu tapi orang percaya tidak pernah disebut sebagai pintu. Yesus adalah pokok anggur tapi orang percaya tidak pernah disebut sebagai pokok anggur, dll. Karena itu ini adalah sebuah sebutan/status yang sangat penting bagi orang percaya.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Ada beberapa hal penting tentang terang yang dapat kita pelajari di sini :</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong>1.	Terang Berbeda Secara Menyolok Dari Gelap.</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste">Terang berbeda secara menyolok dari gelap. Karena itu kalau kita adalah terang, maka hidup kita harus berbeda secara menyolok dengan hidup orang dunia. Memang bukan berbeda dalam segala hal, tetapi hanya dalam hal yang merupakan dosa. Misalnya dalam kejujuran, dalam kerajinan, dalam hal mentaati peraturan lalu lintas dan lampu lalu lintas, dalam hal sogok menyogok, dalam hal ‘jam karet’ / suka terlambat, pada waktu dimusuhi / ada orang yang menjengkelkan, kita tetap mengasihi dan mengampuni, pada waktu menderita atau ada kesukaran, kita tidak mengeluh / marah, tetapi tetap beriman, bersukacita, dan tetap berusaha menyenangkan Allah. Contohnya adalah Nuh yang walaupun orang-orang sezaman dengannya hidup bejad tetapi ia tetap hidup bersih di hadapan Allah. Kalau kita hidup berbeda dengan dunia dalam hal-hal yang bersifat dosa, maka kita memuliakan Allah (ayat 16).</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Mat 5:16 &#8211; Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.&#8221;</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Satu hal yang perlu dicamkan adalah kalau kita hidup berbeda dengan dunia, kita akan seperti kota yang terletak di atas gunung (ay 14), artinya kehidupan kita akan disorot / diperhatikan orang. Karena itu kita harus hidup dengan lebih hati-hati.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong>2.	Terang Tidak Boleh Disembunyikan.</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste">Ini terlihat dari bunyi ayat 15 dan 16 :</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Ayat 15 : ‘orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang’.</div>
</blockquote>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Ayat 16 : ‘hendaknya terangmu bercahaya di depan orang’.</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Jadi, kita tidak boleh terus menyendiri atau terus ada di gereja. Kita harus mau bergaul dengan orang dunia, orang-orang jahat, orang-orang yang tidak percaya untuk bisa ‘menerangi’ mereka. Ingat bahwa saudara tidak disebut dengan istilah ‘terang gereja’, tetapi ‘terang dunia’! Teladani Yesus di mana Ia juga bergaul dengan pemungut cukai, pelacur, sampah masyarakat, dll.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong>3.	Terang Memberi Petunjuk.</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste">Sebagai terang kita harus dapat memberi petunjuk kepada orang lain. Ini bisa kita lakukan dengan memberitakan Injil, memberi nasihat / teguran, mengajak ke gereja yang benar dan sebagainya. Apakah saudara memberi petunjuk pada orang-orang di sekitar saudara? Dan bagi saudara-saudara yang sudah mempunyai anak, apakah saudara mengarahkan anak-anak saudara kepada Yesus? Perhatikan nasihat Amsal :</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Ams 22:6 &#8211; Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.</div>
</blockquote>
<div><strong>4.	Terang Makin Dibutuhkan di Tempat yang Semakin Gelap.</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste">Makin gelap suatu tempat, maka makin dibutuhkan terang di tempat itu. Analoginya adalah makin berdosa orang-orang di suatu tempat, makin perlu adanya orang-orang Kristen untuk menerangi mereka. Karena itu adalah salah kalau orang Kristen memisahkan diri dari lingkungan atau pergaulan orang-orang non Kristen.</div>
<div id="_mcePaste">Dalam pelayanan kita sebagai majelis, pengurus, guru sekolah minggu, pendeta, pengkhotbah, dan sebagainya, kita cenderung lebih senang melayani jemaat yang ‘baik’. Kita condong untuk ‘membuang orang yang brengsek’. Tetapi sebetulnya orang yang brengsek itu yang lebih membutuhkan terang kita! Bdk. Mat 9:10-13.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Mat 9:10-13 – (10) Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. (11) Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: &#8220;Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?&#8221; (12) Yesus mendengarnya dan berkata: &#8220;Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. (13) Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.&#8221;</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong>5.	Terang mempengaruhi gelap, bukan sebaliknya (Yoh 1:5).</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste">Terakhir, sifat dari terang adalah mempengaruhi gelap. Saat terang hadir dalam kegelapan maka lingkungan di sekitarnya akan menjadi terang. Jadi terang menyebabkan kegelapan terusir dan bukan sebaliknya. Teranglah yang mempengaruhi gelap dan bukan gelap yang mempengaruhi terang. Karena itu biarpun kita tetap bergaul dengan orang-orang berdosa, orang-orang jahat, orang-orang yang tidak percaya maka kitalah yang harus mempengaruhi mereka ke arah yang positif dan bukan kita yang dipengaruhi ke arah negatif.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Yoh 1:5 &#8211; Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.</div>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airhidup.info/wp/kamulah-terang-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemeliharaan Tuhan Yang Ajaib</title>
		<link>http://airhidup.info/wp/pemeliharaan-tuhan-yang-ajaib/</link>
		<comments>http://airhidup.info/wp/pemeliharaan-tuhan-yang-ajaib/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 03:45:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airhidup.info/wp/?p=514</guid>
		<description><![CDATA[1 Raj 17:1-16
Esra Soru


1 Raj 17:1-16 : (1) Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: &#8220;Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.&#8221; (2) Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya: (3) &#8220;Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><strong>1 Raj 17:1-16</strong></div>
<div id="_mcePaste"><strong><em>Esra Soru</em></strong></div>
<div><strong><em><br />
</em></strong></div>
<div id="_mcePaste"><strong>1 Raj 17:1-16</strong> : <em>(1) Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: &#8220;Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.&#8221; (2) Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya: (3) &#8220;Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. </em><span id="more-514"></span><em>(4) Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana.&#8221; (5) Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. (6) Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu. (7) Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu. (8) Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: (9) &#8220;Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.&#8221; (10) Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: &#8220;Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.&#8221; (11) Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: &#8220;Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.&#8221; (12) Perempuan itu menjawab: &#8220;Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.&#8221; (13) Tetapi Elia berkata kepadanya: &#8220;Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. (140 Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.&#8221; (15) Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. (16) Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.</em></div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Kisah ini terjadi pada zaman di mana Israel dipimpin oleh seorang raja yang sangat jahat. Namanya adalah Ahab (isterinya bernama Izebel). Sebenarnya sebelum Ahab, Israel juga sudah dipimpin oleh raja-raja yang jahat seperti Yerobeam, Nadab, Baesa, Ela, Zimri dan Omri. Tentang Omri ini, dapat dikatakan bahwa ia adalah pemegang rekor kejahatan sejak zaman Yerobeam.</div>
<blockquote>
<div>1 Raja 16:25 &#8211; <em>“Omri melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan ia melakukan kejahatan lebih dari pada segala orang yang mendahuluinya”.</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Setelah Omri barulah raja Ahab. Bagaimana kehidupan Ahab? Apa saja dosanya?</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong><em>a.	Ahab mengikuti dosa Yerobeam</em></strong></div>
<blockquote>
<div>1 Raj 16:31a &#8211; Seakan-akan belum cukup ia hidup dalam dosa-dosa Yerobeam bin Nebat,…”</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Dari 1Raja 12:25-33 jelas bahwa dosa Yerobeam adalah penyembahan terhadap patung anak lembu emas</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div><strong><em>b.	Ia mengambil Izebel sebagai isterinya.</em></strong></div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 16:31a &#8211; <em>Seakan-akan belum cukup ia hidup dalam dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, maka ia <strong><span style="text-decoration: underline;">mengambil pula Izebel, anak Etbaal, raja orang Sidon, menjadi isterinya,…”</span></strong></em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Perhatikan bahwa mertua dari Ahab ini adalah “ETBAAL” yang ada nama dewa “Baal”. Jelas mertuanya adalah orang kafir dan pastilah anaknya (Izebel) juga adalah orang kafir. Ini jelas melanggar Firman Tuhan karena sejak belum masuk Kanaan, Tuhan sudah melarang pernikahan campuran seperti itu, karena Tuhan tahu bahwa pernikahan dengan perbedaan agama seperti itu akan menyebabkan bangsa Israel jatuh ke dalam penyembahan berhala.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Ul 7:3-4 – <em>(3) Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kau ambil bagi anakmu laki-laki; (4) sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera.</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Karena itu bagi pemuda/pemudi Kristen, jangan menikah dengan orang beragama lain karena itu adalah dosa di hadapan Tuhan. Juga bagi para orang tua, janganlah menikahkan /merestui anak saudara  menikah dengan orang beragama lain karena itu juga adalah dosa di hadapan Tuhan.</div>
<div></div>
<div>Dari 1Raja 18:4,13, terlihat bahwa Izebel bukan hanya kafir / menyembah berhala, tetapi juga membunuh nabi-nabi Tuhan. Jadi ia ingin memusnahkan agama yang menyembah Tuhan yang benar supaya agama kafirnya itu yang berkuasa.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong><em>c.	Ahab beribadah dan sujud menyembah Baal</em></strong></div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 16:31 <em>- Seakan-akan belum cukup ia hidup dalam dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, maka ia mengambil pula Izebel, anak Etbaal, raja orang Sidon, menjadi isterinya, sehingga <strong><span style="text-decoration: underline;">ia pergi beribadah kepada Baal dan sujud menyembah kepadanya.</span></strong></em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong><em>d.	Ahab membuat mezbah dan kuil untuk Baal</em></strong></div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 16:32<em> &#8211; Kemudian <strong><span style="text-decoration: underline;">ia membuat mezbah untuk Baal </span></strong>itu di <strong><span style="text-decoration: underline;">kuil Baal yang didirikannya</span></strong> di Samaria.</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong><em>e.	Ahab membuat patung Asyera (16:33a).</em></strong></div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 16:33 &#8211; <em>Sesudah itu Ahab <strong><span style="text-decoration: underline;">membuat patung Asyera</span></strong>, ….sehingga ia menimbulkan sakit hati TUHAN, Allah Israel, <strong><span style="text-decoration: underline;">lebih dari semua raja-raja Israel yang mendahuluinya.</span></strong></em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Dosa dan kejahatan Ahab yang begitu banyak dan begitu hebat, menyebabkannya memecahkan rekor Omri sebagai ‘pemegang rekor’ dalam hal kejahatan.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 16:30 &#8211; <em>Ahab bin Omri melakukan apa yang jahat di mata TUHAN <strong><span style="text-decoration: underline;">lebih dari pada semua orang yang mendahuluinya.</span></strong></em></div>
</blockquote>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 16:33 &#8211; <em>Sesudah itu Ahab membuat patung Asyera, dan Ahab melanjutkan bertindak demikian, sehingga ia menimbulkan sakit hati TUHAN, Allah Israel, <strong><span style="text-decoration: underline;">lebih dari semua raja-raja Israel yang mendahuluinya.</span></strong></em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Satu hal yang perlu ditambahkan adalah bahwa Kitab Suci memakai nama Omri, Ahab dan Izebel sebagai contoh buruk (Mikha 6:16; Wah 2:20).</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Mik 6:16 -<em> Engkau telah berpaut kepada ketetapan-ketetapan <strong>Omri </strong>dan kepada segala perbuatan keluarga <strong>Ahab</strong>, dan engkau telah bertindak menurut rancangan mereka, …”</em></div>
</blockquote>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Wah 2:20 <em>- Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita <strong>Izebel</strong>, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Ini menunjukkan betapa bejatnya mereka bertiga. Dalam kondisi seperti inilah Tuhan mengutus Elia untuk memberitakan hukuman.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 17:1 &#8211; <em>Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: &#8220;Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.&#8221;</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Perhatikan bahwa Elia memberitakan hukuman Tuhan bukan demi nama Baal, tetapi demi Tuhan yang hidup Allah Israel. Beraninya ia melakukan hal itu di tengah-tengah kerajaan yang sudah tunduk kepada Baal / Asyera, dan di hadapan raja seperti Ahab yang mempunyai istri seperti Izebel, menunjukkan keberanian yang luar biasa. Bandingkan dengan banyak orang Kristen / hamba Tuhan zaman sekarang yang kalau berada/berdoa/berkhotbah di depan pejabat yang non Kristen, tidak berani menggunakan nama Tuhan Yesus Kristus! Lebih-lebih bandingkan dengan orang kristen yang untuk mengaburkan identitas dirinya, lalu menggunakan ‘salam nasional’ <em>Assalamualaikum</em>! Di sini Elia hanya memberitakan hukuman, tetapi tidak menunjukkan dosanya. Mungkin hal ini disebabkan karena dosanya dianggap sudah terlalu jelas. Tetapi nanti dalam 1Raja 18:18 ia berkata kepada Ahab bahwa hukuman itu disebabkan karena penyembahan berhala yang dilakukan oleh Ahab dan keluarganya. Di dalam 1 Raj 17 :1 hanya dikatakan tidak akan ada embun atau hujan. Tidak dikatakan ada kelaparan tetapi tentunya tidak ada embun ataupun hujan akan menyebabkan kekeringan, dan kekeringan itu pasti mengakibatkan kelaparan (bdk. Luk 4:25).</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Luk 4:25 -<em> Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya <strong><span style="text-decoration: underline;">kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.</span></strong></em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Satu hal yang menarik adalah hukuman yang diberikan Tuhan melalui Elia adalah kekeringan/kelaparan (tidak ada embun/hujan). Mengapa tidak dengan hukuman yang lain ? Karena Tuhan ingin menunjukkan bahwa Ia lebih berkuasa dari berhala-berhala Ahab dan Izebel yakni Baal dan Asyera. Bagaimana hubungannya ? Karena Baal dan Asyera adalah Dewa dan Dewi Kesuburan.</div>
<div></div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong>Vine’s Expository Dictionary of the OT </strong>: Kata “Baal” menunjuk kepada ilah lain di samping Allah Israel. “Baal” adalah nama yang diberikan kepada dewa kesuburan di Kanaan.</div>
</blockquote>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong>The International Standard Bible Encyclopedia </strong>: Asherah secara eksklusif adalah dewi kesuburan….”</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Dengan hukuman kekeringan dan kelaparan (tidak ada embun atau hujan), Tuhan ingin menunjukkan bahwa dewa dan dewi kesuburan Ahab ternyata tidak bisa memberikan hujan / kesuburan pada waktu Tuhan menghendaki ada kekeringan.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Yer 14:22<em> &#8211; Adakah yang dapat menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya TUHAN Allah kami, Pengharapan kami, yang membuat semuanya itu?</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Jadi Elia berdoa kepada Tuhan sehingga terjadi kekeringan/kelaparan selama 3 ½   tahun. Tapi jika demikian, bukankah dampaknya juga terjadi pada Elia di mana ia juga akan mengalami kesulitan makanan dan minuman? Ya! Tentu saja! Tetapi Tuhan tahu memelihara hamba-Nya. Bagaimana cara Tuhan memelihara Elia. Kita akan menyorotinya dari 2 tempat di mana Elia berada :</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong>I.	DI TEPI SUNGAI KERIT (Ay. 2-6)</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste">Begitu terjadi kelaparan, maka Tuhan menyuruh Elia pergi ke tepi sungai Kerit.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 17:2-3 – <em>(2) Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya: (3) &#8220;Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan <strong><span style="text-decoration: underline;">bersembunyilah di tepi sungai Kerit</span></strong> di sebelah timur sungai Yordan.</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Mengapa Elia harus bersembunyi? Jelas karena Ahab dan Izebel akan mengejar dan membunuhnya. Para pakar menduga bahwa tempat ini berada dekat Yerikho. Dan kelihatannya Kerit adalah suatu tempat yang sangat terpencil.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong>Pulpit Commentary:</strong> Kerit. Kata ini artinya adalah ‘pemisahan’, suatu nama yang mungkin menunjukkan bahwa itu adalah tempat yang sangat terpencil (hal. 382).</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Ini sebabnya Ahab tidak bisa menemukan Elia sekalipun mencarinya mati-matian</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 18:10 -<em> Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya <strong><span style="text-decoration: underline;">tidak ada bangsa atau kerajaan, yang tidak didatangi suruhan tuanku Ahab untuk mencari engkau….”</span></strong></em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Elia taat kepada Firman Tuhan yang menyuruhnya untuk pergi ke tepi Sungai Kerit</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 17:5 &#8211; <em>Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; <strong><span style="text-decoration: underline;">ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit</span></strong> di sebelah timur sungai Yordan.</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Di tepi Sungai Kerit itu Elia minum air sungai dan diberi makan oleh burung gagak (17:6).</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 17:6 &#8211; <em>Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Benarkah ia diberi makan oleh burung gagak? Hal ini banyak diperdebatkan.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong>Pulpit Commentary: </strong>“Sekalipun ada kebulatan suara dari semua versi Kitab Suci, penafsiran ‘burung gagak’ telah diperdebatkan sejak waktu yang sangat awal. Jerome di antara orang Kristen, rabi Judah Hakkodesh dan Kimchi di antara orang Yahudi &#8211; ini adalah beberapa dari mereka yang tidak mau mengakui terjemahan ini” (hal 383).</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Banyak penafsir menolak ‘burung gagak’ ini, dengan alasan :</div>
<div>
<ol>
<li>Burung gagak termasuk dalam daftar binatang haram (Im 11:13-15). Masakan Tuhan memerintahkan binatang haram untuk memberi makan nabinya?</li>
<li>Dari mana burung gagaknya mendapatkan roti dan daging?</li>
<li>Elia mendapat air dari Sungai Kerit dan ini bukan mujizat. Jadi ia mendapat roti dan daging juga dengan cara biasa. Karena itu Elia bukan diberi makan oleh burung gagak.</li>
<li>Perjanjian Baru tidak pernah menyebut-nyebut mujizat ini, padahal Perjanjian Baru sering menggunakan cerita tentang Elia (Luk 4:25-26; Yak 5:17-18;  Wah 11:5-6a). Bahkan waktu Yesus mengajarkan Luk 12:22-dst, yang mestinya merupakan saat yang cocok untuk menggunakan cerita burung gagak ini, Ia tidak berbicara apa-apa tentang burung gagak ini.</li>
<li>Kata Ibrani yang diterjemahkan ‘burung gagak’ adalah OREBIM / OREVIM, yang sekalipun bisa diartikan burung gagak, tetapi juga bisa berarti:</li>
</ol>
<ul>
<li> ‘pedagang-pedagang’, seperti dalam Yeh 27:9, 27.</li>
<li> ‘orang-orang Arab’, seperti dalam  2 Taw 21:16;  2 Taw 22:1;  Neh 2:19,   Neh 4:7,  Yes 13:30,  Yer 3:2</li>
<li> ‘penduduk kota Orbo / Oreb’ (Catatan: dalam Hak 7:25 dan Yes 10:26 memang disebutkan adanya kota / tempat yang bernama Oreb).</li>
</ul>
</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong>Jerome</strong> : “Orbim, penduduk suatu kota di perbatasan Arab, memberikan makanan kepada Elia.</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Perlu diketahui bahwa orang-orang yang menolak ‘burung gagak’ ini bukanlah orang Liberal (sekalipun hampir pasti bahwa orang Liberal akan menerima pandangan mereka). Mereka bukanlah orang yang tidak percaya kepada mujizat. Meskipun demikian, saya lebih setuju untuk tetap mempertahankan terjemahan ‘burung gagak’, dengan alasan:</div>
<div id="_mcePaste">1.	Alasan menolak ‘burung gagak’ tidak cukup kuat.</div>
<div id="_mcePaste">
<ul>
<li>Sekalipun gagaknya adalah binatang haram, tetapi gagak itu hanya haram kalau dimakan. Elia tidak memakan gagaknya. Roti dan daging yang dibawa oleh burung gagak itu tidak haram.</li>
<li>Burung gagak mendapatkan roti dan daging dari mana? Pertanyaan yang sama bisa dilontarkan kepada orang yang ‘anti burung gagak’. Dari mana orang Arab / pedagang / penduduk Orbo itu mendapatkan roti dan daging setiap hari padahal saat itu ada kekeringan dan kelaparan?</li>
<li>Bahwa Elia mendapat air dengan cara biasa, tidak berarti bahwa ia juga harus mendapat roti dan daging dengan cara biasa.</li>
<li>Tidak adanya cerita ini dalam Perjanjian Baru tidak membuktikan cerita ini tidak ada. Juga perlu diingat oleh para penafsir yang ‘anti burung gagak’ itu, bahwa serangan mereka ini juga bisa menyerang posisi mereka sendiri, karena Perjanjian Baru juga tidak pernah menceritakan peristiwa Elia diberi makan oleh pedagang / orang Arab / penduduk Orbo!</li>
<li>Sekalipun kata OREBIM bisa diartikan ‘orang Arab’, ‘penduduk Orbo’, ‘pedagang’, tetapi juga bisa berarti ‘burung gagak’ seperti dalam Kej 8:7  Im 11:15.</li>
</ul>
</div>
<div id="_mcePaste">2.	Bukankah aneh bahwa pedagang / orang Arab / penduduk Orbo itu bisa datang kepada Elia setiap pagi dan petang (bukan sehari sekali atau bahkan 2 hari sekali)? Dan bagaimana hal itu bisa tidak diketahui oleh Ahab yang mencari Elia habis-habisan (18:10)? Lain halnya kalau yang memberi makan Elia itu adalah burung gagak. Siapa yang akan memperhatikan burung gagak?</div>
<div id="_mcePaste">3.	Dalam 2 peristiwa dalam 1Raja 17 ini, Tuhan memelihara Elia dengan menggunakan 2 hal yang tidak masuk akal (bersifat mujizat), yang pertama menggunakan burung gagak, yang kedua menggunakan janda miskin dengan minyak dan tepung yang tidak habis-habisnya.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Dengan demikian lebih masuk akal untuk menerima bahwa memang ada burung gagak yang membawa roti dan daging untuk Elia tiap pagi dan petang. Perlu diketahui bahwa burung gagak ini bukan membawa daging dari sisa mangsa mereka (bangkai) karena ini adalah makanan yang haram bagi orang Israel. Jadi burung gagak ini benar-benar membawa daging yang halal bagi Elia di samping roti. Dari mana burung gagak ini mendapatkan roti dan daging tersebut? Ada yang mengatakan dari istana raja. Ada juga yang mengatakan dari daerah di luar Israel yang tidak terkena kelaparan. Bagi saya kita memang tidak bisa mengetahuinya dengan pasti. Yang pasti adalah Tuhan menyediakannya karena ini sesuai dengan perintah Tuhan.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 17:4 &#8211; <em>Engkau dapat minum dari sungai itu, dan<strong><span style="text-decoration: underline;"> burung-burung gagak telah Kuperintahkan</span></strong> untuk memberi makan engkau di sana.&#8221;</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Satu hal yang menarik adalah ada seorang pegawai Ahab yang takut akan Tuhan. Namanya adalah Obaja. Sewaktu Izebel membunuh nabi-nabi Tuhan, Obaja ini menyembunyikan 100 dan memberi makan kepada mereka. Apa makanan yang diberikan kepada mereka?</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 18:4 &#8211; <em>Karena pada waktu Izebel melenyapkan nabi-nabi TUHAN, Obaja mengambil seratus orang nabi, lalu menyembunyikan mereka lima puluh lima puluh sekelompok dalam gua dan <strong><span style="text-decoration: underline;">mengurus makanan dan minuman mereka.</span></strong></em></div>
</blockquote>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">KJV &#8211; <em>For it was so, when Jezebel cut off the prophets of the LORD, that Obadiah took an hundred prophets, and hid them by fifty in a cave, and fed them<strong><span style="text-decoration: underline;"> with bread and water.</span></strong></em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Tentu Obaja mengambil roti dan air itu dari dalam istana. Kelihatannya makanan di dalam istana saja hanyalah roti dan air tetapi Elia justru mendapat roti, daging dan air. Ini luar biasa! Ini mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan bisa mencukupi kebutuhan kita dalam kondisi yang sulit sekalipun dengan cara-cara yang berada di atas kemampuan akal kita untuk memikirkannya. Karena jangan kuatir akan hidupmu, jangan takut karena kesulitan ekonomi hari ini. Tuhan sanggup memelihara saudara. Ada banyak ‘burung gagak’ yang bisa diperintah Tuhan untuk menolong saudara. Ada banyak ‘burung gagak’ yang akan Tuhan perintahkan untuk membantu kita membangun gereja.</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste"><strong>II.	DI SARFAT</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste">Setelah beberapa waktu Sungai Kerit menjadi kering (17:7), dan Tuhan lalu menyuruh Elia untuk pergi ke Sarfat, dan Tuhan mengatakan bahwa Ia telah ‘memerintahkan’ seorang janda untuk memelihara Elia di sana (17:8-9).</div>
<div id="_mcePaste">1 Raj 17:7-9 – (7) Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu. (8) Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: (9) &#8220;Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Perhatikan bahwa setelah sungai Kerit kering, Tuhan justru memerintahkan Elia pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon. Ini menarik. Elia sementara dikejar oleh Ahab dan Izebel. Tadinya ia aman di sungai Kerit tapi sekarang disuruh pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon. Ingat bahwa Sidon adalah negeri asal dari Izebel dan daerah kekuasaan dari ayahnya Izebel</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 16:31 -<em> Seakan-akan belum cukup ia hidup dalam dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, maka ia mengambil pula Izebel, anak Etbaal, raja orang Sidon, menjadi isterinya, sehingga ia pergi beribadah kepada Baal dan sujud menyembah kepadanya.</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Jadi ini bisa dikatakan merupakan tempat yang paling berbahaya! Tetapi perlu kita ingat bahwa bagi Tuhan sama mudahnya menjaga Elia di tepi Sungai Kerit yang terpencil, ataupun di Sidon yang merupakan tempat berbahaya!</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong>Pulpit Commentary:</strong> Elia sangat aman di bawah perlindungan Ilahi, sama amannya di daerah Sidon seperti waktu ia ada di tepi Sungai Kerit. (hal 412).</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Tetapi kalau kita berpikir lebih jauh, maka mungkin Sarfat ini justru adalah tempat yang aman, karena Ahab tidak akan pernah menyangka bahwa Elia berani bersembunyi di sana. Tetapi bagaimanapun perintah untuk pergi ke Sarfat di Sidon ini jelas merupakan ujian iman bagi Elia.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Kembali ke masalah keringnya sungai Kerit. Bukankah Tuhan Mahakuasa? Bukankah Ia bisa membuat mujizat? Tetapi mengapa Ia justru membiarkan Sungai Kerit menjadi kering dan lalu menyuruh Elia pindah dari tepi Sungai Kerit ke Sarfat? Jawabannya adalah supaya Elia tidak bersandar kepada Sungai Kerit ataupun burung gagak, tetapi kepada Tuhan.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong>Wiersbe&#8217;s Expository Outlines on the OT :</strong> Artinya sederhana bahwa Tuhan mempunyai tempat yang lain untuknya (Elia), dan itu adalah sebuah peringatan bagi Elia untuk mempercayakan diri kepada Tuhan dan bukan kepada sungai.</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Ini juga bisa terjadi pada saudara. Kadang Tuhan justru menutup sumber pemeliharaan saudara seperti dipecat dari pekerjaan/PHK, usaha saudara bangkrut, suami/orang tua meninggal, dll. Kalau hal itu terjadi pada saudara, tetaplah percaya kepada Tuhan. Ia melakukan itu supaya saudara tidak bergantung kepada semuanya itu melainkan bergantung kepada-Nya. Percayalah bahwa Tuhan akan memberikan ‘janda’ menggantikan ‘Sungai Kerit dan burung gagak’.</div>
