PD Air Hidup

Jl. Bhakti Warga 5 Kupang – NTT

Janganlah Kuatir (2)

Written By: admin - Oct• 07•08

Matius 6:25-34
By. Esra Alfred Soru, STh

Kalau dalam bagian sebelumnya kita telah belajar tentang dua alasan mengapa kita tidak perlu kuatir, maka pada bagian ini kita akan belajar tentang bagaimana menghadapi, menghindari dan mengatasi kekuatiran.

 Hidup dalam dunia ini penuh dengan berbagai tantangan dan pergumulan yang dapat saja membuat kita merasa kuatir tetapi dengan cara yang akan dikemukakan di bawah ini akan membuat kita dapat tetap berdiri sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah.

1. Belajarlah dari alam

Dalam rangka menguatkan argumentasi-Nya dalam hal; pengajaran tentang hal kekuatiran, Yesus memakai gambaran yang diangkat-Nya dari alam yakni gambaran tentang burung-burung di langit dan bunga bakung di ladang. Lengkapnya Ia berkata demikian :

“Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Mat 6:26)

“…Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu : Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu” (Mat 6: 28b-29)

 Kalau kita memahami apa yang sementara digambarkan oleh Yesus ini, maka kita akan menemukan kebenaran yang sangat indah tentang pemeliharaan Tuhan atas hidup kita.

 Pertama-tama Yesus memberikan gambaran tentang burung-burung di langit. Kira-kira burung apakah yang dimaksud oleh Yesus? Kemungkinan besar adalah burung pipit. Luk 12:6-7 berbunyi :

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu janganlah takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit”.

Perhatikan baik-baik kalimat awal dalam ayat ini : “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit?” Rupanya harga jual burung pipit ini adalah lima ekor dua duit atau dua duit lima ekor. Kalau anda memiliki uang dua duit maka anda dapat memiliki lima ekor burung pipit. Pertanyaan saya adalah berapa ekor burung pipit yang akan anda peroleh kalau anda hanya memiliki uang satu duit? Jawabannya pastilah dua setengah ekor. Lalu bagaimana anda memperoleh dua setengah ekor burung pipit? Tentu aneh bukan kalau orang menjual burung sebanyak dua setengah ekor. Kalau soal beras, ada dua setengah Kg. Kalau soal minyak, ada dua setengah liter tapi kalau burung? Tidak ada! Lalau kalau begitu apa maksud ayat ini?

 Inilah maksudnya! Sebenarnya harga burung pipit itu adalah dua ekor satu duit atau satu duit dua ekor. Jika anda mempunyai uang dua duit maka yang akan anda peroleh adalah empat ekor burung. Itu adalah harga asli. Namun rupanya dalam proses jual beli burung pipit ini terjadi tawar menawar seperti kita berbelanja di pasar. Penjual menjual dua ekor satu duit dan pembeli menawar bagaimana kalau lima ekor dua duit? Tawaran itu pun disetujui. Dengan demikian burung pipit itu laku terjual dengar harga lima ekor dua duit.

 Apa kebenaran di balik hal ini. Kebenarannya adalah bahwa burung pipit itu sebenarnya adalah burung murahan sampai-sampai bisa ditawar menjadi lima ekor dua duit atau bisa dipakai “persenan”. Pada umumnya kalau suatu benda bisa ditawar-tawar dan bisa dipakai “persenan” maka itu adalah burung murahan. Tidak demikian dengan barang-barang mewah. Cobalah anda pergi ke sebuah Dealer mobil dan melihat mobil seharga 100 juta rupiah. Lalu anda tawar bolehkah dengan uang 200 juta rupiah saya membawa pulang tiga mobil?  Percayalah pada saya bahwa anda akan dicap gila dan Satpam akan dipanggil untuk menggusur anda. Mengapa tidak bisa ditawar? Karena itu adalah barang mewah. Lalu mengapa burung pipit bisa ditawar? Karena ia adalah “barang” murahan. Terhadap burung murahan seperti Yesus berkata bahwa tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah. Kalau Allah tidak melupakan burung murahan ini, apakah Ia akan melupakan anda? Apakah Ia akan melupakan kita? Tentu tidak! Alkitab berkata bahwa kita jauh lebih berharga daripada banyak burung pipit. Ia tentu lebih memperhatikan segala kebutuhan kita. Ia memperhatikan kita sedemikian rupa sampai-sampai rambut di kepala kita pun dihitungnya. Bukankah ini sebuah hal yang luar biasa. Siapakah di antara anda yang bisa menghitung jumlah rambut di kepalanya? Apalagi kalau anda diberi kelebihan khusus berupa rambut keriting? Tetapi Allah melakukan semuanya itu. Kalau Allah tidak melupakan burung murahan masakan Ia melupakan kita? Kalau begitu mengapa kita harus kuatir dengan segala kebutuhan kita?

