PD Air Hidup

Jl. Bhakti Warga 5 Kupang – NTT

Orang-Orang Dalam Kisah Natal (2)

Written By: admin - Dec• 16•09
Esra Alfred Soru *
Demikianlah gambaran kehidupan Herodes. Sekali lagi, ia adalah orang yang selalu merasa tidak aman dan ia tidak membiarkan sedikitpun kemungkinan kekuasaannya direbut. Dengan mentalitas Herodes seperti ini, dapatlah dibayangkan bagaimana reaksinya ketika ia mendengar kabar dari para Majus bahwa mereka sementara mencari raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Mat 2:3 berkata “terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem”. Kata “terkejut” ini tidak terlalu kuat maknanya. Alkitab King James Version (KJV), Revised Standard Version (RSV), New American Standard Bible (NASB) menerjemahkannya dengan kata “was trouble” yang artinya “terganggu”. Jadi Herodes ketika mendengar ada raja yang baru lahir, perasaan curiga, perasaan marah, perasaan tersainginya mulai menguasai dia sehingga ia merasa terganggu. Bukan hanya Herodes yang terganggu. Seluruh Yerusalem juga “terganggu”. Mengapa? Karena mereka tahu persis sifat Herodes dan apa yang akan terjadi. Mereka sudah cukup terganggu dengan pembunuhan Aristobulus, Mariamne, Alexandra, dan anak-anak Herodes sendiri. Dan mereka yakin bahwa raja yang baru lahir itu pasti akan membuat geger Yerusalem dengan tindakan Herodes. Dan memang akhirnya Herodes memerintahkan pembunuhan anak-anak di bawah 2 tahun (Mat 2:16-18).
Kehidupan Herodes memberikan 2 gambaran tentang siapa sesungguhnya dia. HERODES ADALAH ORANG YANG MERASA BAHWA HIDUPNYA TERGANGGU OLEH KEHADIRAN YESUS. Baginya kelahiran Yesus tidak bermakna apa-apa selain hanya membawa ancaman bagi kekuasannya. Ia telah lama tahu bahwa Mesiaslah yang sementara diharapkan oleh orang-orang Yahudi untuk menggantikan dirinya dan ia sungguh terganggu dengan hal itu. Ia tidak tahu bahwa Sang Mesias datang bukan untuk sebuah kerajaan duniawi/politik melainkan untuk sebuah kerajaan rohani, kerajaan Allah. Yang ia tahu hanyalah bahwa kehadiran Yesus mengganggu ketentramannya. Inilah sikap hati yang keliru dari Herodes di sekitar momen Natal. Dan, mau akui atau tidak, ini jugalah sikap hati dari kebanyakan kita. Tidak jarang kita merasa bahwa kehadiran Kristus hanyalah sebuah gangguan bagi kehidupan kita. Ada banyak orang yang senang dan tertarik dengan gereja tertentu (sama seperti Herodes yang membangun Bait Allah) tapi mereka menolak Yesus karena merasa bahwa hidupnya terganggu oleh perintah-perintah dan kehendak-Nya. Bukankah banyak kesenangan duniawi terganggu ketika karena Kristus menentang perzinahan? Bukankah acara piknik menjadi terganggu karena Ia menghendaki kita beribadah pada hari minggu? Bukankah keuntungan besar terganggu karena Ia mau kita jujur dalam berbisnis? Bukankah studi terganggu karena Ia tidak mau kita nyontek? Bukankah kenikmatan terganggu karena kita dilarang mabuk-mabukan? Yesus datang dengan maksud baik untuk menyelamatkan dunia dari dosa tapi Herodes mencurigai-Nya. Demikian juga Yesus datang dengan maksud baik untuk kita semua tapi mungkin ada di antara kita yang “mencurigai-Nya” sebagai pengganggu kehidupan kita. Kalau hal-hal seperti ini menyebabkan kita akhirnya menolak Yesus, maka sesungguhnya kita tidak berbeda dengan Herodes, kita adalah ’anak buahnya’ Herodes.