<div id="_mcePaste">Elia mentaati perintah Tuhan (17:10a). Dan pada waktu bertemu janda itu, Elia minta air dan lalu minta roti (17:10b-11).</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 17:10-11 – (10)<em> Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: &#8220;<strong><span style="text-decoration: underline;">Cobalah ambil bagiku sedikit air</span></strong> dalam kendi, supaya aku minum.&#8221; (11) Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: &#8220;<strong><span style="text-decoration: underline;">Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti</span></strong>.&#8221;</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Mungkin ini ia lakukan untuk mengetahui apakah ini memang janda yang Tuhan maksudkan atau bukan (di Sarfat pasti tidak hanya ada satu janda!). Janda itu mau memberi air, tetapi waktu Elia minta roti janda itu menjawab dalam seperti dalam ayat 12.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 17 :12 -<em> “Demi TUHAN, Allahmu yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati”.</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Dari maunya janda itu memberi air, kelihatannya Sarfat, yang bukan wilayah Israel, tidak ikut terkena kekeringan. Tetapi dari ayat 12 ini jelas bahwa daerah ini juga terkena kelaparan. Mengapa? Ada yang mengatakan karena daerah ini mendapat suplai makanan dari Israel, sehingga waktu Israel mengalami kekeringan dan kelaparan, otomatis suplai makanan ke Sidon berhenti / berkurang. Kata-kata janda itu, jelas bukan kata-kata yang menunjukkan iman, tetapi sebaliknya menunjukkan keputusasaan, karena ia berkata bahwa setelah makan roti itu ia dan anaknya akan mati. Ini harusnya menjadi perhatian kita. Kalau saudara adalah seorang anak Tuhan, sekalipun dalam krisis ekonomi, jangan mengucapkan kata-kata yang menunjukkan keputusasaan seperti ini! Tuhan, yang adalah Bapa saudara, tidak akan membiarkan saudara mati kelaparan. Dia berjanji mencukupi kebutuhan hidup saudara! Baca Mat 6:25-34. Hal yang menarik di sini adalah bahwa Tuhan tidak memberi makan Elia menggunakan seorang konglomerat, tetapi menggunakan seorang janda yang melarat! Tuhan memang senang melakukan hal yang di luar dugaan. Tadi Ia menggunakan burung gagak untuk memberi daging (padahal burung gagak makanannya adalah daging), sekarang ia memberi makan menggunakan janda yang melarat.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Selanjutnya Elia lalu mengucapkan ayat 13-14 ini kepada janda itu.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">1 Raj 17:13-14 – (13) <em>Tetapi Elia berkata kepadanya: &#8220;Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. (14) Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.&#8221;</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Ini jelas adalah ujian iman bagi janda itu. Ia harus mendahulukan Elia / Tuhan. Band. Mat 6:33 &#8211; <em>“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”.</em></div>
<div><em><br />
</em></div>
<div id="_mcePaste">Dalam krisis ekonomi, banyak orang Kristen menahan perpuluhan, dengan pemikiran bahwa ia akan menggunakan uangnya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya lebih dulu, dan nanti kalau ada sisanya baru dipersembahkan kepada Tuhan. Tetapi ini adalah tindakan yang mendahulukan diri sendiri dan menomorduakan Tuhan. Tuhan menginginkan supaya saudara mendahulukan Dia, KerajaanNya dan kebenaranNya, dan kalau saudara taat, Ia berjanji mencukupi kebutuhan hidup saudara. Maukah saudara melakukan hal ini?</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Janda itu mentaati kata-kata Elia / Firman Tuhan (17:15a). Sebetulnya janda itu bisa berpikir : Kalau nabi ini bisa melipatgandakan tepung / minyak, mengapa mesti minta roti kepadanya? Juga ada terlalu banyak alasan baginya untuk menolak kata-kata Elia. Tetapi ternyata ia mentaati Elia / Firman Tuhan.</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong>Keil &amp; Delitzsch: </strong>Ia menyerahkan yang pasti untuk yang tidak pasti, karena ia percaya kepada Firman Tuhan.</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Akibatnya terjadi mujizat yang mencukupi kebutuhan Elia dan janda itu beserta anaknya (17:15b-16). Perintah dalam 17:13-14 tadi memang merupakan perintah yang tidak masuk akal, demikian juga 17:9, tetapi pada waktu Elia dan janda itu mentaati, maka terjadilah mujizat melalui mana mereka dipelihara oleh Tuhan. Kalau saudara berani melakukan tindakan iman seperti yang dilakukan janda itu, yaitu mendahulukan Tuhan dan kerajaan Allah dan kebenarannya, maka Tuhan bisa melakukan hal-hal yang di luar dugaan, bahkan yang tidak masuk akal, untuk mencukupi kebutuhan saudara!</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Masa sukar yang dialami Indonesia ini mungkin sekali adalah hukuman Tuhan. Tetapi baik dahulu maupun sekarang, kalau Tuhan menghukum, Ia bisa tetap memelihara anak-anakNya / hamba-hambaNya yang hidup dan melayani sesuai kehendakNya. Karena itu dalam masa sukar ini, janganlah kuatir atau takut, dan jangan menjauh dari Tuhan. Sebaliknya mendekatlah dan taatilah / layanilah Dia sesuai dengan kehendakNya, bahkan dahulukan Dia lebih dari apapun. Maka Ia pasti akan memelihara saudara melalui masa sukar ini!</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">- AMIN -</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airhidup.info/wp/pemeliharaan-tuhan-yang-ajaib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iman Yang Dewasa</title>
		<link>http://airhidup.info/wp/iman-yang-dewasa/</link>
		<comments>http://airhidup.info/wp/iman-yang-dewasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 03:07:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airhidup.info/wp/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[2 Tim 3:10-17
Esra Soru


2 Tim 3:10-17 – (10) Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. (11) Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya. (12) Memang setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><strong>2 Tim 3:10-17</strong></div>
<div id="_mcePaste"><strong><em>Esra Soru</em></strong></div>
<div><strong><em><br />
</em></strong></div>
<div id="_mcePaste">2 Tim 3:10-17 – (10) Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. (11) Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra.<span id="more-509"></span> Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya. (12) Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, (13) sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan. (14) Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. (15) Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. (16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Dulu saya kecil dan sekarang menjadi besar. Dulu anda adalah bayi dan sekarang adalah seorang pemuda atau pemudi atau mungkin dulu anda adalah anak-anak, pernah menjadi pemuda dan sekarang menjadi tua. Semua proses itulah yang disebut sebagai proses kedewasaan di mana kita “bergerak” dari belum dewasa menjadi agak dewasa (ABG = Anak Baru Gede) dan akhirnya menjadi dewasa bahkan pasca dewasa (tua).</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Masalah kedewasaan tidak hanya terjadi dalam dunia manusia tetapi terjadi juga dalam dunia tumbuhan dan binatang. Saya memelihara seekor anjing dari kecil, dan saya mengenalnya dengan baik. Nero namanya. Ia adalah anjing yang sopan dan sangat manja. Ia dididik dalam peri kebinatangan yang baik. Sewaktu kecil ia senang dekat dengan saya, bahkan saking senangnya ia sampai mengabaikan teman-teman cewek yang datang mengunjunginya. Tetapi apa yang terjadi beberapa waktu kemudian sungguh mengagetkan saya. Saya menangkap basah si Nero sementara memperkosa seekor teman “ceweknya”. Saya marah padanya tapi juga berpikir “mengapa si Nero bertindak seperti itu?” “Apakah dia sudah tidak tahu perikebinatangan?” Tetapi lepas dari semuanya itu saya sadar bahwa sekarang Nero telah dewasa. Karena ia dewasa maka ia bisa memperkosa. Itulah cerita seorang teman kepada saya tentang anjingnya. Jika demikian mau diakui atau tidak, bisa dimengerti atau tidak, kita semua pernah mendengar, melihat dan mengalami suatu proses atau gejala kedewasaan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Lebih jauh lagi tentang masalah kedewasaan ini, maka ada dua hal yang berkenaan dengannya yakni :</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong><em>Kedewasaan itu adalah sesuatu yang normal dan natural.</em></strong></div>
<div>Adalah wajar jika seseorang atau sesuatu bertumbuh dari tidak dewasa menjadi agak dewasa dan akhirnya menjadi dewasa. Pertumbuhan atau proses ini adalah sesuatu yang alamiah, sesuatu yang bersifat natural dan normal.</div>
<div>Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi kedewasaan, namun salah satu faktor yang penting adalah waktu. Jika menurut ukuran waktu seharusnya sesuatu sudah menjadi dewasa tetapi ternyata masih kanak-kanak, maka fenomena ini  menyatakan bahwa sebenarnya ada ketidakberesan dalam diri  sesuatu itu. Ada sesuatu di dalam sesuatu itu. Ada yang tidak normal. Bayangkanlah jika seseorang telah berumur 20 tahun tapi masih minta digendong ibunya ke sana kemari. Bagaimana tanggapan anda? Ini pasti ada ketidakberesan, entah pada otaknya atau jiwanya atau apa saja. Tapi yang pasti ini tidak normal.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong><em>Kedewasaan itu tidak bisa dipaksakan</em></strong></div>
<div id="_mcePaste">Ini masih mempunyai hubungan dengan sifat natural dari kedewasaan itu di mana seseorang atau sesuatu tidak bisa dipaksa menjadi dewasa sebab kedewasaan itu bertumbuh secara natural. Jika tidak ada ketidakberesan maka seseorang atau sesuatu pasti akan menjadi dewasa dengan sendirinya, tidak usah dipaksa. Sesuatu yang seharusnya menurut ukuran waktu belum dewasa tetapi sudah dewasa juga tidak normal. Pasti ada yang tidak beres juga, entah pada otak maupun jiwanya.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Cobalah lihat kenyataan akhir-akhir ini. Anak-anak SD usia sepuluh hingga sebelas tahun sudah tahu tentang liku-liku seks. Mengapa? Karena mereka sudah dibiasakan menonton film-film porno dan hal-hal sejenis. Mereka terlalu cepat dewasa.  Lingkungan, situasi atau kondisilah yang memaksa mereka. Mereka laksana buah yang matang sebelum waktunya. Ini tidak normal.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Itulah dua hal yang harus diperhatikan tentang masalah kedewasaan. Jika kita menghubungkannya dengan masalah kedewasaan iman maka hal inipun berlaku. Engkau telah mengikut Tuhan cukup lama tetapi imanmu masih tetap iman kanak-kanak maka tentu ada yang tidak beres dalam imanmu. Atau mungkin sebaliknya engkau baru mengikut Tuhan beberapa bulan saja tetapi mau berpura-pura dewasa atau melakukan pekerjaan orang Kristen dewasa yang bersifat esensial dan fundamental seperti mengajar, berkhotbah, dll. Ini juga tidak beres. Engkau perlu belajar dan menjadi dewasa serta berpengalaman dalam hal ikhwal iman supaya khotbah dan pengajaranmu tidak hanya bersifat teoritis dan menyesatkan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Terus terang saja belakangan ini ada begitu banyak orang yang baru saja bertobat lalu memaksa diri menjadi dewasa dan sudah berani melakukan pekerjaan orang dewasa seperti mengajar serta  berkhotbah tentang hal-hal yang fundamental dalam doktrin Kristiani. Ini sebuah fenomena ketidakberesan. Lebih tidak beres lagi adalah kita lebih menyukai hal-hal yang bersifat spektakuler dan entertaiment daripada hal-hal yang bersifat natural. Bukankah banyak di antara kita yang lebih tertarik dan berbondong-bondong untuk menyaksikan dan mendengar-kan khotbah seorang artis atau seorang haji yang baru saja bertobat beberapa bulan dan bersikap acuh-tak acuh terhadap seseorang yang sejak dari kecil telah menjadi percaya dan telah belajar pada lembaga pendidikan teologia yang bermutu? Kita lebih senang mendengarkan seorang bayi rohani daripada seorang yang telah dewasa secara rohani. Mungkinkah ini juga suatu gejala ketidakdewasaan? Kita dituntut untuk menjadi dewasa secara wajar dan normal. Kita tidak boleh tetap menjadi bayi rohani, tetapi kita juga tidak boleh memaksa diri atau berpura-pura sebagai orang yang telah dewasa imannya padahal menurut ukuran waktu kita adalah bayi-bayi rohani.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Lepas dari semuanya itu, tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa Allah menginginkan kita menjadi orang yang dewasa imannya. Kita harus terus bertumbuh untuk mencapai kedewasaan iman. Untuk itu maka kita akan melihat tiga ciri dari iman yang dewasa. Dengan tiga ciri ini maka kita dapat menilai diri kita dan diri orang lain bahwa apakah kita telah dewasa secara rohani atau belum? Inilah tiga ciri itu :</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong>I. IMAN YANG DEWASA ADALAH IMAN YANG LAHIR DAN BERTUMBUH DARI FIRMAN DAN PERGUMULAN HIDUP</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste">Dalam bacaan 2 Tim 3:10-16 tadi ada dua hal penting yang mau disampaikan oleh Rasul Paulus terhadap anak rohaninya Timotius. <em>Yang pertama</em> adalah masalah penderitaan karena Kristus (ayat 10-13) dan <em>yang kedua </em>adalah masalah dampak dari Firman Allah yang telah dihidupi oleh Timotius sejak kecilnya (ayat 14-17). Dengan kata lain Paulus mau berkata kepada Timotius bahwa ada dua hal yang dapat melahirkan iman yang sejati yaitu penderitaan atau pergumulan hidup dan Firman Allah atau mungkin lebih tepatnya dibalik yaitu Firman Allah dan pergumulan hidup. Dengan membaca, merenungkan serta melakukan Firman Allah dalam hidup kita sehari-hari maka iman kita akan bertumbuh ke arah kedewasaan secara normal.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Hal ini sungguh menarik. Mengapa? Karena belakangan ini ada begitu banyak orang yang tidak menjadikan Firman Allah menjadi sumber pertumbuhan dan kedewasaan iman mereka. Mereka kurang tertarik terhadap Firman Allah tetapi justru sangat tertarik kepada hal-hal yang bersifat spektakuler dan “aneh-aneh”. Kalau ada berita bahwa Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya di kaca nako sebuah rumah atau gereja, maka semua orang berbondong-bondong dan pergi menyaksikannya padahal penampakan itu belum tentu benar.  Mereka lupa akan nasihat Tuhan Yesus sekian ribu tahun yang lalu :</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong>Mat 24:23-28 </strong>- <em>“Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu : Lihat, <strong><span style="text-decoration: underline;">Mesias ada di sini atau Mesias ada di sana</span></strong>, jangan kamu percaya sebab Mesias-Mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan <strong><span style="text-decoration: underline;">tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat</span></strong>, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu. Jadi apabila orang berkata kepadamu : Lihat, <strong><span style="text-decoration: underline;">Ia ada di padang gurun</span></strong>, jangan kamu pergi ke situ; atau Lihat,<strong><span style="text-decoration: underline;"> Ia ada di dalam bilik</span></strong>, jangan kamu percaya. Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia. Di mana ada bangkai, di situ burung nazar berkerumun”</em></div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Iman semacam ini adalah sama seperti iman ahli Taurat dan orang Farisi yang menuntut tanda dari Yesus (Mat 12:38-42) atau seperti iman Thomas yang menuntut tanda atau bukti. Ini bukan iman yang dewasa. Iman yang dewasa tidak lahir dari mujizat dan tanda-tanda ajaib yang spektakuler dan menghebohkan melainkan dari Firman yang keluar dari mulut Allah.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Coba perhatikan kehidupan bangsa Israel. Tidak ada satu orang pun yang pernah menyaksikan mujizat dan tanda ajaib yang lebih banyak dari mujizat atau tanda ajaib yang dilihat oleh orang-orang Israel yang keluar dari tanah Mesir. Sejak dari tanah Mesir mereka telah menyaksikan :</div>
<div id="_mcePaste">
<ol>
<li>Tulah air berubah menjadi darah (Kel 7:14-25),</li>
<li>Tulah katak (Kel 8:1-15)</li>
<li>Tulah nyamuk (Kel 8:16-19)</li>
<li>Tulah lalat pikat (Kel 8:20-32)</li>
<li>Tulah Penyakit sampar (Kel 9:1-7)</li>
<li>Tulah barah (Kel 9:8-12)</li>
<li>Tulah hujan es (Kel 9:13-35)</li>
<li>Tulah belalang (Kel 10:1-20)</li>
<li>Tulah gelap gulita (Kel 10:21-29)</li>
<li>Tulah kematian anak-anak sulung (Kel 12:29-42)</li>
<li>Kemurahan hati orang Mesir (Kel 12:34-36)</li>
<li>Tiang awan dan tiang api (Kel 13:21-22)</li>
<li>Air laut dibelah dan berjalan di tanah kering (Kel 14:21-22)</li>
<li>Air pahit menjadi manis di Mara (Kel 15:22-27)</li>
<li>Makanan manna dan burung puyuh (Kel 16:13-15)</li>
</ol>
</div>
<div>Tetapi ketika mereka tiba di masa dan Meriba dan di sana tidak ada air untuk diminum, maka mereka mulai bertengkar dan bersungut-sungut terhadap Musa (Kel 17) lalu mereka berkata “<em>Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?</em>” (Kel 17:7). Aneh sekali. Heran bin ajaib. Mereka telah menyaksikan tangan Tuhan dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib sejak dari tanah Mesir, mereka telah menyaksikan 10 tulah, laut dibelah, tiang awan dan tiang api, air pahit berubah menjadi manis, mereka memperoleh makanan manna dan burung puyuh dengan cara yang ajaib, namun sekarang hanya karena masalah air lalu mereka mulai mempertanyakan keberadaan Allah di tengah-tengah mereka. “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Di sini kita bisa belajar satu hal penting bahwa sekian banyak mujizat yang telah dilihat bangsa Israel ternyata tidak dapat menimbulkan iman di dalam hati mereka. Ketika berhadapan dengan pergumulan hidup, maka semua mujizat itu terlupakan. Jadi iman yang sejati tidak lahir dari penglihatan akan mujizat dan tanda-tanda heran. Yesus berkata kepada Thomas :</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><em>&#8220;Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” </em>(Yoh 20:28).</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Tidak melihat namun percaya. Bagaimana mungkin? Mungkin. Itulah iman yang sejati, iman yang lahir dari Firman Allah. Iman semacam ini akan dapat mempercayai dan berharap kepada apa yang tidak pernah dilihat (Band. Ibr 11:1). Oleh karena itu betapa pentingnya bagi setiap kita untuk menyediakan waktu khusus menyelidiki, merenungkan dan menetapkan hati untuk melakukan Firman Tuhan itu. Setiap pagi adalah waktu yang sangat baik untuk melakukan hal ini.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Saya pernah berpikir bahwa membaca, merenungkan atau mendengar Firman Allah adalah hal yang tidak terlalu bermanfaat. Toh apa yang kita baca, renungkan dan  dengarkan saat ini akan terlupakan 1 atau 2 tahun men-datang. Buktinya saya tidak dapat lagi mengingat apa yang saya baca dan renungkan tahun lalu. Tetapi tiba-tiba pikiran saya terarah pada satu hal. Saya tidak dapat mengingat makanan apa yang saya makan pada tahun-tahun yang lalu. Saya tidak tahu persis apa lauknya dan apa sayurannya, namun satu hal yang pasti adalah bahwa karena makanan-makanan itulah saya masih ada dan hidup sampai sekarang ini. Saya tidak tahu apa yang saya makan, namun saya tahu bahwa makanan itu telah menjadikan saya kuat dan dewasa. Demikian juga dengan Firman Allah. Mungkin anda tidak dapat mengingat semua khotbah yang pernah anda dengarkan atau bahkan anda khotbahkan, mungkin apa yang pernah anda renungkan sudah hilang dari ingatan anda, namun satu hal yang pasti adalah jika anda masih ada sebagaimana anda ada sekarang (dalam kondisi iman yang kuat dan dewasa), maka itu adalah dampak atau akibat dari Firman yang telah anda dengarkan dan renungkan itu. Jadi bagaimanapun juga Firman Allah sangat berperan dalam hidup kita untuk melahirkan iman yang dewasa dan kuat di dalam Tuhan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Hal lain yang juga dapat melahirkan iman yang dewasa di samping Firman Allah adalah pergumulan hidup. Memang antara Firman Allah dan pergumulan hidup mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Kita berhadapan dengan pergumulan hidup dan Firman Allah yang telah kita dengarkan dan renungkan itu akan memberi kekuatan rohani kepada kita untuk menghadapi dan menang atasnya, dan semuanya itu akan melahirkan iman yang dewasa dalam hidup kita.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Kehidupan Ayub adalah salah satu contoh yang mendukung kebenaran ini. Ketika musibah, malapetaka dan pergumulan hidup datang menghantamnya, hal itu bukan melemahkan imannya malah sebaliknya kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya adalah kalimat-kalimat iman. Ia berkata :</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><em>“…TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil , terpujilah nama TUHAN!” </em>(Ayub 1:21b)</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Terhadap isterinya yang menyuruhnya mengutuki Tuhan Allahnya ia berkata :</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><em>“…Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya” </em>(Ayub 2:10)</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Dan diakhir dari pergumulannya ia berkata :</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><em>“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas”</em> (Ayub 23:10)</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Di sini kita bisa melihat bahwa iman Ayub adalah iman yang dewasa, yakni iman yang lahir dan bertumbuh dari pergumulan hidup. Adakah hidupmu saat ini dipenuhi dengan berbagai pergumulan? Adakah badai dan gelombang hidup sementara menggoncang rumah tanggamu, pekerjaanmu, kariermu? Bertahanlah, dan dapatkanlah kekuatan melalui Firman-Nya maka niscaya imanmu akan bertumbuh menjadi dewasa.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong>II.	IMAN YANG DEWASA ADALAH IMAN YANG TIDAK MUNUNTUT &amp; MENGANCAM TUHAN.</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste">Iman yang dewasa adalah iman yang tidak menuntut dan mengancam Tuhan. Mengapa? Karena main tuntut dan main ancam adalah pekerjaan anak kecil. Orang yang telah dewasa imannya tidak lagi menuntut dan mengancam Tuhan melainkan berpasrah kepada kehendak-Nya dengan keyakinan bahwa apapun yang dilakukan dan dikehendaki oleh Tuhan adalah hal yang terbaik baginya. Jika kita mau jujur maka dalam hidup ini tidak sedikit kita mengajukan tuntutan dan ancaman kepada Tuhan. Ini biasanya dikaitkan dengan permohonan-permohonan kita. Kita mengajukan suatu permohonan kepada Tuhan, dan disertai dengan tuntutan dan ancaman agar Ia mau mengabulkannya.</div>
<div id="_mcePaste">Saya pernah melayani bersama dengan seorang Hamba Tuhan yang baru saja bertobat dan percaya kepada Kristus. Dulunya ia adalah seorang Haji. Ketika ia menjadi percaya kepada Kristus, maka ia dilengkapi dengan karunia mujizat sehingga ia sering berkeliling dan mendoakan orang sakit, orang buta dan orang lumpuh. Dan memang benar bahwa sudah banyak mujizat terjadi melalui pelayanannya.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Dalam suatu acara Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang dilanjutkan dengan acara Kesembuhan Ilahi, ia mulai mendoakan orang-orang buta, lumpuh dan sakit penyakit lainnya. Satu hal yang sangat mengagetkan saya adalah kata-kata doa yang keluar dari mulutnya. Ia berdoa demikian : <em>“Tuhan aku percaya kuasa dan mujizat-Mu. Karena itu saat ini aku memohon kepada-Mu agar Engkau menyembuhkan orang-orang sakit ini. Jika Engkau tidak menyembuhkan mereka, maka aku akan kembali menjadi seorang Islam ….” </em>Mengherankan sekali ada orang yang berani mengancam Tuhan dalam doa. Tetapi kalau kita pahami bahwa imannya masih iman kanak-kanak maka kita tidak perlu heran. Maklum itulah anak-anak. Anak-anak memang biasa menuntut dan mengancam orang tuanya agar permohonannya dikabulkan. Apa yang terjadi kemudian? Kesembuhan dan mujizat tetap terjadi. Allah mengabulkan permohonan yang berisi tuntutan dan ancaman kepada-Nya bukan karena Ia senang dengan tuntutan dan ancaman itu tetapi karena Ia mengerti bahwa orang yang berdoa itu masih bayi rohani yang perlu diladeni permintaannya agar kepercayaannya diteguhkan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Itulah iman anak-anak. Ini jelas berbeda dengan iman yang telah dewasa dalam Tuhan. Iman yang telah dewasa di dalam Tuhan tidak lagi menuntut dan mengancam Tuhan. Ia tidak akan berdoa seperti ini : “Tuhan saya berharap Engkau memberikan ini dan itu kepada saya, jika Engkau tidak memberinya maka ternyata Engkau begini dan begitu maka aku juga akan begini dan begitu. Iman yang dewasa akan tetap mempercayai Tuhan sekalipun apa yang Tuhan lakukan dan berikan tidak sesuai dengan doa dan harapannya.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Ketika Nebukadnezar raja Babel itu membuat patung berhala dan memerintahkan semua orang untuk sujud menyembah kepadanya, maka Sadrakh, Mesakh dan Abednego menolak melakukan hal itu. Sebagai akibatnya, mereka terancam dibuang ke dalam perapian yang menyala-nyala, namun kata dan kalimat yang keluar dari mulut mereka sangat indah dan menunjukkan bahwa iman mereka kepada Allah Israel bukan lagi iman kanak-kanak tetapi iman yang telah dewasa. Mereka berkata :</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><em>“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu ya raja, tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” </em>(Dan 3:17-18)</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Luar biasa! Di sini kita bisa melihat bahwa mereka tidak akan bergeser dari iman dan kepercayaan mereka sekalipun Allah memilih untuk tidak menyelamatkan mereka. Itulah iman yang dewasa.</div>
<div id="_mcePaste">Contoh lain yang menggambarkan kedewasaan iman adalah apa yang diungkapkan oleh nabi Habakuk. Ia berkata dalam doanya :</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><em>“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan  bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” </em>(Hab 3:17-18)</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Nabi Habakuk tidak hanya mau bersorai-sorai dan beria-ria di dalam Tuhan jika segala sesuatu berjalan dengan aman dan menguntungkan, tetapi juga dalam keadaan yang sangat merugikan. Dalam kondisi seperti itu ia tidak mengajukan tuntutan dan ancaman kepada Allah untuk merubah kondisi itu namun memilih untuk tetap memuji Dia. Ia tidak bergeser dari iman dan kepercayaannya sekalipun seperti-nya Allah tidak menolongnya. Adakah imanmu seperti iman ketiga anak muda Israel itu (Sadrakh, Mesakh dan Abednego)? Adakah imanmu seperti iman nabi Habakuk? Ataukah anda masih suka mengajukan tuntutan dan ancaman kepada Tuhan di dalam dan melalui doa-doamu? Ingatlah! Iman yang dewasa adalah iman yang tidak menuntut dan mengancam Tuhan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste"><strong>III.	IMAN YANG DEWASA ADALAH IMAN YANG DEPENDEN SEKALIGUS  INDEPENDEN.</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste">Dependen artinya bergantung dan independen artinya tidak bergantung. Jadi maksudnya iman yang dewasa itu adalah iman yang bergantung dan iman yang tidak bergantung. Bergantung pada apa dan tidak bergantung pada apa? Iman kita harus bergantung pada apa yang layak “digantungi” atau layak menjadi tempat bergantung, tetapi harus tidak bergantung (bukan tidak harus) pada apa yang tidak layak “digantungi” atau tidak layak menjadi tempat bergantung.</div>
<div id="_mcePaste">Persoalan lanjutan bagi kita adalah apakah atau siapakah yang layak menjadi tempat bergantung dari iman itu? Dan apakah atau siapakah yang tidak layak menjadi tempat bergantung dari iman itu? Satu-satunya yang layak menjadi tempat bergantung dari iman itu adalah Allah sendiri. Mengapa? Karena Dialah sentral atau pusat, sumber dan subyek (bukan obyek) dari iman itu sedangkan yang tidak layak menjadi tempat bergantung dari iman itu adalah sesama manusia, situasi dan kondisi. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa iman yang dewasa adalah iman yang hanya bergantung kepada Allah saja dan bukan kepada manusia, situasi dan kondisi.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Iman yang masih kanak-kanak biasanya mencari tempat bergantung kepada seseorang yang dirasa dapat menjadi tempat bergantung. Makanya jangan heran jika ada  banyak jemaat yang menggantungkan iman dan harapannya pada pendetanya, pada seniornya sehingga jika iman pendetanya atau seniornya lemah, imannya juga ikut lemah dan jika iman pendeta atau seniornya menjadi kuat, maka imannya juga kuat. Jika pendeta dan seniornya itu mengundurkan diri dari suatu gereja maka mereka juga ikut-ikutan mundur. Jika pendeta atau seniornya maju, mereka juga maju tetapi jika mundur, mereka juga mundur. Pendeta atau seniornya naik gunung, mereka juga. Masuk lubang, ikut juga. Saudara-saudara, harap maklum saja, namanya juga anak-anak.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Contoh Alkitab yang menggambarkan hal ini adalah kisah Debora dan Barak. Ketika Debora menyuruh Barak untuk maju berperang maka Barak menjawab :</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste"><em>“…Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju,  akupun tidak maju”</em> (Hak 4:8)</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">Jadi rupanya Barak tidak bergantung pada Allah yang telah menyerahkan musuh-musuh kepadanya, tetapi bergantung pada Debora. Ia tidak bergantung kepada yang layak “digantungi” dan bergantung kepada yang tidak layak “digantungi”. Sekali lagi maklum saja. Namanya juga anak-anak.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Iman kanak-kanak juga sering bergantung kepada situasi dan kondisi. Jika situasi dan kondisi menyenangkan, mengenakkan, semuanya berjalan dengan aman, maka sepanjang itu juga mereka tetap percaya dan setia kepada Tuhan. Tetapi kalau tiba-tiba situasi dan kondisi berubah menjadi merugikan, tidak menyenangkan, agak berbahaya, maka kesetiaan dan kepercayaan kepada Tuhan pun  pudar. Itulah iman kanak-kanak.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Kita dituntut untuk memiliki iman yang dewasa yang hanya bergantung kepada Tuhan dalam keadaan apa pun, dan tidak bergantung pada siapa pun atau apa pun. Syair sebuah lagu berkata :</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Kala ku cari damai</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Hanya kudapat dalam Yesus</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Kala ku cari ketenangan</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Hanya kutemui di dalam Yesus</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Tak satu pun dapat menolongku</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Tak seorang pun dapat menghiburku</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Hanya Yesus jawaban hidupku</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Bersama Dia hatiku damai</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Walau dalam lembah kekelaman</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Bersama Dia hatiku tenang</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Walau hidup penuh tantangan</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Tak satu pun dapat menghiburku</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Tak seorang pun dapat menolongku</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">Hanya Yesus jawaban hidupku</div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div id="_mcePaste">Hanya Yesus satu-satunya tempat bergantung dalam segala situasi. Jika kita dapat mempunyai iman seperti syair lagu ini, maka berbahagialah karena iman kita bukan lagi iman kanak-kanak melainkan iman yang dewasa.</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;">- AMIN -</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airhidup.info/wp/iman-yang-dewasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelahiran Kristus Yang Ajaib (Dari Perawan Maria)</title>
