Orang-Orang Dalam Kisah Natal (1)

Ragam

Esra Alfred Soru

Hari Natal datang lagi! Di sana sini kita sudah dapat mendengar lagu-lagu Natal dikumandangkan, pohon-pohon Natal mulai bercahaya dalam rumah-rumah, lilin-lilin mulai dinyalakan. Dekorasi gereja mulai semarak, supermarket, mall, dan toko-toko ramai dikunjungi. Bahkan sejumlah kelompok telah mengadakan perayaan Natal. Semuanya itu tentu tidak salah namun yang paling penting adalah apakah kita sungguh-sungguh memahami makna Natal itu bagi kita? Ataukah kita hanya merayakan Natal sebagai sebuah rutinitas dan penuh hura-hura serta pesta pora demi kesenangan kita belaka? Ada kelompok pemuda gereja yang merayakan Natal dengan suasana yang hingar bingar dan luar biasanya bisingnya karena menampilkan musik-musik gaya rock layaknya di diskotik saja. Lagu-lagu agung yang seharusnya dapat menuntun pikiran dan hati kita untuk memahami makna Natal sesungguhnya disuguhkan dengan sangat berisik bahkan hampir-hampir kata-kata lagu itu tak terdengar. Yang terdengar hanyalah dentuman-dentuman alat musik yang super keras seolah membawa pendengar pada sebuah suasana ’trans’. Benar-benar seperti di bar atau diskotik. Suasana itu sungguh sangat jauh dari makna Natal itu. Perayaan itu kelihatannya untuk memuji Tuhan namun yang sesungguhnya hanyalah ajang pemuasan emosi diri yang sangat duniawi. Selain itu, koran Timex beberapa waktu yang lalu memberitakan bahwa Mariah Carey, yang terkenal dengan tembang-tembang Natalnya seperti ”Oh Holy Night” mengatakan bahwa ia sudah tidak sabar lagi menunggu datangnya hari Natal karena menurut rencananya ia akan tampil bugil (telanjang bulat) pada saat perayaan Natal. Sungguh kurang ajar! Natal sudah dijadikan semacam pesta duniawi yang telah kehilangan nilai rohaninya. Sungguh jauh berbeda sikap Mariah Carey dan Maria yang diberitakan Alkitab. Demikian juga ada kelompok panitia Natal yang berkelahi karena ketidaksesuaian pendapat sewaktu melakukan rapat panitia Natal. Apa yang digambarkan di atas hanyalah sedikit contoh dari begitu banyaknya kasus di mana Natal disambut dengan cara dan sikap hati yang salah. Meskipun demikian, kesalahan-kesalahan yang terjadi sebenarnya adalah pengulangan sejarah. Natal pertama di dunia ini yakni saat Kristus lahir juga sudah disambut dengan sikap-sikap yang salah dari orang-orang di sekitar peristiwa Natal di samping adanya orang-orang yang menyambut Natal itu dengan sikap hati yang benar. Berikut ini saya mengajak pembaca sekalian untuk merenungkan cerita yang dipaparkan dalam Injil Matius 2:1-12 (cerita tentang orang majus) dan kita akan melihat bahwa orang-orang yang hadir dalam kisah Natal itu menyambut kelahiran Kristus dengan cara-cara dan sikap hati yang berbeda.

