I Sam 16:1-13
By. Nehemia Soru
Ayat Renungan :
“ Lalu Tuhan berfirman : “Bangunlah, urapilah dia, sebab inilah dia” (12b)
Tuhan telah mengambil keputusan untuk menyuruh nabi Samuel ke Betlehem supaya mengurapi seorang anak Isai menjadi raja Israel. Raja yang lama yakni Saul telah ditolak oleh Allah sebagai raja Israel karena ia lebih mementingkan diri dan kemauannya sendiri dalam memimpin negara daripada kehendak Tuhan.
Tuhan menghendaki raja baru yang tidak mendewakan negara di samping Tuhan, tetapi yang menganggap negara sebagai karunia Tuhan yang wajib dikerjakan dan diusahakan sesuai dengan kehendak Tuhan. Untuk itu Samuel harus ke Betlehem. Di sana berdiam Isai, cucu Rut dan Boas. Isai ini mempunyai keluarga besar. Ia mempunyai banyak anak laki-laki. Tuhan berfirman supaya salah seorang dari anak-anaknya diurapi menjadi raja. Samuel segera pergi. Ia membawa seekor lembu muda untuk dikorbankan di sana, dan pada pesta korban itulah ia mengundang Isai dan anak-anaknya.
Sesudah selesai upacara pengorbanan, sebelum tiba waktu makan, Samuel hendak melaksanakan perintah Allah itu. Dipanggillah anak-anak Isai menghadap. Mula-mula datang Eliab, anak yang sulung. Ia seorang muda yang gagah, perawakannya tinggi hingga Samuel sangat tertarik kepadanya. Hampir-hampir ia hendak bangun dan mengurapinya. Dalam hati ia berpikir “inilah pemuda yang paling cocok untuk jabatan raja.” Rupanya pendapat Isai juga demikian. Eliab adalah anak sulung dan karena itu ia berhak diberi berkat yang utama. Tepat sekali kalau ia ditunjuk menjadi raja.
Tetapi Allah terpaksa mengecewakan mereka, karena ia mempunyai ukuran-ukuran yang lain daripada ukuran mereka. Ia mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang tidak sama dengan pertimbangan mereka. Ia tidak hanya memandang kepada hal-hal lahiriah saja. Firman-Nya kepada Samuel : “Janganlah pandang rupanya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati”, dan Eliab tidak dipilih-Nya.
Datang pula anak yang kedua, Aminadab namanya. Juga secara lahiriah ia dapat dibanggakan. Ia tidak kalah dengan kakaknya. Tetapi datang pula firman Tuhan bahwa ia tidak dipilih. Lalu datang pula anak yang ketiga, keempat, dan seterusnya hingga ketujuh. Semuanya tidak bercacat. Semuanya dapat dibanggakan, tetapi semuanya tidak dipilih.
Samuel heran, dalam hati ia berkata : Siapa lagi yang akan dipilih Tuhan? Bukankah seorang anak Isai? Ia tidak sabar lagi. Seakan-akan maksud kedatangannya gagal. Ia bertanya kepada ayah anak itu “Inikah anakmu semuanya?” Isai terkejut, tidak disangkanya ia mendapat pertanyaan seperti itu. Ia ingat bahwa seorang anaknya sementara ditinggalkan di padang. Daud, anak bungsu itu, dianggapnya tidak perlu dipanggil ke pesta korban itu. Ia masih terlalu mudah, ia tidak begitu penting. Ia diberi tugas menjaga domba-domba dan hanya kakak-kakaknya saja dibawa untuk pencalonan raja, tetapi sekarang kakak-kakaknya tidak dipilih. Dengan tertegun-tegun Isai menjawab :“Masih tinggal yang bungsu; tetapi sedang menggembalakan kambing domba. Dalam jawaban itu Isai mencoba membela diri dan memberikan alasan mengapa Daud tidak hadir. Tetapi kata Samuel : “Suruhlah orang-orang memanggil dia; sebab kita tidak akan duduk makan sebelum ia datang kemari. Maka disuruhlah orang-orang memanggil Daud, anak bungsu yang dianggap tidak penting itu.
