Iman Yang Dewasa

Khotbah
2 Tim 3:10-17
Esra Soru

2 Tim 3:10-17 – (10) Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. (11) Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya. (12) Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, (13) sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan. (14) Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. (15) Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. (16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
Dulu saya kecil dan sekarang menjadi besar. Dulu anda adalah bayi dan sekarang adalah seorang pemuda atau pemudi atau mungkin dulu anda adalah anak-anak, pernah menjadi pemuda dan sekarang menjadi tua. Semua proses itulah yang disebut sebagai proses kedewasaan di mana kita “bergerak” dari belum dewasa menjadi agak dewasa (ABG = Anak Baru Gede) dan akhirnya menjadi dewasa bahkan pasca dewasa (tua).
Masalah kedewasaan tidak hanya terjadi dalam dunia manusia tetapi terjadi juga dalam dunia tumbuhan dan binatang. Saya memelihara seekor anjing dari kecil, dan saya mengenalnya dengan baik. Nero namanya. Ia adalah anjing yang sopan dan sangat manja. Ia dididik dalam peri kebinatangan yang baik. Sewaktu kecil ia senang dekat dengan saya, bahkan saking senangnya ia sampai mengabaikan teman-teman cewek yang datang mengunjunginya. Tetapi apa yang terjadi beberapa waktu kemudian sungguh mengagetkan saya. Saya menangkap basah si Nero sementara memperkosa seekor teman “ceweknya”. Saya marah padanya tapi juga berpikir “mengapa si Nero bertindak seperti itu?” “Apakah dia sudah tidak tahu perikebinatangan?” Tetapi lepas dari semuanya itu saya sadar bahwa sekarang Nero telah dewasa. Karena ia dewasa maka ia bisa memperkosa. Itulah cerita seorang teman kepada saya tentang anjingnya. Jika demikian mau diakui atau tidak, bisa dimengerti atau tidak, kita semua pernah mendengar, melihat dan mengalami suatu proses atau gejala kedewasaan.
Lebih jauh lagi tentang masalah kedewasaan ini, maka ada dua hal yang berkenaan dengannya yakni :
Kedewasaan itu adalah sesuatu yang normal dan natural.
Adalah wajar jika seseorang atau sesuatu bertumbuh dari tidak dewasa menjadi agak dewasa dan akhirnya menjadi dewasa. Pertumbuhan atau proses ini adalah sesuatu yang alamiah, sesuatu yang bersifat natural dan normal.
Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi kedewasaan, namun salah satu faktor yang penting adalah waktu. Jika menurut ukuran waktu seharusnya sesuatu sudah menjadi dewasa tetapi ternyata masih kanak-kanak, maka fenomena ini  menyatakan bahwa sebenarnya ada ketidakberesan dalam diri  sesuatu itu. Ada sesuatu di dalam sesuatu itu. Ada yang tidak normal. Bayangkanlah jika seseorang telah berumur 20 tahun tapi masih minta digendong ibunya ke sana kemari. Bagaimana tanggapan anda? Ini pasti ada ketidakberesan, entah pada otaknya atau jiwanya atau apa saja. Tapi yang pasti ini tidak normal.
Kedewasaan itu tidak bisa dipaksakan
Ini masih mempunyai hubungan dengan sifat natural dari kedewasaan itu di mana seseorang atau sesuatu tidak bisa dipaksa menjadi dewasa sebab kedewasaan itu bertumbuh secara natural. Jika tidak ada ketidakberesan maka seseorang atau sesuatu pasti akan menjadi dewasa dengan sendirinya, tidak usah dipaksa. Sesuatu yang seharusnya menurut ukuran waktu belum dewasa tetapi sudah dewasa juga tidak normal. Pasti ada yang tidak beres juga, entah pada otak maupun jiwanya.
Cobalah lihat kenyataan akhir-akhir ini. Anak-anak SD usia sepuluh hingga sebelas tahun sudah tahu tentang liku-liku seks. Mengapa? Karena mereka sudah dibiasakan menonton film-film porno dan hal-hal sejenis. Mereka terlalu cepat dewasa.  Lingkungan, situasi atau kondisilah yang memaksa mereka. Mereka laksana buah yang matang sebelum waktunya. Ini tidak normal.