Raja Herodes
Di dalam Alkitab ada banyak Herodes misalnya Herodes Agripa I (yang membunuh Yakobus dan ditampar malaikat hingga mati), Herodes Agripa II (yang bertemu dengan Paulus).  Nah, Herodes yang hadir dalam kisah Natal dalam Matius pasal 2 ini dikenal dengan nama Herodes Agung. Dialah yang terkejut atas pertanyaan orang Majus yang hendak mencari Yesus yang mereka sebut sebagai ’raja yang baru lahir’. (Mat 2:2-3). Dialah yang hendak melakukan pembunuhan terhadap bayi Yesus (Mat 2:8, 13), dia jugalah yang melakukan pembunuhan atas anak-anak di bawah 2 tahun di Betlehem dan daearh sekitarnya (Mat 2:16). Mengapa ia seolah-olah begitu ketakutan dan marah ketika mendengar kabar kelahiran Yesus? Mengapa ia berniat membunuh Yesus? Mengapa ia begitu tega dan sadis dalam membunuh anak-anak Betlehem? Siapakah sebenarnya Herodes Agung ini?
Herodes Agung berasal dari sebuah daerah bernama Idumea. Ayahnya adalah seorang Edom (keturunan Esau) yang akhirnya memeluk agama Yahudi dan adalah perdana menteri Yudea, sebuah provinsi Roma waktu itu, dan teman dekat Julis Caesar. Ibunya seorang Arab dari Petra (Yordania). Dengan demikian Herodes bukanlah asli orang Yahudi dan karenanya ia sebenarnya tidak layak menjadi raja atas orang Yahudi. Meskipun demikian dengan kepandaian politiknya, pada umur 25 tahun diangkat pemerintah Romawi menjadi gubernur Galilea. Ia menikah dengan seorang wanita bernama Doris dan mempunyai seorang anak.
Meskipun demikian, Herodes menyadari satu hal bahwa sesungguhnya latar belakang dirinya yang bukan orang Yahudi menjadi halangan baginya untuk diterima dengan tulus oleh orang Yahudi sebagai pemimpin mereka. Herodes lalu berusaha dengan berbagai cara untuk mengamankan kedudukannya. Langkah pertama yang ia lakukan adalah menikahi gadis remaja berdarah bangsawan Yahudi yang bernama Mariamme di mana sebelumnya ia menceraikan dan mengusir Doris (isteri pertamanya) bersama puteranya Antipater yang baru berumur 3 tahun. Dengan menikahi Mariamme maka Herodes mendapat kesempatan emas di mana ia akan dianggap sebagai keluarga raja Yahudi yang adalah penguasa Yudea yang sebenarnya. Menikahinya sama dengan mendapat sekutu yang kuat. (Ket. Herodes mempunyai 10 orang isteri). Setelah menikahi Mariamme, 5 tahun kemudian pihak Roma menetapkan Herodes sebagai ”Raja orang Yahudi”.
Setelah menjadi raja yang diakui Roma, Herodes masih merasa tidak tenang karena ia belum dapat diterima kaum tua Yahudi. Ia lalu berusaha menarik simpati orang Yahudi dengan cara membangun Bait Allah yang sangat megah. Bait Allah yang dibangun Herodes begitu indah dan mewah sehingga bangunan itu dipuji orang sebagai bangunan terindah di dunia. Bait Allah yang dikerjakan oleh 18 ribu orang itu sangat besar dan indah dan dilapisi dengan marmer dan emas. Halamannya dikelilingi dengan menara-menara dan dinding benteng. Herodes lebih banyak menghamburkan uang untuk pembangunan Bait Allah ini daripada bangunan lain dalam sejarah Yudea. Ia membangun Bait Allah tersebut di Yerusalem untuk menguatkan reputasinya sebagai orang Yahudi. Selain itu ketika kelaparan melanda seluruh negeri, selain uang kas kerajaan, ia juga mengeluarkan uang pribadi untuk mengatasi kelaparan bagi seluruh rakyat Yudea. Akibat dari semuanya ini maka banyak orang yang bersimpati padanya tetapi keterangan Flavius Jospehus, sejarawan Yahudi abad pertama mengatakan bahwa masih juga cukup banyak orang Yahudi yang tidak menyukainya. Sumber kebenciannya selain karena ia bukan orang Yahudi juga karena ia diangkat oleh penjajah Romawi dan menjadi kaki tangan mereka di tiap kesempatan. Oleh karena itu  Herodes selalu merasa bahwa kedudukannya tidak aman. Apalagi ia mengetahui adanya suatu harapan dalam diri banyak orang Yahudi bahwa akan datang seorang raja Yahudi yang sebenarnya, yakni Mesias. Herodes hidup penuh ketakutan. Ia takut bahwa suatu saat orang Yahudi akan melakukan pemberontakan terhadapnya. Itulah sebabnya istana tempat ia tinggal (Herodium) dibuat seperti layaknya sebuah benteng. Selain itu ia juga membangun sebuah istana dekat tepi pantai laut mati yang dikenal dengan mana ”Masada” di mana  menaranya ribuan kaki di atas gurun Yudea dengan ketinggian 3 lantai. Masada ini dilengkapi dengan gudang persenjataan, gudang makanan, dan tempat persembunyian yang sangat aman. Bukan hanya itu saja. Ketakutan Herodes yang amat kuat membuat ia membangun lebih dari 20 benteng di seluruh kerajannya di mana sinyal dapat dikirim antar benteng dengan menggunakan cermin. Semua itu menunjukkan bahwa yang ada di dalam diri Herodes adalah sebuah ketakutan yang sangat besar. Prof Todd Schultz mengatakan : ”Ia punya ketakutan diserang, dikalahkan, dan diambil gelarnya. Bangunan-bangunannya berbicara langsung soal ketakutannya itu.