		<link>http://airhidup.info/wp/kelahiran-kristus-yang-ajaib-dari-perawan-maria-2/</link>
		<comments>http://airhidup.info/wp/kelahiran-kristus-yang-ajaib-dari-perawan-maria-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 05:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airhidup.info/wp/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Antara “Kata Alkitab” dan “Keberatan Masa Kini”
Bagian Terakhir Dari Tiga Tulisan
Esra Alfred Soru
Sebentar lagi umat Kristiani sedunia akan merayakan suatu hari raya besar yakni NATAL. Suatu perayaan untuk mengingat suatu peristiwa penting dalam sejarah dunia yakni kelahiran Yesus Kristus Sang Juruselamat dunia. Ia yang adalah Allah pencipta alam semesta itu datang menjenguk manusia dengan menyamar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Antara “Kata Alkitab” dan “Keberatan Masa Kini”</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Bagian Terakhir Dari Tiga Tulisan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Esra Alfred Soru</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sebentar lagi umat Kristiani sedunia akan merayakan suatu hari raya besar yakni NATAL. Suatu perayaan untuk mengingat suatu peristiwa penting dalam sejarah dunia yakni kelahiran Yesus Kristus Sang Juruselamat dunia. Ia yang adalah Allah pencipta alam semesta itu datang menjenguk manusia dengan menyamar sebagai manusia. Itulah yang dikenal dengan istilah “inkarnasi”.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kesaksian Alkitab</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Menurut kesaksian Alkitab, sewaktu Yesus berinkarnasi ke dalam dunia ini, Ia tidak datang dengan kebesaran-Nya sebagai Allah alam semesta melainkan datang dalam rupa seorang bayi mungil melalui rahim seorang perawan Yahudi bernama Maria. Injil Matius dan Lukas menggambarkan dengan jelas bahwa bayi yang dikandung perawan Yahudi itu adalah hasil karya Roh Kudus dan bukan hasil hubungan seorang laki-laki dan seorang perempuan. Sesungguhnya hal ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara mendadak atau kebetulan melainkan sudah dinubuatkan jauh sebelumnya. Dalam Kej 3:15 dikatakan : “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.&#8221; Jadi ada satu janji bahwa akan datang seorang keturunan perempuan itu yang akan berhasil meremukkan kepala ular itu. Menarik untuk dipikirkan bahwa keturunan yang akan datang itu tidak disebut sebagai keturunan laki-laki melainkan keturunan perempuan. Dalam kebudayaan paternalistik seperti di Yahudi, sering disebutkan dalam silsilah-silsilah tentang seorang laki-laki yang memperanakkan. Contohnya Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, dst. Kalau dikatakan bahwa Abraham memperanakkan Ishak maka dengan sendirinya orang mengerti bahwa bukan Abraham yang melahirkan Ishak melainkan istrinya. Jadi kalau Alkitab berkata tentang seorang laki-laki yang memperanakkan seseorang maka sudah tentu harus dimengerti hal itu dalam hubungan dengan seorang perempuan. Di sini sangat menarik bahwa ternyata keturunan yang akan meremukkan kepala ular itu bukanlah disebut keturunan laki-laki melainkan keturunan perempuan. Dengan demikian sebenarnya janji ini ingin mengatakan bahwa akan datang seseorang keturunan perempuan (tanpa laiki-laki) yang akan meremukkan kepala ular yakni iblis itu. Siapakah keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala iblis itu? Dialah Yesus Kristus yang lahir bukan dari keturunan laki-laki (dan perempuan) melainkan keturunan perempuan (tanpa laki-laki). Itulah sebabnya Kej 3:15 ini sering disebut “Proto Evangelium” (Injil yang pertama). Jadi sesungguhnya Kej 3:15 adalah sebuah tipe dari anti tipe yang akan datang yakni Kristus sendiri. Janji ini diteguhkan lagi oleh nabi Yesaya ketika ia berkata : “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”. Dan hal ini sungguh digenapi dalam diri Yesus Kristus sewaktu masuk ke dalam dunia ini. Mat 1:20-23 berkata : “&#8230;sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi : &#8220;Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel&#8221; &#8212; yang berarti: Allah menyertai kita”. Jadi kedatangan Kristus ke dalam dunia ini melalui seorang perawan adalah penggenapan nubuatan dalam PL. Hal ini dipercayai dengan pasti oleh orang-orang Kristen yang sejati bahkan muncul dalam rumusan Pengakuan Iman Rasuli yang kita ucapkan setiap minggunya : “Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria&#8230;”</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Perkembangan selanjutnya</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kepercayaan akan kelahiran Kristus dari seorang perawan sudah dipercayai golongan ortodoks selama ribuan tahun namun rupanya dalam perkembangan selanjutnya, doktrin/kepercayaan ini mulai ditentang dan ditolak terutama oleh aliran liberal dan juga gerakan “Jesus History” atau “Jesus Seminar”. Penolakan ini begitu hebat sehingga pokok ini menjadi suatu pokok yang sangat kontroversial. Pokok ini yang paling banyak diperdebatkan dalam studi Kristologi di samping topik kematian dan kebangkitan Kristus. Millard J. Erickson berkata :  “Di akhir abad 19 dan awal abad 20, kelahiran Yesus dari seorang perawan berada di garis depan perdebatan di antara golongan fundamentalis dengan golongan modernis. Golongan fundamentalis bersikeras bahwa doktrin ini merupakan kepercayaan yang sangat menentukan. Golongan modernis menyangkal doktrin ini sebagai tidak penting atau tidak dapat dipertahankan atau menafsirkannya kembali secara tidak harfiah. Bagi golongan fundamentalis, doktrin ini merupakan jaminan keunikan kualitatif dari keallahan Kristus, sedangkan bagi golongan modernis doktrin ini mengalihkan perhatian dari kenyataan rohani-Nya kepada persoalan yang sekedar biologis saja. (Teologi Kristen II; hal. 393-394). Demikian pula D. James Kennedy : “Dari semua mujizat-mujizat dan misteri dalam Alkitab, mujizat kelahiran Yesus Kristus  melalui perawan Maria sudah mengalami serangan yang paling galak. Anehnya, serangan-serangan yang paling bersikap memusuhi datang dari mereka yang menganggap dirinya sebagai ahli teologia dan pelayan-pelayan Injil. Dengan mengaku bahwa mereka hanya ingin membersihkan semua yang berbau “mistik” dan “dongeng” dari kisah-kisah dalam Injil…” (Solving Bible Mysteries; hal. 69-70). Dan menariknya adalah bahwa penolakan terhadap doktrin ini justru dimulai dari seorang Pendeta yakni Harry Emerson Fosdick, Pendeta pada sebuah gereja megah “Riverside Church” di New York yang adalah pemimpin aliran teologi liberal di Amerika Serikat. Perhatikan kata-kata dalam khotbah Fosdick ini : “Aku ingin meyakinkan anda saat ini juga bahwa aku tidak percaya pada kelahiran melalui seorang perawan dan aku harap anda semua juga tidak.  Doktrin ini mengalihkan perhatian dari kenyataan rohani-Nya kepada persoalan yang sekedar biologis saja. (Kennedy : 69; lihat juga Erickson : 394). D. James Kennedy ketika mengutip kata-kata Fosdick ini berkomentar : “Kata-kata itu diucapkan dalam paruh waktu pertama abad 20 dari atas mimbar…sejak itu kata-kata tersebut selalu bergema di semua gereja liberal di seluruh Amerika”. (Kennedy : 69).</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Keberatan-keberatan terhadap doktrin ini</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ada beberapa keberatan yang biasa diajukan untuk menolak ajaran tentang kelahiran  Kristus dari seorang perawan. Kita akan melihatnya satu per satu dan mengujinya. Apakah keberatan modern ini layak menggugurkan kepercayaan ordoksi terhadap kelahiran ajaib Kristus dari seorang perawan?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Keberatan Pertama : Doktrin ini tidak masuk di akal dan bertentangan dengan hukum alam.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Inilah keberatan pertama dan utama. Mana mungkin seorang perempuan bisa hamil tanpa hubungan dengan seorang laki-laki? Ini adalah suatu hal yang tidak masuk di akal. Benarkah demikian? Sebelum menjawabnya, baiklah kita sadari satu hal bahwa sebenarnya akar dari pandangan semacam ini adalah ketidakpercayaan terhadap mujizat.  D. James Kennedy menulis :  “Jadi mengapa begitu banyak gereja dan hamba-hamba Tuhan yang menolak kelahiran melalui perawan? Alasan pertama adalah bahwa adanya kerancuan (bias) yang anti supernatural, yaitu kerangka pemikiran naturalistik yang sama sekali menolak tentang adanya mujizat. Jelas kalau anda tidak percaya kepada mujizat, anda tidak akan bisa percaya tentang kelahiran melalui seorang perawan”. (Kennedy : 77). Simak juga komentar  Josh Mc Dowell &amp; Don Steward, 2 apologet Kristen terkemuka : “Yang menjadi masalah utama bagi banyak orang berkenaan dengan kelahiran dari anak dara itu ialah bahwa kejadian itu suatu mujizat. Kitab Suci tidak membicarakan peristiwa ini sebagai suatu kejadian yang biasa  saja, melainkan sebagai perbuatan Allah yang adikodrati. Mujizat kelahiran dari anak dara ini seharusnya tidak menjadi masalah jika orang mengakui kemungkinan terjadinya mujizat”. (Jawaban Bagi Pertanyaan Orang Yang Belum Percaya; hal. 72). Bandingkan ini dengan klimat Toni Evans : “Para perawan tidak bsia hamil, kecuali secara adikodrati”. (Allah Kita Maha Agung; hal. 347). Jadi kalau kita percaya bahwa Allah adalah Allah yang berada di atas alam semesta maka tidak ada yang mustahil bagi Allah. Ia dapat melakukan apa saja yang Ia kehendaki termasuk memasukkan Yesus ke dalam dunia ini melalui seorang perawan. Mannford G. Gutzke dengan baik berkata : “Kelahiran dari seorang perawan sama sekali bukan masalah bagi Tuhan. Kalau memang ada Allah yang menciptakan alam semesta, kalau Ia melemparkan galaksi-galaksi dari ujung-ujung jari-Nya, kalau Ia menghiasi langit malam dengan kilauan Bima Sakti, maka bagi Dia adalah hal yang amat kecil untuk menciptakan sebuah benih mungil dan menanamkannya dalam rahim seorang perawan Yahudi muda”. (Gutzke dalam Kennedy : 78). Sedangkan Stephen Tong dengan sangat indah menulis : “Ketika Adam dicipta, Adam tidak memiliki ayah dan ibu. Jadi Adam ada tanpa ayah dan tanpa ibu. Inilah cara kerja Allah yang pertama. Tanpa pria, tanpa wanita, Allah menciptakan Adam. Ketika Hawa dicipta, ia dicipta dari tulung rusuk Adam , setelah Tuhan membuat Adam tertidur. Jadi Hawa datang dari tubuh Adam, sehingga Adam mengatakan : “inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej 2:23). Maka modus kedua, Hawa dicipta dari pria, tanpa wanita. Tuhan mencipta dengan memakai pria, tanpa wanita, maka terciptalah Hawa. Ini adalah cara penciptaan yang kedua. Ketika Allah menjadikan saudara dan saya, Tuhan memakai pria dan memakai wanita. Inilah cara yang ketiga. Maka tinggal satu cara lagi yang tersisa yaitu tanpa pria, dengan memakai wanita. Dengan cara yang keempat inilah Tuhan Yesus lahir. Jikalau Allah adalah Allah yang hidup, mengapa kita berhak membatasi Allah hanya dengan memakai tiga cara dan tidak memperbolehkan Allah memakai cara yang keempat? Itulah sebabnya orang Kristen percaya bahwa Allah sanggup memakai anak dara Maria untuk melahirkan Yesus Kristus. Itu sesuatu yang sangat logis dan masuk akal. (Yesus Kristus Juruselamat Dunia; hal. 77-78). Stephen Tong melanjutkan : “Allah tidak boleh dibatasi oleh pemikiran dan kehendak manusia. Allah yang sanggup menciptakan manusia tanpa lelaki dan tanpa perempuan, juga adalah Allah yang sanggup menciptakan manusia dengan memakai laki-laki dan perempuan, Allah yang menciptakan Adam, juga adalah Allah yang menciptakan Hawa. Dan Allah yang menjadikan kita semua dengan memakai laki-laki dan perempuan juga adalah Allah yang bisa memakai perempuan tanpa laki-laki untuk melahirkan Yesus Kristus”. (ibid : 78). Dengan demikian kita bisa melihat bahwa sebenarnya kelahiran dari anak dara adalah sesuatu yang masuk akal dan bukannya tidak masuk di akal.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Keberatan kedua : Doktrin tersebut hanya sedikit sekali dibicarakan di PB (Injil Matius dan Lukas) dan dengan demikian diragukan kebenarannya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Seorang Pendeta Presbyterian di Amerika mengatakan : ‘Kelahiran melalui seorang perawan hanya disebutkan dalam 2 kitab Injil dalam Alkitab, yaitu Matius dan Lukas. Sedangkan dalam Injil Markus dan Yohanes sama sekali tidak disinggung. Paulus juga tidak pernah menyebutkan tentang itu. Karena itu aku tidak percaya’. (Kennedy : 78). Bagaimanakah kita memberi jawab apda keberatan semacam ini? Memang harus diakui bahwa hanya 2 Injil (Matius dan Lukas) yang menceritakan kelahiran Yesus dari seorang perawan. Namun demikian, hal yang paling mendasar adalah apakah kita percayai bahwa Alkitab adalah firman Allah atau tidak. Jika kita percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah dan dengan demikian tidak mungkin salah maka tidak peduli berapa banyak yang dibicarakan tentang satu topik meskipun hanya satu kali. Yang penting adalah jika topik itu pernah dibicarakan maka itu PASTI benar. Kelompok “Jesus History” atau “Jesus Seminar” jelas menolak dan tidak dapat menerima doktrin ini karena mereka tidak lagi mempercayai Alkitab apalagi cerita-cerita Injil dan menganggap itu sebagai karangan para murid Yesus.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kalau suatu bagian Alkitab ditolak hanya karena itu tidak dibicarakan oleh lebih dari 2 tokoh Alkitab maka kita mempunyai alasan untuk menolak lebih banyak lagi. Contohnya : khotbah Yesus di bukit tidak bisa dipercaya karena hanya dibicarakan dalam Injil Matius dan Lukas. Markus dan Yohanes tidak membicarakannya. Paulus juga tidak pernah menyinggung itu dalam surat-suratnya. Lagi pula perlu disadari bahwa bahwa seorang penulis Alkitab tidak menyebutkan suatu topik bukan berarti ia tidak mempercayainya. Bahwa Markus dan Yohanes tidak membicarakan kelahiran dari anak dara bukan berarti mereka menolaknya. Bukankah Markus dan Yohanes tidak menceritakan kelahiran Yesus? Apakah itu berarti bahwa mereka tidak percaya bahwa Yesus dilahirkan? Paulus juga tidak pernah menyebut mujizat-mujizat yang pernah dibuat oleh Yesus. Jadi apakah Paulus tidak percaya bahwa Yesus pernah membuat mujizat apa pun? Paulus tidak pernah menyebutkan perumpamaan-perumpamaan Yesus. Apakah Paulus tidak percaya bahwa Yesus pernah menyampaikan perumpamaan? Kalau kita mengikuti gaya berpikir semacam ini maka kita bisa menghapus seluruh isi Kitab Suci.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Keberatan ketiga : Kalau Yesus dilahirkan dari seorang perawan (tidak dengan laki-laki) maka itu berarti bahwa Yesus bukan sungguh-sungguh manusia</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kristologi kaum Injili mengatakan bahwa Kristus dalam inkarnasi-Nya adalah Alla yang sejati dan manusia yang sejati. Ia 100% Allah dan 100% manusia. Muncul pertanyaan yang berhubungan dengan kelahiran Kristus yakni jika Yesus dilahirkan dari  dari seorang perawan maka itu berarti bahwa Yesus bukan sungguh-sungguh manusia. Sebenarnya keberatansemacam ini terlalu mengada-ada. Bukankah Adam dan Hawa adalah sungguh-sungguh manusia meski mereka tidak memiliki ayah dan ibu? Kalau Adam dan Hawa adalah sungguh-sungguh manusia meskipun ia tidak memiliki ayah dan ibu mengapa Yesus bukan sungguh-sungguh manusia hanya karena tidak memiliki ayah?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Keberatan keempat : Kisah kelahiran Yesus dari seorang perawan mirip dengan ajaran agama-agama pra Kristen.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Keberatan berikut dalam hubungan dengan kelahrian Kristus yang ajaib adalah bahwa ada cerita-cerita dari agama pra Kristen yang mirip dengan cerita Injil tentang kelahiran Yesus. Dalam mitologi Yunani diceritakan bahwa dewa Zeus mendekati Alcmene tanpa hubungan seksual dan kemudian melahirkan Hercules, sang pahlawan yang lahir dari seorang perawan. Legenda Budha menceritakan bahwa  Budha dilahirkan dari perawan Maya. Dari Hindu dikisahkan bahwa Wishnu, dalam inkarnasinya yang kedelapan, muncul sebagai dewa Krishna, yang lahir melalui perawan Devaki. Demikian pula dari Romawi, Kaisar Agustus dan Alexander Agung dipercaya lahir dari perawan-perawan. Sumber-sumber ini membuat beberapa orang percaya bahwa kisah kelahiran dari seorang perawan yang terdapat dalam Injil merupakan saduran dari kisah-kisah serupa yang terdapat dalam kesusasteraan agama-agama lain bahkan yang lain melihatnya sebagai mitos, bahkan mitos yang dicuri/dipinjam dari agama lain.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sesungguhnya keberatan ini sama sekali tidak masuk di akal. Mengapa? Karena kalau dipelajari dengan seksama, sesungguhnya cerita-cerita itu bukannya mirip dengan cerita Injil melainkan sangat berbeda. Kennedy membantah keberatan-keberatan ini (Kennedy: 81) dengan berkata : “Dalam kasus Zeus yang menjadi ayah Hercules melalui seorang perawan, kita menemukan apa yang biasanya ditemukan dalam mitologi Yunani di mana dewa-dewa tidak lain adalah manusia-manusia yang “diperbesar” menjadi ukuran dewa, dan dengan dosa-dosa serta kelemahan manusia, hidup bersama dengan manusia. Dewa-dewa Yunani sering kali digambarkan sebagai lebih menyukai perempuan-perempuan (manusia) biasa. Tentang Budha, ibunya menyatakan bahwa seekor gajah putih yang memiliki 6 buah taring dan pembuluh-pembuluh darah berwarna merah datang mendekatinya, dan menyebabkannya mengandung bayi yang kemudian menjadi Budha. Dalam kasus Wishnu, menurut legenda, ia pertama kali menjelma menjadi ikan, lalu kura-kura, selanjutnya beruang, singa, dan beberapa makhluk aneh lainnya. Sukar melihat hubungan antara cerita ini dengan kisah kelahiran Yesus. Dalam kasus Kaisar Agustus, ia mengaku bahwa ibunya, Olympia dihamili oleh seekor ular; Alexander Agung juga mengaku bahwa ayahnya adalah seekor ular. (Mengapa hal ini perlu disombongkan sungguh tidak bisa dipahami)”. Jadi jelas bahwa ternyata semua mitos kafir ini sangat jauh berbeda dengan kisah Yesus dan karenanya tidak mungkin kisah kelahiran Yesus diambil dari mitologi-mitologi kafir ini. Simaklah kata-kata Budi Asali : “Maria mengandung dari Roh Kudus” bukan berarti bahwa Allah / Roh Kudus melakukan hubungan seks dengan Maria dan menyebabkannya mengandung melalui hubungan seks itu. Dalam dongeng-dongeng kafir kita sering membaca tentang dewa yang berhubungan seks dengan manusia sehingga mempunyai anak. Tetapi kekristenan tidak mengajarkan hal seperti itu. “Maria mengandung dari Roh Kudus”, artinya Roh Kudus melakukan suatu mujijat sehingga perawan Maria itu mengandung tanpa hubungan seks dengan siapapun”. (Eksposisi Injil Matius; hal. 20). Akhirnya perhatikan kesimpulan Thomas Thorburn : “Semua cerita yang bermacam-macam mengenai kandungan dan kelahiran yang gaib ini, yang kita temui dalam dongeng-dongeng dan sejarah Mitologi, umumnya mempunyai satu unsur serupa – semua nya itu justru menunjukkan perbedaan atau ketidaksamaan dan bukannya persamaan di antara cerita kelahiran Yesus di dalam agama Kristen dan di dalam dongeng-dongeng yang beredar di kalangan agama-agama kafir”. (Critical Examination of the Evidences for the Doctrine of the Virgin Birth; hal. 158).</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Keberatan kelima : Yesus sering disebut sebagai anak Yusuf dan bahwa “dikandung dari Roh Kudus” adalah istilah yang umum di Yahudi.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Keberatan ini dikemukakan oleh seorang teolog Skotlandia bernama William  Barclay. Barclay memulai keberatannya dengan berkata : “Perikop ini (Mat 1:18-25) menceritakan tentang Yesus yang dilahirkan oleh karya Roh Kudus. Perikop ini menuturkan cerita tentang kelahiran dari perawan. Pokok ini merupakan doktrin yang penuh dengan kesulitan; dan gereja kita tidak memaksa kita untuk menerima ajaran itu secara  hurufiah dan secara jasmani. Ajaran ini adalah salah satu ajaran yang diterima oleh gereja. Gereja memberi kita keleluasaan untuk memahami serta mengambil kesimpulan sendiri. &#8230; yang ditekankannya dalam perikop ini bukanlah pertama-tama bahwa Yesus lahir dari seorang wanita perawan, melainkan Yesus lahir karena karya Roh Kudus”. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Matius; hal. 30-31). Terhadap pernyataan Barclay ini, Budi Asali berkomentar : “Ini jelas merupakan penafsiran sesat yang sama sekali tidak menghargai otoritas Kitab Suci, dan ini menunjukkan kesesatan William Barclay! Gereja manapun yang tidak mengharuskan doktrin kelahiran Yesus dari seorang perawan, adalah gereja yang sesat!” (Budi Asali : 19). Dalam bukunya yang lain Barclay menulis : “Silsilah Yesus baik dalam Injil Lukas maupun Injil Matius (Luk 3:23-38; Mat 1:1-17) mengikuti silsilah Yusuf. Jadi aneh jika Yusuf bukan ayah-Nya. Ketika Maria mencari-cari Dia sementara Yesus berdiskusi di Bait Suci, Maria berkata kepada-Nya “Bapamu dan aku dengan cemas mencari engkau” (Luk 2 :48). Sebutan bapa dengan pasti diberikan oleh Maria kepada Yusuf. Berulang-ulang Yesus diacu sebagai putera Yusuf (Mat 13 :55 ; Yoh 6 :24). Kitab-kitab lainnya dalam PB tidak berbicara mengenai kelahiran dari anak dara itu. Meskipun dalam Gal 4 :4 Paulus berkata-kata tentang Yesus sebagai ‘yang dilahirkan dari seorang wanita’. Tetapi inilah ungkapan yang lazim bagi setiap manusia yang fana (Ay 14:4; 15:14; 25:4). (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Injil Lukas; hal. 18). Barclay melanjutkan : “Apabila kita tidak memahami hal kelahiran dari anak dara ini, lalu bagaimanakah timbulnya cerita itu? Ada peribahasa Yahudi yang mengatakan bahwa pada setiap anak selalu ada tiga yang terlibat – bapa, ibu dan Roh Allah. Mereka yakin bahwa seorang anak tidak akan dilahirkan tanpa Roh Kudus. Ada kemungkinan bahwa cerita-cerita PB mengenai kelahiran Yesus diungkapkan dalam kata-kata indah, yang secara puitis dikatakan bahkan kalaupun ia mempunyai seorang ayah manusiawi, Roh Kudus tetap bekerja dalam kelahirannya secara unik”. (ibid : 18-19). Dan akhirnya Barclay berkata :  “Dalam hal ini kita dapat memutuskan sendiri. Kita dapat menerima ajaran harfiah mengenai kelahiran dari seorang perawan; tetapi bisa juga kita lebih suka untuk memahaminya sebagai cara yang indah untuk menekankan kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan keluarga. (ibid : 19).</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Apakah yang harus kita katakan tentang keberatan/pendapat Barclay ini? Pertama-tama haruslah diingat bahwa secara hukum Yesus adalah anak Yusuf. Karena itu tidak aneh, kalau silsilah-Nya dibuat melalui Yusuf. Selain itu penyebutan Yesus sebagai anak Yusuf adalah penyebutan dalam konteks manusia-Nya. Bukankah akhirnya Yusuf juga mengakui Yesus sebagai anaknya? Jadi wajar kalau Yesus disebut sebagai anak Yusuf. Bahwa Maria menyebut Yusuf sebagai Bapanya Yesus (Luk 2:48) haruslah dilihat dari terang ini. Selain itu pula Barclay gagal melihat konteks ayat ini di mana Luk 2:49 justru memperlihatkan kata-kata Yesus : &#8220;Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?.&#8221; Dengan kata lain, Ia mengatakan bahwa Yusuf bukanlah bapa-Nya, karena Allahlah yang adalah Bapa-Nya. Dapat ditambahkan pula bahwa penyebutna Yesus sebagai anak Yusuf adalah menurut anggapan orang. Perhatikan Luk 3:23 : “Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli..” (band. Yoh 6:42). Dengan demikian jelaslah bahwa penyebutan Yusuf sevagai bapa Yesus atau Yesus sebagai anak Yusuf tidak cukup menjadi alasan untuk menolak doktrin kelahiran Kristus dari anak dara.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Lalu bagaimana dengan peribahasa Yahudi yang dikatakan Barclay? Haruslah diingat bahwa Luk 1:26-38 dan Mat 1:18-25 merupakan historical narrative (cerita sejarah) dan karenanya harus ditafsirkan secara hurufiah, tidak boleh dijadikan puisi/peribahasa. Seandainya benar bahwa ada peribahasa Yahudi seperti itu, bukankah gambaran kitab Injil jelas memperlihatkan cerita yang berbeda dari kebanyakan cara kelahiran anak-anak Yahudi. Bapa, ibu dan Roh Kudus memang terlibat dalam kelahiran seorang anak Yahudi tetapi Alkitab dengan jelas memperlihatkan bahwa hanya ibu (Maria) dan Roh Kudus yang terlibat dalam proses kelahiran Yesus.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kita sudah menjawab semua keberatan terhadap doktrin kelahiran Kristus dari seorang perawan dan kita sudah menemukan bahwa keberatan-keberatan itu, tidak ada satu pun yang cukup kuat untuk menolak doktrin ini. Doktrin kelahiran Yesus dari anak dara adalah doktrin yang sangat penting dalam Alkitab dan peristiwa ini adalah sebuah mujizat. Yesus Kristus adalah Allah yang ajaib dan karenanya layaklah untuk dipikirkan bahwa Ia datang dan pergi dari dunia ini dengan cara yang ajaib pula. Kiranya iman kita diteguhkan untuk mempercayai peristiwa yang agung ini sambil merayakan dan menikmati sukacita Natal tahun ini. SELAMAT NATAL!!</div>
<p><em>Antara “Kata Alkitab” dan “Keberatan Masa Kini” </em></p>
<p><em>Bagian Terakhir Dari Tiga Tulisan</em></p>
<p><strong><em>Esra Alfred Soru</em></strong></p>
<p>Sebentar lagi umat Kristiani sedunia akan merayakan suatu hari raya besar yakni NATAL. Suatu perayaan untuk mengingat suatu peristiwa penting dalam sejarah dunia yakni kelahiran Yesus Kristus Sang Juruselamat dunia. <span id="more-504"></span>Ia yang adalah Allah pencipta alam semesta itu datang menjenguk manusia dengan menyamar sebagai manusia. Itulah yang dikenal dengan istilah “inkarnasi”.</p>
<p><strong><em>Kesaksian Alkitab</em></strong></p>
<p>Menurut kesaksian Alkitab, sewaktu Yesus berinkarnasi ke dalam dunia ini, Ia tidak datang dengan kebesaran-Nya sebagai Allah alam semesta melainkan datang dalam rupa seorang bayi mungil melalui rahim seorang perawan Yahudi bernama Maria. Injil Matius dan Lukas menggambarkan dengan jelas bahwa bayi yang dikandung perawan Yahudi itu adalah hasil karya Roh Kudus dan bukan hasil hubungan seorang laki-laki dan seorang perempuan. Sesungguhnya hal ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara mendadak atau kebetulan melainkan sudah dinubuatkan jauh sebelumnya. Dalam Kej 3:15 dikatakan : “<em>Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; </em><em><span style="text-decoration: underline;">keturunannya akan meremukkan kepalamu</span></em><em>, dan engkau akan meremukkan tumitnya</em>.&#8221; Jadi ada satu janji bahwa akan datang seorang keturunan perempuan itu yang akan berhasil meremukkan kepala ular itu. Menarik untuk dipikirkan bahwa keturunan yang akan datang itu tidak disebut sebagai keturunan laki-laki melainkan keturunan perempuan. Dalam kebudayaan paternalistik seperti di Yahudi, sering disebutkan dalam silsilah-silsilah tentang seorang laki-laki yang memperanakkan. Contohnya Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, dst. Kalau dikatakan bahwa Abraham memperanakkan Ishak maka dengan sendirinya orang mengerti bahwa bukan Abraham yang melahirkan Ishak melainkan istrinya. Jadi kalau Alkitab berkata tentang seorang laki-laki yang memperanakkan seseorang maka sudah tentu harus dimengerti hal itu dalam hubungan dengan seorang perempuan. Di sini sangat menarik bahwa ternyata keturunan yang akan meremukkan kepala ular itu bukanlah disebut keturunan laki-laki melainkan keturunan perempuan. Dengan demikian sebenarnya janji ini ingin mengatakan bahwa akan datang seseorang keturunan perempuan (tanpa laki-laki) yang akan meremukkan kepala ular yakni iblis itu. Siapakah keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala iblis itu? Dialah Yesus Kristus yang lahir bukan dari keturunan laki-laki (dan perempuan) melainkan keturunan perempuan (tanpa laki-laki). Itulah sebabnya Kej 3:15 ini sering disebut “<em>Proto Evangelium</em>” (Injil yang pertama). Jadi sesungguhnya Kej 3:15 adalah sebuah tipe dari anti tipe yang akan datang yakni Kristus sendiri. Janji ini diteguhkan lagi oleh nabi Yesaya ketika ia berkata : “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”. Dan hal ini sungguh digenapi dalam diri Yesus Kristus sewaktu masuk ke dalam dunia ini. Mat 1:20-23 berkata : “&#8230;sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi : &#8220;Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel&#8221; &#8212; yang berarti: Allah menyertai kita”. Jadi kedatangan Kristus ke dalam dunia ini melalui seorang perawan adalah penggenapan nubuatan dalam PL. Hal ini dipercayai dengan pasti oleh orang-orang Kristen yang sejati bahkan muncul dalam rumusan Pengakuan Iman Rasuli yang kita ucapkan setiap minggunya : “Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria&#8230;”</p>