Itulah dua hal yang harus diperhatikan tentang masalah kedewasaan. Jika kita menghubungkannya dengan masalah kedewasaan iman maka hal inipun berlaku. Engkau telah mengikut Tuhan cukup lama tetapi imanmu masih tetap iman kanak-kanak maka tentu ada yang tidak beres dalam imanmu. Atau mungkin sebaliknya engkau baru mengikut Tuhan beberapa bulan saja tetapi mau berpura-pura dewasa atau melakukan pekerjaan orang Kristen dewasa yang bersifat esensial dan fundamental seperti mengajar, berkhotbah, dll. Ini juga tidak beres. Engkau perlu belajar dan menjadi dewasa serta berpengalaman dalam hal ikhwal iman supaya khotbah dan pengajaranmu tidak hanya bersifat teoritis dan menyesatkan.
Terus terang saja belakangan ini ada begitu banyak orang yang baru saja bertobat lalu memaksa diri menjadi dewasa dan sudah berani melakukan pekerjaan orang dewasa seperti mengajar serta  berkhotbah tentang hal-hal yang fundamental dalam doktrin Kristiani. Ini sebuah fenomena ketidakberesan. Lebih tidak beres lagi adalah kita lebih menyukai hal-hal yang bersifat spektakuler dan entertaiment daripada hal-hal yang bersifat natural. Bukankah banyak di antara kita yang lebih tertarik dan berbondong-bondong untuk menyaksikan dan mendengar-kan khotbah seorang artis atau seorang haji yang baru saja bertobat beberapa bulan dan bersikap acuh-tak acuh terhadap seseorang yang sejak dari kecil telah menjadi percaya dan telah belajar pada lembaga pendidikan teologia yang bermutu? Kita lebih senang mendengarkan seorang bayi rohani daripada seorang yang telah dewasa secara rohani. Mungkinkah ini juga suatu gejala ketidakdewasaan? Kita dituntut untuk menjadi dewasa secara wajar dan normal. Kita tidak boleh tetap menjadi bayi rohani, tetapi kita juga tidak boleh memaksa diri atau berpura-pura sebagai orang yang telah dewasa imannya padahal menurut ukuran waktu kita adalah bayi-bayi rohani.
Lepas dari semuanya itu, tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa Allah menginginkan kita menjadi orang yang dewasa imannya. Kita harus terus bertumbuh untuk mencapai kedewasaan iman. Untuk itu maka kita akan melihat tiga ciri dari iman yang dewasa. Dengan tiga ciri ini maka kita dapat menilai diri kita dan diri orang lain bahwa apakah kita telah dewasa secara rohani atau belum? Inilah tiga ciri itu :
I. IMAN YANG DEWASA ADALAH IMAN YANG LAHIR DAN BERTUMBUH DARI FIRMAN DAN PERGUMULAN HIDUP

Dalam bacaan 2 Tim 3:10-16 tadi ada dua hal penting yang mau disampaikan oleh Rasul Paulus terhadap anak rohaninya Timotius. Yang pertama adalah masalah penderitaan karena Kristus (ayat 10-13) dan yang kedua adalah masalah dampak dari Firman Allah yang telah dihidupi oleh Timotius sejak kecilnya (ayat 14-17). Dengan kata lain Paulus mau berkata kepada Timotius bahwa ada dua hal yang dapat melahirkan iman yang sejati yaitu penderitaan atau pergumulan hidup dan Firman Allah atau mungkin lebih tepatnya dibalik yaitu Firman Allah dan pergumulan hidup. Dengan membaca, merenungkan serta melakukan Firman Allah dalam hidup kita sehari-hari maka iman kita akan bertumbuh ke arah kedewasaan secara normal.