Ketakutan Herodes membuat ia begitu peka dan sangat curiga dengan segala sesuatu yang akan mengancam diri dan kedudukannya. Tidak segan-segan ia membunuh setiap orang yang dianggapnya mengancam diri dan kekuasaannya/kedudukannya. Itulah sebabnya perjalanan hidup Herodes sering dikenal sebagai ’perjalanan berdarah’. Suatu saat, karena takut bahwa orang Yahudi akan mendukung iparnya (adiknya Mariamme) yang bernama Aristobulus (17 tahun) yang diangkatnya menjadi Imam Besar, Herodes lalu membunuh Aristobulus dengan cara ditenggelamkan pada sebuah acara pesta kolam. Meskipun pembunuhan itu dibuat seolah kecelakaan namun Jospehus percaya bahwa Herodeslah yang membuat anak itu tenggelam. Prof. Tood Schultz menilai tindakan Herodes ini dan berkesimpulan : ”Ini membuktikan 2 hal tentang Herodes. Pertama,  ia adalah paranoid. Kedua, ia mampau membunuh meski bukti yang ada kurang cukup”.
Lima tahun kemudian terjadi pergolakan politik di Romawi di mana Mark Anthony digulingkan oleh Octavian. Ketika itu terjadi Herodes berbalik dan menyatakan kesetiaan pada Octavian. Octavian lalu menegaskan bahwa Herodes adalah raja orang Yahudi. Meskipun demikian Herodes tidak cukup yakin bahwa Octavian tulus. Ia menduga bahwa Octavian akan membunuhnya karena sudah mendukung musuhnya Mark Anthony. Sebelum menghadap Octavian, ia meninggalkan pesan rahasia bahwa jika ia mati maka isterinya Mariamme harus dibunuh. Ia tidak tahan jika melihat Mariamme bersama orang lain. Namun ternyata ia tidak dibunuh. Sekembalinya dari Octavian, hubungannya dengan Mariamme menjadi retak karena Mariamme mengetahui rencana pembunuhan atas dirinya. Mariamme tidak mau tidur dengan Herodes lagi. Ini membuat Herodes sangat marah dan akhirnya ia membawa Mariamme ke pengadilan dengan tuduhan perzinahan dengan saksi yang memberatkan Mariamme yakni Salome, adik kandung Herodes sendiri dan juga ibu Mariamme sendiri yang bernama Alexandra. Josephus melihat ini sebagai cermin di mana Herodes menguasai Alexandra. Rupanya Alexandra juga masuk dalam daftar yang akan dibunuh Herodes. Sangat mungkin Alexandra menyalahkan puterinya demi menyelamatkan dirinya sendiri. Mariamme akhirnya dibunuh mati dalam usia 25 tahun. Tragis memang karena Herodes tega membunuh isteri yang paling dicintainya yang telah memberinya 5 orang putera selama 7 tahun hidup bersama.
Setelah membunuh isterinya sendiri, hidup Herodes mulai berubah. Josephus memberikan keterangan : ”Herodes sedih karena kehilangan Mariamme. Rupanya kematian Mariamme mengoyak hati Herodes. Ia dipenuhi rasa bersalah dan menyangkali kematian Mariamme. Ia berjalan-jalan di istana dan memanggil-manggil nama Mariamme. Ia benar-benar hancur setelah kematian isterinya. Dia psikosis, sering mendengar suara-suara, dia tertekan dan tidak mampu melakukan urusan publik lagi. Ia lalu sakit parah. Perilakunya aneh dan mulai banyak minum. Ada yang menganggap dia gila. Lalu Herodes  sakit”. Nah, dalam kondisi semacam ini tiba-tiba Alexsandra (ibunya Mariamme) mencoba mengambil alih pemerintahan dan mengumumkan dirinya sebagai Ratu. Ini menyebabkan Herodes marah besar dan tanpa diadili, langsung menghukum mati Alexandra. Tindakan herodes ini justru memicu lebih banyak kudeta. Pada usia 65 tahun Herodes mendengar bahwa 2 orang puteranya (anak Mariamme) yakni Alexander dan Aristobulus berencana membunuhnya dan merebut kerajaan. Ini adalah kedua anak dari wanita yang sangat dicintainya. Herodes akhirnya menghukum mati 2 anaknya itu. Selanjutnya di tahun 4 SM, hanya 5 hari sebelum Herodes mati, ia membasmi komplotan yang dipimpin puteranya Antipater (anak sulungnya) yang diperolehnya dari isteri pertamanya (Doris).  Antipater akhirnya dibunuh juga oleh Herodes. Herodes akhirnya mati pada usia 70 tahun dan dikubur di istana gurunnya, Herodium.
Itulah kehidupan Herodes. Ia adalah orang yang dalam hidupnya penuh ketakutan dan ia tega melakukan apa saja demi mempertahankan kedudukannya. Ia membunuh adik iparnya sendiri, isterinya, mertuanya dan juga anak-anak kandungnya sendiri. Kesadisan Herodes membuat sampai-sampai Kaisar Agustus pernah mengeluarkan kalimat yang akhirnya menjadi populer pada saat itu yakni : “Lebih baik menjadi babinya Herodes daripada menjadi anaknya Herodes”. (Ket : Dalam bahasa Yunani, kata “anak laki-laki” adalah HUIOS, sedangkan kata “babi” adalah HUOS, sehingga dalam bahasa Yunani kata-kata di atas itu membentuk syair yang indah). Mengapa muncul kalimat demikian? Karena Herodes, demi menghargai dan meraih simpati orang Yahudi, tidak makan babi. Jadi dapat dipastikan babi-babi waktu itu aman dan tidak akan dipotong. Tetapi anak-anak Herodes sungguh-sungguh tidak aman. Mereka dibunuh dan dipotong dengan kejam. Ya, tepat sekali, “Lebih baik menjadi babinya Herodes daripada menjadi anaknya Herodes”. Bersambung…..