 Gambaran kedua yang diberikan oleh Yesus adalah tentang bunga bakung di ladang. Rupanya bunga bakung lebih dikelompokkan ke dalam rumpun rumput (ayat 30a). Ada sedikit keterangan tentang bunga bakung ini yakni “yang ada hari ini dan besok dibuang ke dalam api” (ayat 30). Apa maksudnya?

 Bunga bakung adalah bunga yang sangat indah yang banyak tumbuh di lereng pegunungan Palestina. Bunga ini biasanya mekar pada waktu pagi hari dan pada waktu sore ia akan layu. Setelah itu ia tidak akan pernah mekar lagi. Kira-kira sama seperti pohon pisang yang  sekali berbuah tidak akan berbuah lagi. Jadi jika ia telah mekar maka selanjutnya ia tidak akan berguna lagi. Orang Palestina zaman dahulu memasak dengan cara tradisional dengan memakai tungku dan kayu bakar sebagaimana masih banyak terdapat di pedalaman-pedalaman Indonesia saat ini. Kayu bakar yang sering dipakai adalah pohon bunga bakung. Karena itu setiap sore wanita-wanita Palestina sering pergi ke lereng-lereng gunung dan mencabut serta mengumpulkan batang-batang bunga bakung lalu dibawa pulang untuk dijadikan kayu bakar. Demikianlah “nasib” bunga bakung itu yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api.

 Namun demikian Yesus berkata “Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu” (ayat 29). Ini tentu hal yang luar biasa. Raja Salomo terkenal sebagai raja yang kaya raya. (Coba baca : I Raj 4:21-34). Walaupun tidak ada keterangan yang lengkap tentang pakaian Salomo, tapi dilihat dari kekayaannya, kejayaannya dan kedudukannya sebagai raja, tentu ia mempunyai pakaian yang sangat indah dan mahal. Namun sekali lagi semahal-mahalnya dan seindah-indahnya pakaian Salomo, ia masih kalah dari bunga bakung.

 Bunga bakung yang nota bene hanya hidup sebentar saja dan setelah itu menjadi kayu bakar, hangus, hilang dan lenyap namun ternyata dipelihara dan didandani Allah sedemikian rupa. Inilah indahnya! Kalau Allah melakukan hal yang luar biasa itu kepada bunga bakung, mengapa ia tidak melakukan hal itu kepada kita umat-Nya yang sangat berharga di mata-Nya? Karena itu seharusnya kita tidak perlu kuatir tentang apa pun juga dalam hidup ini.
Inilah pelajaran dari alam!

2. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh

Allah memang akan memelihara kita. Kita ini lebih berharga dari burung pipit dan bunga bakung. Karena itu kita tidak perlu kuatir terhadap segala kebutuhan dan masa depan kita. Semuanya telah dijamin oleh Allah. Ini adalah sebuah kebenaran.

Namun demikian kebenaran ini tidak boleh salah ditafsirkan atau salah dimanfaatkan. Kita jangan berpikir bahwa kalau Allah memperhatikan kita lebih daripada burung pipit dan bunga bakung maka kita tidak perlu lagi bekerja dengan sungguh-sungguh. Yesus tidak bermaksud menjadikan kita menjadi orang-orang yang malas bekerja dengan pengajaran-Nya dan hanya percaya bahwa Allah akan memberi kita makanan, minuman dan pakaian. Memangnya Allah akan menurunkan beras bagi kita dari langit? Apakah Allah akan menurunkan pakaian bagi kita dari langit? Yesus hanya bermaksud bahwa di dalam bekerja yang sungguh-sungguh kita perlu memiliki suatu kesadaran bahwa Allah sementara memelihara kita melalui pekerjaan kita masing-masing. Allah memang memelihara burung pipit itu tetapi bukankah burung pipit itu harus terbang keluar dari sarangnya untuk mencari makanan itu di antara semak dan rumput-rumput? Allah memang mendandani bunga bakung itu tapi bukankah bunga bakung itu perlu “menggerakkan” akar-akarnya untuk menyerap sari-sari makanan yang telah Tuhan sediakan dalam tanah? Jadi pemeliharaan Allah tidak bermaksud untuk menjadikan kita menjadi pemalas-pemalas tapi justru sebaliknya mengajarkan kita agar kita tidak kuatir tetapi juga bekerja dengan sungguh-sungguh.