Hal ini sungguh menarik. Mengapa? Karena belakangan ini ada begitu banyak orang yang tidak menjadikan Firman Allah menjadi sumber pertumbuhan dan kedewasaan iman mereka. Mereka kurang tertarik terhadap Firman Allah tetapi justru sangat tertarik kepada hal-hal yang bersifat spektakuler dan “aneh-aneh”. Kalau ada berita bahwa Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya di kaca nako sebuah rumah atau gereja, maka semua orang berbondong-bondong dan pergi menyaksikannya padahal penampakan itu belum tentu benar.  Mereka lupa akan nasihat Tuhan Yesus sekian ribu tahun yang lalu :
Mat 24:23-28 - “Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu : Lihat, Mesias ada di sini atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya sebab Mesias-Mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu. Jadi apabila orang berkata kepadamu : Lihat, Ia ada di padang gurun, jangan kamu pergi ke situ; atau Lihat, Ia ada di dalam bilik, jangan kamu percaya. Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia. Di mana ada bangkai, di situ burung nazar berkerumun”
Iman semacam ini adalah sama seperti iman ahli Taurat dan orang Farisi yang menuntut tanda dari Yesus (Mat 12:38-42) atau seperti iman Thomas yang menuntut tanda atau bukti. Ini bukan iman yang dewasa. Iman yang dewasa tidak lahir dari mujizat dan tanda-tanda ajaib yang spektakuler dan menghebohkan melainkan dari Firman yang keluar dari mulut Allah.
Coba perhatikan kehidupan bangsa Israel. Tidak ada satu orang pun yang pernah menyaksikan mujizat dan tanda ajaib yang lebih banyak dari mujizat atau tanda ajaib yang dilihat oleh orang-orang Israel yang keluar dari tanah Mesir. Sejak dari tanah Mesir mereka telah menyaksikan :
  1. Tulah air berubah menjadi darah (Kel 7:14-25),
  2. Tulah katak (Kel 8:1-15)
  3. Tulah nyamuk (Kel 8:16-19)
  4. Tulah lalat pikat (Kel 8:20-32)
  5. Tulah Penyakit sampar (Kel 9:1-7)
  6. Tulah barah (Kel 9:8-12)
  7. Tulah hujan es (Kel 9:13-35)
  8. Tulah belalang (Kel 10:1-20)
  9. Tulah gelap gulita (Kel 10:21-29)
  10. Tulah kematian anak-anak sulung (Kel 12:29-42)
  11. Kemurahan hati orang Mesir (Kel 12:34-36)
  12. Tiang awan dan tiang api (Kel 13:21-22)
  13. Air laut dibelah dan berjalan di tanah kering (Kel 14:21-22)
  14. Air pahit menjadi manis di Mara (Kel 15:22-27)
  15. Makanan manna dan burung puyuh (Kel 16:13-15)
Tetapi ketika mereka tiba di masa dan Meriba dan di sana tidak ada air untuk diminum, maka mereka mulai bertengkar dan bersungut-sungut terhadap Musa (Kel 17) lalu mereka berkata “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” (Kel 17:7). Aneh sekali. Heran bin ajaib. Mereka telah menyaksikan tangan Tuhan dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib sejak dari tanah Mesir, mereka telah menyaksikan 10 tulah, laut dibelah, tiang awan dan tiang api, air pahit berubah menjadi manis, mereka memperoleh makanan manna dan burung puyuh dengan cara yang ajaib, namun sekarang hanya karena masalah air lalu mereka mulai mempertanyakan keberadaan Allah di tengah-tengah mereka. “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Di sini kita bisa belajar satu hal penting bahwa sekian banyak mujizat yang telah dilihat bangsa Israel ternyata tidak dapat menimbulkan iman di dalam hati mereka. Ketika berhadapan dengan pergumulan hidup, maka semua mujizat itu terlupakan. Jadi iman yang sejati tidak lahir dari penglihatan akan mujizat dan tanda-tanda heran. Yesus berkata kepada Thomas :
“Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (Yoh 20:28).
Tidak melihat namun percaya. Bagaimana mungkin? Mungkin. Itulah iman yang sejati, iman yang lahir dari Firman Allah. Iman semacam ini akan dapat mempercayai dan berharap kepada apa yang tidak pernah dilihat (Band. Ibr 11:1). Oleh karena itu betapa pentingnya bagi setiap kita untuk menyediakan waktu khusus menyelidiki, merenungkan dan menetapkan hati untuk melakukan Firman Tuhan itu. Setiap pagi adalah waktu yang sangat baik untuk melakukan hal ini.
