Mazmur 84:1-13
By. Esra Alfred Soru, STh
Mazmur sebenarnya adalah kumpulan lagu atau pujian orang Ibrani yang dalam bahasa aslinya disebut “Mizmor”. Mazmur 84 ini adalah Mazmur yang sangat indah, dan satu ayat di dalamnya yang sangat menarik dan yang akan menjadi bahan renungan kita adalah ayat 11 yang berbunyi :
“Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku, daripada diam di tengah kemah-kemah orang fasik”
Pertanyaan pertama yang harus kita pikirkan adalah apa itu pelataran? Pelataran sebenarnya adalah sebuah istilah atau terminologi religius bangsa Israel sejak dari masa exodus (keluaran) yakni pada kemah suci dan Bait Allah orang Israel. Sebenarnya kemah suci atau Bait Allah orang Israel terbagi menjadi tiga ruangan yakni pelataran (tempat bagi siapa saja), ruang suci (tempat bagi para imam) dan ruang mahasuci (tempat yang hanya boleh dimasuki oleh imam besar dan hanya sekali dalam setahun). Jadi pelataran adalah tempat paling luar dari kemah suci atau Bait Allah. Pelataran ini jugalah yang tentunya dimaksudkan dengan “ambang pintu rumah Allahku” yang dibicarakan oleh pemazmur dalam ayat 11b.
Menarik sekali bahwa pemazmur hanya membicarakan pelataran Tuhan atau “ambang pintu” dari rumah Allah dalam perbandingan dengan tempat yang lain dan kemah-kemah orang fasik. Ia tidak memperbandingkan tempat yang lain dan kemah orang fasik dengan ruang suci atau ruang mahasuci. Tentunya pemazmur ingin berkata bahwa pelataran Tuhan saja sudah begitu menyenangkan daripada tempat yang lain atau kemah orang fasik apalagi ruang suci dan ruang mahasuci? Alasan lain juga adalah karena ruang suci dan ruang mahasuci adalah tempat yang spesial bagi imam-imam dan imam besar.
Hal penting lainnya dalam bacaan ini yang harus kita pahami adalah bukan hanya masalah kehadiran atau keberadaan di pelataran Tuhan melainkan apa yang dilakukan di sana. Pelataran Tuhan itu akan terasa nikmat dan berbeda dengan tempat yang lain jika ada sesuatu yang kita lakukan di sana. Pertama-tama yang perlu kita lakukan adalah memiliki kerinduan atau hasrat hati yang besar terhadap pelataran Tuhan itu (ayat 2-3a) dan juga ada pujian dan penyembahan yang sungguh dan benar terhadap Allah (ayat 3b, 5b). Dengan demikian kita bisa berkesimpulan bahwa pelataran Tuhan tidak hanya menunjuk pada suatu tempat tetapi juga suatu aktivitas.
Pemazmur berkata “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku, daripada diam di tengah kemah-kemah orang fasik.” Mengapa? Tentunya ada sesuatu di pelataran Tuhan itulah yang membuat pemazmur mengeluarkan kalimat seperti itu.
1. Pelataran Tuhan adalah sumber kebahagiaan (5a,6a,13)
Hal pertama yang membuat pelataran Tuhan itu mempunyai nilai plus dibandingkan dengan tempat yang lain atau kemah orang fasik adalah karena di pelataran Tuhan itulah terdapat sumber kebahagiaan. Menurut pandangan dunia kebahagiaan terletak pada kekayaan dan karena itulah banyak orang begitu sibuk mencari kekayaan sehingga akhirnya menjadi lupa beribadah di rumah Tuhan, lupa bersekurtu dengan Tuhan dan sesama, dan lupa memuji serta menyembah Tuhan. Orang rela mengahabiskan waktunya untuk bekerja bahkan bekerja lembur hanya untuk mencari uang dan kekayaan sehingga lupa akan pelataran Tuhan tempat di mana ia bisa berjumpa dan memuji Tuhan sumber kebahagiaan itu.
Seorang ibu bertemu dengan seorang pengemis yang sangat memprihatinkan. Pengemis itu meminta sedikit uang agar ia bisa membeli makanan. Karena iba, ibu itu memberinya sejumlah uang. Setelah ibu itu berjalan beberapa meter di depannya, tiba-tiba pengemis itu mengeluarkan pisau dari balik bajunya dan berlari ke arah ibu itu lalu memotong tali tas sang ibu dan membawa kabur uang serta benda lain dalam tas ibu itu. Kita tentu berpikir betapa kurang ajarnya pengemis itu. Sudah diberi uang kok masih mau mencuri. Tetapi ketika kita memaki pengemis itu bukankah kita sebenarnya juga memaki diri kita sendiri? Tuhan telah memberi kita enam hari bekerja dan hanya meminta satu hari untuk berbakti kepada-Nya (itu pun hanya beberapa jam) tapi kita malah mencuri waktu untuk Tuhan dan dipakai untuk bekerja. Bukankah ini sebuah kekurangajaran seperti pengemis tadi? Jika kita sadar bahwa pelataran Tuhan itu adalah sumber kebahagiaan, maka tentu kita akan meluangkan waktu kita untuk berbakti di sana.