<p><strong><em>Perkembangan selanjutnya </em></strong></p>
<p>Kepercayaan akan kelahiran Kristus dari seorang perawan sudah dipercayai golongan ortodoks selama ribuan tahun namun rupanya dalam perkembangan selanjutnya, doktrin/kepercayaan ini mulai ditentang dan ditolak terutama oleh aliran liberal dan juga gerakan “Jesus History” atau “Jesus Seminar”. Penolakan ini begitu hebat sehingga pokok ini menjadi suatu pokok yang sangat kontroversial. Pokok ini yang paling banyak diperdebatkan dalam studi Kristologi di samping topik kematian dan kebangkitan Kristus. Millard J. Erickson berkata :  “Di akhir abad 19 dan awal abad 20, kelahiran Yesus dari seorang perawan berada di garis depan perdebatan di antara golongan fundamentalis dengan golongan modernis. Golongan fundamentalis bersikeras bahwa doktrin ini merupakan kepercayaan yang sangat menentukan. Golongan modernis menyangkal doktrin ini sebagai tidak penting atau tidak dapat dipertahankan atau menafsirkannya kembali secara tidak harfiah. Bagi golongan fundamentalis, doktrin ini merupakan jaminan keunikan kualitatif dari keallahan Kristus, sedangkan bagi golongan modernis doktrin ini mengalihkan perhatian dari kenyataan rohani-Nya kepada persoalan yang sekedar biologis saja. (Teologi Kristen II; hal. 393-394). Demikian pula D. James Kennedy : “Dari semua mujizat-mujizat dan misteri dalam Alkitab, mujizat kelahiran Yesus Kristus  melalui perawan Maria sudah mengalami serangan yang paling galak. Anehnya, serangan-serangan yang paling bersikap memusuhi datang dari mereka yang menganggap dirinya sebagai ahli teologia dan pelayan-pelayan Injil. Dengan mengaku bahwa mereka hanya ingin membersihkan semua yang berbau “mistik” dan “dongeng” dari kisah-kisah dalam Injil…” (Solving Bible Mysteries; hal. 69-70). Dan menariknya adalah bahwa penolakan terhadap doktrin ini justru dimulai dari seorang Pendeta yakni Harry Emerson Fosdick, Pendeta pada sebuah gereja megah “Riverside Church” di New York yang adalah pemimpin aliran teologi liberal di Amerika Serikat. Perhatikan kata-kata dalam khotbah Fosdick ini : “Aku ingin meyakinkan anda saat ini juga bahwa aku tidak percaya pada kelahiran melalui seorang perawan dan aku harap anda semua juga tidak.  Doktrin ini mengalihkan perhatian dari kenyataan rohani-Nya kepada persoalan yang sekedar biologis saja. (Kennedy : 69; lihat juga Erickson : 394). D. James Kennedy ketika mengutip kata-kata Fosdick ini berkomentar : “Kata-kata itu diucapkan dalam paruh waktu pertama abad 20 dari atas mimbar…sejak itu kata-kata tersebut selalu bergema di semua gereja liberal di seluruh Amerika”. (Kennedy : 69).</p>
<p><strong>Keberatan-keberatan terhadap doktrin ini</strong></p>
<p>Ada beberapa keberatan yang biasa diajukan untuk menolak ajaran tentang kelahiran  Kristus dari seorang perawan. Kita akan melihatnya satu per satu dan mengujinya. Apakah keberatan modern ini layak menggugurkan kepercayaan ordoksi terhadap kelahiran ajaib Kristus dari seorang perawan?</p>
<p><strong><em>Keberatan Pertama : Doktrin ini tidak masuk di akal dan bertentangan dengan hukum alam. </em></strong></p>
<p>Inilah keberatan pertama dan utama. Mana mungkin seorang perempuan bisa hamil tanpa hubungan dengan seorang laki-laki? Ini adalah suatu hal yang tidak masuk di akal. Benarkah demikian? Sebelum menjawabnya, baiklah kita sadari satu hal bahwa sebenarnya akar dari pandangan semacam ini adalah ketidakpercayaan terhadap mujizat.  D. James Kennedy menulis :  “Jadi mengapa begitu banyak gereja dan hamba-hamba Tuhan yang menolak kelahiran melalui perawan? Alasan pertama adalah bahwa adanya kerancuan (bias) yang anti supernatural, yaitu kerangka pemikiran naturalistik yang sama sekali menolak tentang adanya mujizat. Jelas kalau anda tidak percaya kepada mujizat, anda tidak akan bisa percaya tentang kelahiran melalui seorang perawan”. (Kennedy : 77). Simak juga komentar  Josh Mc Dowell &amp; Don Steward, 2 apologet Kristen terkemuka : “Yang menjadi masalah utama bagi banyak orang berkenaan dengan kelahiran dari anak dara itu ialah bahwa kejadian itu suatu mujizat. Kitab Suci tidak membicarakan peristiwa ini sebagai suatu kejadian yang biasa  saja, melainkan sebagai perbuatan Allah yang adikodrati. Mujizat kelahiran dari anak dara ini seharusnya tidak menjadi masalah jika orang mengakui kemungkinan terjadinya mujizat”. (Jawaban Bagi Pertanyaan Orang Yang Belum Percaya; hal. 72). Bandingkan ini dengan klimat Toni Evans : “Para perawan tidak bsia hamil, kecuali secara adikodrati”. (Allah Kita Maha Agung; hal. 347). Jadi kalau kita percaya bahwa Allah adalah Allah yang berada di atas alam semesta maka tidak ada yang mustahil bagi Allah. Ia dapat melakukan apa saja yang Ia kehendaki termasuk memasukkan Yesus ke dalam dunia ini melalui seorang perawan. Mannford G. Gutzke dengan baik berkata : “Kelahiran dari seorang perawan sama sekali bukan masalah bagi Tuhan. Kalau memang ada Allah yang menciptakan alam semesta, kalau Ia melemparkan galaksi-galaksi dari ujung-ujung jari-Nya, kalau Ia menghiasi langit malam dengan kilauan Bima Sakti, maka bagi Dia adalah hal yang amat kecil untuk menciptakan sebuah benih mungil dan menanamkannya dalam rahim seorang perawan Yahudi muda”. (Gutzke dalam Kennedy : 78). Sedangkan Stephen Tong dengan sangat indah menulis : “Ketika Adam dicipta, Adam tidak memiliki ayah dan ibu. Jadi Adam ada tanpa ayah dan tanpa ibu. Inilah cara kerja Allah yang pertama. Tanpa pria, tanpa wanita, Allah menciptakan Adam. Ketika Hawa dicipta, ia dicipta dari tulung rusuk Adam , setelah Tuhan membuat Adam tertidur. Jadi Hawa datang dari tubuh Adam, sehingga Adam mengatakan : “inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej 2:23). Maka modus kedua, Hawa dicipta dari pria, tanpa wanita. Tuhan mencipta dengan memakai pria, tanpa wanita, maka terciptalah Hawa. Ini adalah cara penciptaan yang kedua. Ketika Allah menjadikan saudara dan saya, Tuhan memakai pria dan memakai wanita. Inilah cara yang ketiga. Maka tinggal satu cara lagi yang tersisa yaitu tanpa pria, dengan memakai wanita. Dengan cara yang keempat inilah Tuhan Yesus lahir. Jikalau Allah adalah Allah yang hidup, mengapa kita berhak membatasi Allah hanya dengan memakai tiga cara dan tidak memperbolehkan Allah memakai cara yang keempat? Itulah sebabnya orang Kristen percaya bahwa Allah sanggup memakai anak dara Maria untuk melahirkan Yesus Kristus. Itu sesuatu yang sangat logis dan masuk akal. (Yesus Kristus Juruselamat Dunia; hal. 77-78). Stephen Tong melanjutkan : “Allah tidak boleh dibatasi oleh pemikiran dan kehendak manusia. Allah yang sanggup menciptakan manusia tanpa lelaki dan tanpa perempuan, juga adalah Allah yang sanggup menciptakan manusia dengan memakai laki-laki dan perempuan, Allah yang menciptakan Adam, juga adalah Allah yang menciptakan Hawa. Dan Allah yang menjadikan kita semua dengan memakai laki-laki dan perempuan juga adalah Allah yang bisa memakai perempuan tanpa laki-laki untuk melahirkan Yesus Kristus”. (ibid : 78). Dengan demikian kita bisa melihat bahwa sebenarnya kelahiran dari anak dara adalah sesuatu yang masuk akal dan bukannya tidak masuk di akal.</p>
<p><strong><em>Keberatan kedua : Doktrin tersebut hanya sedikit sekali dibicarakan di PB (Injil Matius dan Lukas) dan dengan demikian diragukan kebenarannya. </em></strong></p>
<p>Seorang Pendeta Presbyterian di Amerika mengatakan : ‘Kelahiran melalui seorang perawan hanya disebutkan dalam 2 kitab Injil dalam Alkitab, yaitu Matius dan Lukas. Sedangkan dalam Injil Markus dan Yohanes sama sekali tidak disinggung. Paulus juga tidak pernah menyebutkan tentang itu. Karena itu aku tidak percaya’. (Kennedy : 78). Bagaimanakah kita memberi jawab apda keberatan semacam ini? Memang harus diakui bahwa hanya 2 Injil (Matius dan Lukas) yang menceritakan kelahiran Yesus dari seorang perawan. Namun demikian, hal yang paling mendasar adalah apakah kita percayai bahwa Alkitab adalah firman Allah atau tidak. Jika kita percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah dan dengan demikian tidak mungkin salah maka tidak peduli berapa banyak yang dibicarakan tentang satu topik meskipun hanya satu kali. Yang penting adalah jika topik itu pernah dibicarakan maka itu PASTI benar. Kelompok “Jesus History” atau “Jesus Seminar” jelas menolak dan tidak dapat menerima doktrin ini karena mereka tidak lagi mempercayai Alkitab apalagi cerita-cerita Injil dan menganggap itu sebagai karangan para murid Yesus.</p>
<p>Kalau suatu bagian Alkitab ditolak hanya karena itu tidak dibicarakan oleh lebih dari 2 tokoh Alkitab maka kita mempunyai alasan untuk menolak lebih banyak lagi. Contohnya : khotbah Yesus di bukit tidak bisa dipercaya karena hanya dibicarakan dalam Injil Matius dan Lukas. Markus dan Yohanes tidak membicarakannya. Paulus juga tidak pernah menyinggung itu dalam surat-suratnya. Lagi pula perlu disadari bahwa bahwa seorang penulis Alkitab tidak menyebutkan suatu topik bukan berarti ia tidak mempercayainya. Bahwa Markus dan Yohanes tidak membicarakan kelahiran dari anak dara bukan berarti mereka menolaknya. Bukankah Markus dan Yohanes tidak menceritakan kelahiran Yesus? Apakah itu berarti bahwa mereka tidak percaya bahwa Yesus dilahirkan? Paulus juga tidak pernah menyebut mujizat-mujizat yang pernah dibuat oleh Yesus. Jadi apakah Paulus tidak percaya bahwa Yesus pernah membuat mujizat apa pun? Paulus tidak pernah menyebutkan perumpamaan-perumpamaan Yesus. Apakah Paulus tidak percaya bahwa Yesus pernah menyampaikan perumpamaan? Kalau kita mengikuti gaya berpikir semacam ini maka kita bisa menghapus seluruh isi Kitab Suci.</p>
<p><strong><em>Keberatan ketiga : Kalau Yesus dilahirkan dari seorang perawan (tidak dengan laki-laki) maka itu berarti bahwa Yesus bukan sungguh-sungguh manusia</em></strong></p>
<p>Kristologi kaum Injili mengatakan bahwa Kristus dalam inkarnasi-Nya adalah Alla yang sejati dan manusia yang sejati. Ia 100% Allah dan 100% manusia. Muncul pertanyaan yang berhubungan dengan kelahiran Kristus yakni jika Yesus dilahirkan dari  dari seorang perawan maka itu berarti bahwa Yesus bukan sungguh-sungguh manusia. Sebenarnya keberatansemacam ini terlalu mengada-ada. Bukankah Adam dan Hawa adalah sungguh-sungguh manusia meski mereka tidak memiliki ayah dan ibu? Kalau Adam dan Hawa adalah sungguh-sungguh manusia meskipun ia tidak memiliki ayah dan ibu mengapa Yesus bukan sungguh-sungguh manusia hanya karena tidak memiliki ayah?</p>
<p><strong><em>Keberatan keempat : Kisah kelahiran Yesus dari seorang perawan mirip dengan ajaran agama-agama pra Kristen. </em></strong></p>
<p>Keberatan berikut dalam hubungan dengan kelahrian Kristus yang ajaib adalah bahwa ada cerita-cerita dari agama pra Kristen yang mirip dengan cerita Injil tentang kelahiran Yesus. Dalam mitologi Yunani diceritakan bahwa dewa Zeus mendekati Alcmene tanpa hubungan seksual dan kemudian melahirkan Hercules, sang pahlawan yang lahir dari seorang perawan. Legenda Budha menceritakan bahwa  Budha dilahirkan dari perawan Maya. Dari Hindu dikisahkan bahwa Wishnu, dalam inkarnasinya yang kedelapan, muncul sebagai dewa Krishna, yang lahir melalui perawan Devaki. Demikian pula dari Romawi, Kaisar Agustus dan Alexander Agung dipercaya lahir dari perawan-perawan. Sumber-sumber ini membuat beberapa orang percaya bahwa kisah kelahiran dari seorang perawan yang terdapat dalam Injil merupakan saduran dari kisah-kisah serupa yang terdapat dalam kesusasteraan agama-agama lain bahkan yang lain melihatnya sebagai mitos, bahkan mitos yang dicuri/dipinjam dari agama lain.</p>
<p>Sesungguhnya keberatan ini sama sekali tidak masuk di akal. Mengapa? Karena kalau dipelajari dengan seksama, sesungguhnya cerita-cerita itu bukannya mirip dengan cerita Injil melainkan sangat berbeda. Kennedy membantah keberatan-keberatan ini (Kennedy: 81) dengan berkata : “Dalam kasus Zeus yang menjadi ayah Hercules melalui seorang perawan, kita menemukan apa yang biasanya ditemukan dalam mitologi Yunani di mana dewa-dewa tidak lain adalah manusia-manusia yang “diperbesar” menjadi ukuran dewa, dan dengan dosa-dosa serta kelemahan manusia, hidup bersama dengan manusia. Dewa-dewa Yunani sering kali digambarkan sebagai lebih menyukai perempuan-perempuan (manusia) biasa. Tentang Budha, ibunya menyatakan bahwa seekor gajah putih yang memiliki 6 buah taring dan pembuluh-pembuluh darah berwarna merah datang mendekatinya, dan menyebabkannya mengandung bayi yang kemudian menjadi Budha. Dalam kasus Wishnu, menurut legenda, ia pertama kali menjelma menjadi ikan, lalu kura-kura, selanjutnya beruang, singa, dan beberapa makhluk aneh lainnya. Sukar melihat hubungan antara cerita ini dengan kisah kelahiran Yesus. Dalam kasus Kaisar Agustus, ia mengaku bahwa ibunya, Olympia dihamili oleh seekor ular; Alexander Agung juga mengaku bahwa ayahnya adalah seekor ular. (Mengapa hal ini perlu disombongkan sungguh tidak bisa dipahami)”. Jadi jelas bahwa ternyata semua mitos kafir ini sangat jauh berbeda dengan kisah Yesus dan karenanya tidak mungkin kisah kelahiran Yesus diambil dari mitologi-mitologi kafir ini. Simaklah kata-kata Budi Asali : “Maria mengandung dari Roh Kudus” bukan berarti bahwa Allah / Roh Kudus melakukan hubungan seks dengan Maria dan menyebabkannya mengandung melalui hubungan seks itu. Dalam dongeng-dongeng kafir kita sering membaca tentang dewa yang berhubungan seks dengan manusia sehingga mempunyai anak. Tetapi kekristenan tidak mengajarkan hal seperti itu. “Maria mengandung dari Roh Kudus”, artinya Roh Kudus melakukan suatu mujijat sehingga perawan Maria itu mengandung tanpa hubungan seks dengan siapapun”. (Eksposisi Injil Matius; hal. 20). Akhirnya perhatikan kesimpulan Thomas Thorburn : “Semua cerita yang bermacam-macam mengenai kandungan dan kelahiran yang gaib ini, yang kita temui dalam dongeng-dongeng dan sejarah Mitologi, umumnya mempunyai satu unsur serupa – semua nya itu justru menunjukkan perbedaan atau ketidaksamaan dan bukannya persamaan di antara cerita kelahiran Yesus di dalam agama Kristen dan di dalam dongeng-dongeng yang beredar di kalangan agama-agama kafir”. (Critical Examination of the Evidences for the Doctrine of the Virgin Birth; hal. 158).</p>
<p><strong><em>Keberatan kelima : Yesus sering disebut sebagai anak Yusuf dan bahwa “dikandung dari Roh Kudus” adalah istilah yang umum di Yahudi.</em></strong></p>
<p>Keberatan ini dikemukakan oleh seorang teolog Skotlandia bernama William  Barclay. Barclay memulai keberatannya dengan berkata : “Perikop ini (Mat 1:18-25) menceritakan tentang Yesus yang dilahirkan oleh karya Roh Kudus. Perikop ini menuturkan cerita tentang kelahiran dari perawan. Pokok ini merupakan doktrin yang penuh dengan kesulitan; dan gereja kita tidak memaksa kita untuk menerima ajaran itu secara  hurufiah dan secara jasmani. Ajaran ini adalah salah satu ajaran yang diterima oleh gereja. Gereja memberi kita keleluasaan untuk memahami serta mengambil kesimpulan sendiri. &#8230; yang ditekankannya dalam perikop ini bukanlah pertama-tama bahwa Yesus lahir dari seorang wanita perawan, melainkan Yesus lahir karena karya Roh Kudus”. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Matius; hal. 30-31). Terhadap pernyataan Barclay ini, Budi Asali berkomentar : “Ini jelas merupakan penafsiran sesat yang sama sekali tidak menghargai otoritas Kitab Suci, dan ini menunjukkan kesesatan William Barclay! Gereja manapun yang tidak mengharuskan doktrin kelahiran Yesus dari seorang perawan, adalah gereja yang sesat!” (Budi Asali : 19). Dalam bukunya yang lain Barclay menulis : “Silsilah Yesus baik dalam Injil Lukas maupun Injil Matius (Luk 3:23-38; Mat 1:1-17) mengikuti silsilah Yusuf. Jadi aneh jika Yusuf bukan ayah-Nya. Ketika Maria mencari-cari Dia sementara Yesus berdiskusi di Bait Suci, Maria berkata kepada-Nya “Bapamu dan aku dengan cemas mencari engkau” (Luk 2 :48). Sebutan bapa dengan pasti diberikan oleh Maria kepada Yusuf. Berulang-ulang Yesus diacu sebagai putera Yusuf (Mat 13 :55 ; Yoh 6 :24). Kitab-kitab lainnya dalam PB tidak berbicara mengenai kelahiran dari anak dara itu. Meskipun dalam Gal 4 :4 Paulus berkata-kata tentang Yesus sebagai ‘yang dilahirkan dari seorang wanita’. Tetapi inilah ungkapan yang lazim bagi setiap manusia yang fana (Ay 14:4; 15:14; 25:4). (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Injil Lukas; hal. 18). Barclay melanjutkan : “Apabila kita tidak memahami hal kelahiran dari anak dara ini, lalu bagaimanakah timbulnya cerita itu? Ada peribahasa Yahudi yang mengatakan bahwa pada setiap anak selalu ada tiga yang terlibat – bapa, ibu dan Roh Allah. Mereka yakin bahwa seorang anak tidak akan dilahirkan tanpa Roh Kudus. Ada kemungkinan bahwa cerita-cerita PB mengenai kelahiran Yesus diungkapkan dalam kata-kata indah, yang secara puitis dikatakan bahkan kalaupun ia mempunyai seorang ayah manusiawi, Roh Kudus tetap bekerja dalam kelahirannya secara unik”. (ibid : 18-19). Dan akhirnya Barclay berkata :  “Dalam hal ini kita dapat memutuskan sendiri. Kita dapat menerima ajaran harfiah mengenai kelahiran dari seorang perawan; tetapi bisa juga kita lebih suka untuk memahaminya sebagai cara yang indah untuk menekankan kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan keluarga. (ibid : 19).</p>
<p>Apakah yang harus kita katakan tentang keberatan/pendapat Barclay ini? Pertama-tama haruslah diingat bahwa secara hukum Yesus adalah anak Yusuf. Karena itu tidak aneh, kalau silsilah-Nya dibuat melalui Yusuf. Selain itu penyebutan Yesus sebagai anak Yusuf adalah penyebutan dalam konteks manusia-Nya. Bukankah akhirnya Yusuf juga mengakui Yesus sebagai anaknya? Jadi wajar kalau Yesus disebut sebagai anak Yusuf. Bahwa Maria menyebut Yusuf sebagai Bapanya Yesus (Luk 2:48) haruslah dilihat dari terang ini. Selain itu pula Barclay gagal melihat konteks ayat ini di mana Luk 2:49 justru memperlihatkan kata-kata Yesus : &#8220;Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?.&#8221; Dengan kata lain, Ia mengatakan bahwa Yusuf bukanlah bapa-Nya, karena Allahlah yang adalah Bapa-Nya. Dapat ditambahkan pula bahwa penyebutna Yesus sebagai anak Yusuf adalah menurut anggapan orang. Perhatikan Luk 3:23 : “Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli..” (band. Yoh 6:42). Dengan demikian jelaslah bahwa penyebutan Yusuf sevagai bapa Yesus atau Yesus sebagai anak Yusuf tidak cukup menjadi alasan untuk menolak doktrin kelahiran Kristus dari anak dara.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan peribahasa Yahudi yang dikatakan Barclay? Haruslah diingat bahwa Luk 1:26-38 dan Mat 1:18-25 merupakan historical narrative (cerita sejarah) dan karenanya harus ditafsirkan secara hurufiah, tidak boleh dijadikan puisi/peribahasa. Seandainya benar bahwa ada peribahasa Yahudi seperti itu, bukankah gambaran kitab Injil jelas memperlihatkan cerita yang berbeda dari kebanyakan cara kelahiran anak-anak Yahudi. Bapa, ibu dan Roh Kudus memang terlibat dalam kelahiran seorang anak Yahudi tetapi Alkitab dengan jelas memperlihatkan bahwa hanya ibu (Maria) dan Roh Kudus yang terlibat dalam proses kelahiran Yesus.</p>
<p>Kita sudah menjawab semua keberatan terhadap doktrin kelahiran Kristus dari seorang perawan dan kita sudah menemukan bahwa keberatan-keberatan itu, tidak ada satu pun yang cukup kuat untuk menolak doktrin ini. Doktrin kelahiran Yesus dari anak dara adalah doktrin yang sangat penting dalam Alkitab dan peristiwa ini adalah sebuah mujizat. Yesus Kristus adalah Allah yang ajaib dan karenanya layaklah untuk dipikirkan bahwa Ia datang dan pergi dari dunia ini dengan cara yang ajaib pula. Kiranya iman kita diteguhkan untuk mempercayai peristiwa yang agung ini sambil merayakan dan menikmati sukacita Natal tahun ini. SELAMAT NATAL!!!</p>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airhidup.info/wp/kelahiran-kristus-yang-ajaib-dari-perawan-maria-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapakah Orang Majus &amp; Bintang Apakah yang Mereka Lihat?</title>
		<link>http://airhidup.info/wp/siapakah-orang-majus-bintang-apakah-yang-mereka-lihat/</link>
		<comments>http://airhidup.info/wp/siapakah-orang-majus-bintang-apakah-yang-mereka-lihat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 04:52:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airhidup.info/wp/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[Bagian Kedua dari Tiga Tulisan
Esra Alfred Soru
Satu kisah yang tidak dapat dipisahkan dari Natal adalah kisah kunjungan orang Majus yang datang mencari dan menyembah Yesus. Kisah ini hanya diceritakan oleh Matius sedangkan ketiga Injil yang lain tidak menyinggung kisah ini sama sekali. Tentang hal ini beberapa orang menaruh keraguan tentang historitas kisah ini namun sesungguhnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Bagian Kedua dari Tiga Tulisan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Esra Alfred Soru</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Satu kisah yang tidak dapat dipisahkan dari Natal adalah kisah kunjungan orang Majus yang datang mencari dan menyembah Yesus. Kisah ini hanya diceritakan oleh Matius sedangkan ketiga Injil yang lain tidak menyinggung kisah ini sama sekali. Tentang hal ini beberapa orang menaruh keraguan tentang historitas kisah ini namun sesungguhnya ini bukanlah persoalan jika kita menyadari bahwa setiap pengarang Injil mempunyai sumber-sumber sendiri dalam penulisan Injilnya. Mungkin juga Matius mencatatnya karena sebelumnya Markus tidak mencatatnya sedangkan Lukas dan Yohanes tidak mencatatnya karena merasa Matius sudah mencatatnya. Kalau kita sungguh mempercayai kesaksian Alkitab, kita tentu akan menerimanya tanpa keraguan apalagi dengan alasan-alasan yang dipaksakan.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Gaya tulis Matius : Jawaban atas nubuatan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kalau kita mempelajari sedikit latar belakang Injil Matius, kita mengerti bahwa sebagai orang Yahudi, Matius mempunyai kepentingan untuk meyakinkan para pembaca yang adalah orang Yahudi bahwa sesungguhnya Kristus adalah Mesias yang dinanti-nantikan di mana Ia menjawab semua nubuatan tentang Mesias. Itulah sebabnya dalam menulis silsilah Yesus, Matius memulainya dari Abraham saja (tidak dari Adam) yang mana merupakan nenek moyang bangsa Israel (Mat 1:1). Ini jelas berbeda dengan Lukas yang menujukkan Injilnya bagi orang-orang gentile (non Yahudi) sehingga menulis silsilah Yesus sampai ke Adam sebagai manusia pertama bahkan sampai pada Allah. (Luk 3:38). Karena itu Matius biasanya mencatat peristiwa-peristiwa tentang Kristus dan menghubungkannya dengan PL sebagai bukti bahwa Kristus adalah jawaban dan sentral dari berita PL. Demikianlah yang terjadi ketika Matius mencatat peristiwa kunjungan orang-orang Majus saat Yesus dilahirkan. Mungkin saja Matius mencatat peristiwa ini dan melihatnya sebagai penggenapan dari harapan yang terdapat dalam Maz 72:10-11 : “Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya!” dan juga nubuatan dalam Yes 60:6 : “Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN”.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Siapakah orang-orang  Majus itu?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Siapakah orang-orang Majus itu? Tidak banyak keterangan dari Alkitab tentang mereka kecuali informasi bahwa mereka berasal dari Timur (Mat 2:1). Banyak penafsir setuju bahwa “Timur” di sini menunjuk kepada bagian timur dari Yudea yang menunjuk kepada daerah Persia dan Arabia (Kej 25:6). Sebagian menganggapnya daerah Mesopotamia dan Babilonia. Kata “Majus” ini adalah kata yang sulit dipahami dalam pengertian kita saat ini. Alkitab-Alkitab bahasa Inggris menyebutnya ‘wise man’ (orang bijaksana). Kata ini dalam dalam bahasa Yunaninya adalah ‘magoi’. Dalam perkembangan di kemudian hari kata ini sering dihubungkan dengan kata ‘magician’ yang dapat berarti tukang sihir. Namun sesungguhnya arti kata ini tidaklah sesempit pengertian masa kini. J.J. de Heer berkata : “Pada aslinya kata itu berarti imam-imam di Persia, &#8230; ‘. (Tafsiran Alkitab Injil Matius; hal. 22). Homer A. Kent, Jr  juga memberikan keterangan : “Orang-orang Majus (magoi) aslinya merupakan kasta imamat di kalangan orang Persia dan Babilonia (band. Dan 2:2, 48; 4:6-7; 5:7). Nama ini kemudian oleh orang Yunani dikenakan pada semua ahli sihir atau dukun (Kis 8:9; 13:8). Matius menggunakan kata ini dalam arti yang lebih baik untuk mengacu pada tokoh-tokoh terhormat dari agama Timur”. (The Wycliffe Bible Commentary; hal. 25). Dalam Albert Barnes’ Notes on the Bible juga dicatat bahwa : “Orang-orang ini adalah ahli-ahli filsafat, imam-imam atau ahli-ahli perbintangan. Mereka hidup terutama di daerah Persia dan Arabia. Mereka adalah orang-orang terpelajar di daerah timur yang mahir dalam astronomi, agama dan obat-obatan. Dengan demikian kita mengerti bahwa orang-orang Majus ini adalah para imam, orang-orang terpelajar/terhormat, orang-orang kaya dan berkedudukan tinggi yang sangat pandai dalam hal-hal agama, pengobatan dan perbintangan. Perhatikan juga keterangan William Barclay berikut ini : “Para Majus adalah orang-orang yang mengetahui filsafat, ilmu kedokteran dan ilmu alam. Mereka juga mampu menafsirkan mimpi serta meramalkan hal-hal yang akan terjadi….orang Majus adalah orang yang baik dan suci, yang selalu berusaha mencari kebenaran”. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari- Matius; hal. 40). Selanjutnya Herodatus memberikan keterangan lebih rinci tentang orang-orang Majus ini bahwa : “Mereka aslinya berasal dari sebuah suku bangsa Medi. Bangsa Medi adalah sebagian dari kekaisaran Persia. Bangsa Medi pernah mencoba untuk menggulingkan kuasa Persia dan menggantikannya dengan kuasa Media. Usaha ini gagal. Sejak saat itu bangsa Majus tidak pernah lagi mempunyai keinginan atau ambisi untuk memiliki kekuasaan dan Prestise. Dan selanjutnya mereka memilih menjadi imam saja. Di tengah-tengah bangsa Persia para Majus tersebut berfungsi persis sama seperti fungsi orang-orang Lewi di tengah-tengah bangsa Israel. Mereka menjadi guru dan pembimbing para raja Persia. Di Persia tidak ada persembahan yang dapat dipersembahkan kecuali kalau ada orang Majus yang hadir dalam upacara itu. Jadi orang Majus dianggap sebagai orang suci dan orang yang bijaksana” (ibid : 39). Orang-orang Yahudi percaya bahwa mereka adalah imam-imam dalam kerajaan Syeba dan Arabia yang adalah keturunan Abraham dari Ketura dan mereka mengajar atas nama Allah yang telah mereka terima dari tradisi lisan Abraham (Kej 25:6). Sangat mungkin mereka ini sudah memiliki hubungan dengan orang-orang Yahudi dalam pembuangan, atau dengan nubuat dan pengaruh Daniel, sehingga mereka memiliki nubuat-nubuat Perjanjian Lama mengenai Mesias. (The Wycliffe Bible Commentary; hal. 25).</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Berapa jumlah mereka?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Tentu saja jumlah mereka sangatlah banyak di daerah mereka sendiri. Namun berapa banyakkah yang datang mencari Yesus dan menyembah-Nya? Banyak dari antara kita merasa bahwa mereka berjumlah 3 orang dan demikian pula menurut tradisi. Bahkan tradisi-tradisi ini sampai memberitahukan nama ketiga orang Majus ini. Tradisi abad 6 mengatakan bahwa 3 orang Majus ini adalah Bithisarea, Melichior, dan Gathaspa sedangkan tradisi Armenia abad 14 mengatakan bahwa ketiga orang Majus itu adalah 3 orang raja, masing-masing bernama Gasper (raja Arab), Melkhior (raja Persia) dan Balthazar (raja India). Walaupun demikian kita harus sadar bahwa Alkitab sama sekali tidak memberitahukan jumlah orang-orang Majus ini maupun nama-nama mereka. Sangat mungkin bahwa jumlah tersebut (3 orang) dikaitkan dengan 3 persembahan yang dibawa mereka yakni emas, mur dan kemenyan. Namun persoalanya adalah apakah jumlah persembahan menentukan jumlah pemberi?  Jelas tidak harus demikian. Bisa jadi mereka berjumlah lebih dari 3 orang namun membawa 3 macam persembahan.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Bintang apakah yang mereka lihat ?