Selain itu HERODES ADALAH ORANG YANG HATINYA TIDAK BERES  dalam artian penuh iri hati, amarah, kebencian dan kedengkian. Semua yang dilihat sebagai ancaman bagi diri dan kedudukannya ia habisi. Sifat seperti inilah yang ia perlihatkan pada momen Natal ketika Kristus dilahirkan ke dunia ini. Itulah Herodes! Namun, tidakkah ada banyak orang Kristen juga yang merayakan Natal sambil tetap memelihara mentalitas Herodes ini dalam hati mereka? Amarah yang masih tersimpan dengan rapi, dendam yang masih membara, kedengkian yang menyatu dengan hati, serta iri yang merasuk jiwa? Berapa banyak di antara kita yang begitu sibuk mempersiapkan perayaan-perayaan Natal, menghadiri setiap kebaktian Natal namun hati kita tetap hitam dengan amarah, kebencian, dendam, dengki dan iri? Berapa banyak di antara kita yang belum mengampuni sesamanya? Dengarlah, engkau berhati Herodes!!! Natal identik dengan damai sejahtera, tidakkah kita membuka hati kita dan melepaskan pengampunan itu agar damai sejahtera itu dapat masuk ke dalam hati kita?
Imam Kepala dan Ahli Taurat
Golongan kedua yang ditampilkan dalam peristiwa Natal adalah para imam kepala dan ahli Taurat. Alkitab bercerita bahwa ketika Herodes mendengar ada raja yang baru dilahirkan, ia lalu mengumpulkan para imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi dan bertanya kepada mereka di mana Mesias akan dilahirkan? (Mat 2:4) dan luar biasa bahwa para imam kepala dan ahli-ahli Taurat itu langsung memberikan jawaban dengan meyakinkan : “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” (Mat 2:5-6). Ini membuktikan bahwa mereka memang benar-benar tahu persis nubuatan tentang kedatangan Mesias sebagaimana yang dicatat dalam Mikha 5:1. Sayangnya, justru ketika Sang Mesias itu lahir ke dunia, mereka tidak menyambutnya, mereka acuh tak acuh saja. Ya, mungkin mereka akan menjawab bahwa mereka tidak tahu persis waktu kelahiran Sang Mesias. Tidak ada tanda bagi mereka seperti bintang bagi orang Majus, tidak ada pemberitaan malaikat pada mereka seperti kepada para gembala. Ok, tak apalah. Tapi bukankah setelah itu, sepanjang hidup dan pengajaran Yesus, seharusnya sudah cukup untuk meyakinkan mereka bahwa Yesus dari Nazaret itu adalah Sang Mesias sendiri? Bukankah orang awam seperti Simon Petrus dapat mengerti semua itu dan berkata ”Engkau Mesias Anak Allah yang hidup?” (Mat 16:16). Lalu mengapa para imam kepala dan ahli Taurat tidak menyambut Dia sebagai Mesias? Bahkan lebih dari itu bukankah kematian Sang Mesias itu adalah ulah para imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang terus memusuhi-Nya sepanjang hidup-Nya? Oh….semua janji tentang Mesias ada di kepala mereka namun Mesias itu tidak ada dalam hati mereka. Mereka menguasai semua teori tentang Mesias namun mereka tidak menyambut-Nya sebagai Mesias. Kepala mereka penuh tapi hati mereka kosong. Itulah sikap para imam dan ahli Taurat dalam momen Natal itu, suatu sikap acuh tak acuh.
Adakah sikap itu juga yang menjadi sikap kita? Berapa banyak di antara kita memahami isi Kitab Suci dengan baik namun bersikap acuh tak acuh terhadap pribadi Kristus, Sang Putera Natal itu? Berapa banyak di antara kita yang menguasai sejumlah teori tentang Kristus namun tetap tidak menyambut Kristus itu dalam hati dan hidup kita?  Berapa banyak di antara kita yang tahu tentang Kristus tetapi tidak mengenal-Nya secara pribadi dan mempunyai hubungan pribadi dengan-Nya? Ada banyak orang Kristen yang sangat interest terhadap pendeta tertentu, gereja tertentu, aliran tertentu tetapi tidak terhadap Kristus. Kekristenan semacam ini adalah kekristenan yang kosong yang tidak akan membawa anda ke sorga. Kalau anda seperti itu, anda benar-benar satu ’merk’ dengan para ahli Taurat pada saat Natal pertama itu. Bagaimana sikap anda dalam menyambut Natal tahun ini? Buka hati anda dan sambutlah Putera Natal itu sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadimu.
Orang Majus
