By. Esra Alfred Soru, STh
Ada banyak pokok penting yang berhubungan dengan doktrin Alkitab namun kita hanya akan membahas beberapa saja yang mempunyai hubungan dengan masalah otoritas Alkitab itu dalam kehidupan orang percaya sehari-hari.
Pandangan-Pandangan Tentang Alkitab
Mempelajari apakah Alkitab adalah Firman Allah atau bukan adalah hal yang penting karena ini menentukan sejauh mana Alkitab itu berotoritas dalam kehidupan kita sehari-hari.
Secara umum ada 3 pandangan yang berkembang di sekitar masalah apakah Alkitab Firman Allah atau bukan :
1. Pandangan Liberal
Golongan Liberal beranggapan bahwa “Kitab Suci bukanlah Firman Allah”, atau bahwa “Kitab Suci mengandung Firman Allah”.
Kalau dikatakan bahwa “cincin ini mengandung emas”, maka artinya adalah bahwa cincin ini tidak terbuat dari emas murni, tetapi ada campuran logam lain. Demikian juga kalau dikatakan bahwa “Kitab Suci mengandung Firman Allah”, maka itu berarti bahwa dalam Kitab Suci ada bagian-bagian yang adalah Firman Allah, dan ada juga bagian-bagian yang bukan Firman Allah. Dan bagian-bagian yang bukan Firman Allah itu tentu saja bisa salah.
Contoh :
- Pdt. Jahja Sunarya, STh : Jelas, betapa berartinya peranan penulis dalam menampilkan Yesus. Jika demikian, apakah tidak mungkin penulis telah menambahi atau mengurangi, bahkan keliru dalam menafsirkan/mengerti, pengajaran Yesus? Jawabnya tentu saja mungkin. Sebab ternyata injil yang tertua, yaitu injil karangan Markus, ditulis sekitar tahun 60. Itu berarti injil ini ditulis setelah sekitar tahun 30 (tiga puluh) saat peristiwa Yesus terjadi. Kita dapat membayangkan kesulitan Markus ketika menyusun Injilnya. Ia harus memilah-milah kisah-kisah lisan yang ada dan ingatan-ingatan yang tidak beraturan untuk menyajikannya dalam wujud tulisan yang memiliki alur logika yang jelas dan teratur” (Keselamatan Dalam Pandangan Yesus” hal 181).
- Robert Setio Ph.D : “Liputan Kairos tentang proses pembuatan Alkitab dalam edisi bulan Maret yang baru lalu merupakan sumbangan yang berharga bagi umat Kristen di Indonesia (GKI) yang, dalam bayangan saya, jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali mendengar “rahasia” tersebut. Liputan tersebut sekaligus juga merupakan peringatan bagi golongan tertentu yang begitu saja menyamakan Firman Allah dengan Alkitab. Bukankah proses terjadinya Alkitab itu rumit dan melalui seleksi serta penafsiran yang bisa jadi memiliki motif politik / ideologis?” (Majalah “Kairos” (Bulan Mei 1994); hal 5).
Selain itu juga ada golongan Liberal terselubung yang slogannya “Alkitab adalah Firman Allah” benar namun konsepnya keliru.
- Yohanes Bambang Mulyono, STh : “Kita juga tidak setuju dengan paham liberalisme yang menolak Alkitab sebagai firman Allah” (Tuhan Ajarlah Aku; hal 28).
- Yohanes Bambang Mulyono, STh : Oleh karena itu penulisan Alkitab merupakan hasil inspirasi dan pengilhaman Roh Kudus sendiri (bdk. 2Tim 3:16)” (hal 131).
- Yohanes Bambang Mulyono, STh : “Sebagai jemaat Allah kita mengakui kewibawaan Alkitab sebagai Firman Allah yang menuntun kepada keselamatan dan menjadi dasar normatif bagi kehidupan serta tingkah laku kita” (hal 211).
- Yohanes Bambang Mulyono, STh : “Oleh karena itu firman Allah sejati tidak pernah hanya merupakan suatu kumpulan ayat-ayat dalam Kitab Suci. Pendewa-dewaan kumpulan ayat-ayat dalam Kitab Suci sebenarnya sama saja dengan pemberhalaan. Iman Kristen menyadari, bahwa firman Allah sejati menjelma menjadi Yesus Kristus yang adalah Anak Allah. Artinya firman Allah sejati tidak pernah menjelma menjadi sebuah “buku yang turun dari sorga”” (hal 77).