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Lalu bintang apakah yang dilihat oleh para majus itu yang menuntun mereka dalam mencari Yesus? Sudah terdapat banyak usaha untuk menjelaskan bintang Natal/bintang Betlehem ini secara ilmiah. (1) Ada yang berkata bahwa ini adalah konyungsi planet yakni situasi dimana beberapa planet berada dalam satu garis dengan bulan yang terlihat dari bumi sehingga terlihat beda dengan bintang-bintang pada umumnya. Namun persoalannya adalah karena konyungsi planet bersifat tetap untuk jangka waktu lama, tentu agak kurang cocok dengan apa yang dilihat orang majus. (2) Kepler pernah mengatakan bahwa bintang ini adalah “Supernova”. Supernova adalah planet yang meledak dan kehabisan energi sampai akhirnya meredup. Ini terjadi pada tanggal 10 Oktober 1604 di mana sementara Kepler, mengamat-amati hubungan Jupiter dan Saturnus yang terdapat dalam konstelasi Sagitarius di langit, tiba-tiba muncul sebuah bintang secerah Jupiter, yang tampak di antara Jupiter dan Saturnus. Kepler menghitung bahwa kejadian ini terjadi setiap hampir 800 tahun sekali. Berarti 2 kejadian sebelumnya terjadi sekitar tahun 7 SM. Ia lalu menulis sebuah buku berjudul De Stella Nova in Pede Serpentarti dan menghubungkan supernova ini dengan tahun kelahiran Kristus seperti perhitungan Laurence Suslyga bahwa Kristus lahir di tahun 4 SM. Tahun 1614 Kepler mempublikasikan kesimpulannya bahwa supernova yang kelihatan tahun 1604 juga adalah supernova yang tampak di tahun 7 atau 6 SM dan dikenal sebagai bintang Betlehem. Kepler percaya bahwa supernova itu sengaja &#8220;ditempatkan&#8221; Tuhan untuk memimpin orang-orang Majus untuk berjumpa dengan Yesus. Terhadap pendapat ini Herlianto berkata bahwa : “Kelihatannya supernova juga tidak cocok, karena supernova sekalipun bisa meledak dan kelihatan sangat terang dan bisa berlangsung beberapa minggu, data Alkitab tidak menunjukkan adanya bintang yang sinarnya sangat terang, kecuali bahwa bintang itu seakan-akan petunjuk arah”. (www.yabina.org) (3) Ada juga yang berkata bahwa bintang itu adalah sebuah meteor yakni benda langit yang juga mengelilingi matahari, tetapi ketika dekat dengan bumi ia bisa tertarik gaya tarik bumi sehingga ketika memasuki atmosfir bumi ia terbakar karena gesekan dengan udara dan terlihat seperti bola api. Ada yang berkeberatan dengan pandangan semacam ini dengan alasan bahwa meteor biasa jatuhnya cepat sehingga tidak cocok dengan apa yang dilihat orang Majus yang seakan-akan berhenti di atas Betlehem. (4) Pandangan lain tentang bintang Betlehem ini yang paling banyak diterima adalah bahwa itu adalah sebuah komet yang kemudian hari disebut komet Halley berdasarkan penemunya yakni Edmond Halley. Tentang ini Herlianto memberi penjelasan :“Komit adalah benda langit yang mengelilingi matahari melalui lintas edar berbentuk parabola, dan bila sedang mendekati bumi maka akan kelihatan berekor (bintang berekor) dan akan kelihatan bergerak ke arah yang berlawanan dengan ekornya sehingga terlihat menunjuk arah tertentu. Komit bila terlihat di bumi bisa berlangsung selama beberapa minggu. Kemungkinannya, komitlah yang dilihat orang majus, apalagi kala itu kehadiran komit dipercaya sebagai pertanda adanya peristiwa besar di bumi, seperti bencana atau kelahiran atau kematian orang besar. Pada waktu Julius Caezar meninggal tercatat terlihat komit selama seminggu. Kemungkinan bintang itu komet memang besar, karena dalam Matius 2:1-10, terlihat bahwa bintang itu menunjuk suatu arah, berpindah tempat dan terlihat selama beberapa hari”. (ibid). Herlianto melanjutkan : “Komit itu muncul pada akhir tahun 1758 sampai Maret 1759. Komit itu mulai tercatat oleh astronom Cina pada tahun 239sM (Encarta), dan terakhir terlihat pada tahun 1986. Dari beberapa kehadiran komit yang kemudian dinamakan Halley itu lamanya berkisar 75 sampai 79 tahun. Dengan mengambil median 77, dihitung dari tahun 239sM, kemungkinan besar pada tahun-tahun sekitar 8 SM komit Halley mendekati dan terlihat di bumi dan berada di atas Yudea di hari kelahiran Yesus. Namun juga ada yang menolak dugaan ini dengan alasan bahwa : “Catatan mengenai penampakan komet tidak cocok dengan kelahiran Tuhan. Misalnya, Komet Halley tampak pada tahun 11 S.M., tetapi hari Natal yang pertama terjadi sekitar tahun 7 sampai 5 SM”. (Artikel ©Hx&#8217;02). Kalau begitu bintang apakah yang dilihat orang-orang Majus itu? Kita memang tidak dapat mengetahuinya dengan pasti dan itu tidaklah penting. Satu hal yang pasti adalah apa pun bintang itu, Allah telah memakainya sedemikian rupa untuk melaksanakan kehendak-Nya. Dalam artikel ©Hx&#8217;02 kembali dikatakan bahwa : “Tuhan telah sering menggunakan cahaya surgawi yang istimewa untuk membimbing umat-Nya, seperti kemuliaan yang memenuhi Kemah Suci (Keluaran 40:34-38) dan Bait Suci (1 Raja-raja 8:10) dan cahaya yang menyinari Rasul Paulus (Kisah Para Rasul 9:3). Tanda-tanda yang menunjukkan kehadiran Tuhan seperti itu dikenal sebagai Kemuliaan Shekinah, atau tempat tinggal Tuhan. Cahaya istimewa ini adalah manifestasi yang tampak dari keagungan Tuhan. Beberapa penjelasan para ahli astronom di atas mengenai Bintang Betlehem sangat bermacam-macam, tetapi semuanya itu menuju kepada satu kesimpulan saja. Satu hal yang dapat kita simpulkan bahwa munculnya Bintang Betlehem tersebut adalah salah satu kasih karunia Allah untuk menyambut datangnya Juruselamat dunia yang turun ke bumi untuk menyelamatkan umat manusia yaitu Tuhan Yesus Kristus”.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Mengapa mereka bertemu Yesus di dalam rumah ?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Matius 2 :11 berkata : ‘Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia&#8230;’ Jadi mereka bertemu bayi Yesus di dalam rumah. Mengapa bukan di kandang ? Bukankah Yesus dilahirkan di kandang? Beberapa orang memakai ayat ini untuk menunjukkan kontradiksi Alkitab namun sesungguhnya tidaklah demikian. Kita harus memahami bahwa waktu di mana para Majus menjumpai Yesus, bukanlah tepat pada saat Yesus dilahirkan (di kandang) namun beberapa waktu setelah Yesus dilahirkan sehingga tentunya Maria dan Yusuf sudah pindah dari kadang ke sebuah rumah. Jadi para gembala hadir pada saat Yesus dilahirkan makanya mereka bertemu Yesus di kadang namun para Majus hadir beberapa waktu kemudian makanya mereka bertemu Yesus di rumah. Itu berarti bahwa para gembala tidak pernah bertemu dengan para Majus. (Catatan : Kalau bikin drama Natal, jangan pertemukan para gembala dan para Majus sebab ini keliru). Jadi tidak ada kontradiksi dalam Alkitab!</div>
<p><em>Bagian Kedua dari Tiga Tulisan</em></p>
<p><strong><em>Esra Alfred Soru</em></strong></p>
<p>Satu kisah yang tidak dapat dipisahkan dari Natal adalah kisah kunjungan orang Majus yang datang mencari dan menyembah Yesus. Kisah ini hanya diceritakan oleh Matius sedangkan ketiga Injil yang lain tidak menyinggung kisah ini sama sekali. Tentang hal ini beberapa orang menaruh keraguan tentang historitas kisah ini namun sesungguhnya ini bukanlah persoalan jika kita menyadari bahwa setiap pengarang Injil mempunyai sumber-sumber sendiri dalam penulisan Injilnya.<span id="more-502"></span> Mungkin juga Matius mencatatnya karena sebelumnya Markus tidak mencatatnya sedangkan Lukas dan Yohanes tidak mencatatnya karena merasa Matius sudah mencatatnya. Kalau kita sungguh mempercayai kesaksian Alkitab, kita tentu akan menerimanya tanpa keraguan apalagi dengan alasan-alasan yang dipaksakan.</p>
<p><strong><em>Gaya tulis Matius : Jawaban atas nubuatan</em></strong></p>
<p>Kalau kita mempelajari sedikit latar belakang Injil Matius, kita mengerti bahwa sebagai orang Yahudi, Matius mempunyai kepentingan untuk meyakinkan para pembaca yang adalah orang Yahudi bahwa sesungguhnya Kristus adalah Mesias yang dinanti-nantikan di mana Ia menjawab semua nubuatan tentang Mesias. Itulah sebabnya dalam menulis silsilah Yesus, Matius memulainya dari Abraham saja (tidak dari Adam) yang mana merupakan nenek moyang bangsa Israel (Mat 1:1). Ini jelas berbeda dengan Lukas yang menujukkan Injilnya bagi orang-orang gentile (non Yahudi) sehingga menulis silsilah Yesus sampai ke Adam sebagai manusia pertama bahkan sampai pada Allah. (Luk 3:38). Karena itu Matius biasanya mencatat peristiwa-peristiwa tentang Kristus dan menghubungkannya dengan PL sebagai bukti bahwa Kristus adalah jawaban dan sentral dari berita PL. Demikianlah yang terjadi ketika Matius mencatat peristiwa kunjungan orang-orang Majus saat Yesus dilahirkan. Mungkin saja Matius mencatat peristiwa ini dan melihatnya sebagai penggenapan dari harapan yang terdapat dalam Maz 72:10-11 : “K<em>iranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya</em>!” dan juga nubuatan dalam Yes 60:6 : “<em>Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN</em>”.</p>
<p><strong><em>Siapakah orang-orang  Majus itu?</em></strong></p>
<p>Siapakah orang-orang Majus itu? Tidak banyak keterangan dari Alkitab tentang mereka kecuali informasi bahwa mereka berasal dari Timur (Mat 2:1). Banyak penafsir setuju bahwa “Timur” di sini menunjuk kepada bagian timur dari Yudea yang menunjuk kepada daerah Persia dan Arabia (Kej 25:6). Sebagian menganggapnya daerah Mesopotamia dan Babilonia. Kata “Majus” ini adalah kata yang sulit dipahami dalam pengertian kita saat ini. Alkitab-Alkitab bahasa Inggris menyebutnya ‘wise man’ (orang bijaksana). Kata ini dalam dalam bahasa Yunaninya adalah ‘<em>magoi</em>’. Dalam perkembangan di kemudian hari kata ini sering dihubungkan dengan kata ‘magician’ yang dapat berarti tukang sihir. Namun sesungguhnya arti kata ini tidaklah sesempit pengertian masa kini. J.J. de Heer berkata : “<em>Pada aslinya kata itu berarti imam-imam di Persia, ..</em>. ‘. (Tafsiran Alkitab Injil Matius; hal. 22). Homer A. Kent, Jr  juga memberikan keterangan : “<em>Orang-orang Majus (magoi) aslinya merupakan kasta imamat di kalangan orang Persia dan Babilonia</em> (band. Dan 2:2, 48; 4:6-7; 5:7).<em> Nama ini kemudian oleh orang Yunani dikenakan pada semua ahli sihir atau dukun</em> (Kis 8:9; 13:8). Matius menggunakan kata ini dalam arti yang lebih baik untuk mengacu pada tokoh-tokoh terhormat dari agama Timur”. (The Wycliffe Bible Commentary; hal. 25). Dalam Albert Barnes’ Notes on the Bible juga dicatat bahwa : “<em>Orang-orang ini adalah ahli-ahli filsafat, imam-imam atau ahli-ahli perbintangan. Mereka hidup terutama di daerah Persia dan Arabia. Mereka adalah orang-orang terpelajar di daerah timur yang mahir dalam astronomi, agama dan obat-obatan</em>. Dengan demikian kita mengerti bahwa orang-orang Majus ini adalah para imam, orang-orang terpelajar/terhormat, orang-orang kaya dan berkedudukan tinggi yang sangat pandai dalam hal-hal agama, pengobatan dan perbintangan. Perhatikan juga keterangan William Barclay berikut ini : “<em>Para Majus adalah orang-orang yang mengetahui filsafat, ilmu kedokteran dan ilmu alam. Mereka juga mampu menafsirkan mimpi serta meramalkan hal-hal yang akan terjadi….orang Majus adalah orang yang baik dan suci, yang selalu berusaha mencari kebenaran</em>”. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari- Matius; hal. 40). Selanjutnya Herodatus memberikan keterangan lebih rinci tentang orang-orang Majus ini bahwa : “<em>Mereka aslinya berasal dari sebuah suku bangsa Medi. Bangsa Medi adalah sebagian dari kekaisaran Persia. Bangsa Medi pernah mencoba untuk menggulingkan kuasa Persia dan menggantikannya dengan kuasa Media. Usaha ini gagal. Sejak saat itu bangsa Majus tidak pernah lagi mempunyai keinginan atau ambisi untuk memiliki kekuasaan dan Prestise. Dan selanjutnya mereka memilih menjadi imam saja. Di tengah-tengah bangsa Persia para Majus tersebut berfungsi persis sama seperti fungsi orang-orang Lewi di tengah-tengah bangsa Israel. Mereka menjadi guru dan pembimbing para raja Persia. Di Persia tidak ada persembahan yang dapat dipersembahkan kecuali kalau ada orang Majus yang hadir dalam upacara itu. Jadi orang Majus dianggap sebagai orang suci dan orang yang bijaksana</em>” (ibid : 39). Orang-orang Yahudi percaya bahwa mereka adalah imam-imam dalam kerajaan Syeba dan Arabia yang adalah keturunan Abraham dari Ketura dan mereka mengajar atas nama Allah yang telah mereka terima dari tradisi lisan Abraham (Kej 25:6). Sangat mungkin mereka ini sudah memiliki hubungan dengan orang-orang Yahudi dalam pembuangan, atau dengan nubuat dan pengaruh Daniel, sehingga mereka memiliki nubuat-nubuat Perjanjian Lama mengenai Mesias. (The Wycliffe Bible Commentary; hal. 25).</p>
<p><strong><em>Berapa jumlah mereka?</em></strong></p>
<p>Tentu saja jumlah mereka sangatlah banyak di daerah mereka sendiri. Namun berapa banyakkah yang datang mencari Yesus dan menyembah-Nya? Banyak dari antara kita merasa bahwa mereka berjumlah 3 orang dan demikian pula menurut tradisi. Bahkan tradisi-tradisi ini sampai memberitahukan nama ketiga orang Majus ini. Tradisi abad 6 mengatakan bahwa 3 orang Majus ini adalah <strong>Bithisarea</strong>, <strong>Melichior</strong>, dan <strong>Gathaspa </strong>sedangkan tradisi Armenia abad 14 mengatakan bahwa ketiga orang Majus itu adalah 3 orang raja, masing-masing bernama <strong>Gasper </strong>(raja Arab), <strong>Melkhior </strong>(raja Persia) dan <strong>Balthazar </strong>(raja India). Walaupun demikian kita harus sadar bahwa Alkitab sama sekali tidak memberitahukan jumlah orang-orang Majus ini maupun nama-nama mereka. Sangat mungkin bahwa jumlah tersebut (3 orang) dikaitkan dengan 3 persembahan yang dibawa mereka yakni emas, mur dan kemenyan. Namun persoalanya adalah apakah jumlah persembahan menentukan jumlah pemberi?  Jelas tidak harus demikian. Bisa jadi mereka berjumlah lebih dari 3 orang namun membawa 3 macam persembahan.</p>
<p><strong><em>Bintang apakah yang mereka lihat ?</em></strong></p>
<p>Lalu bintang apakah yang dilihat oleh para majus itu yang menuntun mereka dalam mencari Yesus? Sudah terdapat banyak usaha untuk menjelaskan bintang Natal/bintang Betlehem ini secara ilmiah. (1) Ada yang berkata bahwa ini adalah<strong><span style="text-decoration: underline;"><em> konyungsi planet </em></span></strong>yakni situasi dimana beberapa planet berada dalam satu garis dengan bulan yang terlihat dari bumi sehingga terlihat beda dengan bintang-bintang pada umumnya. Namun persoalannya adalah karena konyungsi planet bersifat tetap untuk jangka waktu lama, tentu agak kurang cocok dengan apa yang dilihat orang majus. (2) Kepler pernah mengatakan bahwa bintang ini adalah “<strong><span style="text-decoration: underline;"><em>Supernova</em></span></strong>”. Supernova adalah planet yang meledak dan kehabisan energi sampai akhirnya meredup. Ini terjadi pada tanggal 10 Oktober 1604 di mana sementara Kepler, mengamat-amati hubungan Jupiter dan Saturnus yang terdapat dalam konstelasi Sagitarius di langit, tiba-tiba muncul sebuah bintang secerah Jupiter, yang tampak di antara Jupiter dan Saturnus. Kepler menghitung bahwa kejadian ini terjadi setiap hampir 800 tahun sekali. Berarti 2 kejadian sebelumnya terjadi sekitar tahun 7 SM. Ia lalu menulis sebuah buku berjudul De Stella Nova in Pede Serpentarti dan menghubungkan supernova ini dengan tahun kelahiran Kristus seperti perhitungan Laurence Suslyga bahwa Kristus lahir di tahun 4 SM. Tahun 1614 Kepler mempublikasikan kesimpulannya bahwa supernova yang kelihatan tahun 1604 juga adalah supernova yang tampak di tahun 7 atau 6 SM dan dikenal sebagai bintang Betlehem. Kepler percaya bahwa supernova itu sengaja &#8220;ditempatkan&#8221; Tuhan untuk memimpin orang-orang Majus untuk berjumpa dengan Yesus. Terhadap pendapat ini Herlianto berkata bahwa : “<em>Kelihatannya supernova juga tidak cocok, karena supernova sekalipun bisa meledak dan kelihatan sangat terang dan bisa berlangsung beberapa minggu, data Alkitab tidak menunjukkan adanya bintang yang sinarnya sangat terang, kecuali bahwa bintang itu seakan-akan petunjuk arah</em>”. (www.yabina.org) (3) Ada juga yang berkata bahwa bintang itu adalah sebuah <strong><span style="text-decoration: underline;"><em>meteor </em></span></strong>yakni benda langit yang juga mengelilingi matahari, tetapi ketika dekat dengan bumi ia bisa tertarik gaya tarik bumi sehingga ketika memasuki atmosfir bumi ia terbakar karena gesekan dengan udara dan terlihat seperti bola api. Ada yang berkeberatan dengan pandangan semacam ini dengan alasan bahwa meteor biasa jatuhnya cepat sehingga tidak cocok dengan apa yang dilihat orang Majus yang seakan-akan berhenti di atas Betlehem. (4) Pandangan lain tentang bintang Betlehem ini yang paling banyak diterima adalah bahwa itu adalah sebuah komet yang kemudian hari disebut komet Halley berdasarkan penemunya yakni Edmond Halley. Tentang ini Herlianto memberi penjelasan :“<em>Komet adalah benda langit yang mengelilingi matahari melalui lintas edar berbentuk parabola, dan bila sedang mendekati bumi maka akan kelihatan berekor (bintang berekor) dan akan kelihatan bergerak ke arah yang berlawanan dengan ekornya sehingga terlihat menunjuk arah tertentu. Komit bila terlihat di bumi bisa berlangsung selama beberapa minggu. Kemungkinannya, komitlah yang dilihat orang majus, apalagi kala itu kehadiran komit dipercaya sebagai pertanda adanya peristiwa besar di bumi, seperti bencana atau kelahiran atau kematian orang besar. Pada waktu Julius Caezar meninggal tercatat terlihat komit selama seminggu. Kemungkinan bintang itu komet memang besar, karena dalam Matius 2:1-10, terlihat bahwa bintang itu menunjuk suatu arah, berpindah tempat dan terlihat selama beberapa har</em>i”. (ibid). Herlianto melanjutkan : “<em>Komet itu muncul pada akhir tahun 1758 sampai Maret 1759. Komit itu mulai tercatat oleh astronom Cina pada tahun 239sM (Encarta), dan terakhir terlihat pada tahun 1986. Dari beberapa kehadiran komit yang kemudian dinamakan Halley itu lamanya berkisar 75 sampai 79 tahun. Dengan mengambil median 77, dihitung dari tahun 239sM, kemungkinan besar pada tahun-tahun sekitar 8 SM komit Halley mendekati dan terlihat di bumi dan berada di atas Yudea di hari kelahiran Yesus</em>. Namun juga ada yang menolak dugaan ini dengan alasan bahwa : “<em>Catatan mengenai penampakan komet tidak cocok dengan kelahiran Tuhan. Misalnya, Komet Halley tampak pada tahun 11 S.M., tetapi hari Natal yang pertama terjadi sekitar tahun 7 sampai 5 SM</em>”. (Artikel ©Hx&#8217;02). Kalau begitu bintang apakah yang dilihat orang-orang Majus itu? Kita memang tidak dapat mengetahuinya dengan pasti dan itu tidaklah penting. Satu hal yang pasti adalah apa pun bintang itu, Allah telah memakainya sedemikian rupa untuk melaksanakan kehendak-Nya. Dalam artikel ©Hx&#8217;02 kembali dikatakan bahwa : “<em>Tuhan telah sering menggunakan cahaya surgawi yang istimewa untuk membimbing umat-Nya, seperti kemuliaan yang memenuhi Kemah Suci</em> (Keluaran 40:34-38) <em>dan Bait Suci </em>(1 Raja-raja 8:10) <em>dan cahaya yang menyinari Rasul Paulus </em>(Kisah Para Rasul 9:3). <em>Tanda-tanda yang menunjukkan kehadiran Tuhan seperti itu dikenal sebagai Kemuliaan Shekinah, atau tempat tinggal Tuhan. Cahaya istimewa ini adalah manifestasi yang tampak dari keagungan Tuhan. Beberapa penjelasan para ahli astronom di atas mengenai Bintang Betlehem sangat bermacam-macam, tetapi semuanya itu menuju kepada satu kesimpulan saja. Satu hal yang dapat kita simpulkan bahwa munculnya Bintang Betlehem tersebut adalah salah satu kasih karunia Allah untuk menyambut datangnya Juruselamat dunia yang turun ke bumi untuk menyelamatkan umat manusia yaitu Tuhan Yesus Kristus</em>”.</p>
<p><strong><em>Mengapa mereka bertemu Yesus di dalam rumah ?</em></strong></p>
<p>Matius 2 :11 berkata : ‘<em>Maka masuklah mereka <span style="text-decoration: underline;">ke dalam rumah itu </span>dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia&#8230;</em>’ Jadi mereka bertemu bayi Yesus di dalam rumah. Mengapa bukan di kandang ? Bukankah Yesus dilahirkan di kandang? Beberapa orang memakai ayat ini untuk menunjukkan kontradiksi Alkitab namun sesungguhnya tidaklah demikian. Kita harus memahami bahwa waktu di mana para Majus menjumpai Yesus, bukanlah tepat pada saat Yesus dilahirkan (di kandang) namun beberapa waktu setelah Yesus dilahirkan sehingga tentunya Maria dan Yusuf sudah pindah dari kadang ke sebuah rumah. Jadi para gembala hadir pada saat Yesus dilahirkan makanya mereka bertemu Yesus di kadang namun para Majus hadir beberapa waktu kemudian makanya mereka bertemu Yesus di rumah. Itu berarti bahwa para gembala tidak pernah bertemu dengan para Majus. (Catatan : Kalau bikin drama Natal, jangan pertemukan para gembala dan para Majus sebab ini keliru). Jadi tidak ada kontradiksi dalam Alkitab</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airhidup.info/wp/siapakah-orang-majus-bintang-apakah-yang-mereka-lihat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Sesungguhnya Yesus Dilahirkan?</title>
		<link>http://airhidup.info/wp/kapan-sesungguhnya-yesus-dilahirkan-2/</link>
		<comments>http://airhidup.info/wp/kapan-sesungguhnya-yesus-dilahirkan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 04:38:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airhidup.info/wp/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[Bagian Pertama Dari Tiga Tulisan
Esra Alfred Soru
Mungkin pada saat tulisan ini sampai kepada anda, anda sementara sibuk dengan berbagai perayaan Natal. Kuucapkan “SELAMAT NATAL dan TAHUN BARU”. Adalah baik jika kita merayakan dan bergembira karenanya sebab Allah telah berkenan diam di antara kita, menjadi sama dengan kita dengan tujuan mulia untuk menyelamatkan kita. Namun lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Bagian Pertama Dari Tiga Tulisan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Esra Alfred Soru</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Mungkin pada saat tulisan ini sampai kepada anda, anda sementara sibuk dengan berbagai perayaan Natal. Kuucapkan “SELAMAT NATAL dan TAHUN BARU”. Adalah baik jika kita merayakan dan bergembira karenanya sebab Allah telah berkenan diam di antara kita, menjadi sama dengan kita dengan tujuan mulia untuk menyelamatkan kita. Namun lebih jauh dari itu, betapa pentingnya bagi kita untuk memahami beberapa hal yang berhubungan dengan Natal sehingga kita dapat merayakannya dengan pengertian dan pengetahuan yang baik tentangnya. Selama beberapa hari ini saya akan membahas beberapa persoalan di sekitar peristiwa Natal dan di bagian pertama tulisan ini akan membahas “Kapankah Yesus dilahirkan?”</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“Kapankah Yesus dilahirkan?” Pertanyaan ini mengacu kepada dua hal yakni (1) “bulan apakah Yesus dilahirkan?” dan (2) “tahun berapa Yesus dilahirkan?”</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Bulan apakah Yesus dilahirkan?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Menyangkut tanggal kelahiran Kristus, benarkah Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Tidak! Tidak ada satu sumber pun yang mengacu pada tanggal tersebut. Kalau kita membaca Alkitab dengan seksama maka kita mempunyai satu acuan yang baik yakni dalam Luk 2:8 : “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”. Jadi waktu Yesus dilahirkan bertepatan dengan saatnya para gembala tinggal di padang untuk menjaga kawanan ternak. Dari fakta ini rasanya sulit untuk mengatakan bahwa kelahiran Kristus terjadi pada bulan Desember. Mengapa? Karena bulan Desember adalah musim dingin di Israel. (Catatan : Israel terletak pada garis lintang yang sejajar dengan Jepang dan Korea Selatan). Herlianto dalam website Yayasan Bina Awam (www.yabina.org) berkata : “Kelihatannya bulan dan tanggal itu (25 Desember) tidak tepat, soalnya pada bulan Desember – Januari, di Palestina, iklimnya cukup dingin dengan beberapa tempat bersalju, sehingga agaknya tidak mungkin ada bintang terang di langit dan para gembala bisa berada di padang Efrata dalam keadaan musim demikian (Luk.2:8), demikian juga tentunya kaisar Agustus tidak akan mengeluarkan kebijakan sensus dan menyuruh penduduk Yudea melakukan perjalanan jauh dalam suasana dingin yang mencekam sehingga Maria yang hamil mesti melakukannya”. Dengan demikian Yesus tidak mungkin lahir pada bulan Desember. Klemens dari Alexandria juga pernah mengatakan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Pachon (20 Mei) namun ini juga bukan suatu kepastian. Lalu bulan apa? Kita memiliki data lain dari Alkitab yakni waktu ketika Zakharia masuk ke Bait Allah dan bertugas di sana. Waktu itu berkisar bulan Siwan (Mei – Juni) dan dengan memperhitungkan lama kandungan Elizabeth dan Maria, maka diperkirakan kelahiran Yesus terjadi pada sekitar Hari Raya Pondok Daun yakni di bulan Tishri (September – Oktober). Bulan ini sepertinya lebih dapat diterima daripada bulan Desember meskipun ini bukanlah suatu kepastian.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Mengapa menjadi 25 Desember?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kalau memang waktu kelahiran Yesus bukanlah di bulan Desember, lalu mengapa atau darimana munculnya tradisi Natal yang dirayakan tanggal 25 Desember ini? Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Christmas’mengatakan : “Alasan mengapa Natal sampai dirayakan pada tanggal 25 Desember tetap tidak pasti, tetapi paling mungkin alasannya adalah bahwa orang-orang Kristen mula-mula ingin tanggal itu bertepatan dengan hari raya kafir Romawi yang menandai ‘hari lahir dari matahari yang tak terkalahkan’ &#8230;; hari raya ini merayakan titik balik matahari pada musim dingin, di mana siang hari kembali memanjang dan matahari mulai naik lebih tinggi di langit. Jadi, kebiasaan yang bersifat tradisionil yang berhubungan dengan Natal telah berkembang dari beberapa sumber sebagai suatu akibat dari bertepatannya perayaan kelahiran Kristus dengan perayaan kafir yang berhubungan dengan pertanian dan matahari pada pertengahan musim dingin. &#8230; Tanggal 25 Desember juga dianggap sebagai hari kelahiran dari dewa misterius bangsa Iran, yang bernama Mithra, sang Surya Kebenaran”. Lalu kalau begitu apakah perayaan Natal ini berbau kekafiran seperti dituduhkan oleh beberapa golongan belakangan ini? (Catatan : Beberapa gereja menolak merayakan Natal karena beranggapan bahwa Natal bersumber dari tradisi kafir). Tentu saja tidak! Harus diingat bahwa perayaan Natal yang bertepatan dengan perayaan kafir itu bukan berarti bahwa umat Kristen waktu itu menyembah dewa-dewa kafir. Sebaliknya justru mereka ingin menjauhkan diri dari kekafiran. Perhatikan kata-kata Herlianto : “Pada tahun 274, di Roma dimulai perayaan hari kelahiran matahari pada tanggal 25 Desember sebagai penutup festival saturnalia (17-24 Desember) karena diakhir musim salju matahari mulai menampakkan sinarnya pada hari itu. Menghadapi perayaan kafir itu, umat Kristen umumnya meninggalkannya dan tidak lagi mengikuti upacara itu, namun dengan adanya kristenisasi masal di masa Konstantin, banyak orang Kristen Roma masih merayakannya sekalipun sudah mengikuti agama Kristen. Kenyataan ini mendorong pimpinan gereja di Roma mengganti hari perayaan ‘kelahiran matahari’ itu menjadi perayaan ‘kelahiran Matahari Kebenaran’ dengan maksud mengalihkan umat Kristen dari ibadat kafir pada tanggal itu dan kemudian menggantinya menjadi perayaan ‘Natal.’ Pada tahun 336, perayaan Natal mulai dirayakan tanggal 25 Desember sebagai pengganti tanggal 6 Januari. Ketentuan ini diresmikan kaisar Konstantin yang saat itu dijadikan lambang raja Kristen. Perayaan Natal kemudian dirayakan di Anthiokia (375), Konstantinopel (380), dan Alexandria (430), kemudian menyebar ke tempat-tempat lain”. (www.yabina.org). Herlianto melanjutkan : “Dari kenyataan sejarah tersebut kita mengetahui bahwa Natal bukanlah perayaan dewa matahari, namun usaha pimpinan gereja untuk mengalihkan umat Roma dari dewa matahari kepada Tuhan Yesus Kristus dengan cara menggeser tanggal 6 Januari menjadi 25 Desember, dengan maksud agar umat Kristen tidak lagi mengikuti upacara kekafiran Romawi. Masa kini umat Kristen tidak ada yang mengkaitkan hari Natal dengan hari dewa matahari, dan tanggal 25 Desember pun tidak lagi mengikat, sebab setidaknya umat Kristen secara umum merayakan hari Natal pada salah satu hari di bulan Desember sampai Januari demi keseragaman. Karenanya Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘from church year Christmas’ menulis : “&#8230;hari raya tentang kelahiran Kristus, hari lahir dari ‘surya kebenaran’ (Mal 4:2) ditetapkan di Roma, atau mungkin di Afrika Utara, sebagai suatu saingan Kristen terhadap hari raya kafir dari surya yang tak terkalahkan pada titik balik matahari. &#8230;” Demikianlah asal usul perayaan Natal pada tanggal 25 Desember.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Tahun berapakah Yesus dilahirkan?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sama seperti masalah tanggal/bulan kelahiran Kristus, tahun kelahiran Kristus pun tidak pasti. Namun demikian, kita memiliki beberapa acuan historis dari Alkitab. (1) Yesus dilahirkan pada zaman raja Herodes (Mat 2:1). Kalau Yesus dilahirkan pada zaman raja Herodes maka kita memerlukan informasi masa pemerintahan Herodes. Flavius Josephus seorang sejarawan Yahudi  memberikan informasi bahwa Herodes mulai memerintah dari tahun 73 hingga tahun 4 SM (tahun kematiannya). Itu berarti bahwa Yesus tidak mungkin lahir setelah tahun 4 SM karena sewaktu Yesus lahir Herodes masih hidup dan bahkan Herodes ingin membunuhnya. Dari terang ini kita bisa memperkirakan bahwa Yesus lahir beberapa tahun sebelum kematian Herodes (tahun 4 SM). (2) Yesus dilahirkan pada saat Kaisar Agustus mengadakan sensus di mana Kirenius menjadi wali negeri di Siria (Luk 2:1-2). Menurut catatan Josephus, seorang bernama Kirenius pernah dikirim ke Siria dan Yudea untuk menyelenggarakan suatu sesus pada permulaan tarikh masehi. Sensus ini merupakan bagian dari operasi pembersihan setelah Arkhelaus (putera Herodes Agung) dipecat dari jabatannya.    Peristiwa ini terjadi beberapa tahun setelah Herodes mati (tahun 6-7 M). Melihat data ini rasanya sulit mencocokkannya dengan acuan pertama di atas namun penjelasan dapat diberikan untuk ini bahwa Lukas memberikan catatan awal dari tugas Kirenius itu (beberapa tahun sebelum tahun 6-7 M) namun mengingat masalah transportasi dan komunikasi yang sangat sulit waktu itu maka tugas itu baru berakhir pada tahun 6-7 M seperti yang dicatat oleh Josephus. (Informasi : Untuk memahami lebih jauh masalah ini, silahkan baca buku John Drane “Memahami Perjanjian Baru” hal. 54-57). (3) Yesus dibaptis ketika berumur 30 tahun yakni tahun ke 15 dari pemerintahan kaisar Tiberius (Luk 3:1). Pemerintahan resmi Kaisar Tiberius atas Roma dimulai pada tahun 14 M sehingga tahun ke 15 pemerintahnnya adalah tahun 28 M. Namun sebenarnya ia telah memerintah bersama kaisar Agustus sejak tahun 11 M sehingga meskipun ia secara resmi baru memerintah tahun 14 M (setelah Agustus mati) tetapi sesungguhnya ia telah memegang kekuasaan sejak tahun 11 M. Mungkin sekali Lukas menghitung tahun ke 15 pemerintahan Tiberius ini dari tahun 11 M sehingga tahun ke 15 pemerintahan Tiberius adalah tahun 25-26 M. Kalau pada tahun 25-26 M Yesus berumur 30 tahun, maka dapat diperkirakan waktu kelahiran Yesus dari sini yakni berkisar tahun 5 atau 4 SM. Dari semua data sejarah ini pada umumnya para ahli sejarah dan teolog memberikan perhitungan tahun kelahiran Yesus di sekitar tahun 8 hingga tahun 4 SM. Ada yang berkata Yesus lahir sekitar tahun 8-5 SM, ada juga yang memperkirakan tahun 6-4 SM.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Mengapa Yesus lahir “Sebelum Masehi”?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Dari beberapa perhitungan tahun kelahiran Yesus yang telah dikemukakan di atas, semuanya mengacu pada masa sebelum Masehi. Kata “Masehi” sesungguhnya mempunyai akar kata yang sama dengan “Mesias” dalam bahasa Ibrani dan “Kristus” dalam bahasa Yunani. Jadi sesungguhnya kata “Masehi” yang dipakai dalam perhitungan tahun-tahun pada masa kini menunjuk pada Kristus. Jika kita menyebut tahun 50 SM (Sebelum Masehi) artinya ada 50 tahun sebelum kelahiran Kristus. Jika kita menyebut tahun 100 M (Masehi) maka maksudnya adalah 100 tahun setelah kelahiran Kristus. Tentu sesuatu yang sangat menarik bahwa tahun kelahiran Kristus dijadikan sebagai patokan perhitungan tahun dalam dunia ini. Lalu bagaimana dengan perhitungan-perhitungan tahun kelahiran Kristus yang mengacu pada masa sebelum Masehi? Jika kita berkata bahwa Kristus dilahirkan sekitar tahun 8-5 sebelum Masehi bukankah itu berarti bahwa Kristus lahir sekitar 5-8 tahun sebelum kelahiran-Nya? Bukankah ini sebuah kejanggalan? Mengapa bisa terjadi seperti ini?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Pada abad 6 kaisar Justinian memberikan perintah kepada seorang yang bernama Dionisius Exegius untuk membuat sebuah kalender dengan perhitungan tahun Masehi (tahun kelahiran Kristus) untuk mengganti kalender Romawi saat itu yang memakai perhitungan tahun berdasarkan tahun berdirinya kota Roma yang biasanya disingkat AUC (Ab Urbe Condita). Menurut perhitungan tahun AUC, kelahiran Kristus jatuh pada tahun 747 namun ternyata dalam pembuatan kalender Masehi itu Dionisius Exegius membuat kekeliruan perhitungan dengan menempatkan kelahiran Kristus pada tahun 753 AUC sehingga terjadi kekurangan sekitar 6 tahun. (Informasi : Baca penjelasannya lebih lanjut dalam buku Selamat Natal karangan Andar Ismail, hal. 43). Kekeliruan ini tidak sempat diperbaiki karena kalender yang dibuat telah dipublikasikan ke seluruh kekaisaran Romawi bahkan sudah diterima seluruh dunia pada masa kini (Catatan : Jadi kalender yang kita pakai sekarang ini adalah hasil karya Dionisius Exegius). Karena kekurangan ini maka Kristus yang seharusnya menurut tarikh Masehi dilahirkan pada tahun 0 (nol) sebagai pusat perhitungan tahun-tahun akhirnya bergeser kira-kira 6 tahun. Itulah sebabnya perhitungan tahun kelahiran Kristus menjadi bergeser beberapa tahun dari tahun 0 (nol) sehingga para sejarawan dan peneliti menempatkannya sekitar tahun 6-4 SM. Dan dengan demikian perhitungan tahun kita saat ini juga berkurang sekitar 6 tahun. Jadi seandainya tidak terjadi kekeliruan perhitungan Exegius maka sekarang ini kita bukannya berada pada tahun 2004 melainkan mungkin di sekitar tahun 2008 atau 2010. Faktanya Exegius telah salah menghitung dan akhirnya tahun-tahun berkurang 6 tahun sehingga kita saat ini masih berada di tahun 2004. Demikianlah alasan bagi kejanggalan di sekitar tahun kelahiran Kristus.</div>
