Allah menginginkan agar kita sebagai umat-Nya mempunyai hati yang melekat kepada-Nya. Dengan hati yang melekat kepada-Nya maka kita akan dapat mengerti dan memahami hati-Nya, kehendak-Nya dan rencana-Nya bagi kita sehingga kita dapat hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya itu dan dengan demikian kita dapat menyenangkan hati-Nya.
Namun harus diakui bahwa hari-hari hidup kita kebanyakan tidak menyenangkan hati-Nya malah menyakiti hati suci-Nya Mengapa? Sebab hati kita tidak melekat kepada-Nya. Hati kita sementara melekat kepada hal yang lain.
Apakah hal yang lain yang kepadanya hati kita melekat? Pengalaman membuktikan bahwa biasanya hati manusia melekat kepada 3 hal :
1. Kadang hati kita melekat kepada harta.
Ada begitu banyak orang yang hatinya tidak melekat kepada Allah melainkan kepada harta. Jika hati sampai melekat kepada harta maka semua orientasi hidup hanya tertuju pada suatu hal yaitu harta. Waktu kerja, waktu makan, waktu tidur, yang dipikirkan adalah harta. Semua waktu dalam hidup ini hanyalah untuk harta sehingga orang mulai lupa berbakti kepada Tuhan dan lupa bersekutu dengan sesamanya. Jika harta tidak ada atau kehilangan harta maka ada dua hal yang mungkin terjadi : Pertama : akan terjadi stres atau frustrasi yang sangat dalam, bahkan tidak mustahil dapat sampai pada tindakan bunuh diri. Kedua : akan menempuh jalan yang keliru untuk menghasilkan harta seperti korupsi, mencuri, merampok, menipu dan lain sebagainya. Orang semacam ini tidak akan pernah puas dalam hidupnya. Jika hartanya sedikit, ia ingin yang banyak. Jika sudah banyak, ingin yang lebih banyak lagi, demikian seterusnya dan seterusnya. Mengapa? Karena pada hartalah hatinya dilekatkan.
Isteri Lot gagal diselamatkan dan menjadi tiang garam karena apa? Bukan karena matanya yang menoleh dan memandang hartanya, tetapi karena mata hatinya telah melekat kepada hartanya yang tertinggal di Sodom dan Gomora. Tubuhnya telah keluar dari Sodom dan Gomora, namun hatinya tetap tinggal di sana bersama dengan harta bendanya. Ia telah keluar dari Sodom dan Gomora namun Sodom dan Gomora tidak keluar dari dirinya. Yesus berkata kepada seorang muda yang kaya : “….sebab di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”.
2. Kadang hati kita melekat kepada orang-orang yang kita kasihi
Tak dapat dipungkiri bahwa di dalam hidup ini ada orang-orang tertentu yang begitu kita kasihi lebih dari segala sesuatu bahkan lebih daripada Tuhan sehingga tanpa kita sadari ternyata hati kita telah melekat kepada mereka. Mungkin mereka adalah orang tua kita, pacar, anak, teman atau siapa saja. Hati kita begitu melekat kepada mereka sehingga kita lebih memilih untuk menyenangkan hati mereka daripada menyenangkan hati Tuhan. Kita lebih memilih untuk memenuhi keinginan mereka daripada taat kepada kehendak Tuhan.
Abraham telah memberikan teladan yang baik bagi kita. Walaupun Ia begitu mengasihi anaknya Ishak, namun hatinya tetap melekat kepada Allah. Hatinya dan hati Allah tidak dapat dipisahkan. Karena itu ketika Allah meminta mengorbankan Ishak bagi-Nya, ia tidak ragu-ragu untuk menyerahkannya. Ia memang mengasihi Ishak, namun ia tidak mau kehadiran Ishak memisahkan hatinya dari hati Tuhan. Adakah hatimu sementara melekat kepada seseorang yang justru hal itu membuat hatimu jauh dari hati Allah?
3. Kadang hati kita melekat kepada kebiasaan-kebiasaan tertentu
Selain pada harta dan pada orang-orang tertentu, hati kita juga dapat melekat kepada kebiasaan-kebiasaan tertentu. Kita begitu mencintai kebiasaan-kebiasaan itu sehingga tanpa kita sadari kebiasaan itu memisahkan hati kita dari hati Tuhan. Kebiasaan semacam ini terbagi ke dalam dua kategori : Pertama : Kebiasaan yang “berbau” dosa. Kita lebih mencintai dan mengasihi dosa kita sehingga kita enggan melepaskannya. Hati kita telah melekat kepada dosa itu. Jadi dosa adalah kasih yang salah sasaran. Dosa adalah mengasihi apa yang seharusnya tidak dikasihi dan tidak mengasihi apa yang seharusnya dikasihi. Kedua : Kebiasaan yang netral. Maksudnya adalah kebiasaan yang berhubungan dengan hobi atau kegemaran kita seperti nonton TV, sepak bola, dan hal lain yang sejenis. Memang ini bukan dosa, tetapi jika hati kita telah melekat kepadanya maka kebiasaan ini dapat membawa kita kepada dosa. Kita telah menjadikan kebiasaan itu menjadi berhala bagi kita. Berhala zaman modern ini bukanlah sesuatu yang kita taruh pada meja persembahan dan sujud menyembah kepadanya melainkan apa yang kita ingini secara berlebihan sehingga memisahkan hati kita dari hati Tuhan. Menonton TV bukanlah dosa tapi jika kebiasaan itu memisahkan kita dari Tuhan maka menonton TV menjadi berhala bagi kita. Demikian juga dengan hobi-hobi kita yang lain. Adakah kebiasaan tertentu yang memisahkan hatimu dari hati-Nya?