Kelompok berikutnya yang dapat kita lihat dalam Matius pasal 2 ini adalah kelompok orang Majus. Kita diberitahu bahwa mereka datang dari Timur berdasarkan tuntunan bintang dan mencari raja yang baru lahir. Mereka akhirnya berjumpa dengan Yesus, sujud menyembahnya dan memberikan persembahan emas, mur dan kemenyan. Selanjutnya mereka pulang ke negeri mereka.
Siapakah mereka sebenarnya? Mat 2:1 menginformasikan bahwa mereka berasal dari Timur (Mat 2:1). Banyak penafsir setuju bahwa “Timur” di sini menunjuk kepada bagian timur dari Yudea yang menunjuk kepada daerah Persia dan Arabia (Kej 25:6). Sebagian menganggapnya daerah Mesopotamia dan Babilonia. Kata “Majus” ini adalah kata yang sulit dipahami dalam pengertian kita saat ini. Alkitab-Alkitab bahasa Inggris menyebutnya ‘wise man’ (orang bijaksana). Kata ini dalam dalam bahasa Yunaninya adalah ‘magoi’. Dalam perkembangan di kemudian hari kata ini sering dihubungkan dengan kata ‘magician’ yang dapat berarti tukang sihir. Namun sesungguhnya arti kata ini tidaklah sesempit pengertian masa kini. J.J. de Heer berkata : “Pada aslinya kata itu berarti imam-imam di Persia, … ‘. (Tafsiran Alkitab Injil Matius; hal. 22). Homer A. Kent, Jr  juga memberikan keterangan : “Orang-orang Majus (magoi) aslinya merupakan kasta imamat di kalangan orang Persia dan Babilonia (band. Dan 2:2, 48; 4:6-7; 5:7). Nama ini kemudian oleh orang Yunani dikenakan pada semua ahli sihir atau dukun (Kis 8:9; 13:8). Matius menggunakan kata ini dalam arti yang lebih baik untuk mengacu pada tokoh-tokoh terhormat dari agama Timur”. (The Wycliffe Bible Commentary; hal. 25). Dalam Albert Barnes’ Notes on the Bible juga dicatat bahwa : “Orang-orang ini adalah ahli-ahli filsafat, imam-imam atau ahli-ahli perbintangan. Mereka hidup terutama di daerah Persia dan Arabia. Mereka adalah orang-orang terpelajar di daerah timur yang mahir dalam astronomi, agama dan obat-obatan. Dengan demikian kita mengerti bahwa orang-orang Majus ini adalah para imam, orang-orang terpelajar/terhormat, orang-orang kaya dan berkedudukan tinggi yang sangat pandai dalam hal-hal agama, pengobatan dan perbintangan. Mungkin karena status inilah Herodes menyambut mereka di istananya. Perhatikan juga keterangan Herodatus : “Mereka aslinya berasal dari sebuah suku bangsa Medi. Bangsa Medi adalah sebagian dari kekaisaran Persia. Bangsa Medi pernah mencoba untuk menggulingkan kuasa Persia dan menggantikannya dengan kuasa Media. Usaha ini gagal. Sejak saat itu bangsa Majus tidak pernah lagi mempunyai keinginan atau ambisi untuk memiliki kekuasaan dan prestise. Dan selanjutnya mereka memilih menjadi imam saja. Di tengah-tengah bangsa Persia para Majus tersebut berfungsi persis sama seperti fungsi orang-orang Lewi di tengah-tengah bangsa Israel. Mereka menjadi guru dan pembimbing para raja Persia. Di Persia tidak ada persembahan yang dapat dipersembahkan kecuali kalau ada orang Majus yang hadir dalam upacara itu. Jadi orang Majus dianggap sebagai orang suci dan orang yang bijaksana” (ibid : 39). Demikianlah kira-kira gambaran yang bisa kita dapat tentang para Majus ini.
