Kejadian 4:1-16
By. Nehemia Soru
Ayat Renungan :
“Firman Tuhan kepada kain : “Di mana Habel, adikmu itu?”
Jawabnya “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?”
Dalam kitab Kejadian pasal 4, ada cerita tentang kakak beradik : Kain dan Habel. Dalam diri kedua orang ini terdapat dua sifat atau tipe yang berbeda. Kain adalah seorang petani, dan karena itu sudah tentu ia harus bekerja dengan banyak mengeluarkan tenaga. Ia harus berusaha untuk membuat alat-alat pertanian. Ia harus berusaha agar panen dapat dilakukan tepat pada waktunya dengan hasil yang sebaik-baiknya. Kain adalah lambang orang yang kuat dan berkuasa.
Berbeda dengan Kain, Habel adalah seorang gembala. Sebagai seorang gembala ia tidak perlu memeras keringat, tak perlu mencangkul atau menebang. Ia tidak perlu berusaha membuat peralatan-peralatan pertanian. Pekerjaan seorang gembala lebih bersifat pasif. Ia tak bisa berusaha agar ternaknya bertambah banyak. Bertambahnya ternak Habel bukanlah bergantung kepadanya. Ia tidak bisa menjadi “produser” ternak. Ia hanya bisa menunggu dan menerima saja berapa banyak domba yang lahir dari domba-domba betinanya, Oleh karena itu Habel adalah lambang orang lemah.
Pada suatu hari mereka membakar korban, dan konon Allah hanya menerima korban Habel si lemah itu. Kain begitu marah dan akhirnya ia membunuh Habel adiknya itu. Ketika Allah bertanya kepadanya “Hai Kain, di mana Habel, adikmu itu?” Kain menjawab “Entahlah! Apakah aku penjaga adikku?”
Dalam pertanyaan Allah ini, bukan semata-mata Ia bertanya melainkan Ia meminta pertanggungjawaban dari Kain. Justru karena itu bila pertanyaan Allah itu datang pada kita berarti Allah meminta pertanggungjawaban kita terhadap diri kita sendiri dan sesama kita yang adalah gambar atau peta bersama. Yang kuat bertanggungjawab atas yang lemah. Adanya yang kuat bukanlah untuk menekan yang lemah tetapi justru untuk melindunginya. Kain mempunyai fisik yang lebih kuat agar ia bisa menolong adiknya yang lemah. Kekuatan itu adalah hak istimewa yang tak boleh salah digunakan. Namun rupanya Kain pura-pura tidak tahu apa-apa tentang adiknya. Ia tidak merasa bertanggung terhadap kehidupan adiknya. Ia menolak tanggung jawab itu. Katanya “Aku tidak tahu, aku bukan penjaga adikku”, padahal mereka bersaudara, mereka tinggal berdekatan bahkan mungkin tinggal bersama, mereka berjalan bersama, bermain dan bersenda gurau bersama. Jawaban Kain itu seolah-olah Habel adalah orang asing. Kain mempunyai sikap hidup masa bodoh. Ia tidak mau tahu apa yang telah diperbuatnya terhadap Habel adiknya. Itulah gambaran hidup antara si kuat dan si lemah, hidup saya dan saudara.
Hidup kita adalah sama halnya dengan hidup Kain dan Habel atau hidup si kuat dan si lemah. Sebenarnya Allah mengaruniakan hidup ini kepada kita supaya kita saling menolong satu sama lain, saling mendengar satu sama lain, saling berbicara satu sama lain dan saling bertanggung jawab satu sama yang lain sama seperti Kain harus bertanggung jawab atas habel adiknya.
Akan tetapi kenyataannya yang kita jumpai adalah kehidupan yang masa bodoh dan tidak mau tahu-menahu dengan orang lain. Banyak kali si kuat menginjak si lemah. Si kuat tak mau peduli akan si lemah, bahkan dalam mencari nafkah di dunia ini pun saling sikut-menyikut padahal menjadi manusia berarti saling berbicara, saling mendengar, saling melayani dan saling bertanggung jawab. Bukankah banyak kali kita jumpai bahwa di antara sesama saudara sendiri tak ada saling bicara dan saling mendengar? Bukankah di antara sesama saudara sendiri ada dendam dan iri hati? Hal semacam ini sesungguhnya bukanlah fungsi hidup manusia Allah tidak menghendaki sikap hidup semacam ini.