Saya pernah berpikir bahwa membaca, merenungkan atau mendengar Firman Allah adalah hal yang tidak terlalu bermanfaat. Toh apa yang kita baca, renungkan dan  dengarkan saat ini akan terlupakan 1 atau 2 tahun men-datang. Buktinya saya tidak dapat lagi mengingat apa yang saya baca dan renungkan tahun lalu. Tetapi tiba-tiba pikiran saya terarah pada satu hal. Saya tidak dapat mengingat makanan apa yang saya makan pada tahun-tahun yang lalu. Saya tidak tahu persis apa lauknya dan apa sayurannya, namun satu hal yang pasti adalah bahwa karena makanan-makanan itulah saya masih ada dan hidup sampai sekarang ini. Saya tidak tahu apa yang saya makan, namun saya tahu bahwa makanan itu telah menjadikan saya kuat dan dewasa. Demikian juga dengan Firman Allah. Mungkin anda tidak dapat mengingat semua khotbah yang pernah anda dengarkan atau bahkan anda khotbahkan, mungkin apa yang pernah anda renungkan sudah hilang dari ingatan anda, namun satu hal yang pasti adalah jika anda masih ada sebagaimana anda ada sekarang (dalam kondisi iman yang kuat dan dewasa), maka itu adalah dampak atau akibat dari Firman yang telah anda dengarkan dan renungkan itu. Jadi bagaimanapun juga Firman Allah sangat berperan dalam hidup kita untuk melahirkan iman yang dewasa dan kuat di dalam Tuhan.
Hal lain yang juga dapat melahirkan iman yang dewasa di samping Firman Allah adalah pergumulan hidup. Memang antara Firman Allah dan pergumulan hidup mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Kita berhadapan dengan pergumulan hidup dan Firman Allah yang telah kita dengarkan dan renungkan itu akan memberi kekuatan rohani kepada kita untuk menghadapi dan menang atasnya, dan semuanya itu akan melahirkan iman yang dewasa dalam hidup kita.
Kehidupan Ayub adalah salah satu contoh yang mendukung kebenaran ini. Ketika musibah, malapetaka dan pergumulan hidup datang menghantamnya, hal itu bukan melemahkan imannya malah sebaliknya kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya adalah kalimat-kalimat iman. Ia berkata :
“…TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil , terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21b)
Terhadap isterinya yang menyuruhnya mengutuki Tuhan Allahnya ia berkata :
“…Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya” (Ayub 2:10)
Dan diakhir dari pergumulannya ia berkata :
“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” (Ayub 23:10)
Di sini kita bisa melihat bahwa iman Ayub adalah iman yang dewasa, yakni iman yang lahir dan bertumbuh dari pergumulan hidup. Adakah hidupmu saat ini dipenuhi dengan berbagai pergumulan? Adakah badai dan gelombang hidup sementara menggoncang rumah tanggamu, pekerjaanmu, kariermu? Bertahanlah, dan dapatkanlah kekuatan melalui Firman-Nya maka niscaya imanmu akan bertumbuh menjadi dewasa.
II. IMAN YANG DEWASA ADALAH IMAN YANG TIDAK MUNUNTUT & MENGANCAM TUHAN.

Iman yang dewasa adalah iman yang tidak menuntut dan mengancam Tuhan. Mengapa? Karena main tuntut dan main ancam adalah pekerjaan anak kecil. Orang yang telah dewasa imannya tidak lagi menuntut dan mengancam Tuhan melainkan berpasrah kepada kehendak-Nya dengan keyakinan bahwa apapun yang dilakukan dan dikehendaki oleh Tuhan adalah hal yang terbaik baginya. Jika kita mau jujur maka dalam hidup ini tidak sedikit kita mengajukan tuntutan dan ancaman kepada Tuhan. Ini biasanya dikaitkan dengan permohonan-permohonan kita. Kita mengajukan suatu permohonan kepada Tuhan, dan disertai dengan tuntutan dan ancaman agar Ia mau mengabulkannya.
Saya pernah melayani bersama dengan seorang Hamba Tuhan yang baru saja bertobat dan percaya kepada Kristus. Dulunya ia adalah seorang Haji. Ketika ia menjadi percaya kepada Kristus, maka ia dilengkapi dengan karunia mujizat sehingga ia sering berkeliling dan mendoakan orang sakit, orang buta dan orang lumpuh. Dan memang benar bahwa sudah banyak mujizat terjadi melalui pelayanannya.