Lalu berapakah jumlah mereka sebenarnya? Tentu saja jumlah mereka sangatlah banyak di daerah mereka sendiri. Namun berapa banyakkah yang datang mencari Yesus dan menyembah-Nya? Banyak dari antara kita merasa bahwa mereka berjumlah 3 orang dan demikian pula menurut tradisi. Bahkan tradisi-tradisi ini sampai memberitahukan nama ketiga orang Majus ini. Tradisi abad 6 mengatakan bahwa 3 orang Majus ini adalah Bithisarea, Melichior, dan Gathaspa sedangkan tradisi Armenia abad 14 mengatakan bahwa ketiga orang Majus itu adalah 3 orang raja, masing-masing bernama Gasper (raja Arab), Melkhior (raja Persia) dan Balthazar (raja India). Tradisi Suriah menyebut nama-nama mereka Larvandad, Hormisdas, dan Gusnasaf, sementara tradisi Armenia yang lebih tua hanya menyebutkan dua nama, yaitu Kagba dan Badadilma. Walaupun demikian kita harus sadar bahwa Alkitab sama sekali tidak memberitahukan jumlah orang-orang Majus ini maupun nama-nama mereka. Sangat mungkin bahwa jumlah tersebut (3 orang) dikaitkan dengan 3 persembahan yang dibawa mereka yakni emas, mur dan kemenyan. Namun persoalanya adalah apakah jumlah persembahan menentukan jumlah pemberi?  Jelas tidak harus demikian. Bisa jadi mereka berjumlah lebih dari 3 orang namun membawa 3 macam persembahan.
Dari catatan Injil Matius 2:11 : ‘Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia…’ ada beberapa hal yang menarik untuk disimak. Pertama,: Para Majus ini bertemu bayi Yesus di dalam rumah.Tidakkah kita merasa heran? Mengapa bukan di kandang? Bukankah Yesus dilahirkan di kandang? Beberapa orang memakai ayat ini untuk menunjukkan kontradiksi Alkitab namun sesungguhnya tidaklah demikian. Kita harus memahami bahwa waktu di mana para Majus menjumpai Yesus, bukanlah tepat pada saat Yesus dilahirkan (di kandang) namun beberapa waktu setelah Yesus dilahirkan sehingga tentunya Maria dan Yusuf sudah pindah dari kadang ke sebuah rumah. Jadi para gembala hadir pada saat Yesus dilahirkan makanya mereka bertemu Yesus di kadang namun para Majus hadir beberapa waktu (bulan?) kemudian makanya mereka bertemu Yesus di rumah. Kedua, dikatakan bahwa mereka menjumpai ’Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia…’ Perhatikan bahwa yang dijumpai adalah bayi Yesus dan Maria ibu-Nya namun tidak dikatakan bahwa para majus itu menyembah “mereka” melainkan menyembah “Dia”. Para Majus tidak menyembah Maria atau Yesus dan Maria. Mereka hanya menyembah Yesus saja meskipun Maria ada di sana. Tidakkah itu memberikan sedikit pengajaran pada kita bahwa setiap penyembahan pada Maria maupun Maria dan Yesus sama sekali tidak didukung Alkitab?
Lepas dari semua itu namun hal yang harus kita perhatikan adalah sikap orang-orang majus itu dalam menyambut kelahiran Yesus. Mereka rupanya rela mengorbankan/memberikan waktu mereka untuk berjumpa dengan Yesus. Mereka rela mengorbankan/memberikan tenaga mereka dalam perjalanan yang pasti sangat melelahkan dari negeri mereka. Mereka juga rela mengorbankan kesibukan mereka. Demikian juga harta mereka (emas, kemenyan dan mur). Namun yang lebih daripada semuanya itu adalah mereka rela mengorbankan/memberikan hati mereka dalam sujud penyembahan kepada Putera Natal itu, Sang Raja yang baru dilahirkan. Mereka tentu tidak mengerti bahwa bayi yang mereka sembah itu adalah jelmaan Allah tetapi tindakan mereka cukup membuktikan penghormatan mereka pada-Nya. Ya, seharusnya Natal memang disambut dengan sikap seperti para Majus itu. Tapi berapa banyakkah kita yang memiliki sikap hati seperti mereka? Apakah dengan merayakan Natal membuat kita berkomitmen untuk memberikan segalanya bagi Yesus? Apakah momen Natal menimbulkan niat yang tulus untuk sujud dalam penyembahan kepada-Nya? Ataukah Natal bagi kita hanyalah ajang pesta pora dan pemuasan kedagingan dan keduniawian kita? Mari sobatku, sambutlah Natal tahun ini dengan sikap hati yang benar. Jika sikapmu dalam merayakan Natal seperti Herodes dan imam kepala-ahli Taurat, bertobatlah dan naikkan doa tulus kepada-Nya ”Tuhan, berikanku hati seperti hati para Majus”.  Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010, Tuhan memberkati!