Kalau kita memikirkan lebih dalam, sebenarnya sumber kebahagiaan tidak terletak pada harta kekayaan dan uang yang kita miliki. Seorang pengusaha yang kaya raya di kota Malang dapat menjadi contohnya. Ia mengakui bahwa segala kekayaannya tidak dapat membahagiakannya. Mengapa? Walaupun ia dapat membeli makanan seenak, selezat dan semahal apapun, tapi ia tidak bisa memakannya karena dokter melarangnya berhubung dengan penyakitnya. Ia hanya boleh makan bubur dan sayuran yang direbus tanpa garam ataupun penyedap rasa lainnya. Ia tidak boleh meminum teh, kopi, es, dan banyak minuman lainnya. Satu-satunya yang bisa diminumnya adalah air putih. Sungguh memprihatinkan. Ia memiliki sepuluh buah mobil tetapi tidak bisa memakainya sebab ia tidak bisa duduk lebih dari 15 menit dalam mobil. Setiap kamar di rumahnya dilengkapi dengan televisi namun ia tidak bisa menyaksikannya karena ada gangguan pada matanya. Ia berkata : “Untuk apa semua kekayaan ini kalau aku tak bisa menikmatinya?”
Sungguh kita dapat melihat bahwa harta, kekayaan, uang dan segala kemewahan bukanlah merupakan sumber kebahagiaan. Zakheus adalah orang kaya, namun ia merasa bahwa kekayaannya tidak dapat memberi kebahagiaan kepadanya. Itulah sebabnya ia merasa perlu berjumpa dengan Yesus secara pribadi.
Uang adalah alat untuk :
Membeli tempat tidur namun bukan tidur yang nyenyak.
Membeli buku-buku namun bukan kepandaian
Membeli makanan namun bukan nafsu makan
Membeli obat namun bukan kesehatan
Mencari hiburan namun bukan damai sejahtera
Menimbun kekayaan namun bukan keselamatan
Tentunya tidak salah jika kita ingin mencari uang dan kekayaan, namun ingatlah bahwa kita perlu juga untuk menyediakan waktu memuji dan menyembah Tuhan di pelataran-Nya karena itulah sumber kebahagiaan yang sejati.
2. Pelataran Tuhan adalah sumber kekuatan dan berkat (6b -8)
Hal kedua yang membuat pelataran Tuhan itu mempunyai nilai plus dibanding dengan tempat yang lain adalah karena pelataran Tuhan itu adalah sumber kekuatan dan berkat.
Kehidupan di dunia ini bukanlah sebuah kehidupan yang hanya menawarkan kebahagiaan, kekayaan, kesuksesan, kesenangan dan hal-hal positif lainnya tetapi juga kehidupan yang menyodorkan atau memaksakan kepada kita ketakutan, kecemasan, kelemahan dan kekuatiran. Berhadapan dengan semua fakta ini, maka manusia selalu berusaha untuk mencari jalan keluar dan jalan aman terhadap semua masalah-masalah kehidupan, namun sayangnya adalah bahwa cara-cara yang ditempuh oleh manusia itu justru akan membawa manusia itu kepada sebuah kecelakaan yang lebih parah.
Dalam pembacaan kita tadi kita dapat melihat bahwa pemazmur memandang pelataran Tuhan sebagai sumber kekuatan dan berkat dalam menghadapi semua pergumulan hidup. Ia berkata :
“Apabila melintasi lembah baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.”
Ketika menghadapi berbagai duka, nestapa dan pergumulan hidup, kita bisa mendapatkan kekuatan dan berkat Tuhan di pelataran-Nya yang kudus. Kalau kita memiliki kekuatan dan berkat-Nya, maka kita tidak akan menjadi stres atau frustrasi dengan semua pergumulan hidup itu melainkan kita akan sanggup membuat lembah air mata menjadi lembah yang bermata air. Raihlah kekuatan dan berkat dalam pelataran-Nya.
3. Pelataran Tuhan adalah sumber jawaban doa (9,10)
Hal terakhir yang merupakan kelebihan pelataran Tuhan adalah bahwa pelataran Tuhan itu merupakan sumber jawaban doa. Pemazmur tentu pernah mengalami hal ini sehingga ia menuangkannya dalam lagunya kepada Tuhan.
Seorang dokter yang walaupun telah diinjili oleh temannya menolak untuk mempercayai Yesus. Suatu kali ketika ia sementara tidur, pintu rumahnya diketuk dan muncul seorang anak sambil berkata : “Pak dokter tolong berikan obat batuk buat ibuku sebab batuk ibuku sangat berat.” Tanpa bertanya nama dan asal atau alamat anak itu, dokter itu memberikan sejumlah obat, dan anak itupun berlalu. Setelah beberapa saat ia sadar bahwa sebenarnya yang diberikan kepada anak itu bukanlah obat batuk melainkan racun tikus. Jika ibu anak itu meminumnya, pastilah ia akan mati dan pastilah juga dokter itu akan masuk penjara. Ia sekarang berada dalam keadaan yang sulit sedang ia tidak mengetahui di mana alamat anak itu. Dalam keadaan yang kalut semacam ini ia teringat nasihat temannya bahwa Yesus sanggup menolong dan menjawab doa kita. Dengan penuh perasaan malu ia duduk dan berdoa meminta pertolongan Yesus. Beberapa saat setelah ia selesai berdoa, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk dan muncul anak kecil tadi seraya berkata : “Maafkan saya Pak Dokter, karena saya berlari dengan cepat maka saya terjatuh dan botol obatnya pecah dan tumpah. Kalau Pak dokter tidak keberatan, saya ingin meminta obat batuk lagi”. Dengan hati yang gembira dan penuh ucapan syukur kepada Tuhan, dokter itu memberikan obat kepada anak itu yang terus berlari menuju rumahnya.
Ketika kita datang menghadap dan berjumpa dengan Tuhan dalam doa kepada-Nya maka sesungguhnya ada jaminan jawaban doa bagi kita.
Di dalam pelatan Tuhan ada sumber kebahagiaan, kekuatan dan berkat dan juga jawaban doa. Dengan demikian pelataran Tuhan adalah suatu tempat dan aktivitas yang sangat berharga. Itulah sebabnya bersama dengan pemazmur, marilah kita berkata :“Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku, daripada diam di tengah kemah-kemah orang fasik”.