Menarik untuk direnungkan ungkapan Yesus dalam Matius 7:7 tentang hal pengabulan doa :

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”

Ada 3 kata kerja yang diungkapkan dalam ayat ini yakni minta, cari dan ketok. Yang perlu kita perhatikan adalah “minta” dan “cari”. Coba anda pikirkan, mengapa kita diajarkan untuk meminta terlebih dahulu setelah itu baru mencari? Mengapa bukan sebaliknya mencari baru meminta? Di sini Yesus sebenarnya mau mengajarkan tentang perlunya orang berdoa tetapi juga bekerja. Anda meminta berkat dari Tuhan dan setelah itu anda perlu mencarinya di sawah kalau anda adalah seorang petani. Anda meminta rejeki dari Tuhan dan setelah itu anda harusnya mencarinya di laut kalau anda seorang nelayan. Anda meminta nafkah dari Tuhan dan setelah itu anda harus mencarinya di pasar atau di toko kalau anda adalah seorang pedagang, di kantor kalau anda adalah pegawai, di sekolah kalau anda adalah guru, di bangunan-bangunan jika anda adalah seorang tukang bangunan, jalan raya kalau anda adalah seorang Polisi lalu lintas dan di mana-mana tempat sesuai dengan profesi anda. Inilah maksud pengajaran Yesus yang sesungguhnya. Ingatlah semboyan dari gereja purba dalam bahasa Latin “Ora et Labora” (Berdoa dan bekerja). Anda tidak perlu kuatir atau anda dapat mengatasi kekuatiran anda dengan tetap bekerja sungguh-sungguh di tempat di mana Tuhan telah menetapkan anda. Pekerjaan anda adalah tempat di mana Allah mencurahkan hujan berkat-Nya. Gunakanlah sayapmu dan terbang keluar dari sarangmu untuk memilih dan mengantongi berkat-berkat-Nya yang berceceran di antara duri dan rerumputan. Janganlah malas bekerja, ingatlah nasihat Amsal :

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak”. (Amsal 6:6)

3. Tentukanlah perioritas dalam hidup ini

Kita telah mengetahui bahwa kekuatiran itu dapat diatasi dengan cara belajar dari alam dan juga bersungguh-sungguh bekerja. Secara khusus dalam hal bekerja ini rasanya sudah disadari oleh banyak orang. Ada banyak orang yang begitu rajin dan semangat di dalam bekerja. Ada banyak orang yang bekerja membanting tulang di dalam mencari nafkah. Namun rupanya ada efek samping yang mungkin saja terjadi di mana orang begitu semangat dan rajin di dalam bekerja sampai akhirnya bukan mereka yang berkuasa atas pekerjaan tetapi pekerjaanlah yang berkuasa atas mereka. Karena terlalu giat bekerja sampai mereka melupakan Tuhan. Karena terlalu rajin bekerja sampai-sampai hari Minggu pun terus bekerja sehingga tidak ada kesempatan untuk berbakti. Ini juga adalah hal yang keliru. Ingatlah bahwa bekerja dengan sungguh-sungguh dapat menjadi cara untuk mengatasi kekuatiran tetapi juga dapat menjadi bukti adanya kekuatiran. Orang bisa saja sangat kuatir akan hidupnya karena itu ia bekerja begitu rupa sampai akhirnya “No time for God” (tidak ada waktu bagi Allah). Itulah sebabnya dalam pengajaran-Nya Yesus berkata :

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu (makanan, minuman dan pakaian) akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33)

 Kita memang tidak boleh malas-malasan. Kita harus bekerja sungguh-sungguh tetapi itu bukan berarti bahwa pekerjaan adalah segala-galanya. Ingatlah bahwa berhala zaman modern ini bukanlah apa yang kita letakkan di atas meja pemujaan dan sujud menyembah kepadanya tetapi apa yang kita ingini dan lakukan secara berlebih-lebihan sehingga memisahkan atau mengganggu hubungan kita dengan Allah. Pekerjaan adalah berkat dari Allah. Jangan jadikan itu menjadi berhala bagi anda. Tentukanlah perioritas anda. Pertama-tama adalah Kerajaan Allah dan kedua adalah bekerja dengan sungguh-sungguh. Jadikanlah pekerjaan menjadi cara untuk mengatasi kekuatiran dan bukan sebagai bukti adanya kekuatiran.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

One Comment

  1. [...] Kita memang tidak boleh malas-malasan. Kita harus bekerja sungguh-sungguh tetapi itu bukan berarti bahwa pekerjaan adalah segala-galanya. Ingatlah bahwa berhala zaman modern ini bukanlah apa yang kita letakkan di atas meja pemujaan dan sujud menyembah kepadanya tetapi apa yang kita ingini dan lakukan secara berlebih-lebihan sehingga memisahkan atau mengganggu hubungan kita dengan Allah. Pekerjaan adalah berkat dari Allah. Jangan jadikan itu menjadi berhala bagi anda. Tentukanlah perioritas anda. Pertama-tama adalah Kerajaan Allah dan kedua adalah bekerja dengan sungguh-sungguh. Jadikanlah pekerjaan menjadi cara untuk mengatasi kekuatiran dan bukan sebagai bukti adanya kekuatiran. Sumber Klik di sini [...]

Leave a Reply