Esra Alfred Soru

Hari Natal datang lagi! Di sana sini kita sudah dapat mendengar lagu-lagu Natal dikumandangkan, pohon-pohon Natal mulai bercahaya dalam rumah-rumah, lilin-lilin mulai dinyalakan. Dekorasi gereja mulai semarak, supermarket, mall, dan toko-toko ramai dikunjungi. Bahkan sejumlah kelompok telah mengadakan perayaan Natal. Semuanya itu tentu tidak salah namun yang paling penting adalah apakah kita sungguh-sungguh memahami makna Natal itu bagi kita? Ataukah kita hanya merayakan Natal sebagai sebuah rutinitas dan penuh hura-hura serta pesta pora demi kesenangan kita belaka? Ada kelompok pemuda gereja yang merayakan Natal dengan suasana yang hingar bingar dan luar biasanya bisingnya karena menampilkan musik-musik gaya rock layaknya di diskotik saja. Lagu-lagu agung yang seharusnya dapat menuntun pikiran dan hati kita untuk memahami makna Natal sesungguhnya disuguhkan dengan sangat berisik bahkan hampir-hampir kata-kata lagu itu tak terdengar. Yang terdengar hanyalah dentuman-dentuman alat musik yang super keras seolah membawa pendengar pada sebuah suasana ’trans’. Benar-benar seperti di bar atau diskotik. Suasana itu sungguh sangat jauh dari makna Natal itu. Perayaan itu kelihatannya untuk memuji Tuhan namun yang sesungguhnya hanyalah ajang pemuasan emosi diri yang sangat duniawi. Selain itu, koran Timex beberapa waktu yang lalu memberitakan bahwa Mariah Carey, yang terkenal dengan tembang-tembang Natalnya seperti ”Oh Holy Night” mengatakan bahwa ia sudah tidak sabar lagi menunggu datangnya hari Natal karena menurut rencananya ia akan tampil bugil (telanjang bulat) pada saat perayaan Natal. Sungguh kurang ajar! Natal sudah dijadikan semacam pesta duniawi yang telah kehilangan nilai rohaninya. Sungguh jauh berbeda sikap Mariah Carey dan Maria yang diberitakan Alkitab. Demikian juga ada kelompok panitia Natal yang berkelahi karena ketidaksesuaian pendapat sewaktu melakukan rapat panitia Natal. Apa yang digambarkan di atas hanyalah sedikit contoh dari begitu banyaknya kasus di mana Natal disambut dengan cara dan sikap hati yang salah. Meskipun demikian, kesalahan-kesalahan yang terjadi sebenarnya adalah pengulangan sejarah. Natal pertama di dunia ini yakni saat Kristus lahir juga sudah disambut dengan sikap-sikap yang salah dari orang-orang di sekitar peristiwa Natal di samping adanya orang-orang yang menyambut Natal itu dengan sikap hati yang benar. Berikut ini saya mengajak pembaca sekalian untuk merenungkan cerita yang dipaparkan dalam Injil Matius 2:1-12 (cerita tentang orang majus) dan kita akan melihat bahwa orang-orang yang hadir dalam kisah Natal itu menyambut kelahiran Kristus dengan cara-cara dan sikap hati yang berbeda.

