Kejadian 13:1-18
By. Esra Alfred Soru
Sewaktu Abram memenuhi panggilan Allah untuk keluar dari negerinya, ia membawa pula keponakannya Lot beserta dengan istri, anak-anak, para pekerja dan juga seluruh harta kekayaan mereka.Hidup bersama dengan harta kekayaan terutama ternak yang sedemikian banyaknya, rupanya membawa masalah bagi hubungan kedua belah pihak (Abram dan Lot). Hal ini bisa dibuktikan dengan fakta bahwa telah terjadi perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot dalam memperebutkan wilayah bagi ternak-ternak mereka. Rupanya perkelahian ini terdengar sampai ke telinga Abram, dan Abram dapat melihat bahaya perpecahan yang mengancam hubungan mereka. Itulah sebabnya ia mengajak Lot untuk berdialog soal masalah ini. Di sini kita bisa melihat suatu hal yang menarik dari diri Abram yakni bahwa ia mempunyai cara yang sangat baik dalam menghadapi dan menyelesaikan pertikaian atau pertengkaran dan perpecahan, dan cara inilah yang ingin kita pelajari agar kita pun dapat menyelesaikan setiap konflik, masalah, pertikaian dan pertengkaran yang terjadi dalam setiap relasi kita.
1. Ketika terjadi konflik, maka langkah pertama yang diambil oleh Abram adalah melakukan dialog atau komunikasi dengan Lot.
Ini adalah hal yang menarik. Biasanya pihak-pihak yang bertikai agak sulit dipertemukan dalam sebuah dialog, namun Abram telah berinisiatif untuk hal itu. Ayat 8 berkata : “Maka berkatalah Abram kepada Lot….” Inilah rahasia awal dalam menyelesaikan konflik. Di dalam setiap konflik, pertikaian dan kesalahpahaman hendaklah kita menjadikan komunikasi sebagai tahap awal di dalam menyelesaikannya sebab dengan komunikasi dan dialog kita dapat melihat duduk persoalannya, menyamakan persepsi dan mencari jalan keluar yang terbaik untuk hal itu, dan inilah yang dilakukan Abram.
2. Dalam menghadapi konflik, Abram sangat memperhitungkan masalah kekeluargaan atau kekerabatan.
Setelah melewati tahap komunikasi, hal pertama yang menjadi pertimbangan Abram dalam menghadapi masalah/konflik ini adalah hubungan kekerabatan di antara mereka di mana hubungannya dengan Lot adalah sebagai hubungan paman dan keponakan. Ayat 8 berkata :
“…Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat.
Hubungan kekerabatan ini membuat Abram tidak ingin terjadi konflik yang berkepanjangan di antara mereka. Memang jikalau yang ada di dalam pikiran kita adalah pikiran kasih yang memperhitungkan hubungan kekerabatan atau kekeluargaan, maka setiap konflik dan pertikaian dalam setiap relasi kita akan dapat diselesaikan dengan cara damai. Bukankah di dalam Kristus kita semua bersaudara? Bukankah di dalam Kristus kita semua terjalin dalam suatu hubungan kekerabatan yang bersifat rohani? Lihatlah orang yang bertikai denganmu sebagai saudaramu di dalam Kristus.
3. Dalam menghadapi konflik, Abram lebih memilih sikap mengalah.
Setelah mempertimbangkan masalah kekeluargaan, Abram juga mempunyai sikap mengalah. Ia berkata kepada Lot :
“Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.” (ayat 9)
Cobalah bayangkan! Dilihat dari status kekeluargaan maka Abram berpangkat ayah (orang tua) sedangkan Lot berpangkat anak. Namun demikian Abram membiarkan Lot menentukan pilihannya. Sungguh sebuah sikap mengalah yang mengagumkan. Andai saja dunia ini memiliki orang-orang yang berani bersikap mengalah seperti Abram, entah berapa banyak konflik dan pertikaian yang dapat diselesaikan.
Kadang kita berpikir bahwa mengalah itu kalah namun sesungguhnya Allah menyediakan berkat-Nya secara khusus bagi orang yang mengalah. Ayat 14-17 berkata :
“Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kau lihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.”
Mungkin kebanyakan orang akan berkata bahwa orang yang mengalah itu kalah, namun camkanlah baik-baik bahwa orang yang berani mengalah itu adalah orang yang layak memiliki dunia.
4. Hal terakhir yang menarik dari sikap Abram adalah bahwa setelah semua persoalan di antara mereka dapat diatasi, maka sungguh-sungguh hal itu dilihat sebagai sesuatu yang telah berakhir. Ia tidak membenci Lot, ia tidak menyimpan dendam pada Lot, malahan ia mengasihinya. Hal ini dibuktikan dengan dua hal. Pertama : Ketika Lot ditawan oleh musuh, maka Abram menolong dan membebaskannya (Kej 14:14-16). Kedua : Ketika Allah akan menghukum Sodom dan Gomora di mana Lot berdiam di sana, maka Abram memanjatkan syafaatnya bagi keselamatan orang benar di sana dalam hal ini adalah Lot beserta keluarganya. Inilah hal yang menarik dari sikap Abram. Bagi Abram segala konflik dan pertikaian di hari kemarin tidak layak menjadi alasan untuk tidak mengasihi di hari ini. Biarkanlah yang lalu itu berlalu.