- Yohanes Bambang Mulyono, STh : “Atas dasar pemikiran yang demikian, theologia Alkitab tidak pernah mendudukkan Alkitab sejajar dengan Firman Allah sendiri. Alkitab adalah alat yang dipakai oleh Allah untuk menyampaikan firman-Nya. Sedangkan firman Allah yang sejati (realitas obyektif-ilahi) menjelma menjadi manusia yang kelihatan dan yang menyejarah. Sebab itu sikap penghargaan kita yang tinggi terhadap Alkitab sebagai alat dari firman Allah tidak boleh melebihi penghargaan kita kepada Yesus Kristus. Jadi Alkitab berada di bawah kuasa pribadi Yesus Kristus, tidak boleh sebaliknya!” (hal 214).
Karena pandangan semacam inilah maka golongan Liberal memang mempunyai ciri khas merendahkan otoritas Kitab Suci, baik dalam hidup, kepercayaan, maupun ajaran mereka.
2. Pandangan Neo Ortodoks
Tokoh dari pandangan ini adalah Karl Barth, yang mengajar/beranggapan bahwa Kitab Suci menjadi/adalah Firman Allah, kalau Allah memakainya untuk berbicara kepada kita (atau, kalau kita merasakan Allah berbicara kepada kita melalui Firman-Nya). Tetapi kalau Allah tidak memakainya untuk berbicara kepada kita (atau, kalau kita tidak merasakan bahwa Allah berbicara kepada kita melalui Firman-Nya), maka Kitab Suci bukanlah Firman Allah. Jadi Kitab Suci adalah Firman Allah secara subyektif, bukan secara obyektif.
Ini jelas juga merupakan ajaran yang keliru, karena kalau demikian, Firman Allah tidak bisa menghakimi manusia pada akhir jaman (bdk. Yoh 12:47-48Â Ro 2:12), karena manusia yang tidak merasa bahwa Allah menegur dosanya, sebetulnya tidak pernah menerima teguran dari Firman Allah.
3. Pandangan Ortodoks
Kitab Suci adalah Firman Allah secara obyektif. Jadi, apakah Kitab Suci itu diberitakan atau tidak, didengar oleh manusia atau tidak, dimengerti atau tidak, ditaati atau tidak, Kitab Suci tetap adalah Firman Allah. Dan pada waktu manusia mendengar pemberitaan Kitab Suci, apakah ia merasakan Allah menggunakannya untuk berbicara kepadanya atau tidak, Kitab Suci itu tetap adalah Firman Allah.
Inilah pandangan yang benar yang harus kita terima.
Â
Bukti bahwa Alkitab adalah Firman Allah
Â
1. Pengakuan dari dalam Alkitab sendiri.
- Dalam Alkitab berulang-ulang dikatakan “Allah berfirman”. Cth: Yer 1:2,4,7.
- Dalam Alkitab berulangkali dikatakan bahwa Allah menyuruh orang menuliskan Firman-Nya. Cth : Kel 34:27Â Yer 30:1-2Â Wah 1:11,19.
- Roma 3:1-2 secara jelas menyebutkan bahwa Alkitab (Perjanjian Lama) adalah Firman Allah (yang dipercayakan kepada orang Israel / Yahudi).
- Kata-kata nabi / penulis Perjanjian Lama dianggap sebagai kata-kata Tuhan / Roh Kudus. Contoh:
-Â Bandingkan Yes 7:14 dengan Mat 1:22.
-Â Bandingkan Maz 95:7b-9 dengan Ibr 3:7.
2. Bukti-bukti lain.
a. Alkitab bisa bersatu dan harmonis.
- Alkitab ditulis dalam jangka waktu 1500-1600 tahun, oleh kurang lebih 40 orang, yang hidup pada jaman yang berbeda, mempunyai latar belakang yang berbeda (ada yang petani, gembala, nabi, nelayan, raja, dsb), banyak yang tidak kenal satu sama lain namun tulisan mereka harmonis.
- Ilustrasi : Kalau saya memberikan 40 buku kepada 40 orang dan menyuruh mereka menuliskan suatu karangan sesuka hati mereka, maka hasilnya pasti tidak akan bisa dikumpulkan menjadi satu buku. Mengapa? Karena isinya pasti akan bertentangan satu sama lain, atau sama sekali tidak berhubungan satu sama lain.