Raja Herodes

Di dalam Alkitab ada banyak Herodes misalnya Herodes Agripa I (yang membunuh Yakobus dan ditampar malaikat hingga mati), Herodes Agripa II (yang bertemu dengan Paulus).  Nah, Herodes yang hadir dalam kisah Natal dalam Matius pasal 2 ini dikenal dengan nama Herodes Agung. Dialah yang terkejut atas pertanyaan orang Majus yang hendak mencari Yesus yang mereka sebut sebagai ’raja yang baru lahir’. (Mat 2:2-3). Dialah yang hendak melakukan pembunuhan terhadap bayi Yesus (Mat 2:8, 13), dia jugalah yang melakukan pembunuhan atas anak-anak di bawah 2 tahun di Betlehem dan daearh sekitarnya (Mat 2:16). Mengapa ia seolah-olah begitu ketakutan dan marah ketika mendengar kabar kelahiran Yesus? Mengapa ia berniat membunuh Yesus? Mengapa ia begitu tega dan sadis dalam membunuh anak-anak Betlehem? Siapakah sebenarnya Herodes Agung ini?

Herodes Agung berasal dari sebuah daerah bernama Idumea. Ayahnya adalah seorang Edom (keturunan Esau) yang akhirnya memeluk agama Yahudi dan adalah perdana menteri Yudea, sebuah provinsi Roma waktu itu, dan teman dekat Julis Caesar. Ibunya seorang Arab dari Petra (Yordania). Dengan demikian Herodes bukanlah asli orang Yahudi dan karenanya ia sebenarnya tidak layak menjadi raja atas orang Yahudi. Meskipun demikian dengan kepandaian politiknya, pada umur 25 tahun diangkat pemerintah Romawi menjadi gubernur Galilea. Ia menikah dengan seorang wanita bernama Doris dan mempunyai seorang anak.

Meskipun demikian, Herodes menyadari satu hal bahwa sesungguhnya latar belakang dirinya yang bukan orang Yahudi menjadi halangan baginya untuk diterima dengan tulus oleh orang Yahudi sebagai pemimpin mereka. Herodes lalu berusaha dengan berbagai cara untuk mengamankan kedudukannya. Langkah pertama yang ia lakukan adalah menikahi gadis remaja berdarah bangsawan Yahudi yang bernama Mariamme di mana sebelumnya ia menceraikan dan mengusir Doris (isteri pertamanya) bersama puteranya Antipater yang baru berumur 3 tahun. Dengan menikahi Mariamme maka Herodes mendapat kesempatan emas di mana ia akan dianggap sebagai keluarga raja Yahudi yang adalah penguasa Yudea yang sebenarnya. Menikahinya sama dengan mendapat sekutu yang kuat. (Ket. Herodes mempunyai 10 orang isteri). Setelah menikahi Mariamme, 5 tahun kemudian pihak Roma menetapkan Herodes sebagai ”Raja orang Yahudi”.