Esra Alfred Soru

Demikianlah gambaran kehidupan Herodes. Sekali lagi, ia adalah orang yang selalu merasa tidak aman dan ia tidak membiarkan sedikitpun kemungkinan kekuasaannya direbut. Dengan mentalitas Herodes seperti ini, dapatlah dibayangkan bagaimana reaksinya ketika ia mendengar kabar dari para Majus bahwa mereka sementara mencari raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Mat 2:3 berkata “terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem”. Kata “terkejut” ini tidak terlalu kuat maknanya. Alkitab King James Version (KJV), Revised Standard Version (RSV), New American Standard Bible (NASB) menerjemahkannya dengan kata “was trouble” yang artinya “terganggu”. Jadi Herodes ketika mendengar ada raja yang baru lahir, perasaan curiga, perasaan marah, perasaan tersainginya mulai menguasai dia sehingga ia merasa terganggu. Bukan hanya Herodes yang terganggu. Seluruh Yerusalem juga “terganggu”. Mengapa? Karena mereka tahu persis sifat Herodes dan apa yang akan terjadi. Mereka sudah cukup terganggu dengan pembunuhan Aristobulus, Mariamne, Alexandra, dan anak-anak Herodes sendiri. Dan mereka yakin bahwa raja yang baru lahir itu pasti akan membuat geger Yerusalem dengan tindakan Herodes. Dan memang akhirnya Herodes memerintahkan pembunuhan anak-anak di bawah 2 tahun (Mat 2:16-18).

Kehidupan Herodes memberikan 2 gambaran tentang siapa sesungguhnya dia. HERODES ADALAH ORANG YANG MERASA BAHWA HIDUPNYA TERGANGGU OLEH KEHADIRAN YESUS. Baginya kelahiran Yesus tidak bermakna apa-apa selain hanya membawa ancaman bagi kekuasannya. Ia telah lama tahu bahwa Mesiaslah yang sementara diharapkan oleh orang-orang Yahudi untuk menggantikan dirinya dan ia sungguh terganggu dengan hal itu. Ia tidak tahu bahwa Sang Mesias datang bukan untuk sebuah kerajaan duniawi/politik melainkan untuk sebuah kerajaan rohani, kerajaan Allah. Yang ia tahu hanyalah bahwa kehadiran Yesus mengganggu ketentramannya. Inilah sikap hati yang keliru dari Herodes di sekitar momen Natal. Dan, mau akui atau tidak, ini jugalah sikap hati dari kebanyakan kita. Tidak jarang kita merasa bahwa kehadiran Kristus hanyalah sebuah gangguan bagi kehidupan kita. Ada banyak orang yang senang dan tertarik dengan gereja tertentu (sama seperti Herodes yang membangun Bait Allah) tapi mereka menolak Yesus karena merasa bahwa hidupnya terganggu oleh perintah-perintah dan kehendak-Nya. Bukankah banyak kesenangan duniawi terganggu ketika karena Kristus menentang perzinahan? Bukankah acara piknik menjadi terganggu karena Ia menghendaki kita beribadah pada hari minggu? Bukankah keuntungan besar terganggu karena Ia mau kita jujur dalam berbisnis? Bukankah studi terganggu karena Ia tidak mau kita nyontek? Bukankah kenikmatan terganggu karena kita dilarang mabuk-mabukan? Yesus datang dengan maksud baik untuk menyelamatkan dunia dari dosa tapi Herodes mencurigai-Nya. Demikian juga Yesus datang dengan maksud baik untuk kita semua tapi mungkin ada di antara kita yang “mencurigai-Nya” sebagai pengganggu kehidupan kita. Kalau hal-hal seperti ini menyebabkan kita akhirnya menolak Yesus, maka sesungguhnya kita tidak berbeda dengan Herodes, kita adalah ’anak buahnya’ Herodes.