Dalam suatu acara Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang dilanjutkan dengan acara Kesembuhan Ilahi, ia mulai mendoakan orang-orang buta, lumpuh dan sakit penyakit lainnya. Satu hal yang sangat mengagetkan saya adalah kata-kata doa yang keluar dari mulutnya. Ia berdoa demikian : “Tuhan aku percaya kuasa dan mujizat-Mu. Karena itu saat ini aku memohon kepada-Mu agar Engkau menyembuhkan orang-orang sakit ini. Jika Engkau tidak menyembuhkan mereka, maka aku akan kembali menjadi seorang Islam ….” Mengherankan sekali ada orang yang berani mengancam Tuhan dalam doa. Tetapi kalau kita pahami bahwa imannya masih iman kanak-kanak maka kita tidak perlu heran. Maklum itulah anak-anak. Anak-anak memang biasa menuntut dan mengancam orang tuanya agar permohonannya dikabulkan. Apa yang terjadi kemudian? Kesembuhan dan mujizat tetap terjadi. Allah mengabulkan permohonan yang berisi tuntutan dan ancaman kepada-Nya bukan karena Ia senang dengan tuntutan dan ancaman itu tetapi karena Ia mengerti bahwa orang yang berdoa itu masih bayi rohani yang perlu diladeni permintaannya agar kepercayaannya diteguhkan.
Itulah iman anak-anak. Ini jelas berbeda dengan iman yang telah dewasa dalam Tuhan. Iman yang telah dewasa di dalam Tuhan tidak lagi menuntut dan mengancam Tuhan. Ia tidak akan berdoa seperti ini : “Tuhan saya berharap Engkau memberikan ini dan itu kepada saya, jika Engkau tidak memberinya maka ternyata Engkau begini dan begitu maka aku juga akan begini dan begitu. Iman yang dewasa akan tetap mempercayai Tuhan sekalipun apa yang Tuhan lakukan dan berikan tidak sesuai dengan doa dan harapannya.
Ketika Nebukadnezar raja Babel itu membuat patung berhala dan memerintahkan semua orang untuk sujud menyembah kepadanya, maka Sadrakh, Mesakh dan Abednego menolak melakukan hal itu. Sebagai akibatnya, mereka terancam dibuang ke dalam perapian yang menyala-nyala, namun kata dan kalimat yang keluar dari mulut mereka sangat indah dan menunjukkan bahwa iman mereka kepada Allah Israel bukan lagi iman kanak-kanak tetapi iman yang telah dewasa. Mereka berkata :
“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu ya raja, tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Dan 3:17-18)
Luar biasa! Di sini kita bisa melihat bahwa mereka tidak akan bergeser dari iman dan kepercayaan mereka sekalipun Allah memilih untuk tidak menyelamatkan mereka. Itulah iman yang dewasa.
Contoh lain yang menggambarkan kedewasaan iman adalah apa yang diungkapkan oleh nabi Habakuk. Ia berkata dalam doanya :
“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan  bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Hab 3:17-18)
Nabi Habakuk tidak hanya mau bersorai-sorai dan beria-ria di dalam Tuhan jika segala sesuatu berjalan dengan aman dan menguntungkan, tetapi juga dalam keadaan yang sangat merugikan. Dalam kondisi seperti itu ia tidak mengajukan tuntutan dan ancaman kepada Allah untuk merubah kondisi itu namun memilih untuk tetap memuji Dia. Ia tidak bergeser dari iman dan kepercayaannya sekalipun seperti-nya Allah tidak menolongnya. Adakah imanmu seperti iman ketiga anak muda Israel itu (Sadrakh, Mesakh dan Abednego)? Adakah imanmu seperti iman nabi Habakuk? Ataukah anda masih suka mengajukan tuntutan dan ancaman kepada Tuhan di dalam dan melalui doa-doamu? Ingatlah! Iman yang dewasa adalah iman yang tidak menuntut dan mengancam Tuhan.