Setelah menjadi raja yang diakui Roma, Herodes masih merasa tidak tenang karena ia belum dapat diterima kaum tua Yahudi. Ia lalu berusaha menarik simpati orang Yahudi dengan cara membangun Bait Allah yang sangat megah. Bait Allah yang dibangun Herodes begitu indah dan mewah sehingga bangunan itu dipuji orang sebagai bangunan terindah di dunia. Bait Allah yang dikerjakan oleh 18 ribu orang itu sangat besar dan indah dan dilapisi dengan marmer dan emas. Halamannya dikelilingi dengan menara-menara dan dinding benteng. Herodes lebih banyak menghamburkan uang untuk pembangunan Bait Allah ini daripada bangunan lain dalam sejarah Yudea. Ia membangun Bait Allah tersebut di Yerusalem untuk menguatkan reputasinya sebagai orang Yahudi. Selain itu ketika kelaparan melanda seluruh negeri, selain uang kas kerajaan, ia juga mengeluarkan uang pribadi untuk mengatasi kelaparan bagi seluruh rakyat Yudea. Akibat dari semuanya ini maka banyak orang yang bersimpati padanya tetapi keterangan Flavius Jospehus, sejarawan Yahudi abad pertama mengatakan bahwa masih juga cukup banyak orang Yahudi yang tidak menyukainya. Sumber kebenciannya selain karena ia bukan orang Yahudi juga karena ia diangkat oleh penjajah Romawi dan menjadi kaki tangan mereka di tiap kesempatan. Oleh karena itu  Herodes selalu merasa bahwa kedudukannya tidak aman. Apalagi ia mengetahui adanya suatu harapan dalam diri banyak orang Yahudi bahwa akan datang seorang raja Yahudi yang sebenarnya, yakni Mesias. Herodes hidup penuh ketakutan. Ia takut bahwa suatu saat orang Yahudi akan melakukan pemberontakan terhadapnya. Itulah sebabnya istana tempat ia tinggal (Herodium) dibuat seperti layaknya sebuah benteng. Selain itu ia juga membangun sebuah istana dekat tepi pantai laut mati yang dikenal dengan mana ”Masada” di mana  menaranya ribuan kaki di atas gurun Yudea dengan ketinggian 3 lantai. Masada ini dilengkapi dengan gudang persenjataan, gudang makanan, dan tempat persembunyian yang sangat aman. Bukan hanya itu saja. Ketakutan Herodes yang amat kuat membuat ia membangun lebih dari 20 benteng di seluruh kerajannya di mana sinyal dapat dikirim antar benteng dengan menggunakan cermin. Semua itu menunjukkan bahwa yang ada di dalam diri Herodes adalah sebuah ketakutan yang sangat besar. Prof Todd Schultz mengatakan : ”Ia punya ketakutan diserang, dikalahkan, dan diambil gelarnya. Bangunan-bangunannya berbicara langsung soal ketakutannya itu.

Ketakutan Herodes membuat ia begitu peka dan sangat curiga dengan segala sesuatu yang akan mengancam diri dan kedudukannya. Tidak segan-segan ia membunuh setiap orang yang dianggapnya mengancam diri dan kekuasaannya/kedudukannya. Itulah sebabnya perjalanan hidup Herodes sering dikenal sebagai ’perjalanan berdarah’. Suatu saat, karena takut bahwa orang Yahudi akan mendukung iparnya (adiknya Mariamme) yang bernama Aristobulus (17 tahun) yang diangkatnya menjadi Imam Besar, Herodes lalu membunuh Aristobulus dengan cara ditenggelamkan pada sebuah acara pesta kolam. Meskipun pembunuhan itu dibuat seolah kecelakaan namun Jospehus percaya bahwa Herodeslah yang membuat anak itu tenggelam. Prof. Tood Schultz menilai tindakan Herodes ini dan berkesimpulan : ”Ini membuktikan 2 hal tentang Herodes. Pertama,  ia adalah paranoid. Kedua, ia mampau membunuh meski bukti yang ada kurang cukup”.