<p><em>Bagian Pertama Dari Tiga Tulisan</em></p>
<p><strong><em>Esra Alfred Soru</em></strong></p>
<p>Mungkin pada saat tulisan ini sampai kepada anda, anda sementara sibuk dengan berbagai perayaan Natal. Kuucapkan “SELAMAT NATAL dan TAHUN BARU”. Adalah baik jika kita merayakan dan bergembira karenanya sebab Allah telah berkenan diam di antara kita, menjadi sama dengan kita dengan tujuan mulia untuk menyelamatkan kita. <span id="more-500"></span>Namun lebih jauh dari itu, betapa pentingnya bagi kita untuk memahami beberapa hal yang berhubungan dengan Natal sehingga kita dapat merayakannya dengan pengertian dan pengetahuan yang baik tentangnya. Selama beberapa hari ini saya akan membahas beberapa persoalan di sekitar peristiwa Natal dan di bagian pertama tulisan ini akan membahas “Kapankah Yesus dilahirkan?”</p>
<p>“Kapankah Yesus dilahirkan?” Pertanyaan ini mengacu kepada dua hal yakni (1) “<em>bulan apakah Yesus dilahirkan?</em>” dan (2) <em>“tahun berapa Yesus dilahirkan?”</em></p>
<p><strong><em>Bulan apakah Yesus dilahirkan?</em></strong></p>
<p>Menyangkut tanggal kelahiran Kristus, benarkah Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Tidak! Tidak ada satu sumber pun yang mengacu pada tanggal tersebut. Kalau kita membaca Alkitab dengan seksama maka kita mempunyai satu acuan yang baik yakni dalam Luk 2:8 : “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”. Jadi waktu Yesus dilahirkan bertepatan dengan saatnya para gembala tinggal di padang untuk menjaga kawanan ternak. Dari fakta ini rasanya sulit untuk mengatakan bahwa kelahiran Kristus terjadi pada bulan Desember. Mengapa? Karena bulan Desember adalah musim dingin di Israel. (Catatan : Israel terletak pada garis lintang yang sejajar dengan Jepang dan Korea Selatan). Herlianto dalam website Yayasan Bina Awam (www.yabina.org) berkata : “<em>Kelihatannya bulan dan tanggal itu (25 Desember) tidak tepat, soalnya pada bulan Desember – Januari, di Palestina, iklimnya cukup dingin dengan beberapa tempat bersalju, sehingga agaknya tidak mungkin ada bintang terang di langit dan para gembala bisa berada di padang Efrata dalam keadaan musim demikian (Luk.2:8), demikian juga tentunya kaisar Agustus tidak akan mengeluarkan kebijakan sensus dan menyuruh penduduk Yudea melakukan perjalanan jauh dalam suasana dingin yang mencekam sehingga Maria yang hamil mesti melakukannya</em>”. Dengan demikian Yesus tidak mungkin lahir pada bulan Desember. Klemens dari Alexandria juga pernah mengatakan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Pachon (20 Mei) namun ini juga bukan suatu kepastian. Lalu bulan apa? Kita memiliki data lain dari Alkitab yakni waktu ketika Zakharia masuk ke Bait Allah dan bertugas di sana. Waktu itu berkisar bulan Siwan (Mei – Juni) dan dengan memperhitungkan lama kandungan Elizabeth dan Maria, maka diperkirakan kelahiran Yesus terjadi pada sekitar Hari Raya Pondok Daun yakni di bulan Tishri (September – Oktober). Bulan ini sepertinya lebih dapat diterima daripada bulan Desember meskipun ini bukanlah suatu kepastian.</p>
<p><strong><em>Mengapa menjadi 25 Desember?</em></strong></p>
<p>Kalau memang waktu kelahiran Yesus bukanlah di bulan Desember, lalu mengapa atau darimana munculnya tradisi Natal yang dirayakan tanggal 25 Desember ini? Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘<strong>Christmas</strong>’ mengatakan : “<em>Alasan mengapa Natal sampai dirayakan pada tanggal 25 Desember tetap tidak pasti, tetapi paling mungkin alasannya adalah bahwa <span style="text-decoration: underline;">orang-orang Kristen mula-mula ingin tanggal itu bertepatan dengan hari raya kafir Romawi yang menandai ‘hari lahir dari matahari yang tak terkalahkan’</span> &#8230;; hari raya ini merayakan titik balik matahari pada musim dingin, di mana siang hari kembali memanjang dan matahari mulai naik lebih tinggi di langit. Jadi, kebiasaan yang bersifat tradisionil yang berhubungan dengan Natal telah berkembang dari beberapa sumber sebagai suatu akibat dari bertepatannya perayaan kelahiran Kristus dengan perayaan kafir yang berhubungan dengan pertanian dan matahari pada pertengahan musim dingin. &#8230; Tanggal 25 Desember juga dianggap sebagai hari kelahiran dari dewa misterius bangsa Iran, yang bernama Mithra, sang Surya Kebenaran</em>”. Lalu kalau begitu apakah perayaan Natal ini berbau kekafiran seperti dituduhkan oleh beberapa golongan belakangan ini? (Catatan : Beberapa gereja menolak merayakan Natal karena beranggapan bahwa Natal bersumber dari tradisi kafir). Tentu saja tidak! Harus diingat bahwa perayaan Natal yang bertepatan dengan perayaan kafir itu bukan berarti bahwa umat Kristen waktu itu menyembah dewa-dewa kafir. Sebaliknya justru mereka ingin menjauhkan diri dari kekafiran. Perhatikan kata-kata Herlianto : “<em>Pada tahun 274, di Roma dimulai perayaan hari kelahiran matahari pada tanggal 25 Desember sebagai penutup festival saturnalia (17-24 Desember) karena diakhir musim salju matahari mulai menampakkan sinarnya pada hari itu. Menghadapi perayaan kafir itu, <span style="text-decoration: underline;">umat Kristen umumnya meninggalkannya dan tidak lagi mengikuti upacara itu</span>, namun dengan adanya kristenisasi masal di masa Konstantin, banyak orang Kristen Roma masih merayakannya sekalipun sudah mengikuti agama Kristen. Kenyataan ini mendorong <span style="text-decoration: underline;">pimpinan gereja di Roma mengganti hari perayaan ‘kelahiran matahari’ itu menjadi perayaan ‘kelahiran Matahari Kebenaran’ dengan maksud mengalihkan umat Kristen dari ibadat kafir pada tanggal itu dan kemudian menggantinya menjadi perayaan ‘Natal</span>.’ Pada tahun 336, perayaan Natal mulai dirayakan tanggal 25 Desember sebagai pengganti tanggal 6 Januari. Ketentuan ini diresmikan kaisar Konstantin yang saat itu dijadikan lambang raja Kristen. Perayaan Natal kemudian dirayakan di Anthiokia (375), Konstantinopel (380), dan Alexandria (430), kemudian menyebar ke tempat-tempat lain”</em>. (www.yabina.org). Herlianto melanjutkan : “<em>Dari kenyataan sejarah tersebut kita mengetahui bahwa Natal bukanlah perayaan dewa matahari, namun usaha pimpinan gereja untuk mengalihkan umat Roma dari dewa matahari kepada Tuhan Yesus Kristus dengan cara menggeser tanggal 6 Januari menjadi 25 Desember, dengan maksud agar umat Kristen tidak lagi mengikuti upacara kekafiran Romawi. Masa kini umat Kristen tidak ada yang mengkaitkan hari Natal dengan hari dewa matahari, dan tanggal 25 Desember pun tidak lagi mengikat, sebab setidaknya umat Kristen secara umum merayakan hari Natal pada salah satu hari di bulan Desember sampai Januari demi keseragaman</em>. Karenanya Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘<strong>from church year Christmas</strong>’ menulis : “.<em>..hari raya tentang kelahiran Kristus, hari lahir dari ‘surya kebenaran’ (Mal 4:2) ditetapkan di Roma, atau mungkin di Afrika Utara, sebagai suatu saingan Kristen terhadap hari raya kafir dari surya yang tak terkalahkan pada titik balik matahari.</em> &#8230;” Demikianlah asal usul perayaan Natal pada tanggal 25 Desember.</p>
<p><strong><em>Tahun berapakah Yesus dilahirkan?</em></strong></p>
<p>Sama seperti masalah tanggal/bulan kelahiran Kristus, tahun kelahiran Kristus pun tidak pasti. Namun demikian, kita memiliki beberapa acuan historis dari Alkitab. (1) Yesus dilahirkan pada zaman raja Herodes (Mat 2:1). Kalau <strong><em>Yesus dilahirkan pada zaman raja Herodes</em></strong> maka kita memerlukan informasi masa pemerintahan Herodes. Flavius Josephus seorang sejarawan Yahudi  memberikan informasi bahwa Herodes mulai memerintah dari tahun 73 hingga tahun 4 SM (tahun kematiannya). Itu berarti bahwa Yesus tidak mungkin lahir setelah tahun 4 SM karena sewaktu Yesus lahir Herodes masih hidup dan bahkan Herodes ingin membunuhnya. Dari terang ini kita bisa memperkirakan bahwa Yesus lahir beberapa tahun sebelum kematian Herodes (tahun 4 SM). (2) <strong><em>Yesus dilahirkan pada saat Kaisar Agustus mengadakan sensus di mana Kirenius menjadi wali negeri di Siria </em></strong>(Luk 2:1-2). Menurut catatan Josephus, seorang bernama Kirenius pernah dikirim ke Siria dan Yudea untuk menyelenggarakan suatu sesus pada permulaan tarikh masehi. Sensus ini merupakan bagian dari operasi pembersihan setelah Arkhelaus (putera Herodes Agung) dipecat dari jabatannya.    Peristiwa ini terjadi beberapa tahun setelah Herodes mati (tahun 6-7 M). Melihat data ini rasanya sulit mencocokkannya dengan acuan pertama di atas namun penjelasan dapat diberikan untuk ini bahwa Lukas memberikan catatan awal dari tugas Kirenius itu (beberapa tahun sebelum tahun 6-7 M) namun mengingat masalah transportasi dan komunikasi yang sangat sulit waktu itu maka tugas itu baru berakhir pada tahun 6-7 M seperti yang dicatat oleh Josephus. (Informasi : Untuk memahami lebih jauh masalah ini, silahkan baca buku John Drane “<strong><em>Memahami Perjanjian Baru</em></strong>” hal. 54-57). (3) <strong><em>Yesus dibaptis ketika berumur 30 tahun yakni tahun ke 15 dari pemerintahan kaisar Tiberius</em></strong> (Luk 3:1). Pemerintahan resmi Kaisar Tiberius atas Roma dimulai pada tahun 14 M sehingga tahun ke 15 pemerintahnnya adalah tahun 28 M. Namun sebenarnya ia telah memerintah bersama kaisar Agustus sejak tahun 11 M sehingga meskipun ia secara resmi baru memerintah tahun 14 M (setelah Agustus mati) tetapi sesungguhnya ia telah memegang kekuasaan sejak tahun 11 M. Mungkin sekali Lukas menghitung tahun ke 15 pemerintahan Tiberius ini dari tahun 11 M sehingga tahun ke 15 pemerintahan Tiberius adalah tahun 25-26 M. Kalau pada tahun 25-26 M Yesus berumur 30 tahun, maka dapat diperkirakan waktu kelahiran Yesus dari sini yakni berkisar tahun 5 atau 4 SM. Dari semua data sejarah ini pada umumnya para ahli sejarah dan teolog memberikan perhitungan tahun kelahiran Yesus di sekitar tahun 8 hingga tahun 4 SM. Ada yang berkata Yesus lahir sekitar tahun 8-5 SM, ada juga yang memperkirakan tahun 6-4 SM.</p>
<p><strong><em>Mengapa Yesus lahir “Sebelum Masehi”?</em></strong></p>
<p>Dari beberapa perhitungan tahun kelahiran Yesus yang telah dikemukakan di atas, semuanya mengacu pada masa sebelum Masehi. Kata “Masehi” sesungguhnya mempunyai akar kata yang sama dengan “Mesias” dalam bahasa Ibrani dan “Kristus” dalam bahasa Yunani. Jadi sesungguhnya kata “Masehi” yang dipakai dalam perhitungan tahun-tahun pada masa kini menunjuk pada Kristus. Jika kita menyebut tahun 50 SM (Sebelum Masehi) artinya ada 50 tahun sebelum kelahiran Kristus. Jika kita menyebut tahun 100 M (Masehi) maka maksudnya adalah 100 tahun setelah kelahiran Kristus. Tentu sesuatu yang sangat menarik bahwa tahun kelahiran Kristus dijadikan sebagai patokan perhitungan tahun dalam dunia ini. Lalu bagaimana dengan perhitungan-perhitungan tahun kelahiran Kristus yang mengacu pada masa sebelum Masehi? Jika kita berkata bahwa Kristus dilahirkan sekitar tahun 8-5 sebelum Masehi bukankah itu berarti bahwa Kristus lahir sekitar 5-8 tahun sebelum kelahiran-Nya? Bukankah ini sebuah kejanggalan? Mengapa bisa terjadi seperti ini?</p>
<p>Pada abad 6 kaisar Justinian memberikan perintah kepada seorang yang bernama <strong>Dionisius Exegius </strong>untuk membuat sebuah kalender dengan perhitungan tahun Masehi (tahun kelahiran Kristus) untuk mengganti kalender Romawi saat itu yang memakai perhitungan tahun berdasarkan tahun berdirinya kota Roma yang biasanya disingkat AUC (Ab Urbe Condita). Menurut perhitungan tahun AUC, kelahiran Kristus jatuh pada tahun 747 namun ternyata dalam pembuatan kalender Masehi itu Dionisius Exegius membuat kekeliruan perhitungan dengan menempatkan kelahiran Kristus pada tahun 753 AUC sehingga terjadi kekurangan sekitar 6 tahun. (Informasi : Baca penjelasannya lebih lanjut dalam buku Selamat Natal karangan Andar Ismail, hal. 43). Kekeliruan ini tidak sempat diperbaiki karena kalender yang dibuat telah dipublikasikan ke seluruh kekaisaran Romawi bahkan sudah diterima seluruh dunia pada masa kini (Catatan : Jadi kalender yang kita pakai sekarang ini adalah hasil karya Dionisius Exegius). Karena kekurangan ini maka Kristus yang seharusnya menurut tarikh Masehi dilahirkan pada tahun 0 (nol) sebagai pusat perhitungan tahun-tahun akhirnya bergeser kira-kira 6 tahun. Itulah sebabnya perhitungan tahun kelahiran Kristus menjadi bergeser beberapa tahun dari tahun 0 (nol) sehingga para sejarawan dan peneliti menempatkannya sekitar tahun 6-4 SM. Dan dengan demikian perhitungan tahun kita saat ini juga berkurang sekitar 6 tahun. Jadi seandainya tidak terjadi kekeliruan perhitungan Exegius maka sekarang ini kita bukannya berada pada tahun 2004 melainkan mungkin di sekitar tahun 2008 atau 2010. Faktanya Exegius telah salah menghitung dan akhirnya tahun-tahun berkurang 6 tahun sehingga kita saat ini masih berada di tahun 2004. Demikianlah alasan bagi kejanggalan di sekitar tahun kelahiran Kristus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airhidup.info/wp/kapan-sesungguhnya-yesus-dilahirkan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang-Orang Dalam Kisah Natal (2)</title>
		<link>http://airhidup.info/wp/orang-orang-dalam-kisah-natal-2/</link>
		<comments>http://airhidup.info/wp/orang-orang-dalam-kisah-natal-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 04:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airhidup.info/wp/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Esra Alfred Soru *
Demikianlah gambaran kehidupan Herodes. Sekali lagi, ia adalah orang yang selalu merasa tidak aman dan ia tidak membiarkan sedikitpun kemungkinan kekuasaannya direbut. Dengan mentalitas Herodes seperti ini, dapatlah dibayangkan bagaimana reaksinya ketika ia mendengar kabar dari para Majus bahwa mereka sementara mencari raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Mat 2:3 berkata “terkejutlah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Esra Alfred Soru *</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Demikianlah gambaran kehidupan Herodes. Sekali lagi, ia adalah orang yang selalu merasa tidak aman dan ia tidak membiarkan sedikitpun kemungkinan kekuasaannya direbut. Dengan mentalitas Herodes seperti ini, dapatlah dibayangkan bagaimana reaksinya ketika ia mendengar kabar dari para Majus bahwa mereka sementara mencari raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Mat 2:3 berkata “terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem”. Kata “terkejut” ini tidak terlalu kuat maknanya. Alkitab King James Version (KJV), Revised Standard Version (RSV), New American Standard Bible (NASB) menerjemahkannya dengan kata “was trouble” yang artinya “terganggu”. Jadi Herodes ketika mendengar ada raja yang baru lahir, perasaan curiga, perasaan marah, perasaan tersainginya mulai menguasai dia sehingga ia merasa terganggu. Bukan hanya Herodes yang terganggu. Seluruh Yerusalem juga “terganggu”. Mengapa? Karena mereka tahu persis sifat Herodes dan apa yang akan terjadi. Mereka sudah cukup terganggu dengan pembunuhan Aristobulus, Mariamne, Alexandra, dan anak-anak Herodes sendiri. Dan mereka yakin bahwa raja yang baru lahir itu pasti akan membuat geger Yerusalem dengan tindakan Herodes. Dan memang akhirnya Herodes memerintahkan pembunuhan anak-anak di bawah 2 tahun (Mat 2:16-18).</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kehidupan Herodes memberikan 2 gambaran tentang siapa sesungguhnya dia. HERODES ADALAH ORANG YANG MERASA BAHWA HIDUPNYA TERGANGGU OLEH KEHADIRAN YESUS. Baginya kelahiran Yesus tidak bermakna apa-apa selain hanya membawa ancaman bagi kekuasannya. Ia telah lama tahu bahwa Mesiaslah yang sementara diharapkan oleh orang-orang Yahudi untuk menggantikan dirinya dan ia sungguh terganggu dengan hal itu. Ia tidak tahu bahwa Sang Mesias datang bukan untuk sebuah kerajaan duniawi/politik melainkan untuk sebuah kerajaan rohani, kerajaan Allah. Yang ia tahu hanyalah bahwa kehadiran Yesus mengganggu ketentramannya. Inilah sikap hati yang keliru dari Herodes di sekitar momen Natal. Dan, mau akui atau tidak, ini jugalah sikap hati dari kebanyakan kita. Tidak jarang kita merasa bahwa kehadiran Kristus hanyalah sebuah gangguan bagi kehidupan kita. Ada banyak orang yang senang dan tertarik dengan gereja tertentu (sama seperti Herodes yang membangun Bait Allah) tapi mereka menolak Yesus karena merasa bahwa hidupnya terganggu oleh perintah-perintah dan kehendak-Nya. Bukankah banyak kesenangan duniawi terganggu ketika karena Kristus menentang perzinahan? Bukankah acara piknik menjadi terganggu karena Ia menghendaki kita beribadah pada hari minggu? Bukankah keuntungan besar terganggu karena Ia mau kita jujur dalam berbisnis? Bukankah studi terganggu karena Ia tidak mau kita nyontek? Bukankah kenikmatan terganggu karena kita dilarang mabuk-mabukan? Yesus datang dengan maksud baik untuk menyelamatkan dunia dari dosa tapi Herodes mencurigai-Nya. Demikian juga Yesus datang dengan maksud baik untuk kita semua tapi mungkin ada di antara kita yang “mencurigai-Nya” sebagai pengganggu kehidupan kita. Kalau hal-hal seperti ini menyebabkan kita akhirnya menolak Yesus, maka sesungguhnya kita tidak berbeda dengan Herodes, kita adalah ’anak buahnya’ Herodes.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Selain itu HERODES ADALAH ORANG YANG HATINYA TIDAK BERES  dalam artian penuh iri hati, amarah, kebencian dan kedengkian. Semua yang dilihat sebagai ancaman bagi diri dan kedudukannya ia habisi. Sifat seperti inilah yang ia perlihatkan pada momen Natal ketika Kristus dilahirkan ke dunia ini. Itulah Herodes! Namun, tidakkah ada banyak orang Kristen juga yang merayakan Natal sambil tetap memelihara mentalitas Herodes ini dalam hati mereka? Amarah yang masih tersimpan dengan rapi, dendam yang masih membara, kedengkian yang menyatu dengan hati, serta iri yang merasuk jiwa? Berapa banyak di antara kita yang begitu sibuk mempersiapkan perayaan-perayaan Natal, menghadiri setiap kebaktian Natal namun hati kita tetap hitam dengan amarah, kebencian, dendam, dengki dan iri? Berapa banyak di antara kita yang belum mengampuni sesamanya? Dengarlah, engkau berhati Herodes!!! Natal identik dengan damai sejahtera, tidakkah kita membuka hati kita dan melepaskan pengampunan itu agar damai sejahtera itu dapat masuk ke dalam hati kita?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Imam Kepala dan Ahli Taurat</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Golongan kedua yang ditampilkan dalam peristiwa Natal adalah para imam kepala dan ahli Taurat. Alkitab bercerita bahwa ketika Herodes mendengar ada raja yang baru dilahirkan, ia lalu mengumpulkan para imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi dan bertanya kepada mereka di mana Mesias akan dilahirkan? (Mat 2:4) dan luar biasa bahwa para imam kepala dan ahli-ahli Taurat itu langsung memberikan jawaban dengan meyakinkan : &#8220;Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.&#8221; (Mat 2:5-6). Ini membuktikan bahwa mereka memang benar-benar tahu persis nubuatan tentang kedatangan Mesias sebagaimana yang dicatat dalam Mikha 5:1. Sayangnya, justru ketika Sang Mesias itu lahir ke dunia, mereka tidak menyambutnya, mereka acuh tak acuh saja. Ya, mungkin mereka akan menjawab bahwa mereka tidak tahu persis waktu kelahiran Sang Mesias. Tidak ada tanda bagi mereka seperti bintang bagi orang Majus, tidak ada pemberitaan malaikat pada mereka seperti kepada para gembala. Ok, tak apalah. Tapi bukankah setelah itu, sepanjang hidup dan pengajaran Yesus, seharusnya sudah cukup untuk meyakinkan mereka bahwa Yesus dari Nazaret itu adalah Sang Mesias sendiri? Bukankah orang awam seperti Simon Petrus dapat mengerti semua itu dan berkata ”Engkau Mesias Anak Allah yang hidup?” (Mat 16:16). Lalu mengapa para imam kepala dan ahli Taurat tidak menyambut Dia sebagai Mesias? Bahkan lebih dari itu bukankah kematian Sang Mesias itu adalah ulah para imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang terus memusuhi-Nya sepanjang hidup-Nya? Oh&#8230;.semua janji tentang Mesias ada di kepala mereka namun Mesias itu tidak ada dalam hati mereka. Mereka menguasai semua teori tentang Mesias namun mereka tidak menyambut-Nya sebagai Mesias. Kepala mereka penuh tapi hati mereka kosong. Itulah sikap para imam dan ahli Taurat dalam momen Natal itu, suatu sikap acuh tak acuh.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Adakah sikap itu juga yang menjadi sikap kita? Berapa banyak di antara kita memahami isi Kitab Suci dengan baik namun bersikap acuh tak acuh terhadap pribadi Kristus, Sang Putera Natal itu? Berapa banyak di antara kita yang menguasai sejumlah teori tentang Kristus namun tetap tidak menyambut Kristus itu dalam hati dan hidup kita?  Berapa banyak di antara kita yang tahu tentang Kristus tetapi tidak mengenal-Nya secara pribadi dan mempunyai hubungan pribadi dengan-Nya? Ada banyak orang Kristen yang sangat interest terhadap pendeta tertentu, gereja tertentu, aliran tertentu tetapi tidak terhadap Kristus. Kekristenan semacam ini adalah kekristenan yang kosong yang tidak akan membawa anda ke sorga. Kalau anda seperti itu, anda benar-benar satu ’merk’ dengan para ahli Taurat pada saat Natal pertama itu. Bagaimana sikap anda dalam menyambut Natal tahun ini? Buka hati anda dan sambutlah Putera Natal itu sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadimu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Orang Majus</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kelompok berikutnya yang dapat kita lihat dalam Matius pasal 2 ini adalah kelompok orang Majus. Kita diberitahu bahwa mereka datang dari Timur berdasarkan tuntunan bintang dan mencari raja yang baru lahir. Mereka akhirnya berjumpa dengan Yesus, sujud menyembahnya dan memberikan persembahan emas, mur dan kemenyan. Selanjutnya mereka pulang ke negeri mereka.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Siapakah mereka sebenarnya? Mat 2:1 menginformasikan bahwa mereka berasal dari Timur (Mat 2:1). Banyak penafsir setuju bahwa “Timur” di sini menunjuk kepada bagian timur dari Yudea yang menunjuk kepada daerah Persia dan Arabia (Kej 25:6). Sebagian menganggapnya daerah Mesopotamia dan Babilonia. Kata “Majus” ini adalah kata yang sulit dipahami dalam pengertian kita saat ini. Alkitab-Alkitab bahasa Inggris menyebutnya ‘wise man’ (orang bijaksana). Kata ini dalam dalam bahasa Yunaninya adalah ‘magoi’. Dalam perkembangan di kemudian hari kata ini sering dihubungkan dengan kata ‘magician’ yang dapat berarti tukang sihir. Namun sesungguhnya arti kata ini tidaklah sesempit pengertian masa kini. J.J. de Heer berkata : “Pada aslinya kata itu berarti imam-imam di Persia, &#8230; ‘. (Tafsiran Alkitab Injil Matius; hal. 22). Homer A. Kent, Jr  juga memberikan keterangan : “Orang-orang Majus (magoi) aslinya merupakan kasta imamat di kalangan orang Persia dan Babilonia (band. Dan 2:2, 48; 4:6-7; 5:7). Nama ini kemudian oleh orang Yunani dikenakan pada semua ahli sihir atau dukun (Kis 8:9; 13:8). Matius menggunakan kata ini dalam arti yang lebih baik untuk mengacu pada tokoh-tokoh terhormat dari agama Timur”. (The Wycliffe Bible Commentary; hal. 25). Dalam Albert Barnes’ Notes on the Bible juga dicatat bahwa : “Orang-orang ini adalah ahli-ahli filsafat, imam-imam atau ahli-ahli perbintangan. Mereka hidup terutama di daerah Persia dan Arabia. Mereka adalah orang-orang terpelajar di daerah timur yang mahir dalam astronomi, agama dan obat-obatan. Dengan demikian kita mengerti bahwa orang-orang Majus ini adalah para imam, orang-orang terpelajar/terhormat, orang-orang kaya dan berkedudukan tinggi yang sangat pandai dalam hal-hal agama, pengobatan dan perbintangan. Mungkin karena status inilah Herodes menyambut mereka di istananya. Perhatikan juga keterangan Herodatus : “Mereka aslinya berasal dari sebuah suku bangsa Medi. Bangsa Medi adalah sebagian dari kekaisaran Persia. Bangsa Medi pernah mencoba untuk menggulingkan kuasa Persia dan menggantikannya dengan kuasa Media. Usaha ini gagal. Sejak saat itu bangsa Majus tidak pernah lagi mempunyai keinginan atau ambisi untuk memiliki kekuasaan dan prestise. Dan selanjutnya mereka memilih menjadi imam saja. Di tengah-tengah bangsa Persia para Majus tersebut berfungsi persis sama seperti fungsi orang-orang Lewi di tengah-tengah bangsa Israel. Mereka menjadi guru dan pembimbing para raja Persia. Di Persia tidak ada persembahan yang dapat dipersembahkan kecuali kalau ada orang Majus yang hadir dalam upacara itu. Jadi orang Majus dianggap sebagai orang suci dan orang yang bijaksana” (ibid : 39). Demikianlah kira-kira gambaran yang bisa kita dapat tentang para Majus ini.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Lalu berapakah jumlah mereka sebenarnya? Tentu saja jumlah mereka sangatlah banyak di daerah mereka sendiri. Namun berapa banyakkah yang datang mencari Yesus dan menyembah-Nya? Banyak dari antara kita merasa bahwa mereka berjumlah 3 orang dan demikian pula menurut tradisi. Bahkan tradisi-tradisi ini sampai memberitahukan nama ketiga orang Majus ini. Tradisi abad 6 mengatakan bahwa 3 orang Majus ini adalah Bithisarea, Melichior, dan Gathaspa sedangkan tradisi Armenia abad 14 mengatakan bahwa ketiga orang Majus itu adalah 3 orang raja, masing-masing bernama Gasper (raja Arab), Melkhior (raja Persia) dan Balthazar (raja India). Tradisi Suriah menyebut nama-nama mereka Larvandad, Hormisdas, dan Gusnasaf, sementara tradisi Armenia yang lebih tua hanya menyebutkan dua nama, yaitu Kagba dan Badadilma. Walaupun demikian kita harus sadar bahwa Alkitab sama sekali tidak memberitahukan jumlah orang-orang Majus ini maupun nama-nama mereka. Sangat mungkin bahwa jumlah tersebut (3 orang) dikaitkan dengan 3 persembahan yang dibawa mereka yakni emas, mur dan kemenyan. Namun persoalanya adalah apakah jumlah persembahan menentukan jumlah pemberi?  Jelas tidak harus demikian. Bisa jadi mereka berjumlah lebih dari 3 orang namun membawa 3 macam persembahan.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Dari catatan Injil Matius 2:11 : ‘Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia&#8230;’ ada beberapa hal yang menarik untuk disimak. Pertama,: Para Majus ini bertemu bayi Yesus di dalam rumah.Tidakkah kita merasa heran? Mengapa bukan di kandang? Bukankah Yesus dilahirkan di kandang? Beberapa orang memakai ayat ini untuk menunjukkan kontradiksi Alkitab namun sesungguhnya tidaklah demikian. Kita harus memahami bahwa waktu di mana para Majus menjumpai Yesus, bukanlah tepat pada saat Yesus dilahirkan (di kandang) namun beberapa waktu setelah Yesus dilahirkan sehingga tentunya Maria dan Yusuf sudah pindah dari kadang ke sebuah rumah. Jadi para gembala hadir pada saat Yesus dilahirkan makanya mereka bertemu Yesus di kadang namun para Majus hadir beberapa waktu (bulan?) kemudian makanya mereka bertemu Yesus di rumah. Kedua, dikatakan bahwa mereka menjumpai ’Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia&#8230;’ Perhatikan bahwa yang dijumpai adalah bayi Yesus dan Maria ibu-Nya namun tidak dikatakan bahwa para majus itu menyembah “mereka” melainkan menyembah “Dia”. Para Majus tidak menyembah Maria atau Yesus dan Maria. Mereka hanya menyembah Yesus saja meskipun Maria ada di sana. Tidakkah itu memberikan sedikit pengajaran pada kita bahwa setiap penyembahan pada Maria maupun Maria dan Yesus sama sekali tidak didukung Alkitab?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Lepas dari semua itu namun hal yang harus kita perhatikan adalah sikap orang-orang majus itu dalam menyambut kelahiran Yesus. Mereka rupanya rela mengorbankan/memberikan waktu mereka untuk berjumpa dengan Yesus. Mereka rela mengorbankan/memberikan tenaga mereka dalam perjalanan yang pasti sangat melelahkan dari negeri mereka. Mereka juga rela mengorbankan kesibukan mereka. Demikian juga harta mereka (emas, kemenyan dan mur). Namun yang lebih daripada semuanya itu adalah mereka rela mengorbankan/memberikan hati mereka dalam sujud penyembahan kepada Putera Natal itu, Sang Raja yang baru dilahirkan. Mereka tentu tidak mengerti bahwa bayi yang mereka sembah itu adalah jelmaan Allah tetapi tindakan mereka cukup membuktikan penghormatan mereka pada-Nya. Ya, seharusnya Natal memang disambut dengan sikap seperti para Majus itu. Tapi berapa banyakkah kita yang memiliki sikap hati seperti mereka? Apakah dengan merayakan Natal membuat kita berkomitmen untuk memberikan segalanya bagi Yesus? Apakah momen Natal menimbulkan niat yang tulus untuk sujud dalam penyembahan kepada-Nya? Ataukah Natal bagi kita hanyalah ajang pesta pora dan pemuasan kedagingan dan keduniawian kita? Mari sobatku, sambutlah Natal tahun ini dengan sikap hati yang benar. Jika sikapmu dalam merayakan Natal seperti Herodes dan imam kepala-ahli Taurat, bertobatlah dan naikkan doa tulus kepada-Nya ”Tuhan, berikanku hati seperti hati para Majus”.  Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010, Tuhan memberkati!</div>