Â
Tetapi kalau saya mengontrol / mengarahkan 40 orang itu, misalnya dengan menyuruh si A mengarang tentang mata manusia, si B tentang telinga manusia, si C tentang jantung manusia, si D tentang paru-paru manusia dst, maka besar kemungkinan hasilnya bisa dibukukan menjadi satu, menjadi buku biologi. - Jadi, kalau hasil dari 40 penulis Alkitab itu bisa dibukukan menjadi suatu buku yang bersatu dan harmonis, maka pastilah ada “Satu Orang” yang menguasai / mengontrol dan mengarahkan ke 40 penulis tersebut. Dan siapakah yang bisa menguasai / mengontrol dan mengarahkan 40 orang yang hidup dalam jangka waktu 1500-1600 tahun? Hanya ada “Satu Orang” yang bisa melakukan hal itu, dan itu adalah Allah sendiri.
b. Alkitab tidak bisa habis dipelajari.
- Kalau saudara mempelajari buku lain, bagaimanapun tebalnya buku itu, maka pada suatu saat buku itu akan habis dipelajari dan saudara tidak akan bisa menambah pengetahuan apa-apa lagi dari buku itu. Tetapi Alkitab sudah dipelajari oleh jutaan manusia selama ribuan tahun, dan tidak ada seorang pun yang bisa tamat belajar Alkitab!
- Ada yang mengatakan bahwa kalau buku lain itu seperti bak, yang sekalipun besar, tetapi kalau terus diambili airnya, maka airnya akan habis. Tetapi Alkitab seperti sebuah sumber, yang sekalipun terus diambili airnya, tidak akan pernah habis.
- Kalau saudara belajar Alkitab, sekalipun makin lama saudara akan makin banyak mengerti tentang Alkitab, tetapi anehnya saudara akan melihat bahwa makin banyak juga hal-hal yang belum saudara mengerti tentang Alkitab.
- Manusia tidak bisa mempelajari Alkitab secara tuntas, apalagi mengarangnya!
c. Semua nubuat / ramalan dalam Alkitab terjadi dengan tepat.
- Manusia bisa meramal dengan ilmu pengetahuan (Mis: ramalan cuaca, ramalan akan terjadinya gerhana, ramalan dari dokter tentang umur seseorang yang sudah sakit berat maupun dengan kuasa gelap. (Mis: jailangkung, ramalan dengan melihat garis tangan/guamia, dll) tetapi ramalan-ramalan itu pasti kadang-kadang meleset.
- Tetapi semua nubuat / ramalan dalam Kitab Suci terjadi dengan tepat. Contoh: Maz 22:1,8,9,16,17,19Â Yes 7:14Â Mikha 5:1Â Yes 53:3-7,9Â Mat 24:2 dll. Ini membuktikan bahwa semua nubuat itu berasal dari Tuhan!
- Alkitab tahu bahwa bumi ini bulat, dan tidak disangga oleh tiang-tiang, jauh sebelum manusia mengetahuinya (Yes 40:22Â Ayub 26:7).
Â
Dulu manusia beranggapan bahwa bumi ini datar seperti meja. Manusia baru mengetahui bahwa bumi ini bulat pada abad 15, tepatnya pada tahun 1492 (Columbus). Tetapi hal itu ternyata sudah tertulis dalam Kitab Yesaya (abad 7 SM, atau lebih dari 2000 tahun sebelum Columbus!dan bahkan dalam kitab Ayub yang lebih kuno lagi! Dari mana penulis-penulis Alkitab itu mengetahui hal itu? Pada saat itu tidak ada seorang manusiapun yang tahu tentang hal itu. Jelas bahwa mereka mengetahui hal itu dari Allah!
d. Alkitab tetap terpelihara sampai sekarang padahal:
- Alkitab adalah buku yang paling kuno. Tidak ada buku yang setua Alkitab. Kitab Kejadian sudah berusia 3500 tahun!