Allah ingin agar setiap manusia memelihara persekutuan dengan sesamanya. Allah lebih bersukacita kalau melihat umat-Nya memupuk persekutuan, persekutuan dengan dan di dalam Kristus Yesus dan bukanlah persekutuan seperti rombongan demonstran. Persekutuan itu bukanlah seperti bebek yang cuma berteriak secara seragam namun di hatinya penuh dengan dendam dan iri hati. Persekutuan yang diinginkan oleh Allah adalah persekutuan hati, persekutuan yang sejati yang di dalamnya setiap orang diterima dan dihargai sebagai orang merdeka yang mempunyai dan bebas mengeluarkan pendapat kendatipun pendapat itu berbeda dengan pendapat kebanyakan orang. Persekutuan itu adalah persekutuan di mana setiap orang mempunyai tanggung jawab masing-masing namun juga saling bertanggung jawab. Aku bertanggung jawab atas perbuatanku, aku bertanggung jawab atas perbuatan orang lain dan aku bertanggung jawab atas apa yang bisa kuperbuat bagi orang lain. Dengan perbuatan yang demikian seorang barulah menjadi “aku” bagi dirinya. Begitulah juga manusia, barulah sungguh-sungguh menjadi manusia kalau ia hidup dalam persekutuan dengan yang lain, kalau ia belajar berpikir bersama, hidup bersama-sama dan bertanggung jawab menjaga sejahtera orang lain.
Kita semua maklum bahwa dunia dewasa ini membutuhkan cara berpikir inklusif yakni kesadaran bahwa kesejahteraan atau kebahagiaan dan kemakmuran hidup tidak mungkin didapat dengan hanya memikirkan kesejahteraan pribadi. Semuanya itu hanya mungkin kalau serempak memikirkan kesejahteraan bersama. Hidup sejahtera dan makmur datang dari adanya persekutuan. Tanpa persekutuan maka kemakmuran tidak berlaku.
Tuhan tidak menciptakan kita sebagai manusia yang hidup menyendiri, terpisah atau terlepas satu sama lainnya melainkan sebagai manusia dalam persekutuan, dalam kebersamaan. Gambar manusia adalah gambar bersama. Allah menempatkan kita di sisi orang lain supaya kita menjadi berkat baginya. Adanya yang kuat supaya dapat menolong dan mengangkat yang lemah. Adanya yang kaya adalah untuk menolong yang miskin dan kekurangan. Adanya yang besar adalah untuk melindungi yang kecil. Sesungguhnya menjadi manusia adalah suatu fungsi menunggu saudaranya.
Kain menolak mentah-mentah tanggung jawab terhadap adiknya dengan berkata “Aku bukan penunggu adikku. “Aku bukan gembala Habel”. Ini adalah sebuah jawaban yang sangat ngeri, namun kita jangan dulu terlalu cepat mempersalahkan Kain. Coba kita periksa diri kita masing-masing. Kain melakukan semuanya itu karena ia tidak ingin ada orang lain yang lebih daripadanya. Demikian juga dengan kita. Bukankah kita sama seperti Kain dalam bidang ekonomi, politik, dalam hal mencari nafkah? Entah kita sadar atau tidak sebenarnya kita adalah penunggu orang lain. Kakak adalah penunggu adik, kakak adalah pengawal adik dan kakak adalah pelindung adik di masa masih hidup di dunia ini. Oleh sebab itu setiap saat Tuhan selalu bertanya kepada kita di manakah saudara kita berada? Apa yang akan kita jawab? Apakah jawaban yang akan kita berikan sama dengan jawaban Kain bahwa kita bukanlah penunggu orang lain?
Hidup kita tidak pernah terlepas dari dan dengan orang lain karena pada dasarnya hidup itu bersifat relasional. Justru karena itu adalah lebih baik bagi kita untuk membunuh pikiran-pikiran kita yang tidak baik dan pikiran-pikiran yang mementingkan diri sendiri daripada kita membunuh orang lain seperti Kain membunuh adiknya. Semoga firman ini dapat menyadarkan kita dan mengajarkan kepada kita cara membangun persekutuan hidup antara satu dengan yang lain.