<p><strong><em>Esra Alfred Soru</em></strong></p>
<p>Demikianlah gambaran kehidupan Herodes. Sekali lagi, ia adalah orang yang selalu merasa tidak aman dan ia tidak membiarkan sedikitpun kemungkinan kekuasaannya direbut. Dengan mentalitas Herodes seperti ini, dapatlah dibayangkan bagaimana reaksinya ketika ia mendengar kabar dari para Majus bahwa mereka sementara mencari raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. <span id="more-498"></span>Mat 2:3 berkata “<em>terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem</em>”. Kata “<em>terkejut</em>” ini tidak terlalu kuat maknanya. Alkitab King James Version (KJV), Revised Standard Version (RSV), New American Standard Bible (NASB) menerjemahkannya dengan kata “was trouble” yang artinya “terganggu”. Jadi Herodes ketika mendengar ada raja yang baru lahir, perasaan curiga, perasaan marah, perasaan tersainginya mulai menguasai dia sehingga ia merasa terganggu. Bukan hanya Herodes yang terganggu. Seluruh Yerusalem juga “terganggu”. Mengapa? Karena mereka tahu persis sifat Herodes dan apa yang akan terjadi. Mereka sudah cukup terganggu dengan pembunuhan Aristobulus, Mariamne, Alexandra, dan anak-anak Herodes sendiri. Dan mereka yakin bahwa raja yang baru lahir itu pasti akan membuat geger Yerusalem dengan tindakan Herodes. Dan memang akhirnya Herodes memerintahkan pembunuhan anak-anak di bawah 2 tahun (Mat 2:16-18).</p>
<p>Kehidupan Herodes memberikan 2 gambaran tentang siapa sesungguhnya dia.<strong><span style="text-decoration: underline;"> HERODES ADALAH ORANG YANG MERASA BAHWA HIDUPNYA TERGANGGU OLEH KEHADIRAN YESUS</span></strong>. Baginya kelahiran Yesus tidak bermakna apa-apa selain hanya membawa ancaman bagi kekuasannya. Ia telah lama tahu bahwa Mesiaslah yang sementara diharapkan oleh orang-orang Yahudi untuk menggantikan dirinya dan ia sungguh terganggu dengan hal itu. Ia tidak tahu bahwa Sang Mesias datang bukan untuk sebuah kerajaan duniawi/politik melainkan untuk sebuah kerajaan rohani, kerajaan Allah. Yang ia tahu hanyalah bahwa kehadiran Yesus mengganggu ketentramannya. Inilah sikap hati yang keliru dari Herodes di sekitar momen Natal. Dan, mau akui atau tidak, ini jugalah sikap hati dari kebanyakan kita. Tidak jarang kita merasa bahwa kehadiran Kristus hanyalah sebuah gangguan bagi kehidupan kita. Ada banyak orang yang senang dan tertarik dengan gereja tertentu (sama seperti Herodes yang membangun Bait Allah) tapi mereka menolak Yesus karena merasa bahwa hidupnya terganggu oleh perintah-perintah dan kehendak-Nya. Bukankah banyak kesenangan duniawi terganggu ketika karena Kristus menentang perzinahan? Bukankah acara piknik menjadi terganggu karena Ia menghendaki kita beribadah pada hari minggu? Bukankah keuntungan besar terganggu karena Ia mau kita jujur dalam berbisnis? Bukankah studi terganggu karena Ia tidak mau kita nyontek? Bukankah kenikmatan terganggu karena kita dilarang mabuk-mabukan? Yesus datang dengan maksud baik untuk menyelamatkan dunia dari dosa tapi Herodes mencurigai-Nya. Demikian juga Yesus datang dengan maksud baik untuk kita semua tapi mungkin ada di antara kita yang “mencurigai-Nya” sebagai pengganggu kehidupan kita. Kalau hal-hal seperti ini menyebabkan kita akhirnya menolak Yesus, maka sesungguhnya kita tidak berbeda dengan Herodes, kita adalah ’anak buahnya’ Herodes.</p>
<p>Selain itu <strong><span style="text-decoration: underline;">HERODES ADALAH ORANG YANG HATINYA TIDAK BERES</span></strong> dalam artian penuh iri hati, amarah, kebencian dan kedengkian. Semua yang dilihat sebagai ancaman bagi diri dan kedudukannya ia habisi. Sifat seperti inilah yang ia perlihatkan pada momen Natal ketika Kristus dilahirkan ke dunia ini. Itulah Herodes! Namun, tidakkah ada banyak orang Kristen juga yang merayakan Natal sambil tetap memelihara mentalitas Herodes ini dalam hati mereka? Amarah yang masih tersimpan dengan rapi, dendam yang masih membara, kedengkian yang menyatu dengan hati, serta iri yang merasuk jiwa? Berapa banyak di antara kita yang begitu sibuk mempersiapkan perayaan-perayaan Natal, menghadiri setiap kebaktian Natal namun hati kita tetap hitam dengan amarah, kebencian, dendam, dengki dan iri? Berapa banyak di antara kita yang belum mengampuni sesamanya? Dengarlah, engkau berhati Herodes!!! Natal identik dengan damai sejahtera, tidakkah kita membuka hati kita dan melepaskan pengampunan itu agar damai sejahtera itu dapat masuk ke dalam hati kita?</p>
<p><strong><em>Imam Kepala dan Ahli Taurat</em></strong></p>
<p>Golongan kedua yang ditampilkan dalam peristiwa Natal adalah para imam kepala dan ahli Taurat. Alkitab bercerita bahwa ketika Herodes mendengar ada raja yang baru dilahirkan, ia lalu mengumpulkan para imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi dan bertanya kepada mereka di mana Mesias akan dilahirkan? (Mat 2:4) dan luar biasa bahwa para imam kepala dan ahli-ahli Taurat itu langsung memberikan jawaban dengan meyakinkan : &#8220;<em>Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel</em>.&#8221; (Mat 2:5-6). Ini membuktikan bahwa mereka memang benar-benar tahu persis nubuatan tentang kedatangan Mesias sebagaimana yang dicatat dalam Mikha 5:1. Sayangnya, justru ketika Sang Mesias itu lahir ke dunia, mereka tidak menyambutnya, mereka acuh tak acuh saja. Ya, mungkin mereka akan menjawab bahwa mereka tidak tahu persis waktu kelahiran Sang Mesias. Tidak ada tanda bagi mereka seperti bintang bagi orang Majus, tidak ada pemberitaan malaikat pada mereka seperti kepada para gembala. Ok, tak apalah. Tapi bukankah setelah itu, sepanjang hidup dan pengajaran Yesus, seharusnya sudah cukup untuk meyakinkan mereka bahwa Yesus dari Nazaret itu adalah Sang Mesias sendiri? Bukankah orang awam seperti Simon Petrus dapat mengerti semua itu dan berkata ”<em>Engkau Mesias Anak Allah yang hidup</em>?” (Mat 16:16). Lalu mengapa para imam kepala dan ahli Taurat tidak menyambut Dia sebagai Mesias? Bahkan lebih dari itu bukankah kematian Sang Mesias itu adalah ulah para imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang terus memusuhi-Nya sepanjang hidup-Nya? Oh&#8230;.semua janji tentang Mesias ada di kepala mereka namun Mesias itu tidak ada dalam hati mereka. Mereka menguasai semua teori tentang Mesias namun mereka tidak menyambut-Nya sebagai Mesias. Kepala mereka penuh tapi hati mereka kosong. Itulah sikap para imam dan ahli Taurat dalam momen Natal itu, suatu sikap acuh tak acuh.</p>
<p>Adakah sikap itu juga yang menjadi sikap kita? Berapa banyak di antara kita memahami isi Kitab Suci dengan baik namun bersikap acuh tak acuh terhadap pribadi Kristus, Sang Putera Natal itu? Berapa banyak di antara kita yang menguasai sejumlah teori tentang Kristus namun tetap tidak menyambut Kristus itu dalam hati dan hidup kita?  Berapa banyak di antara kita yang tahu tentang Kristus tetapi tidak mengenal-Nya secara pribadi dan mempunyai hubungan pribadi dengan-Nya? Ada banyak orang Kristen yang sangat interest terhadap pendeta tertentu, gereja tertentu, aliran tertentu tetapi tidak terhadap Kristus. Kekristenan semacam ini adalah kekristenan yang kosong yang tidak akan membawa anda ke sorga. Kalau anda seperti itu, anda benar-benar satu ’merk’ dengan para ahli Taurat pada saat Natal pertama itu. Bagaimana sikap anda dalam menyambut Natal tahun ini? Buka hati anda dan sambutlah Putera Natal itu sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadimu.</p>
<p><strong><em>Orang Majus</em></strong></p>
<p>Kelompok berikutnya yang dapat kita lihat dalam Matius pasal 2 ini adalah kelompok orang Majus. Kita diberitahu bahwa mereka datang dari Timur berdasarkan tuntunan bintang dan mencari raja yang baru lahir. Mereka akhirnya berjumpa dengan Yesus, sujud menyembahnya dan memberikan persembahan emas, mur dan kemenyan. Selanjutnya mereka pulang ke negeri mereka.</p>
<p>Siapakah mereka sebenarnya? Mat 2:1 menginformasikan bahwa mereka berasal dari Timur (Mat 2:1). Banyak penafsir setuju bahwa “Timur” di sini menunjuk kepada bagian timur dari Yudea yang menunjuk kepada daerah Persia dan Arabia (Kej 25:6). Sebagian menganggapnya daerah Mesopotamia dan Babilonia. Kata “Majus” ini adalah kata yang sulit dipahami dalam pengertian kita saat ini. Alkitab-Alkitab bahasa Inggris menyebutnya ‘wise man’ (orang bijaksana). Kata ini dalam dalam bahasa Yunaninya adalah ‘magoi’. Dalam perkembangan di kemudian hari kata ini sering dihubungkan dengan kata ‘magician’ yang dapat berarti tukang sihir. Namun sesungguhnya arti kata ini tidaklah sesempit pengertian masa kini. J.J. de Heer berkata : “<em>Pada aslinya kata itu berarti imam-imam di Persia,</em> &#8230; ‘. (Tafsiran Alkitab Injil Matius; hal. 22). Homer A. Kent, Jr  juga memberikan keterangan : “<em>Orang-orang Majus (magoi) aslinya merupakan kasta imamat di kalangan orang Persia dan Babilonia (band. Dan 2:2, 48; 4:6-7; 5:7). Nama ini kemudian oleh orang Yunani dikenakan pada semua ahli sihir atau dukun (Kis 8:9; 13:8). Matius menggunakan kata ini dalam arti yang lebih baik untuk mengacu pada tokoh-tokoh terhormat dari agama Timur”. (The Wycliffe Bible Commentary; hal. 25). </em>Dalam Albert Barnes’ Notes on the Bible juga dicatat bahwa<em> : “Orang-orang ini adalah ahli-ahli filsafat, imam-imam atau ahli-ahli perbintangan. Mereka hidup terutama di daerah Persia dan Arabia. Mereka adalah orang-orang terpelajar di daerah timur yang mahir dalam astronomi, agama dan obat-obatan</em>. Dengan demikian kita mengerti bahwa orang-orang Majus ini adalah para imam, orang-orang terpelajar/terhormat, orang-orang kaya dan berkedudukan tinggi yang sangat pandai dalam hal-hal agama, pengobatan dan perbintangan. Mungkin karena status inilah Herodes menyambut mereka di istananya. Perhatikan juga keterangan Herodatus : “<em>Mereka aslinya berasal dari sebuah suku bangsa Medi. Bangsa Medi adalah sebagian dari kekaisaran Persia. Bangsa Medi pernah mencoba untuk menggulingkan kuasa Persia dan menggantikannya dengan kuasa Media. Usaha ini gagal. Sejak saat itu bangsa Majus tidak pernah lagi mempunyai keinginan atau ambisi untuk memiliki kekuasaan dan prestise. Dan selanjutnya mereka memilih menjadi imam saja. Di tengah-tengah bangsa Persia para Majus tersebut berfungsi persis sama seperti fungsi orang-orang Lewi di tengah-tengah bangsa Israel. Mereka menjadi guru dan pembimbing para raja Persia. Di Persia tidak ada persembahan yang dapat dipersembahkan kecuali kalau ada orang Majus yang hadir dalam upacara itu. Jadi orang Majus dianggap sebagai orang suci dan orang yang bijaksana</em>” (ibid : 39). Demikianlah kira-kira gambaran yang bisa kita dapat tentang para Majus ini.</p>
<p>Lalu berapakah jumlah mereka sebenarnya? Tentu saja jumlah mereka sangatlah banyak di daerah mereka sendiri. Namun berapa banyakkah yang datang mencari Yesus dan menyembah-Nya? Banyak dari antara kita merasa bahwa mereka berjumlah 3 orang dan demikian pula menurut tradisi. Bahkan tradisi-tradisi ini sampai memberitahukan nama ketiga orang Majus ini. Tradisi abad 6 mengatakan bahwa 3 orang Majus ini adalah <strong>Bithisarea, Melichior, dan Gathaspa</strong> sedangkan tradisi Armenia abad 14 mengatakan bahwa ketiga orang Majus itu adalah 3 orang raja, masing-masing bernama <strong>Gasper </strong>(raja Arab), <strong>Melkhior </strong>(raja Persia) dan <strong>Balthazar </strong>(raja India). Tradisi Suriah menyebut nama-nama mereka <strong>Larvandad, Hormisdas, </strong>dan <strong>Gusnasaf</strong>, sementara tradisi Armenia yang lebih tua hanya menyebutkan dua nama, yaitu <strong>Kagba </strong>dan <strong>Badadilma</strong>. Walaupun demikian kita harus sadar bahwa Alkitab sama sekali tidak memberitahukan jumlah orang-orang Majus ini maupun nama-nama mereka. Sangat mungkin bahwa jumlah tersebut (3 orang) dikaitkan dengan 3 persembahan yang dibawa mereka yakni emas, mur dan kemenyan. Namun persoalanya adalah apakah jumlah persembahan menentukan jumlah pemberi?  Jelas tidak harus demikian. Bisa jadi mereka berjumlah lebih dari 3 orang namun membawa 3 macam persembahan.</p>
<p>Dari catatan Injil Matius 2:11 : ‘<em>Maka masuklah mereka </em><em><span style="text-decoration: underline;">ke dalam rumah itu </span></em><em>dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia..</em>.’ ada beberapa hal yang menarik untuk disimak. Pertama,: Para Majus ini bertemu bayi Yesus di dalam rumah.Tidakkah kita merasa heran? Mengapa bukan di kandang? Bukankah Yesus dilahirkan di kandang? Beberapa orang memakai ayat ini untuk menunjukkan kontradiksi Alkitab namun sesungguhnya tidaklah demikian. Kita harus memahami bahwa waktu di mana para Majus menjumpai Yesus, bukanlah tepat pada saat Yesus dilahirkan (di kandang) namun beberapa waktu setelah Yesus dilahirkan sehingga tentunya Maria dan Yusuf sudah pindah dari kadang ke sebuah rumah. Jadi para gembala hadir pada saat Yesus dilahirkan makanya mereka bertemu Yesus di kadang namun para Majus hadir beberapa waktu (bulan?) kemudian makanya mereka bertemu Yesus di rumah. Kedua, dikatakan bahwa mereka menjumpai ’<em>Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia..</em>.’ Perhatikan bahwa yang dijumpai adalah bayi Yesus dan Maria ibu-Nya namun tidak dikatakan bahwa para majus itu menyembah “<span style="text-decoration: underline;">mereka</span>” melainkan menyembah “<span style="text-decoration: underline;">Dia</span>”. Para Majus tidak menyembah Maria atau Yesus dan Maria. Mereka hanya menyembah Yesus saja meskipun Maria ada di sana. Tidakkah itu memberikan sedikit pengajaran pada kita bahwa setiap penyembahan pada Maria maupun Maria dan Yesus sama sekali tidak didukung Alkitab?</p>
<p>Lepas dari semua itu namun hal yang harus kita perhatikan adalah sikap orang-orang majus itu dalam menyambut kelahiran Yesus. Mereka rupanya rela mengorbankan/memberikan waktu mereka untuk berjumpa dengan Yesus. Mereka rela mengorbankan/memberikan tenaga mereka dalam perjalanan yang pasti sangat melelahkan dari negeri mereka. Mereka juga rela mengorbankan kesibukan mereka. Demikian juga harta mereka (emas, kemenyan dan mur). Namun yang lebih daripada semuanya itu adalah mereka rela mengorbankan/memberikan hati mereka dalam sujud penyembahan kepada Putera Natal itu, Sang Raja yang baru dilahirkan. Mereka tentu tidak mengerti bahwa bayi yang mereka sembah itu adalah jelmaan Allah tetapi tindakan mereka cukup membuktikan penghormatan mereka pada-Nya. Ya, seharusnya Natal memang disambut dengan sikap seperti para Majus itu. Tapi berapa banyakkah kita yang memiliki sikap hati seperti mereka? Apakah dengan merayakan Natal membuat kita berkomitmen untuk memberikan segalanya bagi Yesus? Apakah momen Natal menimbulkan niat yang tulus untuk sujud dalam penyembahan kepada-Nya? Ataukah Natal bagi kita hanyalah ajang pesta pora dan pemuasan kedagingan dan keduniawian kita? Mari sobatku, sambutlah Natal tahun ini dengan sikap hati yang benar. Jika sikapmu dalam merayakan Natal seperti Herodes dan imam kepala-ahli Taurat, bertobatlah dan naikkan doa tulus kepada-Nya ”Tuhan, berikanku hati seperti hati para Majus”.  Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010, Tuhan memberkati!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airhidup.info/wp/orang-orang-dalam-kisah-natal-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang-Orang Dalam Kisah Natal (1)</title>
		<link>http://airhidup.info/wp/orang-orang-dalam-kisah-natal-1/</link>
		<comments>http://airhidup.info/wp/orang-orang-dalam-kisah-natal-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 04:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airhidup.info/wp/?p=495</guid>
		<description><![CDATA[Esra Alfred Soru
Hari Natal datang lagi! Di sana sini kita sudah dapat mendengar lagu-lagu Natal dikumandangkan, pohon-pohon Natal mulai bercahaya dalam rumah-rumah, lilin-lilin mulai dinyalakan. Dekorasi gereja mulai semarak, supermarket, mall, dan toko-toko ramai dikunjungi. Bahkan sejumlah kelompok telah mengadakan perayaan Natal. Semuanya itu tentu tidak salah namun yang paling penting adalah apakah kita sungguh-sungguh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Esra Alfred Soru</em></strong></p>
<p>Hari Natal datang lagi! Di sana sini kita sudah dapat mendengar lagu-lagu Natal dikumandangkan, pohon-pohon Natal mulai bercahaya dalam rumah-rumah, lilin-lilin mulai dinyalakan. Dekorasi gereja mulai semarak, supermarket, mall, dan toko-toko ramai dikunjungi. Bahkan sejumlah kelompok telah mengadakan perayaan Natal. <span id="more-495"></span>Semuanya itu tentu tidak salah namun yang paling penting adalah apakah kita sungguh-sungguh memahami makna Natal itu bagi kita? Ataukah kita hanya merayakan Natal sebagai sebuah rutinitas dan penuh hura-hura serta pesta pora demi kesenangan kita belaka? Ada kelompok pemuda gereja yang merayakan Natal dengan suasana yang hingar bingar dan luar biasanya bisingnya karena menampilkan musik-musik gaya rock layaknya di diskotik saja. Lagu-lagu agung yang seharusnya dapat menuntun pikiran dan hati kita untuk memahami makna Natal sesungguhnya disuguhkan dengan sangat berisik bahkan hampir-hampir kata-kata lagu itu tak terdengar. Yang terdengar hanyalah dentuman-dentuman alat musik yang super keras seolah membawa pendengar pada sebuah suasana ’trans’. Benar-benar seperti di bar atau diskotik. Suasana itu sungguh sangat jauh dari makna Natal itu. Perayaan itu kelihatannya untuk memuji Tuhan namun yang sesungguhnya hanyalah ajang pemuasan emosi diri yang sangat duniawi. Selain itu, koran Timex beberapa waktu yang lalu memberitakan bahwa Mariah Carey, yang terkenal dengan tembang-tembang Natalnya seperti ”Oh Holy Night” mengatakan bahwa ia sudah tidak sabar lagi menunggu datangnya hari Natal karena menurut rencananya ia akan tampil bugil (telanjang bulat) pada saat perayaan Natal. Sungguh kurang ajar! Natal sudah dijadikan semacam pesta duniawi yang telah kehilangan nilai rohaninya. Sungguh jauh berbeda sikap Mariah Carey dan Maria yang diberitakan Alkitab. Demikian juga ada kelompok panitia Natal yang berkelahi karena ketidaksesuaian pendapat sewaktu melakukan rapat panitia Natal. Apa yang digambarkan di atas hanyalah sedikit contoh dari begitu banyaknya kasus di mana Natal disambut dengan cara dan sikap hati yang salah. Meskipun demikian, kesalahan-kesalahan yang terjadi sebenarnya adalah pengulangan sejarah. Natal pertama di dunia ini yakni saat Kristus lahir juga sudah disambut dengan sikap-sikap yang salah dari orang-orang di sekitar peristiwa Natal di samping adanya orang-orang yang menyambut Natal itu dengan sikap hati yang benar. Berikut ini saya mengajak pembaca sekalian untuk merenungkan cerita yang dipaparkan dalam Injil Matius 2:1-12 (cerita tentang orang majus) dan kita akan melihat bahwa orang-orang yang hadir dalam kisah Natal itu menyambut kelahiran Kristus dengan cara-cara dan sikap hati yang berbeda.</p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Raja Herodes</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Di dalam Alkitab ada banyak Herodes misalnya Herodes Agripa I (yang membunuh Yakobus dan ditampar malaikat hingga mati), Herodes Agripa II (yang bertemu dengan Paulus).  Nah, Herodes yang hadir dalam kisah Natal dalam Matius pasal 2 ini dikenal dengan nama Herodes Agung. Dialah yang terkejut atas pertanyaan orang Majus yang hendak mencari Yesus yang mereka sebut sebagai ’raja yang baru lahir’. (Mat 2:2-3). Dialah yang hendak melakukan pembunuhan terhadap bayi Yesus (Mat 2:8, 13), dia jugalah yang melakukan pembunuhan atas anak-anak di bawah 2 tahun di Betlehem dan daearh sekitarnya (Mat 2:16). Mengapa ia seolah-olah begitu ketakutan dan marah ketika mendengar kabar kelahiran Yesus? Mengapa ia berniat membunuh Yesus? Mengapa ia begitu tega dan sadis dalam membunuh anak-anak Betlehem? Siapakah sebenarnya Herodes Agung ini?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Herodes Agung berasal dari sebuah daerah bernama Idumea. Ayahnya adalah seorang Edom (keturunan Esau) yang akhirnya memeluk agama Yahudi dan adalah perdana menteri Yudea, sebuah provinsi Roma waktu itu, dan teman dekat Julis Caesar. Ibunya seorang Arab dari Petra (Yordania). Dengan demikian Herodes bukanlah asli orang Yahudi dan karenanya ia sebenarnya tidak layak menjadi raja atas orang Yahudi. Meskipun demikian dengan kepandaian politiknya, pada umur 25 tahun diangkat pemerintah Romawi menjadi gubernur Galilea. Ia menikah dengan seorang wanita bernama Doris dan mempunyai seorang anak.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Meskipun demikian, Herodes menyadari satu hal bahwa sesungguhnya latar belakang dirinya yang bukan orang Yahudi menjadi halangan baginya untuk diterima dengan tulus oleh orang Yahudi sebagai pemimpin mereka. Herodes lalu berusaha dengan berbagai cara untuk mengamankan kedudukannya. Langkah pertama yang ia lakukan adalah menikahi gadis remaja berdarah bangsawan Yahudi yang bernama Mariamme di mana sebelumnya ia menceraikan dan mengusir Doris (isteri pertamanya) bersama puteranya Antipater yang baru berumur 3 tahun. Dengan menikahi Mariamme maka Herodes mendapat kesempatan emas di mana ia akan dianggap sebagai keluarga raja Yahudi yang adalah penguasa Yudea yang sebenarnya. Menikahinya sama dengan mendapat sekutu yang kuat. (Ket. Herodes mempunyai 10 orang isteri). Setelah menikahi Mariamme, 5 tahun kemudian pihak Roma menetapkan Herodes sebagai ”Raja orang Yahudi”.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Setelah menjadi raja yang diakui Roma, Herodes masih merasa tidak tenang karena ia belum dapat diterima kaum tua Yahudi. Ia lalu berusaha menarik simpati orang Yahudi dengan cara membangun Bait Allah yang sangat megah. Bait Allah yang dibangun Herodes begitu indah dan mewah sehingga bangunan itu dipuji orang sebagai bangunan terindah di dunia. Bait Allah yang dikerjakan oleh 18 ribu orang itu sangat besar dan indah dan dilapisi dengan marmer dan emas. Halamannya dikelilingi dengan menara-menara dan dinding benteng. Herodes lebih banyak menghamburkan uang untuk pembangunan Bait Allah ini daripada bangunan lain dalam sejarah Yudea. Ia membangun Bait Allah tersebut di Yerusalem untuk menguatkan reputasinya sebagai orang Yahudi. Selain itu ketika kelaparan melanda seluruh negeri, selain uang kas kerajaan, ia juga mengeluarkan uang pribadi untuk mengatasi kelaparan bagi seluruh rakyat Yudea. Akibat dari semuanya ini maka banyak orang yang bersimpati padanya tetapi keterangan Flavius Jospehus, sejarawan Yahudi abad pertama mengatakan bahwa masih juga cukup banyak orang Yahudi yang tidak menyukainya. Sumber kebenciannya selain karena ia bukan orang Yahudi juga karena ia diangkat oleh penjajah Romawi dan menjadi kaki tangan mereka di tiap kesempatan. Oleh karena itu  Herodes selalu merasa bahwa kedudukannya tidak aman. Apalagi ia mengetahui adanya suatu harapan dalam diri banyak orang Yahudi bahwa akan datang seorang raja Yahudi yang sebenarnya, yakni Mesias. Herodes hidup penuh ketakutan. Ia takut bahwa suatu saat orang Yahudi akan melakukan pemberontakan terhadapnya. Itulah sebabnya istana tempat ia tinggal (Herodium) dibuat seperti layaknya sebuah benteng. Selain itu ia juga membangun sebuah istana dekat tepi pantai laut mati yang dikenal dengan mana ”Masada” di mana  menaranya ribuan kaki di atas gurun Yudea dengan ketinggian 3 lantai. Masada ini dilengkapi dengan gudang persenjataan, gudang makanan, dan tempat persembunyian yang sangat aman. Bukan hanya itu saja. Ketakutan Herodes yang amat kuat membuat ia membangun lebih dari 20 benteng di seluruh kerajannya di mana sinyal dapat dikirim antar benteng dengan menggunakan cermin. Semua itu menunjukkan bahwa yang ada di dalam diri Herodes adalah sebuah ketakutan yang sangat besar. Prof Todd Schultz mengatakan : ”Ia punya ketakutan diserang, dikalahkan, dan diambil gelarnya. Bangunan-bangunannya berbicara langsung soal ketakutannya itu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ketakutan Herodes membuat ia begitu peka dan sangat curiga dengan segala sesuatu yang akan mengancam diri dan kedudukannya. Tidak segan-segan ia membunuh setiap orang yang dianggapnya mengancam diri dan kekuasaannya/kedudukannya. Itulah sebabnya perjalanan hidup Herodes sering dikenal sebagai ’perjalanan berdarah’. Suatu saat, karena takut bahwa orang Yahudi akan mendukung iparnya (adiknya Mariamme) yang bernama Aristobulus (17 tahun) yang diangkatnya menjadi Imam Besar, Herodes lalu membunuh Aristobulus dengan cara ditenggelamkan pada sebuah acara pesta kolam. Meskipun pembunuhan itu dibuat seolah kecelakaan namun Jospehus percaya bahwa Herodeslah yang membuat anak itu tenggelam. Prof. Tood Schultz menilai tindakan Herodes ini dan berkesimpulan : ”Ini membuktikan 2 hal tentang Herodes. Pertama,  ia adalah paranoid. Kedua, ia mampau membunuh meski bukti yang ada kurang cukup”.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Lima tahun kemudian terjadi pergolakan politik di Romawi di mana Mark Anthony digulingkan oleh Octavian. Ketika itu terjadi Herodes berbalik dan menyatakan kesetiaan pada Octavian. Octavian lalu menegaskan bahwa Herodes adalah raja orang Yahudi. Meskipun demikian Herodes tidak cukup yakin bahwa Octavian tulus. Ia menduga bahwa Octavian akan membunuhnya karena sudah mendukung musuhnya Mark Anthony. Sebelum menghadap Octavian, ia meninggalkan pesan rahasia bahwa jika ia mati maka isterinya Mariamme harus dibunuh. Ia tidak tahan jika melihat Mariamme bersama orang lain. Namun ternyata ia tidak dibunuh. Sekembalinya dari Octavian, hubungannya dengan Mariamme menjadi retak karena Mariamme mengetahui rencana pembunuhan atas dirinya. Mariamme tidak mau tidur dengan Herodes lagi. Ini membuat Herodes sangat marah dan akhirnya ia membawa Mariamme ke pengadilan dengan tuduhan perzinahan dengan saksi yang memberatkan Mariamme yakni Salome, adik kandung Herodes sendiri dan juga ibu Mariamme sendiri yang bernama Alexandra. Josephus melihat ini sebagai cermin di mana Herodes menguasai Alexandra. Rupanya Alexandra juga masuk dalam daftar yang akan dibunuh Herodes. Sangat mungkin Alexandra menyalahkan puterinya demi menyelamatkan dirinya sendiri. Mariamme akhirnya dibunuh mati dalam usia 25 tahun. Tragis memang karena Herodes tega membunuh isteri yang paling dicintainya yang telah memberinya 5 orang putera selama 7 tahun hidup bersama.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Setelah membunuh isterinya sendiri, hidup Herodes mulai berubah. Josephus memberikan keterangan : ”Herodes sedih karena kehilangan Mariamme. Rupanya kematian Mariamme mengoyak hati Herodes. Ia dipenuhi rasa bersalah dan menyangkali kematian Mariamme. Ia berjalan-jalan di istana dan memanggil-manggil nama Mariamme. Ia benar-benar hancur setelah kematian isterinya. Dia psikosis, sering mendengar suara-suara, dia tertekan dan tidak mampu melakukan urusan publik lagi. Ia lalu sakit parah. Perilakunya aneh dan mulai banyak minum. Ada yang menganggap dia gila. Lalu Herodes  sakit”. Nah, dalam kondisi semacam ini tiba-tiba Alexsandra (ibunya Mariamme) mencoba mengambil alih pemerintahan dan mengumumkan dirinya sebagai Ratu. Ini menyebabkan Herodes marah besar dan tanpa diadili, langsung menghukum mati Alexandra. Tindakan herodes ini justru memicu lebih banyak kudeta. Pada usia 65 tahun Herodes mendengar bahwa 2 orang puteranya (anak Mariamme) yakni Alexander dan Aristobulus berencana membunuhnya dan merebut kerajaan. Ini adalah kedua anak dari wanita yang sangat dicintainya. Herodes akhirnya menghukum mati 2 anaknya itu. Selanjutnya di tahun 4 SM, hanya 5 hari sebelum Herodes mati, ia membasmi komplotan yang dipimpin puteranya Antipater (anak sulungnya) yang diperolehnya dari isteri pertamanya (Doris).  Antipater akhirnya dibunuh juga oleh Herodes. Herodes akhirnya mati pada usia 70 tahun dan dikubur di istana gurunnya, Herodium.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Itulah kehidupan Herodes. Ia adalah orang yang dalam hidupnya penuh ketakutan dan ia tega melakukan apa saja demi mempertahankan kedudukannya. Ia membunuh adik iparnya sendiri, isterinya, mertuanya dan juga anak-anak kandungnya sendiri. Kesadisan Herodes membuat sampai-sampai Kaisar Agustus pernah mengeluarkan kalimat yang akhirnya menjadi populer pada saat itu yakni : “Lebih baik menjadi babinya Herodes daripada menjadi anaknya Herodes”. (Ket : Dalam bahasa Yunani, kata “anak laki-laki” adalah HUIOS, sedangkan kata “babi” adalah HUOS, sehingga dalam bahasa Yunani kata-kata di atas itu membentuk syair yang indah). Mengapa muncul kalimat demikian? Karena Herodes, demi menghargai dan meraih simpati orang Yahudi, tidak makan babi. Jadi dapat dipastikan babi-babi waktu itu aman dan tidak akan dipotong. Tetapi anak-anak Herodes sungguh-sungguh tidak aman. Mereka dibunuh dan dipotong dengan kejam. Ya, tepat sekali, “Lebih baik menjadi babinya Herodes daripada menjadi anaknya Herodes”. Bersambung&#8230;..</div>