III. IMAN YANG DEWASA ADALAH IMAN YANG DEPENDEN SEKALIGUS  INDEPENDEN.

Dependen artinya bergantung dan independen artinya tidak bergantung. Jadi maksudnya iman yang dewasa itu adalah iman yang bergantung dan iman yang tidak bergantung. Bergantung pada apa dan tidak bergantung pada apa? Iman kita harus bergantung pada apa yang layak “digantungi” atau layak menjadi tempat bergantung, tetapi harus tidak bergantung (bukan tidak harus) pada apa yang tidak layak “digantungi” atau tidak layak menjadi tempat bergantung.
Persoalan lanjutan bagi kita adalah apakah atau siapakah yang layak menjadi tempat bergantung dari iman itu? Dan apakah atau siapakah yang tidak layak menjadi tempat bergantung dari iman itu? Satu-satunya yang layak menjadi tempat bergantung dari iman itu adalah Allah sendiri. Mengapa? Karena Dialah sentral atau pusat, sumber dan subyek (bukan obyek) dari iman itu sedangkan yang tidak layak menjadi tempat bergantung dari iman itu adalah sesama manusia, situasi dan kondisi. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa iman yang dewasa adalah iman yang hanya bergantung kepada Allah saja dan bukan kepada manusia, situasi dan kondisi.
Iman yang masih kanak-kanak biasanya mencari tempat bergantung kepada seseorang yang dirasa dapat menjadi tempat bergantung. Makanya jangan heran jika ada  banyak jemaat yang menggantungkan iman dan harapannya pada pendetanya, pada seniornya sehingga jika iman pendetanya atau seniornya lemah, imannya juga ikut lemah dan jika iman pendeta atau seniornya menjadi kuat, maka imannya juga kuat. Jika pendeta dan seniornya itu mengundurkan diri dari suatu gereja maka mereka juga ikut-ikutan mundur. Jika pendeta atau seniornya maju, mereka juga maju tetapi jika mundur, mereka juga mundur. Pendeta atau seniornya naik gunung, mereka juga. Masuk lubang, ikut juga. Saudara-saudara, harap maklum saja, namanya juga anak-anak.
Contoh Alkitab yang menggambarkan hal ini adalah kisah Debora dan Barak. Ketika Debora menyuruh Barak untuk maju berperang maka Barak menjawab :
“…Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju,  akupun tidak maju” (Hak 4:8)
Jadi rupanya Barak tidak bergantung pada Allah yang telah menyerahkan musuh-musuh kepadanya, tetapi bergantung pada Debora. Ia tidak bergantung kepada yang layak “digantungi” dan bergantung kepada yang tidak layak “digantungi”. Sekali lagi maklum saja. Namanya juga anak-anak.
Iman kanak-kanak juga sering bergantung kepada situasi dan kondisi. Jika situasi dan kondisi menyenangkan, mengenakkan, semuanya berjalan dengan aman, maka sepanjang itu juga mereka tetap percaya dan setia kepada Tuhan. Tetapi kalau tiba-tiba situasi dan kondisi berubah menjadi merugikan, tidak menyenangkan, agak berbahaya, maka kesetiaan dan kepercayaan kepada Tuhan pun  pudar. Itulah iman kanak-kanak.
Kita dituntut untuk memiliki iman yang dewasa yang hanya bergantung kepada Tuhan dalam keadaan apa pun, dan tidak bergantung pada siapa pun atau apa pun. Syair sebuah lagu berkata :
Kala ku cari damai
Hanya kudapat dalam Yesus
Kala ku cari ketenangan
Hanya kutemui di dalam Yesus
Tak satu pun dapat menolongku
Tak seorang pun dapat menghiburku
Hanya Yesus jawaban hidupku
Bersama Dia hatiku damai
Walau dalam lembah kekelaman
Bersama Dia hatiku tenang
Walau hidup penuh tantangan
Tak satu pun dapat menghiburku
Tak seorang pun dapat menolongku
Hanya Yesus jawaban hidupku
Hanya Yesus satu-satunya tempat bergantung dalam segala situasi. Jika kita dapat mempunyai iman seperti syair lagu ini, maka berbahagialah karena iman kita bukan lagi iman kanak-kanak melainkan iman yang dewasa.
- AMIN -

You must be logged in to post a comment.

Trackback URL for this entry

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.