Selain itu HERODES ADALAH ORANG YANG HATINYA TIDAK BERES dalam artian penuh iri hati, amarah, kebencian dan kedengkian. Semua yang dilihat sebagai ancaman bagi diri dan kedudukannya ia habisi. Sifat seperti inilah yang ia perlihatkan pada momen Natal ketika Kristus dilahirkan ke dunia ini. Itulah Herodes! Namun, tidakkah ada banyak orang Kristen juga yang merayakan Natal sambil tetap memelihara mentalitas Herodes ini dalam hati mereka? Amarah yang masih tersimpan dengan rapi, dendam yang masih membara, kedengkian yang menyatu dengan hati, serta iri yang merasuk jiwa? Berapa banyak di antara kita yang begitu sibuk mempersiapkan perayaan-perayaan Natal, menghadiri setiap kebaktian Natal namun hati kita tetap hitam dengan amarah, kebencian, dendam, dengki dan iri? Berapa banyak di antara kita yang belum mengampuni sesamanya? Dengarlah, engkau berhati Herodes!!! Natal identik dengan damai sejahtera, tidakkah kita membuka hati kita dan melepaskan pengampunan itu agar damai sejahtera itu dapat masuk ke dalam hati kita?

Imam Kepala dan Ahli Taurat

Golongan kedua yang ditampilkan dalam peristiwa Natal adalah para imam kepala dan ahli Taurat. Alkitab bercerita bahwa ketika Herodes mendengar ada raja yang baru dilahirkan, ia lalu mengumpulkan para imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi dan bertanya kepada mereka di mana Mesias akan dilahirkan? (Mat 2:4) dan luar biasa bahwa para imam kepala dan ahli-ahli Taurat itu langsung memberikan jawaban dengan meyakinkan : “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” (Mat 2:5-6). Ini membuktikan bahwa mereka memang benar-benar tahu persis nubuatan tentang kedatangan Mesias sebagaimana yang dicatat dalam Mikha 5:1. Sayangnya, justru ketika Sang Mesias itu lahir ke dunia, mereka tidak menyambutnya, mereka acuh tak acuh saja. Ya, mungkin mereka akan menjawab bahwa mereka tidak tahu persis waktu kelahiran Sang Mesias. Tidak ada tanda bagi mereka seperti bintang bagi orang Majus, tidak ada pemberitaan malaikat pada mereka seperti kepada para gembala. Ok, tak apalah. Tapi bukankah setelah itu, sepanjang hidup dan pengajaran Yesus, seharusnya sudah cukup untuk meyakinkan mereka bahwa Yesus dari Nazaret itu adalah Sang Mesias sendiri? Bukankah orang awam seperti Simon Petrus dapat mengerti semua itu dan berkata ”Engkau Mesias Anak Allah yang hidup?” (Mat 16:16). Lalu mengapa para imam kepala dan ahli Taurat tidak menyambut Dia sebagai Mesias? Bahkan lebih dari itu bukankah kematian Sang Mesias itu adalah ulah para imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang terus memusuhi-Nya sepanjang hidup-Nya? Oh….semua janji tentang Mesias ada di kepala mereka namun Mesias itu tidak ada dalam hati mereka. Mereka menguasai semua teori tentang Mesias namun mereka tidak menyambut-Nya sebagai Mesias. Kepala mereka penuh tapi hati mereka kosong. Itulah sikap para imam dan ahli Taurat dalam momen Natal itu, suatu sikap acuh tak acuh.

Adakah sikap itu juga yang menjadi sikap kita? Berapa banyak di antara kita memahami isi Kitab Suci dengan baik namun bersikap acuh tak acuh terhadap pribadi Kristus, Sang Putera Natal itu? Berapa banyak di antara kita yang menguasai sejumlah teori tentang Kristus namun tetap tidak menyambut Kristus itu dalam hati dan hidup kita?  Berapa banyak di antara kita yang tahu tentang Kristus tetapi tidak mengenal-Nya secara pribadi dan mempunyai hubungan pribadi dengan-Nya? Ada banyak orang Kristen yang sangat interest terhadap pendeta tertentu, gereja tertentu, aliran tertentu tetapi tidak terhadap Kristus. Kekristenan semacam ini adalah kekristenan yang kosong yang tidak akan membawa anda ke sorga. Kalau anda seperti itu, anda benar-benar satu ’merk’ dengan para ahli Taurat pada saat Natal pertama itu. Bagaimana sikap anda dalam menyambut Natal tahun ini? Buka hati anda dan sambutlah Putera Natal itu sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadimu.