Lima tahun kemudian terjadi pergolakan politik di Romawi di mana Mark Anthony digulingkan oleh Octavian. Ketika itu terjadi Herodes berbalik dan menyatakan kesetiaan pada Octavian. Octavian lalu menegaskan bahwa Herodes adalah raja orang Yahudi. Meskipun demikian Herodes tidak cukup yakin bahwa Octavian tulus. Ia menduga bahwa Octavian akan membunuhnya karena sudah mendukung musuhnya Mark Anthony. Sebelum menghadap Octavian, ia meninggalkan pesan rahasia bahwa jika ia mati maka isterinya Mariamme harus dibunuh. Ia tidak tahan jika melihat Mariamme bersama orang lain. Namun ternyata ia tidak dibunuh. Sekembalinya dari Octavian, hubungannya dengan Mariamme menjadi retak karena Mariamme mengetahui rencana pembunuhan atas dirinya. Mariamme tidak mau tidur dengan Herodes lagi. Ini membuat Herodes sangat marah dan akhirnya ia membawa Mariamme ke pengadilan dengan tuduhan perzinahan dengan saksi yang memberatkan Mariamme yakni Salome, adik kandung Herodes sendiri dan juga ibu Mariamme sendiri yang bernama Alexandra. Josephus melihat ini sebagai cermin di mana Herodes menguasai Alexandra. Rupanya Alexandra juga masuk dalam daftar yang akan dibunuh Herodes. Sangat mungkin Alexandra menyalahkan puterinya demi menyelamatkan dirinya sendiri. Mariamme akhirnya dibunuh mati dalam usia 25 tahun. Tragis memang karena Herodes tega membunuh isteri yang paling dicintainya yang telah memberinya 5 orang putera selama 7 tahun hidup bersama.

Setelah membunuh isterinya sendiri, hidup Herodes mulai berubah. Josephus memberikan keterangan : ”Herodes sedih karena kehilangan Mariamme. Rupanya kematian Mariamme mengoyak hati Herodes. Ia dipenuhi rasa bersalah dan menyangkali kematian Mariamme. Ia berjalan-jalan di istana dan memanggil-manggil nama Mariamme. Ia benar-benar hancur setelah kematian isterinya. Dia psikosis, sering mendengar suara-suara, dia tertekan dan tidak mampu melakukan urusan publik lagi. Ia lalu sakit parah. Perilakunya aneh dan mulai banyak minum. Ada yang menganggap dia gila. Lalu Herodes  sakit”. Nah, dalam kondisi semacam ini tiba-tiba Alexsandra (ibunya Mariamme) mencoba mengambil alih pemerintahan dan mengumumkan dirinya sebagai Ratu. Ini menyebabkan Herodes marah besar dan tanpa diadili, langsung menghukum mati Alexandra. Tindakan herodes ini justru memicu lebih banyak kudeta. Pada usia 65 tahun Herodes mendengar bahwa 2 orang puteranya (anak Mariamme) yakni Alexander dan Aristobulus berencana membunuhnya dan merebut kerajaan. Ini adalah kedua anak dari wanita yang sangat dicintainya. Herodes akhirnya menghukum mati 2 anaknya itu. Selanjutnya di tahun 4 SM, hanya 5 hari sebelum Herodes mati, ia membasmi komplotan yang dipimpin puteranya Antipater (anak sulungnya) yang diperolehnya dari isteri pertamanya (Doris).  Antipater akhirnya dibunuh juga oleh Herodes. Herodes akhirnya mati pada usia 70 tahun dan dikubur di istana gurunnya, Herodium.

Itulah kehidupan Herodes. Ia adalah orang yang dalam hidupnya penuh ketakutan dan ia tega melakukan apa saja demi mempertahankan kedudukannya. Ia membunuh adik iparnya sendiri, isterinya, mertuanya dan juga anak-anak kandungnya sendiri. Kesadisan Herodes membuat sampai-sampai Kaisar Agustus pernah mengeluarkan kalimat yang akhirnya menjadi populer pada saat itu yakni : “Lebih baik menjadi babinya Herodes daripada menjadi anaknya Herodes”. (Ket : Dalam bahasa Yunani, kata “anak laki-laki” adalah HUIOS, sedangkan kata “babi” adalah HUOS, sehingga dalam bahasa Yunani kata-kata di atas itu membentuk syair yang indah). Mengapa muncul kalimat demikian? Karena Herodes, demi menghargai dan meraih simpati orang Yahudi, tidak makan babi. Jadi dapat dipastikan babi-babi waktu itu aman dan tidak akan dipotong. Tetapi anak-anak Herodes sungguh-sungguh tidak aman. Mereka dibunuh dan dipotong dengan kejam. Ya, tepat sekali, “Lebih baik menjadi babinya Herodes daripada menjadi anaknya Herodes”. Bersambung…..

You must be logged in to post a comment.

Trackback URL for this entry

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.