<p><strong><em>Esra Alfred Soru</em></strong></p>
<p>Hari Natal datang lagi! Di sana sini kita sudah dapat mendengar lagu-lagu Natal dikumandangkan, pohon-pohon Natal mulai bercahaya dalam rumah-rumah, lilin-lilin mulai dinyalakan. Dekorasi gereja mulai semarak, supermarket, mall, dan toko-toko ramai dikunjungi. Bahkan sejumlah kelompok telah mengadakan perayaan Natal. <!--more-->Semuanya itu tentu tidak salah namun yang paling penting adalah apakah kita sungguh-sungguh memahami makna Natal itu bagi kita? Ataukah kita hanya merayakan Natal sebagai sebuah rutinitas dan penuh hura-hura serta pesta pora demi kesenangan kita belaka? Ada kelompok pemuda gereja yang merayakan Natal dengan suasana yang hingar bingar dan luar biasanya bisingnya karena menampilkan musik-musik gaya rock layaknya di diskotik saja. Lagu-lagu agung yang seharusnya dapat menuntun pikiran dan hati kita untuk memahami makna Natal sesungguhnya disuguhkan dengan sangat berisik bahkan hampir-hampir kata-kata lagu itu tak terdengar. Yang terdengar hanyalah dentuman-dentuman alat musik yang super keras seolah membawa pendengar pada sebuah suasana ’trans’. Benar-benar seperti di bar atau diskotik. Suasana itu sungguh sangat jauh dari makna Natal itu. Perayaan itu kelihatannya untuk memuji Tuhan namun yang sesungguhnya hanyalah ajang pemuasan emosi diri yang sangat duniawi. Selain itu, koran Timex beberapa waktu yang lalu memberitakan bahwa Mariah Carey, yang terkenal dengan tembang-tembang Natalnya seperti ”<em>Oh Holy Night</em>” mengatakan bahwa ia sudah tidak sabar lagi menunggu datangnya hari Natal karena menurut rencananya ia akan tampil bugil (telanjang bulat) pada saat perayaan Natal. Sungguh kurang ajar! Natal sudah dijadikan semacam pesta duniawi yang telah kehilangan nilai rohaninya. Sungguh jauh berbeda sikap Mariah Carey dan Maria yang diberitakan Alkitab. Demikian juga ada kelompok panitia Natal yang berkelahi karena ketidaksesuaian pendapat sewaktu melakukan rapat panitia Natal. Apa yang digambarkan di atas hanyalah sedikit contoh dari begitu banyaknya kasus di mana Natal disambut dengan cara dan sikap hati yang salah. Meskipun demikian, kesalahan-kesalahan yang terjadi sebenarnya adalah pengulangan sejarah. Natal pertama di dunia ini yakni saat Kristus lahir juga sudah disambut dengan sikap-sikap yang salah dari orang-orang di sekitar peristiwa Natal di samping adanya orang-orang yang menyambut Natal itu dengan sikap hati yang benar. Berikut ini saya mengajak pembaca sekalian untuk merenungkan cerita yang dipaparkan dalam Injil Matius 2:1-12 (cerita tentang orang majus) dan kita akan melihat bahwa orang-orang yang hadir dalam kisah Natal itu menyambut kelahiran Kristus dengan cara-cara dan sikap hati yang berbeda.</p>
<p><strong><em>Raja Herodes</em></strong></p>
<p>Di dalam Alkitab ada banyak Herodes misalnya Herodes Agripa I (yang membunuh Yakobus dan ditampar malaikat hingga mati), Herodes Agripa II (yang bertemu dengan Paulus).  Nah, Herodes yang hadir dalam kisah Natal dalam Matius pasal 2 ini dikenal dengan nama Herodes Agung. Dialah yang terkejut atas pertanyaan orang Majus yang hendak mencari Yesus yang mereka sebut sebagai ’raja yang baru lahir’. (Mat 2:2-3). Dialah yang hendak melakukan pembunuhan terhadap bayi Yesus (Mat 2:8, 13), dia jugalah yang melakukan pembunuhan atas anak-anak di bawah 2 tahun di Betlehem dan daearh sekitarnya (Mat 2:16). Mengapa ia seolah-olah begitu ketakutan dan marah ketika mendengar kabar kelahiran Yesus? Mengapa ia berniat membunuh Yesus? Mengapa ia begitu tega dan sadis dalam membunuh anak-anak Betlehem? Siapakah sebenarnya Herodes Agung ini?</p>
<p>Herodes Agung berasal dari sebuah daerah bernama Idumea. Ayahnya adalah seorang Edom (keturunan Esau) yang akhirnya memeluk agama Yahudi dan adalah perdana menteri Yudea, sebuah provinsi Roma waktu itu, dan teman dekat Julis Caesar. Ibunya seorang Arab dari Petra (Yordania). Dengan demikian Herodes bukanlah asli orang Yahudi dan karenanya ia sebenarnya tidak layak menjadi raja atas orang Yahudi. Meskipun demikian dengan kepandaian politiknya, pada umur 25 tahun diangkat pemerintah Romawi menjadi gubernur Galilea. Ia menikah dengan seorang wanita bernama Doris dan mempunyai seorang anak.</p>
<p>Meskipun demikian, Herodes menyadari satu hal bahwa sesungguhnya latar belakang dirinya yang bukan orang Yahudi menjadi halangan baginya untuk diterima dengan tulus oleh orang Yahudi sebagai pemimpin mereka. Herodes lalu berusaha dengan berbagai cara untuk mengamankan kedudukannya. Langkah pertama yang ia lakukan adalah menikahi gadis remaja berdarah bangsawan Yahudi yang bernama Mariamme di mana sebelumnya ia menceraikan dan mengusir Doris (isteri pertamanya) bersama puteranya Antipater yang baru berumur 3 tahun. Dengan menikahi Mariamme maka Herodes mendapat kesempatan emas di mana ia akan dianggap sebagai keluarga raja Yahudi yang adalah penguasa Yudea yang sebenarnya. Menikahinya sama dengan mendapat sekutu yang kuat. (Ket. Herodes mempunyai 10 orang isteri). Setelah menikahi Mariamme, 5 tahun kemudian pihak Roma menetapkan Herodes sebagai ”Raja orang Yahudi”.</p>
<p>Setelah menjadi raja yang diakui Roma, Herodes masih merasa tidak tenang karena ia belum dapat diterima kaum tua Yahudi. Ia lalu berusaha menarik simpati orang Yahudi dengan cara membangun Bait Allah yang sangat megah. Bait Allah yang dibangun Herodes begitu indah dan mewah sehingga bangunan itu dipuji orang sebagai bangunan terindah di dunia. Bait Allah yang dikerjakan oleh 18 ribu orang itu sangat besar dan indah dan dilapisi dengan marmer dan emas. Halamannya dikelilingi dengan menara-menara dan dinding benteng. Herodes lebih banyak menghamburkan uang untuk pembangunan Bait Allah ini daripada bangunan lain dalam sejarah Yudea. Ia membangun Bait Allah tersebut di Yerusalem untuk menguatkan reputasinya sebagai orang Yahudi. Selain itu ketika kelaparan melanda seluruh negeri, selain uang kas kerajaan, ia juga mengeluarkan uang pribadi untuk mengatasi kelaparan bagi seluruh rakyat Yudea. Akibat dari semuanya ini maka banyak orang yang bersimpati padanya tetapi keterangan Flavius Jospehus, sejarawan Yahudi abad pertama mengatakan bahwa masih juga cukup banyak orang Yahudi yang tidak menyukainya. Sumber kebenciannya selain karena ia bukan orang Yahudi juga karena ia diangkat oleh penjajah Romawi dan menjadi kaki tangan mereka di tiap kesempatan. Oleh karena itu  Herodes selalu merasa bahwa kedudukannya tidak aman. Apalagi ia mengetahui adanya suatu harapan dalam diri banyak orang Yahudi bahwa akan datang seorang raja Yahudi yang sebenarnya, yakni Mesias. Herodes hidup penuh ketakutan. Ia takut bahwa suatu saat orang Yahudi akan melakukan pemberontakan terhadapnya. Itulah sebabnya istana tempat ia tinggal (Herodium) dibuat seperti layaknya sebuah benteng. Selain itu ia juga membangun sebuah istana dekat tepi pantai laut mati yang dikenal dengan mana ”Masada” di mana  menaranya ribuan kaki di atas gurun Yudea dengan ketinggian 3 lantai. Masada ini dilengkapi dengan gudang persenjataan, gudang makanan, dan tempat persembunyian yang sangat aman. Bukan hanya itu saja. Ketakutan Herodes yang amat kuat membuat ia membangun lebih dari 20 benteng di seluruh kerajannya di mana sinyal dapat dikirim antar benteng dengan menggunakan cermin. Semua itu menunjukkan bahwa yang ada di dalam diri Herodes adalah sebuah ketakutan yang sangat besar. Prof Todd Schultz mengatakan : ”<em>Ia punya ketakutan diserang, dikalahkan, dan diambil gelarnya. Bangunan-bangunannya berbicara langsung soal ketakutannya itu. </em></p>
<p>Ketakutan Herodes membuat ia begitu peka dan sangat curiga dengan segala sesuatu yang akan mengancam diri dan kedudukannya. Tidak segan-segan ia membunuh setiap orang yang dianggapnya mengancam diri dan kekuasaannya/kedudukannya. Itulah sebabnya perjalanan hidup Herodes sering dikenal sebagai ’perjalanan berdarah’. Suatu saat, karena takut bahwa orang Yahudi akan mendukung iparnya (adiknya Mariamme) yang bernama Aristobulus (17 tahun) yang diangkatnya menjadi Imam Besar, Herodes lalu membunuh Aristobulus dengan cara ditenggelamkan pada sebuah acara pesta kolam. Meskipun pembunuhan itu dibuat seolah kecelakaan namun Jospehus percaya bahwa Herodeslah yang membuat anak itu tenggelam. Prof. Tood Schultz menilai tindakan Herodes ini dan berkesimpulan : ”<em>Ini membuktikan 2 hal tentang Herodes. Pertama,  ia adalah paranoid. Kedua, ia mampau membunuh meski bukti yang ada kurang cukup</em>”.</p>
<p>Lima tahun kemudian terjadi pergolakan politik di Romawi di mana Mark Anthony digulingkan oleh Octavian. Ketika itu terjadi Herodes berbalik dan menyatakan kesetiaan pada Octavian. Octavian lalu menegaskan bahwa Herodes adalah raja orang Yahudi. Meskipun demikian Herodes tidak cukup yakin bahwa Octavian tulus. Ia menduga bahwa Octavian akan membunuhnya karena sudah mendukung musuhnya Mark Anthony. Sebelum menghadap Octavian, ia meninggalkan pesan rahasia bahwa jika ia mati maka isterinya Mariamme harus dibunuh. Ia tidak tahan jika melihat Mariamme bersama orang lain. Namun ternyata ia tidak dibunuh. Sekembalinya dari Octavian, hubungannya dengan Mariamme menjadi retak karena Mariamme mengetahui rencana pembunuhan atas dirinya. Mariamme tidak mau tidur dengan Herodes lagi. Ini membuat Herodes sangat marah dan akhirnya ia membawa Mariamme ke pengadilan dengan tuduhan perzinahan dengan saksi yang memberatkan Mariamme yakni Salome, adik kandung Herodes sendiri dan juga ibu Mariamme sendiri yang bernama Alexandra. Josephus melihat ini sebagai cermin di mana Herodes menguasai Alexandra. Rupanya Alexandra juga masuk dalam daftar yang akan dibunuh Herodes. Sangat mungkin Alexandra menyalahkan puterinya demi menyelamatkan dirinya sendiri. Mariamme akhirnya dibunuh mati dalam usia 25 tahun. Tragis memang karena Herodes tega membunuh isteri yang paling dicintainya yang telah memberinya 5 orang putera selama 7 tahun hidup bersama.</p>
<p>Setelah membunuh isterinya sendiri, hidup Herodes mulai berubah. Josephus memberikan keterangan : <em>”Herodes sedih karena kehilangan Mariamme. Rupanya kematian Mariamme mengoyak hati Herodes. Ia dipenuhi rasa bersalah dan menyangkali kematian Mariamme. Ia berjalan-jalan di istana dan memanggil-manggil nama Mariamme. Ia benar-benar hancur setelah kematian isterinya. Dia psikosis, sering mendengar suara-suara, dia tertekan dan tidak mampu melakukan urusan publik lagi. Ia lalu sakit parah. Perilakunya aneh dan mulai banyak minum. Ada yang menganggap dia gila. Lalu Herodes  sakit</em>”. Nah, dalam kondisi semacam ini tiba-tiba Alexsandra (ibunya Mariamme) mencoba mengambil alih pemerintahan dan mengumumkan dirinya sebagai Ratu. Ini menyebabkan Herodes marah besar dan tanpa diadili, langsung menghukum mati Alexandra. Tindakan herodes ini justru memicu lebih banyak kudeta. Pada usia 65 tahun Herodes mendengar bahwa 2 orang puteranya (anak Mariamme) yakni Alexander dan Aristobulus berencana membunuhnya dan merebut kerajaan. Ini adalah kedua anak dari wanita yang sangat dicintainya. Herodes akhirnya menghukum mati 2 anaknya itu. Selanjutnya di tahun 4 SM, hanya 5 hari sebelum Herodes mati, ia membasmi komplotan yang dipimpin puteranya Antipater (anak sulungnya) yang diperolehnya dari isteri pertamanya (Doris).  Antipater akhirnya dibunuh juga oleh Herodes. Herodes akhirnya mati pada usia 70 tahun dan dikubur di istana gurunnya, Herodium.</p>
<p>Itulah kehidupan Herodes. Ia adalah orang yang dalam hidupnya penuh ketakutan dan ia tega melakukan apa saja demi mempertahankan kedudukannya. Ia membunuh adik iparnya sendiri, isterinya, mertuanya dan juga anak-anak kandungnya sendiri. Kesadisan Herodes membuat sampai-sampai Kaisar Agustus pernah mengeluarkan kalimat yang akhirnya menjadi populer pada saat itu yakni : “<strong><em>Lebih baik menjadi babinya Herodes daripada menjadi anaknya Herodes</em></strong>”. (Ket : Dalam bahasa Yunani, kata “<em>anak laki-laki</em>” adalah <strong>HUIOS</strong>, sedangkan kata “<em>babi</em>” adalah <strong>HUOS</strong>, sehingga dalam bahasa Yunani kata-kata di atas itu membentuk syair yang indah). Mengapa muncul kalimat demikian? Karena Herodes, demi menghargai dan meraih simpati orang Yahudi, tidak makan babi. Jadi dapat dipastikan babi-babi waktu itu aman dan tidak akan dipotong. Tetapi anak-anak Herodes sungguh-sungguh tidak aman. Mereka dibunuh dan dipotong dengan kejam. Ya, tepat sekali, “<strong><em>Lebih baik menjadi babinya Herodes daripada menjadi anaknya Herodes”. </em></strong><strong><em>Bersambung&#8230;..</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airhidup.info/wp/orang-orang-dalam-kisah-natal-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bapa yang Mengampuni</title>
		<link>http://airhidup.info/wp/bapa-yang-mengampuni/</link>
		<comments>http://airhidup.info/wp/bapa-yang-mengampuni/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 02:56:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://airhidup.info/wp/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[Lukas 15:11-32
Esra A Soru
Kalau kita bertanya ‘siapa lakon (tokoh utama) dalam cerita anak yang terhilang ini? Maka jawabannya bukanlah anak bungsu atau anak sulung melainkan ‘Bapanya’. Memang, bapa itulah yang merupakan lakon dalam perumpamaan ini, karena penekanan utama dari perumpamaan ini adalah untuk menunjukkan sikap Allah kepada orang berdosa yang bertobat. Karena itu mari kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Lukas 15:11-32</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Esra A Soru</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kalau kita bertanya ‘siapa lakon (tokoh utama) dalam cerita anak yang terhilang ini? Maka jawabannya bukanlah anak bungsu atau anak sulung melainkan ‘Bapanya’. Memang, bapa itulah yang merupakan lakon dalam perumpamaan ini, karena penekanan utama dari perumpamaan ini adalah untuk menunjukkan sikap Allah kepada orang berdosa yang bertobat. Karena itu mari kita sekarang menyoroti sikap bapa ini.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">1.<span style="white-space: pre;"> </span>Bapa ini Menunggu-nunggu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Dari mana kita bisa melihat hal itu? Dari ayat 20 yang mengatakan :</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya. &#8230;Ayahnya itu berlari mendapatkan dia”.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Di surat kabar kita sering membaca ada orang tua, yang karena anaknya yang kurang ajar / meninggalkannya, lalu menulis bahwa mulai hari itu mereka tidak bertanggung jawab atas perbuatan anak itu. Tetapi bapa dalam perumpamaan ini tidaklah demikian. Bahkan mungkin sekali sejak kepergian anak bungsunya itu, bapa ini sering melihat ke arah jalanan, sambil mengharap kembalinya anak bungsunya ini. Karena itu pada waktu anak bungsu itu masih jauh, bapa itu telah melihatnya, dan lalu lari mendapatkannya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Apakah saudara adalah orang berdosa yang belum pernah sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, atau apakah saudara adalah orang Kristen sejati yang telah menjauhkan diri dari Tuhan, ingatlah bahwa Bapa yang mencintai saudara itu menunggu-nunggu kedatangan/pertobatan saudara! Ia ingin saudara datang / kembali kepada Dia. Maukah saudara mengecewakan Dia, atau maukah saudara datang / kembali kepada Dia?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">2.<span style="white-space: pre;"> </span>Bapa ini Tergerak oleh Belas Kasihan (ayat 20a).</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sang bapa ini melihat keadaan anaknya yang mungkin sekali kurus, kotor, berpakaian compang camping, dan hatinya tergerak oleh belas kasihan. Puji Tuhan bahwa Allah itu mempunyai belas kasihan kepada manusia berdosa. Ini menyebabkan Ia memberikan kasih karunia, yaitu hal baik yang sama sekali tidak layak kita dapatkan, kepada kita yang adalah manusia berdosa. Andaikata Allah selalu menemui orang berdosa dengan keadilan, celakalah kita! Tetapi Dia tidak demikian! Karena itu janganlah takut untuk bertobat dan datang / kembali kepada Dia.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Maz 103:8-9 &#8211; “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita”.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kata-kata yang saya garisbawahi itu akan menunjukkan bahwa Allah tidak adil, andaikata Yesus tidak pernah menderita dan mati untuk menebus dosa kita! Tetapi dengan adanya penebusan Kristus terhadap dosa-dosa kita, Allah bisa melakukan hal itu dan tetap adil. Allah bisa mengampuni / tidak menghukum orang berdosa karena Yesus sudah membayar hutang dosa itu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">3.<span style="white-space: pre;"> </span>Bapa itu Lari Mendapatkan Anaknya, Merangkul dan Mencium Dia (ayat 20b).</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ia berlari. Ia tidak berjalan perlahan-lahan atau menunggu anaknya yang datang kepadanya, tetapi ia lari kepada anaknya. Ini menunjukkan kerinduan yang luar biasa kepada anaknya. Ia juga merangkul dan mencium anaknya padahal anaknya mungkin sekali berbau babi. Kata Yunani yang diterjemahkan ‘mencium’ sebetulnya berarti ‘kissed fervently’ (= mencium dengan keras / sungguh-sungguh). Jadi bapa itu tidak mencium asal-asalan (seperti ciuman antara suami istri yang sudah saling bosan), tetapi mencium dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang penuh kasih.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Dari semua ini jelas terlihat bahwa bapa itu tidak jual mahal dalam menerima anaknya kembali. Ia juga tidak memberikan persyaratan-persyaratan lebih dahulu sebelum menerima kembali anaknya. Bandingkan ini dengan ajaran Roma Katolik, yang kalau pastornya memberikan pengampunan dosa, selalu memberikan ‘semacam hukuman’ (acts of penance) yang harus dilakukan lebih dulu oleh orang yang minta ampun dosa. Selanjutnya ia menerima kembali anaknya dengan tangan terbuka, padahal anaknya ragu-ragu apakah bapanya mau menerimanya kembali atau tidak (ia minta diterima sebagai hamba, karena merasa tidak layak menjadi anak  (ay 19, 21).</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kalau saudara ragu-ragu apakah Allah mau menerima saudara atau tidak, maka sadarilah bahwa semua keraguan itu datang dari setan! Allah pasti mau menerima semua orang yang bertobat / datang kepadaNya melalui Kristus.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Yoh 6:37 &#8211; “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang”.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">4.<span style="white-space: pre;"> </span>Bapa itu Tidak Lagi Mengingat-ingat Dosa Anak Bungsu itu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Dalam ayat 21 anak bungsu itu mengakui dosa, tetapi jawaban bapa dalam ayat 22 sama sekali tidak menyinggung-nyinggung dosa anak bungsu itu. Di sinilah terletak keindahan kasih Allah! Kalau kita manusia mengampuni seseorang, kita masih mengingat kesalahan orang itu. Tetapi kalau Bapa mengampuni kesalahan kita, Ia tidak mengingat-ingatnya lagi!</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Yes 43:25 &#8211; “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu”.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Mikha 7:19 &#8211; “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kembali kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut”.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">5.<span style="white-space: pre;"> </span>Bapa itu Menerima Anak Bungsu itu Sebagai Anak.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ini terlihat dari ayat 18b-19 di mana anak itu merencanakan untuk berkata :</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Tetapi dalam ayat 21 ia baru mengucapkan :</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa”.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sebelum ia mengucapkan kata-kata “jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”, bapanya sudah memotong kata-katanya. Bapanya tidak mau mendengarkan kata-kata yang berhubungan dengan ketidaklayakkan anak itu menjadi anak. Mengapa? Jelas karena ia mau menerimanya sebagai anak.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Yoh 1:12 &#8211; “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya”.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Selain itu ini juga terlihat dari tindakan bapa itu yang lalu memerintahkan supaya anak itu diberi jubah, cincin dan sepatu (ay 22). Bapa itu menyuruh memberi jubah (bukan koteka) yang adalah tanda kehormatan (Ester 6:8-9). Bapa itu menyuruh memberi cincin, yang merupakan pemberian otoritas (Ester 3:10  8:2). Bapa itu menyuruh memberi sepatu (ini seharusnya adalah ‘sandal’). Perlu diketahui bahwa seorang hamba selalu telanjang kaki. Semua pemberian ini menunjukkan secara jelas bahwa Bapa itu menerima anak itu sebagai anak.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">6.<span style="white-space: pre;"> </span>Bapa itu Mengadakan Pesta (ayat 23-24 ; band. Luk 15:7,10).</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kalau saudara adalah orang berdosa yang belum pernah datang kepada Kristus, datanglah sekarang juga kepada Bapa melalui Yesus Kristus yang adalah satu-satunya Penebus, Juruselamat dan Pengantara antara Allah dan manusia! Dia pasti menerima saudara! Kalau saudara adalah orang Kristen yang sudah menjauh dari Tuhan, bertobatlah dan kembalilah kepadaNya. Ia pasti mau menerima saudara!</div>
<p><em>Lukas 15:11-32</em></p>
<p><em><strong>Esra A Soru</strong></em></p>
<p>Kalau kita bertanya ‘<em>siapa lakon (tokoh utama) dalam cerita anak yang terhilang ini?</em> Maka jawabannya bukanlah anak bungsu atau anak sulung melainkan ‘Bapanya’. Memang, bapa itulah yang merupakan lakon dalam perumpamaan ini, karena penekanan utama dari perumpamaan ini adalah untuk menunjukkan sikap Allah kepada orang berdosa yang bertobat. <span id="more-491"></span>Karena itu mari kita sekarang menyoroti sikap bapa ini.</p>
<p><strong>1.</strong><span style="white-space: pre;"><strong> </strong></span><strong>Bapa ini Menunggu-nunggu.</strong></p>
<p>Dari mana kita bisa melihat hal itu? Dari ayat 20 yang mengatakan :</p>
<blockquote><p><em>“Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya. &#8230;Ayahnya itu berlari mendapatkan dia”.</em></p></blockquote>
<p>Di surat kabar kita sering membaca ada orang tua, yang karena anaknya yang kurang ajar / meninggalkannya, lalu menulis bahwa mulai hari itu mereka tidak bertanggung jawab atas perbuatan anak itu. Tetapi bapa dalam perumpamaan ini tidaklah demikian. Bahkan mungkin sekali sejak kepergian anak bungsunya itu, bapa ini sering melihat ke arah jalanan, sambil mengharap kembalinya anak bungsunya ini. Karena itu pada waktu anak bungsu itu masih jauh, bapa itu telah melihatnya, dan lalu lari mendapatkannya.</p>
<p>Apakah saudara adalah orang berdosa yang belum pernah sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, atau apakah saudara adalah orang Kristen sejati yang telah menjauhkan diri dari Tuhan, ingatlah bahwa Bapa yang mencintai saudara itu menunggu-nunggu kedatangan/pertobatan saudara! Ia ingin saudara datang / kembali kepada Dia. Maukah saudara mengecewakan Dia, atau maukah saudara datang / kembali kepada Dia?</p>
<p><strong>2.</strong><span style="white-space: pre;"><strong> </strong></span><strong>Bapa ini Tergerak oleh Belas Kasihan (ayat 20a).</strong></p>
<p>Sang bapa ini melihat keadaan anaknya yang mungkin sekali kurus, kotor, berpakaian compang camping, dan hatinya tergerak oleh belas kasihan. Puji Tuhan bahwa Allah itu mempunyai belas kasihan kepada manusia berdosa. Ini menyebabkan Ia memberikan kasih karunia, yaitu hal baik yang sama sekali tidak layak kita dapatkan, kepada kita yang adalah manusia berdosa. Andaikata Allah selalu menemui orang berdosa dengan keadilan, celakalah kita! Tetapi Dia tidak demikian! Karena itu janganlah takut untuk bertobat dan datang / kembali kepada Dia.</p>
<blockquote><p>Maz 103:8-9 &#8211; <em>“TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak selama-lamanya Ia mendendam. <strong><span style="text-decoration: underline;">Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita</span></strong>”.</em></p></blockquote>
<p>Kata-kata yang saya garisbawahi itu akan menunjukkan bahwa Allah tidak adil, andaikata Yesus tidak pernah menderita dan mati untuk menebus dosa kita! Tetapi dengan adanya penebusan Kristus terhadap dosa-dosa kita, Allah bisa melakukan hal itu dan tetap adil. Allah bisa mengampuni / tidak menghukum orang berdosa karena Yesus sudah membayar hutang dosa itu.</p>
<p><strong>3.</strong><span style="white-space: pre;"><strong> </strong></span><strong>Bapa itu Lari Mendapatkan Anaknya, Merangkul dan Mencium Dia (ayat 20b).</strong></p>
<p>Ia berlari. Ia tidak berjalan perlahan-lahan atau menunggu anaknya yang datang kepadanya, tetapi ia lari kepada anaknya. Ini menunjukkan kerinduan yang luar biasa kepada anaknya. Ia juga merangkul dan mencium anaknya padahal anaknya mungkin sekali berbau babi. Kata Yunani yang diterjemahkan ‘mencium’ sebetulnya berarti ‘<em>kissed fervently</em>’ (= mencium dengan keras / sungguh-sungguh). Jadi bapa itu tidak mencium asal-asalan (seperti ciuman antara suami istri yang sudah saling bosan), tetapi mencium dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang penuh kasih.</p>
<p>Dari semua ini jelas terlihat bahwa bapa itu tidak jual mahal dalam menerima anaknya kembali. Ia juga tidak memberikan persyaratan-persyaratan lebih dahulu sebelum menerima kembali anaknya. Bandingkan ini dengan ajaran Roma Katolik, yang kalau pastornya memberikan pengampunan dosa, selalu memberikan ‘semacam hukuman’ <em>(acts of penance</em>) yang harus dilakukan lebih dulu oleh orang yang minta ampun dosa. Selanjutnya ia menerima kembali anaknya dengan tangan terbuka, padahal anaknya ragu-ragu apakah bapanya mau menerimanya kembali atau tidak (ia minta diterima sebagai hamba, karena merasa tidak layak menjadi anak  (ay 19, 21).</p>
<p>Kalau saudara ragu-ragu apakah Allah mau menerima saudara atau tidak, maka sadarilah bahwa semua keraguan itu datang dari setan! Allah pasti mau menerima semua orang yang bertobat / datang kepadaNya melalui Kristus.</p>
<blockquote><p>Yoh 6:37 -<em> “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang”.</em></p></blockquote>
<p><strong>4.</strong><span style="white-space: pre;"><strong> </strong></span><strong>Bapa itu Tidak Lagi Mengingat-ingat Dosa Anak Bungsu itu.</strong></p>
<p>Dalam ayat 21 anak bungsu itu mengakui dosa, tetapi jawaban bapa dalam ayat 22 sama sekali tidak menyinggung-nyinggung dosa anak bungsu itu. Di sinilah terletak keindahan kasih Allah! Kalau kita manusia mengampuni seseorang, kita masih mengingat kesalahan orang itu. Tetapi kalau Bapa mengampuni kesalahan kita, Ia tidak mengingat-ingatnya lagi!</p>
<blockquote><p>Yes 43:25 &#8211; <em>“Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu”.</em></p></blockquote>
<blockquote><p>Mikha 7:19 -<em> “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kembali kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut”.</em></p></blockquote>
<p><strong>5.</strong><span style="white-space: pre;"><strong> </strong></span><strong>Bapa itu Menerima Anak Bungsu itu Sebagai Anak.</strong></p>
<p>Ini terlihat dari ayat 18b-19 di mana anak itu merencanakan untuk berkata :</p>
<blockquote><p><em>“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, <strong><span style="text-decoration: underline;">aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa</span></strong>” </em></p></blockquote>
<p>Tetapi dalam ayat 21 ia baru mengucapkan :</p>
<blockquote><p><em>“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, <strong><span style="text-decoration: underline;">aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa</span></strong>”. </em></p></blockquote>
<p>Sebelum ia mengucapkan kata-kata “<em>jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa</em>”, bapanya sudah memotong kata-katanya. Bapanya tidak mau mendengarkan kata-kata yang berhubungan dengan ketidaklayakkan anak itu menjadi anak. Mengapa? Jelas karena ia mau menerimanya<span style="text-decoration: underline;"> sebagai anak</span>.</p>
<blockquote><p>Yoh 1:12 &#8211; <em>“Tetapi semua orang yang menerimaNya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya”.</em></p></blockquote>
<p>Selain itu ini juga terlihat dari tindakan bapa itu yang lalu memerintahkan supaya anak itu diberi jubah, cincin dan sepatu (ay 22). Bapa itu menyuruh memberi jubah (bukan koteka) yang adalah tanda kehormatan (Ester 6:8-9). Bapa itu menyuruh memberi cincin, yang merupakan pemberian otoritas (Ester 3:10  8:2). Bapa itu menyuruh memberi sepatu (ini seharusnya adalah ‘sandal’). Perlu diketahui bahwa seorang hamba selalu telanjang kaki. Semua pemberian ini menunjukkan secara jelas bahwa Bapa itu menerima anak itu sebagai anak.</p>
<p><strong>6.</strong><span style="white-space: pre;"><strong> </strong></span><strong>Bapa itu Mengadakan Pesta (ayat 23-24 ; band. Luk 15:7,10).</strong></p>
<p>Kalau saudara adalah orang berdosa yang belum pernah datang kepada Kristus, datanglah sekarang juga kepada Bapa melalui Yesus Kristus yang adalah satu-satunya Penebus, Juruselamat dan Pengantara antara Allah dan manusia! Dia pasti menerima saudara! Kalau saudara adalah orang Kristen yang sudah menjauh dari Tuhan, bertobatlah dan kembalilah kepadaNya. Ia pasti mau menerima saudara!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://airhidup.info/wp/bapa-yang-mengampuni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