- Banyak orang menyerang Alkitab untuk menghancurkannya. Ada serangan yang bersifat fisik, dan ada serangan yang berupa ajaran-ajaran sesat, misalnya:
Â
Seorang bernama Tom Paine menulis buku yang berjudul “The Age of Reason” yang menyerang Alkitab, dan ia meramalkan bahwa bukunya akan laris di seluruh dunia sedangkan Alkitab hanya akan dijumpai di museum. Tetapi kenyataannya, sekarang Alkitab bisa dijumpai di mana-mana dan buku “The Age of Reason” itu yang hanya bisa dijumpai di museum.
Â
Seorang bernama Voltaire mengatakan: 100 tahun setelah kematianku, Alkitab hanya akan ada di museum. Ternyata 100 tahun setelah kematiannya, tempat di mana ia mengucapkan kata-kata itu jatuh ke tangan “Geneva Bible Society”, dan ruangan itu diisi penuh dengan Alkitab dari lantai sampai langit-langitnya. - Tetap terpeliharanya Alkitab, sekalipun diserang selama ribuan tahun, menunjukkan secara jelas bahwa Allah melindungi buku karangan-Nya itu!
 Konsekuensi Alkitab sebagai Firman Allah
- Satu hal yang perlu ditekankan adalah kalau kita memang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah, kita juga harus percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya Firman Allah.
- Memang semua agama mempunyai Kitab Sucinya sendiri-sendiri, dan setiap agama mengakui Kitab Sucinya sebagai Firman Allah. Tetapi, karena Kitab Suci dari agama yang satu bukan hanya berbeda tetapi bahkan bertentangan dengan Kitab Suci dari agama yang lain, maka tidak mungkin semua Kitab Suci – Kitab Suci itu adalah Firman Allah.
- Allah itu esa, dan Ia tidak berbi¬cara dengan lidah yang bercabang. Karena itu, hanya ada satu Kitab Suci saja yang betul-betul adalah Firman Allah. Kalau kita mengakui Alkitab kita sebagai Firman Allah, maka kita tidak boleh mengakui Kitab Suci agama lain juga sebagai Firman Allah, dan karena itu kita juga tidak boleh menggunakan Kitab Suci agama lain sebagai dasar ajaran kita. Ini adalah sesuatu yang logis, bukan sikap fanatik yang picik / ekstrim dsb!
Masalah pengilhaman / inspirasi / theospneustos
Â
Masalah pengilhaman/diilhami (Yun : Theospneustos = dinafaskan Allah) memegang peranan yang sangat penting dalam penulisan Alkitab.
Paul Enns : Inspirasi merupakan suatu keharusan untuk memelihara wahyu Allah. Allah telah menyatakan diri-Nya namun apabila catatan dari penyataan itu tidak dicatat dengan akurat maka wahyu Allah patut dipertanyakan. Jadi inspirasi menjamin keakuratan dari wahyu itu. (The Moody Handbook of Theology (Vol 1); hal. 193)
Pengilhaman Alkitab ialah :
Millard J. Erickson : Pengaruh adikodrati Roh Kudus atas para penulis kitab dalam Alkitab sehingga membuat hasil karya mereka menjadi suatu catatan yang akurat tentang penyataan atau yang menyebabkan karya mereka benar-benar merupakan Firman Allah. (Teologi Kristen (Vol 1); hal.255)
Paul Enns : Pimpinan Roh Kudus pada para penulis, sehingga meskipun penulisan dilakukan sesuai dengan gaya dan kepribadian mereka, hasilnya adalah Firman Allah yang tertulis, yang berotoritas dan patut dipercaya dan bebas dari salah dalam autograph yang asli. (The Moody Handbook of Theology (Vol 1); hal. 193)
B.B. Warfield : Suatu pengaruh supranatural dari Roh Allah yang menggerakkan para penulis Kitab Suci, sehingga tulisan mereka dinyatakan memiliki kepatutan dipercaya dan bersifat ilahi. (The Inspiration And Authority of the Bible; hal.131)
Dasar Alkitabnya : 2 Tim 3:16-17 dan 2 Pet 1:20-21. Perhatikan juga ayat-ayat Kis 1:16; 28:25; 1 Kor 2:13; dll.
Ada beberapa teori inspirasi yang salah :
- Inspirasi Natural : Para penulis adalah orang jenius dan tidak membutuhkan bantuan adikodrati
- Inspirasi Bertingkat : Semua Alkitab diilhami tetapi ada yang diilhami lebih daripada yang lain.