Orang Majus

Kelompok berikutnya yang dapat kita lihat dalam Matius pasal 2 ini adalah kelompok orang Majus. Kita diberitahu bahwa mereka datang dari Timur berdasarkan tuntunan bintang dan mencari raja yang baru lahir. Mereka akhirnya berjumpa dengan Yesus, sujud menyembahnya dan memberikan persembahan emas, mur dan kemenyan. Selanjutnya mereka pulang ke negeri mereka.

Siapakah mereka sebenarnya? Mat 2:1 menginformasikan bahwa mereka berasal dari Timur (Mat 2:1). Banyak penafsir setuju bahwa “Timur” di sini menunjuk kepada bagian timur dari Yudea yang menunjuk kepada daerah Persia dan Arabia (Kej 25:6). Sebagian menganggapnya daerah Mesopotamia dan Babilonia. Kata “Majus” ini adalah kata yang sulit dipahami dalam pengertian kita saat ini. Alkitab-Alkitab bahasa Inggris menyebutnya ‘wise man’ (orang bijaksana). Kata ini dalam dalam bahasa Yunaninya adalah ‘magoi’. Dalam perkembangan di kemudian hari kata ini sering dihubungkan dengan kata ‘magician’ yang dapat berarti tukang sihir. Namun sesungguhnya arti kata ini tidaklah sesempit pengertian masa kini. J.J. de Heer berkata : “Pada aslinya kata itu berarti imam-imam di Persia, … ‘. (Tafsiran Alkitab Injil Matius; hal. 22). Homer A. Kent, Jr  juga memberikan keterangan : “Orang-orang Majus (magoi) aslinya merupakan kasta imamat di kalangan orang Persia dan Babilonia (band. Dan 2:2, 48; 4:6-7; 5:7). Nama ini kemudian oleh orang Yunani dikenakan pada semua ahli sihir atau dukun (Kis 8:9; 13:8). Matius menggunakan kata ini dalam arti yang lebih baik untuk mengacu pada tokoh-tokoh terhormat dari agama Timur”. (The Wycliffe Bible Commentary; hal. 25). Dalam Albert Barnes’ Notes on the Bible juga dicatat bahwa : “Orang-orang ini adalah ahli-ahli filsafat, imam-imam atau ahli-ahli perbintangan. Mereka hidup terutama di daerah Persia dan Arabia. Mereka adalah orang-orang terpelajar di daerah timur yang mahir dalam astronomi, agama dan obat-obatan. Dengan demikian kita mengerti bahwa orang-orang Majus ini adalah para imam, orang-orang terpelajar/terhormat, orang-orang kaya dan berkedudukan tinggi yang sangat pandai dalam hal-hal agama, pengobatan dan perbintangan. Mungkin karena status inilah Herodes menyambut mereka di istananya. Perhatikan juga keterangan Herodatus : “Mereka aslinya berasal dari sebuah suku bangsa Medi. Bangsa Medi adalah sebagian dari kekaisaran Persia. Bangsa Medi pernah mencoba untuk menggulingkan kuasa Persia dan menggantikannya dengan kuasa Media. Usaha ini gagal. Sejak saat itu bangsa Majus tidak pernah lagi mempunyai keinginan atau ambisi untuk memiliki kekuasaan dan prestise. Dan selanjutnya mereka memilih menjadi imam saja. Di tengah-tengah bangsa Persia para Majus tersebut berfungsi persis sama seperti fungsi orang-orang Lewi di tengah-tengah bangsa Israel. Mereka menjadi guru dan pembimbing para raja Persia. Di Persia tidak ada persembahan yang dapat dipersembahkan kecuali kalau ada orang Majus yang hadir dalam upacara itu. Jadi orang Majus dianggap sebagai orang suci dan orang yang bijaksana” (ibid : 39). Demikianlah kira-kira gambaran yang bisa kita dapat tentang para Majus ini.