Daud datang! Wajahnya kemerahan dibakar terik matahari dan matanya bersinar-sinar. Baru saja terpandang Samuel akan dia, datanglah firman Allah : “Bangkitlah; urapilah dia; sebab inilah dia!” Tuhan hendak berkata : “Inilah dia yang kepadanya hatiku berkenan!”. “Inilah dia yang akan didudukkan di atas takhta Israel.” “Inilah dia yang dianggap tidak penting oleh manusia; tetapi akan dijadikan penting oleh Allah”.
Samuel bangun lalu mengurapi Daud. Minyak suci di dalam tabung tanduk dicurahkan ke atas kepalanya. Inilah lambang pencurahan Roh Suci. Dan benar, mulai waktu itu berkuasalah Roh Allah atas Daud. Daud telah dipilih Allah untuk menjadi raja Israel.
Saudara-saudara! Apakah sebabnya Allah memilih Daud? Apakah alasannya? Sebenarnya tidak ada sesuatu sebab atau keistimewaan yang ada pada Daud sendiri agar ia dipilih. Sebab dan alasan itu ada pada Allah saja. Allah berkehendak memilih dia, itulah sebabnya ia diurapi, dan yang lainnya tidak. Sebab dan alasan pemilihan itu terletak pada Allah sendiri dan bukan pada Daud. Ia bukan dipilih karena pengalaman kerjanya, ia dipilih bukan karena riwayat hidupnya, dan daftar pengalaman kerja. Daud tidak mengisi daftar-daftar yang demikian. Daud tidak mempunyai jasa apa pun dalam masyarakat, tidak punya pengalaman kerja yang hendak dibanggakan. Ia seorang muda, masih hijau dalam segala-galanya. Ia belum matang dalam anggapan ayahnya sendiri. Itulah sebabnya ia ditinggalkan di padang. Akan tetapi Allah berkehendak memilih dia untuk menyatakan kasih karunia-Nya. Allah bebas berbuat demikian. Allah tidak terikat dengan perbuatan-perbuatan manusia. Pilihan-Nya tidak didasarkan atas kebaikan manusia itu sendiri, atau pada kecakapan dan janji setia manusia itu sendiri, karena kebaikan manusia itu penuh noda dan janji setia manusia itu penuh keingkaran.
Daud yang masih hijau itu dipilih Allah. Ia sendiri tidak pernah memimpikan hal itu. Tadinya ia hanya asyik dengan kawanan kambing dombanya dan padang rumput hijau ditudungi langit kebiruan, itulah dunianya. Tetapi Allah berkehendak mengangkat ia dari sana untuk menjadikan dia menjadi seorang yang “besar”. Seorang yang namanya dimasyurkan turun-temurun yang kerajaannya melambangkan kerajaan Kristus. Demikianlah Allah mulai dari kekosongan, kehampaan dan ketidakmampuan manusia untuk menyatakan kasih karunia-Nya.
Daud tidak dipilih menjadi orang “besar” atau untuk bersenang-senang saja. Ia tidak dipilih untuk berpangku kaki, untuk disembah, untuk digelar “Paduka yang mulia”, untuk memperalat rakyat bagi kepentingan diri sendiri. Tidak! Sekali-kali tidak! Ia dipilih bukan untuk yang demikian. Ia dipilih untuk bekerja, berjuang dan melaksanakan kehendak Allah di bidang pemerintahan, politik, sosial, ekonomi, ketatanegaraan, dll.