- Inspirasi Parsial (Inspirasi sebagian): Ada bagian Alkitab yang diilhami dan ada yang tidak. Yang diilhami adalah bagian-bagian yang bersifat iman dan praktis sedangkan bagian-bagian yang berhubungan dengan sejarah, ilmu pengetahuan, kronologi atau hal-hal yang tidak berhubungan dengan iman tidak diinspirasikan sehingga ada kemungkinan salah.
- Inspirasi Konseptual : Hanya konsep Alkitab yang diilhami sedangkan kata-kata tidak. Jadi ada kemungkinan Alkitab salah karena kata-kata diserahkan kepada penulis dan tidak dikontrol oleh Roh Kudus.
- Inspirasi Pendiktean : Allah benar-benar mendikte isi Alkitab kepada para penulis
Teori pengilhaman yang benar disebut Pengilhaman Dinamis yaitu : Roh Kudus tidak mendikte penulis tetapi mengontrol penulis sedemikian rupa sehingga apa yang ditulis benar-benar adalah Firman Allah yang tidak mungkin salah walaupun pikiran dan latar belakang penulis tetap nampak.
Inerrancy of the Bible (Ketidakbersalahan Alkitab)
Kalau Alkitab memang adalah Firman Allah dan diinspirasikan oleh Roh Allah maka logis untuk mengatakan bahwa Alkitab tidak mungkin salah sebab bagaimana Allah bisa salah dalam berbicara?
E. J. Young : Kita harus mempertahankan bahwa Kitab Suci yang orisinil tidak ada salahnya karena alasan yang sederhana di mana Kitab Suci itu datang kepada kita langsung dari Allah sendiri (Thy Word Is Truth; hal 87).
Catatan : Yang “inerrant” (= tidak ada salahnya), adalah Kitab Suci asli (autograph). Itulah sebabnya betapa pentingnya studi bahasa asli Alkitab dan juga melihat berbagai terjemahan Alkitab seperti NASB, KJV, NIV, RSV, dll.
Â
Lalu bagaimana dengan unsur manusia yang turut memainkan peranan dalam penulisan Alkitab? Bukankah hal ini memberikan kemungkinan adanya kesalahan?
E. J. Young : Jika betul-betul ada kesalahan ditemukan dalam Alkitab, maka Allahlah, bukan para penulis manusia, yang bertanggung jawab untuk kesalahan itu. Ini adalah kesimpulan yang tidak terhindarkan (Thy Word Is Truth; hal 182).
Â
William G. T. Shedd : Keberatan ini melupakan / mengabaikan fakta bahwa elemen manusia dalam Alkitab begitu dimodifikasi oleh elemen ilahi dengan apa elemen manusia itu dicampurkan, sehingga berbeda dengan semata-mata manusia biasa. Firman yang tertulis memang adalah ilahi-manusiawi, seperti Firman yang berinkarnasi. Tetapi elemen manusia dalam Kitab Suci, seperti hakekat manusia dalam Tuhan kita, dijaga / dilindungi dari kesalahan dari manusia biasa / umum, dan menjadi manusia yang murni dan ideal. … Mereka yang berpendapat bahwa Alkitab bisa salah karena Alkitab mengandung elemen manusia, melakukan kesalahan yang sejenis, dengan mereka yang menegaskan bahwa Yesus Kristus berdosa karena Ia mempunyai hakekat manusia dalam pribadi-Nya yang kompleks. Keduanya melupakan / mengabaikan fakta bahwa pada waktu elemen manusia itu dihubungkan secara supranatural dengan elemen ilahi, maka elemen manusia itu sangat dimodifikasi dan diperbaiki / ditingkatkan, dan mendapatkan beberapa sifat yang tidak dimilikinya dari dan oleh dirinya sendiri (Shedd’s Dogmatic Theology (Vol I); hal 102-103)
Â
Kalau Kitab Suci mengandung kesalahan, mengapa Tuhan melarang kita mengubah Kitab Suci, baik mengurangi maupun menambahi Kitab Suci? (Ul 4:2Â Ul 12:32Â Amsal 30:6Â Mat 5:19Â Wah 22:18-19). Bukankah seharusnya bagian yang salah itu bisa diubah atau dibuang dan diganti dengan yang benar?
Apa pentingnya kepercayaan terhadap “inerrancy of the Bible”? Kepercayaan ini penting karena kalau kita mempelajari Kitab Suci dengan anggapan bahwa Kitab Suci itu mungkin ada salahnya, maka pada waktu kita melihat ada 2 bagian dari Kitab Suci yang kelihatan bertentangan, kita akan mengambil kesimpulan bahwa salah satu dari dua bagian itu adalah salah. Tetapi kalau kita beranggapan bahwa Kitab Suci tidak ada salahnya, maka kita akan berusaha untuk mengharmoniskan kedua bagian yang kelihatannya bertentangan itu.
Contoh : Â Kasus kematian Yudas (Mat 27:5 dan Kis 1:18)
  Ayah Simon Petrus (Mat 16:17 dan Yoh 21:15)
  Pencobaan di padang gurun (Mat 4 dan Luk 4)
Dengan mengakui adanya inerrancy Alkitab maka seandainya ada perbedaan atau pertentangan antara Alkitab dan ilmu pengetahuan maka ada 2 kemungkinan :
-Â Ilmu pengetahuan salah
-Â Pemahaman kita tentang kata Alkitab itu salah
Contoh :Â Masalah umur dunia
  Masalah ujung bumi (Kis 1:8)
  Masalah geosentris dan heliosentris (Yos 10:12-13; Maz 19:5-7)
Â
Otoritas Alkitab dalam kehidupan orang percaya
Â
Setelah kita mendapat pengertian yang benar dan keyakinan bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang dalam proses penulisannya diinspirasikan oleh Roh Allah dan dengan demikian maka Alkitab tidak mungkin salah maka kita menemukan dasar yang kokoh bagi otoritas Alkitab dalam kehidupan orang percaya. Dengan kata lain Alkitab baru berotoritas dalam kehidupan orang percaya kalau ia adalah Firman Allah yang diinspirasikan dan bebas dari kesalahan.
Alkitab berotoritas artinya bahwa Alkitab mempunyai kekuasaan, lebih tegas mempunyai kekuasaan Allah, maka dari itu adalah kekuasaan yang mutlak. (R. Soedarmo; Ikhtisar Dogmatika; hal. 82).
Dalam hal apa sajakah Alkitab memiliki otoritas dalam kehidupan orang percaya?
1. Alkitab mempunyai otoritas mutlak dalam hal kehidupan
Alkitab adalah buku yang berisi nilai-nilai moral yang sangat tinggi dan aturan-aturan kehidupan yang sangat luhur yang mengatur semua relasi manusia; antara manusia dengan Allah, manusia dengan sesama, manusia dirinya sendiri dan juga manusia dengan alamnya.
• Kita tidak bisa menemukan ajaran tentang kehidupan manusia yang lebih berkualitas dan luhur di dalam kitab manapun selain di dalam Alkitab.
Contoh : Khotbah Yesus di bukit (Mat 5)
 Kitab Amsal
 Amsal Kasih (1 Kor 13), dll.Â
Karena itu supaya hidup manusia berkualitas dan berarti bagi Tuhan, bagi sesamanya, bagi dirinya sendiri dan bagi alam maka manusia harus memberi perhatian kepada Alkitab yang adalah Firman Allah itu sendiri.
2. Alkitab mempunyai otoritas mutlak dalam hal pengenalan akan Allah dan kebenaran-Nya (pemahaman dan pengajaran)
Alkitab adalah wahyu Allah atau penyataan diri Allah secara khusus di samping Yesus Kristus dan karenanya maka Allah dapat dikenal lewat Alkitab dan hanya lewat Alkitab saja.
Setelah selesai proses kanonisasi maka berakhir juga wahyu. Sekarang tidak ada lagi wahyu baru. Karenanya kita menolak semua wahyu baru.
Banyak orang Kristen saat ini tidak menghargai otoritas Alkitab dalam hidup dan pengajaran mereka melainkan kepada pengalaman mereka atau wahyu baru yang mereka peroleh.
Budi Asali : Banyak orang Kharismatik yang bahkan lebih menekankan ajaran-ajaran yang mereka dapatkan melalui nubuat, bahasa Roh, penglihatan, pendengaran dsb, daripada Kitab Suci/Firman Tuhan sendiri. Banyak orang Kharismatik, yang kalau ingin mengetahui kehendak Tuhan, bukannya mencari/ mempelajarinya dalam Kitab Suci, tetapi meminta Tuhan memberinya petunjuk melalui nubuat, penglihatan, dsb (Exodus paper)
Budi Asali : “Ajaran mereka didasarkan pada ‘Kitab Suci + sesuatu’. Yang dimaksud dengan ‘sesuatu’ itu bisa berupa macam-macam hal seperti : pengalaman. ajaran-ajaran yang didapatkan melalui nubuat/ bahasa roh /mimpi /penglihatan/ pendengaran. suara Roh Kudus yang berbicara dalam hati kita/RHEMA”. (Exodus paper)
Contoh dari hal-hal semacam ini seperti yang dilakukan oleh Yesaya Pariadji.
Yesaya Pariadji : “Biarlah pada saat ini juga saya dilempar ke api neraka, bila Tuhan Yesus tidak mengajar saya, bahwa manusia harus dibaptis selam. (Majalah Tiberias, Edisi V / Tahun II : 38)
Yesaya Pariadji : “Gereja Tiberias telah membaptis + 40.000 jiwa. Saya jamin, saya langsung diajari Tuhan Yesus baptisan selam minimal 4 kali pelajaran. Biar mulut saya dijahit dan saya dilempar ke neraka bila saya tidak berkali-kali masuk alam roh, bertemu Tuhan Yesus dan saya diajari bagaimana untuk membaptis selam. Dibaptis selam adalah anda diciptakan kembali yang segambar dan serupa Allah yang penuh kuasa dan penuh mujizat (Kej 1:26-28). Baptis harus selam karena saya sudah berdoa dan bertanya, dan langsung dijawab. Dan saya diajari Tuhan bagaimana untuk membaptis selam. (Warta Jemaat GBI Tiberias tanggal 11 September 2002 : 2 (di Graha SA Surabaya)
Semua bentuk pengalaman orang percaya harus berdasarkan Alkitab (Sola Scriptura). Jika pengalaman bertentangan dengan Alkitab maka pengalaman harus ditolak.
Stephen Tong : Prinsip utama dalam pembahasan seluruh thema Alkitab adalah : kebenaran lebih penting daripada segala jenis pengalaman; kebenaran lebih mutlak daripada pengalaman; dan kebenaran lebih tinggi daripada pengalaman. Oleh karena itu berdasarkan prinsip di atas : (1) Kebenaran harus memimpin pengalaman (2) Kebenaran harus menguji pengalaman (3) Kebenaran harus menghakimi pengalaman. (Baptisan & Karunia Roh Kudus; hal. 3)
Stephen Tong : Jikalau pengalaman kita ternyata berbeda dengan prinsip Alkitab, apakah yang harus kita perbuat? Apakah kita sedemikian mencintai pengalaman yang telah kita alami sehingga akhirnya kita mengorbankan kebenaran? Ataukah kita sedemikian menyayangi pengalaman itu; tidak mau menerima kesalahannya kemudian mencari ayat-ayat Alkitab yang mendukung, sehingga ayat-ayat yang tidak relevan itu dipaksa untuk menyetujui pengalaman kita? (Baptisan & Karunia Roh Kudus; hal. 3)
John F. Mac Arthur, Jr : “Bukannya memeriksa pengalaman seseorang dengan keabsahan Alkitab, kaum kharismatik mencoba mengambil Alkitab untuk dicocokkan dengan pengalaman itu atau, bila gagal, ia akan mengabaikan Alkitabnya begitu saja. Seorang penganut Kharismatik menulis pada sampul Alkitabnya : “Saya tak peduli apa kata Alkitab, pokoknya saya telah mendapat suatu pengalaman! (Apakah Kharismatik Itu?; hal. 63)
Sebagaimana yang dikatakan Stephen Tong di atas maka betapa pentingnya memperhatikan hal-hal di sekitar masalah penafsiran/hermeneutika Alkitab.
Contoh : Eksegesis dan eisegesis
 Out of context
Dengan mempelajari Alkitab dengan seksama dan baik dengan kaidah-kaidah penafsiran yang standar maka akan membangun pemahaman kita yang benar sehingga semua pengalaman kita akan dipimpin, diuji dan dihakimi oleh kebenaran itu sendiri.
Dengan cara demikian maka Alkitab memiliki otoritas yang mutlak dalam kehidupan kita sebagai orang percaya.