PD Air Hidup

Jl. Bhakti Warga 5 Kupang – NTT

Pemberian Yang Termahal

Written By: admin - Aug• 29•08

Yohanes 12:1-8
By. Esra Alfred Soru

Kalau kita meneliti kisah Alkitab dengan seksama, maka kita akan menemukan 3 kisah di mana Yesus berhubungan dengan keluarga Marta, Maria dan Lazarus. Hubungan ini pertama kali terjadi ketika Marta menerima Yesus dan murid-murid-Nya di rumahnya (Luk 10:38-42), selanjutnya Yesus membangkitkan Lazarus yang telah mati (Yoh 11:1-44) dan terakhir adalah kisah Maria mengurapi Yesus dengan minyak narwastu (Yoh 12:1-8).
Secara khusus kita akan menaruh perhatian kita pada peristiwa ketiga ini. Dari apa yang tertulis jelas bahwa Maria telah mempersembahkan setengah kati minyak narwastu murni di kaki Yesus, namun kita akan berusaha melihat lebih dalam apa sebenarnya yang telah dipersembahkan oleh Maria.

1. Maria mempersembahkan hartanya kepada Yesus
Minyak narwastu murni itu sangat mahal harganya. Menurut Yudas Iskariot harga minyak itu adalah 300 dinar (ayat 5). Kalau harga ini kita bandingkan dengan upah buruh/pekerja harian yang nota bene dibayar 1 dinar 1 hari, maka  sebenarnya pemberian Maria ini sama mahalnya atau sama harganya dengan gaji buruh 300 hari (hampir satu tahun). Ini jelas bukan jumlah yang sedikit.  Namun demikian semuanya itu dipersembahkan oleh Maria di kaki Yesus. Ia tidak merasa rugi dengan pemberiannya itu malahan ia bersukacita sebab telah memberi yang terbaik bagi Yesus. Bagaimanakah dengan anda? Kita tak usah berbicara mengenai memberi seluruh harta kita kepada Yesus tetapi apakah kita cukup setia dalam memberikan perpuluhan? Renungkanlah dan pikirkanlah hal ini.

2. Maria mempersembahkan masa depannya kepada Yesus
Kalau kita mengerti tradisi Yahudi, sebenarnya setiap wanita Yahudi memiliki satu kalung kecil di lehernya yang bernama alabaster, dan pada kalung itu terdapat suatu tempat yang kosong dan biasanya diisi dengan minyak narwastu. Minyak narwastu ini akan dipakai untuk meminyaki kaki suaminya pada hari pernikahan sebagai tanda cinta dan kesetiaan pada suaminya itu. Tanpa minyak ini maka hampir dipastikan bahwa tidak ada pria yang mau mengawininya.
Apa yang terjadi dengan Maria? Minyak narwastu yang ada pada alabasternya yang seharusnya digunakan pada hari pernikahannya telah ia tuangkan di kaki Yesus. Itu berarti bahwa ia rela melepaskan masa depannya. Ia sudah siap menerima resiko di mana tak seorang pria pun yang mau menikahinya. Bukankah ini suatu pengorbanan yang sangat besar?
Kita tidak mempunyai tradisi sebagaimana tradisi Yahudi, namun satu hal yang patut kita renungkan adalah kalau memang kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus maka kita harus rela menyerahkan masa depan kita di bawah kaki-Nya.

3. Maria mempersembahkan harga dirinya kepada Yesus
Setelah meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu itu, maka Maria menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Sekali lagi menurut tradisi Yahudi, setiap wanita terhormat tidak akan melepaskan rambutnya di depan umum. Biasanya wanita Yahudi mengenakan kerudung untuk menutupi rambutnya. Hanya perempuan jalang saja (pelacur) yang melakukan hal itu. Bayangkanlah apa dan bagaimana penilaian orang banyak ketika melihat Maria melepaskan rambutnya dan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya itu? Sungguh sebuah tindakan yang sangat berani tanpa memperhitungkan harga dirinya. Memang kasih yang tulus kepada Yesus kadang menuntut kita untuk mengambil tindakan-tindakan yang tidak mempedulikan harga diri kita.   Karena mengikut Yesus mungkin saja kita dihina, diolok dan dimaki. Sepertinya kita tidak mempunyai harga diri lagi, namun dengan keberanian melakukan hal itu sesungguhnya kita memperoleh harga yang baru di kaki Yesus.

4. Maria mempersembahkan hidupnya kepada Yesus
Melihat apa yang telah dilakukan oleh Maria di mana ia telah mempersembahkan hartanya, masa depannya dan harga dirinya, maka kita dapat berkesimpulan bahwa sebenarnya yang diserahkan oleh Marta di kaki Yesus adalah seluruh kehidupannya. Ia berikan semuanya kepada Yesus sebagai bukti cinta kasihnya kepada Yesus.

Jangan pernah berkata bahwa engkau mengasihi Yesus jika engkau belum berani menyerahkan seluruh hidupmu di kaki-Nya dan ke dalam tangan-Nya.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.