Kerajaan Daud harus menjadi suatu “teokrasi”, artinya Tuhan sendirilah yang memerintah di segala aspek hidup melalui pemerintahan yang ditentukan-Nya. Kepentingan politik tidak boleh bertentangan dengan kehendak Allah. Sebaliknya, kepentingan politik harus ditaklukan dan disesuaikan dengan kehendak Allah. Saul gagal dalam kerajaannya karena tidak berbuat demikian. Jelas bahwa tugas Daud cukup berat. Kerajaan Israel waktu itu masih sangat muda dan belum mempunyai ibu kota. Yerusalem masih diduduki bangsa kafir. Bangsa Filistin selalu saja mengacau kedaulatan Israel. Bangsa-bangsa Moab, Amon, Edom dan Syiria merupakan musuh-musuh yang mengancam Israel. Daud harus melakukan banyak peperangan untuk pemulihan keamanan dan untuk penetapan batas-batas Israel. Pendeknya, keluar dan kedalam, tugas Daud sangat berat. Tetapi Tuhan telah memilih dia, dan oleh karena itu Tuhan tidak akan membiarkannya sendirian. Tuhan akan mendampinginya dalam segala keadaan, dan Tuhan menyiapkannya melalui banyak penderitaan. Ia dikejar Saul dari suatu tempat ke tempat yang lain. Tidak ada gua yang tak dikenalnya sebagai tempat persembunyian. Tidak ada gunung yang tidak didakinya untuk mencari tempat perlindungan. Tetapi semua perkara itu berguna baginya. Semua perkara itu dipakai oleh Allah untuk membuatnya cakap bagi tugasnya dikemudian hari.
Demikianlah Daud anak bungsu yang dianggap belum matang itu telah dipilih oleh Allah, dimatangkan oleh kasih dan anugerah Allah untuk tugasnya yang mulia sebagai raja “teokrasi”, yang kerajaannya harus menggambarkan kerajaan Kristus.
Saudara-Saudara yang terkasih di dalam Yesus Kristus! Kalau Allah memilih Daud, tidakkah Allah memilih kita juga? Kalau Allah memilih Daud dari antara kambing dan domba untuk suatu jabatan yang begitu mulia, tidakkah Ia berbuat demikian juga terhadap kita? Dengarlah apa yang dikatakan Rasul Petrus :
“Kamulah bangsa yang terpilih, Imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (I Pet 2:2).
Perhatikanlah rentetan kata-kata : “Kamulah bangsa yang terpilih”. Tidakkah ini suatu bukti bahwa kita juga sudah dipilih? Yesus Kristus batu yang dibuang oleh segala tukang itu telah dipilih Allah menjadi batu penjuru dan melalui Dia-lah kita dipilih. Melalui Yesus Kristus, Allah datang mencari kita dan memilih kita bagi kerajaan-Nya yang kekal. Apakah dasar dari pemilihan kita itu? Apakah kebaikan kita? Apakah karena Allah membaca riwayat hidup kita dan karena Ia tahu jasa-jasa kita? Tidak! Tidak ada jasa kita dalam hal ini. Kalau pilihan itu Ia dasarkan pada keadaan kita sendiri maka hal itu berarti kebinasaan kita karena Alkitab sendiri telah berkata :
“Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Semua orang telah menyeleweng, mereka semuanya tidak berguna” (Roma 3:10)
Riwayat hidup kita adalah riwayat pemberontakan melawan Allah dan pengalaman kerja kita ialah berbuat hal-hal yang mendukacitakan hati Allah. Pendeknya, kalau pilihan itu berdasarkan diri kita sendiri, pastilah kita harus diperlakukan sebagaimana Ia memperlakukan Sodom dan Gomora.
Tetapi syukurlah kepada Allah yang karena kasih karunia-Nya yang berlimpah-limpah telah memanggil kita ke dalam kemuliaan anak-anak Allah, sehingga kita yang dahulu bukan umat Allah, sekarang telah menjadi umat-Nya. Yang dahulu tidak dikasihani, sekarang telah beroleh belas kasihan (I Pet 2:10).
Seperti Daud mewujudkan kerajaan Allah itu dalam kerajaan Israel, seperti kerajaan Israel itu wujud atau bayangan dari kerajaan Mesias (Kristus), demikianlah kita wajib menampakkan kerajaan Allah itu dalam segala bidang hidup kita supaya dalam semuanya itu, nama Bapa dipermuliakan. Sebagai orang yang telah dipilih bagi keselamatan, kita wajib menampakkan kerajaan itu di segala bidang hidup kita. Baik di kantor, di sekolah, di ladang, di permainan, di organisasi, di seluruh cita-cita dan perjuangan kita. Hanya dengan jualan itu kita dapat membuktikan bahwa kita telah mengerti kedudukan kita sebagai orang yang telah dipilih bagi keselamatan. Puji Tuhan, karena Ia telah memilih kita. Amin!