Lalu berapakah jumlah mereka sebenarnya? Tentu saja jumlah mereka sangatlah banyak di daerah mereka sendiri. Namun berapa banyakkah yang datang mencari Yesus dan menyembah-Nya? Banyak dari antara kita merasa bahwa mereka berjumlah 3 orang dan demikian pula menurut tradisi. Bahkan tradisi-tradisi ini sampai memberitahukan nama ketiga orang Majus ini. Tradisi abad 6 mengatakan bahwa 3 orang Majus ini adalah Bithisarea, Melichior, dan Gathaspa sedangkan tradisi Armenia abad 14 mengatakan bahwa ketiga orang Majus itu adalah 3 orang raja, masing-masing bernama Gasper (raja Arab), Melkhior (raja Persia) dan Balthazar (raja India). Tradisi Suriah menyebut nama-nama mereka Larvandad, Hormisdas, dan Gusnasaf, sementara tradisi Armenia yang lebih tua hanya menyebutkan dua nama, yaitu Kagba dan Badadilma. Walaupun demikian kita harus sadar bahwa Alkitab sama sekali tidak memberitahukan jumlah orang-orang Majus ini maupun nama-nama mereka. Sangat mungkin bahwa jumlah tersebut (3 orang) dikaitkan dengan 3 persembahan yang dibawa mereka yakni emas, mur dan kemenyan. Namun persoalanya adalah apakah jumlah persembahan menentukan jumlah pemberi?  Jelas tidak harus demikian. Bisa jadi mereka berjumlah lebih dari 3 orang namun membawa 3 macam persembahan.

Dari catatan Injil Matius 2:11 : ‘Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia...’ ada beberapa hal yang menarik untuk disimak. Pertama,: Para Majus ini bertemu bayi Yesus di dalam rumah.Tidakkah kita merasa heran? Mengapa bukan di kandang? Bukankah Yesus dilahirkan di kandang? Beberapa orang memakai ayat ini untuk menunjukkan kontradiksi Alkitab namun sesungguhnya tidaklah demikian. Kita harus memahami bahwa waktu di mana para Majus menjumpai Yesus, bukanlah tepat pada saat Yesus dilahirkan (di kandang) namun beberapa waktu setelah Yesus dilahirkan sehingga tentunya Maria dan Yusuf sudah pindah dari kadang ke sebuah rumah. Jadi para gembala hadir pada saat Yesus dilahirkan makanya mereka bertemu Yesus di kadang namun para Majus hadir beberapa waktu (bulan?) kemudian makanya mereka bertemu Yesus di rumah. Kedua, dikatakan bahwa mereka menjumpai ’Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia...’ Perhatikan bahwa yang dijumpai adalah bayi Yesus dan Maria ibu-Nya namun tidak dikatakan bahwa para majus itu menyembah “mereka” melainkan menyembah “Dia”. Para Majus tidak menyembah Maria atau Yesus dan Maria. Mereka hanya menyembah Yesus saja meskipun Maria ada di sana. Tidakkah itu memberikan sedikit pengajaran pada kita bahwa setiap penyembahan pada Maria maupun Maria dan Yesus sama sekali tidak didukung Alkitab?

Lepas dari semua itu namun hal yang harus kita perhatikan adalah sikap orang-orang majus itu dalam menyambut kelahiran Yesus. Mereka rupanya rela mengorbankan/memberikan waktu mereka untuk berjumpa dengan Yesus. Mereka rela mengorbankan/memberikan tenaga mereka dalam perjalanan yang pasti sangat melelahkan dari negeri mereka. Mereka juga rela mengorbankan kesibukan mereka. Demikian juga harta mereka (emas, kemenyan dan mur). Namun yang lebih daripada semuanya itu adalah mereka rela mengorbankan/memberikan hati mereka dalam sujud penyembahan kepada Putera Natal itu, Sang Raja yang baru dilahirkan. Mereka tentu tidak mengerti bahwa bayi yang mereka sembah itu adalah jelmaan Allah tetapi tindakan mereka cukup membuktikan penghormatan mereka pada-Nya. Ya, seharusnya Natal memang disambut dengan sikap seperti para Majus itu. Tapi berapa banyakkah kita yang memiliki sikap hati seperti mereka? Apakah dengan merayakan Natal membuat kita berkomitmen untuk memberikan segalanya bagi Yesus? Apakah momen Natal menimbulkan niat yang tulus untuk sujud dalam penyembahan kepada-Nya? Ataukah Natal bagi kita hanyalah ajang pesta pora dan pemuasan kedagingan dan keduniawian kita? Mari sobatku, sambutlah Natal tahun ini dengan sikap hati yang benar. Jika sikapmu dalam merayakan Natal seperti Herodes dan imam kepala-ahli Taurat, bertobatlah dan naikkan doa tulus kepada-Nya ”Tuhan, berikanku hati seperti hati para Majus”.  Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010, Tuhan memberkati!

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply