Sang Pembaharu

Khotbah
Kitab Ezra
Dalam sejarah bangsa Israel, ada 2 orang yang terkenal sebagai pembaharu Israel. Mereka adalah Ezra dan Nehemia. Ezra adalah orang yang melakukan suatu pembaharuan secara rohani yang menuntun Israel sampai pertobatan sedangkan Nehemia adalah orang yang melakukan pembaharuan secara fisik karena dialah yang membangun kembali tembok Yerusalem. (Silahkan baca kitab Ezra dan Nehemia). Kali ini kita tidak akan membahas kedua tokoh ini sekaligus, kita hanya akan membahas salah satunya yakni Ezra.
Nama Ezra artinya penolong / pertolongan (disebut 24 kali dalam Alkitab). Ia adalah seorang imam (7:11), seorang ahli kitab dan juga guru/pengajar Taurat (7:6,10-12), anak dari Seraya (Ez 7:1) yang lahir di Persia dan mati di Yerusalem. Ialah yang memimpin kelompok ke 2 dari 3 kelompok orang Yahudi yang pulang dari pembuangan di Persia (Irak). Ada 3 sikap yang menarik dari kehidupan Ezra yang perlu kita pelajari :
1. Sikap Ezra Dalam Hubungannya Dengan Firman Tuhan.
Kita dapat melihat tekad Ezra dalam kaitan dengan Firman Tuhan dalam Ezra 7:10 :
“Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.”
Jadi Ezra mempunyai tekad untuk meneliti, melakukan dan mengajarkan Firman Tuhan. Itulah sebabnya ia terkenal sebagai ahli kitab dan pengajar hukum Taurat (7:11) di mana raja Artahsasta pun mengakuinya (7:12,25) :
Ezra 7:25 : Maka engkau, hai Ezra, angkatlah pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allahmu yang menjadi peganganmu, supaya mereka menghakimi seluruh rakyat yang diam di daerah seberang sungai Efrat, yakni semua orang yang mengetahui hukum Allahmu; dan orang yang belum mengetahuinya haruslah kau ajar.
Perhatikan urutan kronologi dari tekad Ezra ini. Yang paling pertama adalah meneliti Firman Tuhan, kedua melakukannya dan yang terakhir barulah mengajarkannya. Ini adalah 3 urutan kronologi yang sangat tepat. Orang harus meneliti Firman Tuhan, melakukannya dan kemudian baru mengajarkannya. Faktanya, ada banyak orang hanya mau meneliti saja tapi tidak mau melakukannya seperti ahli-ahli taurat zaman Yesus yang tidak bertobat (band, Mat 7). Orang seperti ini akan tahu banyak Alkitab, tapi bisa menjadi penyesat. Mereka meneliti Alkitab bukan untuk dilakukan tapi untuk dikritik atau dicari-cari kesalahannya saja.
Selain itu ada juga orang yang mau melakukan Firman Tuhan tanpa menelitinya dengan cermat.  Ini baik juga tapi bisa masuk ke dalam bahaya fanatisme buta (band. 1 Tim 1:6-7). Sebaliknya, ada juga yang mau mengajar Firman Tuhan tanpa terlebih dahulu meneliti dan melakukannya. Orang-orang seperti inilah yang akhirnya banyak menjadi penyesat dan nabi palsu. Lihat 1 Tim 1 :6-7 :
1 Tim 1:6-7 : Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia. Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan.
Karena itu, marilah kita sungguh-sungguh menjadi peneliti, pelaku dan pemberita/pengajar Firman Tuhan (Maz 1:1-2). Menjadi peneliti dengan cara rajin membaca Firman Tuhan dan juga buku-buku rohani lainnya, menjadi pelaku dengan melakukan semua perintah Firman Tuhan, menjadi pengajar dengan jalan mengkomunikasikan apa yang kita pelajari kepada orang lain.
2. Sikap Ezra Dalam Hubungan Dengan Tugasnya.
Dalam tugasnya Ezra tidak bekerja sendiri (one man show) tetapi melibatkan orang lain di dalamnya. Dalam Ezra 7:25, ada perintah dari Artahsasta kepada Ezra :
Ez 7:25 : Maka engkau, hai Ezra, angkatlah pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allahmu yang menjadi peganganmu, supaya mereka menghakimi seluruh rakyat yang diam di daerah seberang sungai Efrat, yakni semua orang yang mengetahui hukum Allahmu; dan orang yang belum mengetahuinya haruslah kau ajar.
Setelah perintah itu maka Ezra mulai meminta bantuan orang Lewi (8:15-20), ia juga memilih pemuka imam  sebanyak 12 orang (8:24), lalu memilih keluarga untuk bersidang (10:16-17). Ini berarti bahwa Ezra bisa bekerja sama dengan baik. Ia melibatkan orang lain dalam pekerjaan Allah yang besar. Ia tidak hanya mengandalkan dirinya sendiri dan mengabaikan orang lain.
Hal yang sama dilakukan oleh Yesus yang walaupun mampu melakukan misi-Nya sendiri tapi Ia memilih 12 murid. Yesus juga saat mengutus murid-murid-Nya, Ia mengutus mereka dua-dua orang. (Mark 6 :7). Tentu itu dimaksudkan agar mereka bisa bekerja sama satu dengan yang lain. Demikian juga seperti yang terjadi saat Yosua berperang, di mana Musa berdoa sedangkan Harun dan Hur menopang tangan Musa.
Kel 17:9-10 :  Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.” Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit.
Kel 17:11-12 :  Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam.
Marilah kita belajar bekerja sama. Ingat bahwa bekerja sama-sama atau sama-sama bekerja belum tentu bisa bekerja sama. Secara empiris, suatu tugas berat akan dengan mudah diselesaikan kalau itu dikerjakan bersama-sama. Visi Tuhan bagi kita akan tercapai kalau kita dapat bekerja sama.
3. Sikap Ezra Dalam Hubungan Dengan Dosa
Rupanya ada dosa kawin campur dalam jemaat Israel (9:1-2; 10)
Ez 9:1-2 : Sesudah semuanya itu terlaksana datanglah para pemuka mendekati aku dan berkata: “Orang-orang Israel awam, para imam dan orang-orang Lewi tidak memisahkan diri dari penduduk negeri dengan segala kekejiannya, yakni dari orang Kanaan, orang Het, orang Feris, orang Yebus, orang Amon, orang Moab, orang Mesir dan orang Amori. Karena mereka telah mengambil isteri dari antara anak perempuan orang-orang itu untuk diri sendiri dan untuk anak-anak mereka, sehingga bercampurlah benih yang kudus dengan penduduk negeri, bahkan para pemuka dan penguasalah yang lebih dahulu melakukan perbuatan tidak setia itu.”
Ada beberapa sikap yang menarik dari Ezra :
Pertama, Ezra begitu sedih dan terpukul dengan dosa jemaatnya sampai ia berkabung dan menyiksa dirinya (9:3)
Ez 9:3 : Ketika aku mendengar perkataan itu, maka aku mengoyakkan pakaianku dan jubahku dan aku mencabut rambut kepalaku dan janggutku dan duduklah aku tertegun.
Bandingkan :
Ez 10:1 : Sementara Ezra berdoa dan mengaku dosa, sambil menangis dengan bersujud di depan rumah Allah, berhimpunlah kepadanya jemaah orang Israel yang sangat besar jumlahnya, laki-laki, perempuan dan anak-anak. Orang-orang itu menangis keras-keras.
Ez 10:6 : Sesudah itu Ezra pergi dari depan rumah Allah menuju bilik Yohanan bin Elyasib, dan di sana ia bermalam dengan tidak makan roti dan minum air, sebab ia berkabung karena orang-orang buangan itu telah melakukan perbuatan tidak setia.
Para Hamba Tuhan, majelis, guru Sekolah Minggu, pengurus komisi gereja, dll, apakah kita bersedih seperti ini kalau ada jemaat yang berdosa? Ataukah kita hanya bersikap acuh saja? Ataukah kita malah semakin menghina dan menjelekkan mereka? Para guru, apakah kita bersedih jika ada murid-murid kita yang gagal/nakal? Para orang tua, apakah engkau bersedih melihat anak-anakmu hidup tidak beres? Atau engkau acuh saja? Teladani sikap Ezra dalam hal ini.
Kedua, Ia berdoa mengakui dosa itu dan memohon pengampunan Tuhan (9:5-15).
Menariknya adalah bukan Ezra yang berdosa tetapi ia berdoa seolah-olah ia yang berdosa. Perhatikan kata “kami” dalam doanya (9:6-15) :
Ez 9:6-15 : dan kataku: “Ya Allahku, aku malu dan mendapat cela, sehingga tidak berani menengadahkan mukaku kepada-Mu, ya Allahku, karena dosa kami telah menumpuk mengatasi kepala kami dan kesalahan kami telah membubung ke langit. Dari zaman nenek moyang kami sampai hari ini kesalahan kami besar, dan oleh karena dosa kami maka kami sekalian dengan raja-raja dan imam-imam kami diserahkan ke dalam tangan raja-raja negeri,….. Tetapi sekarang, ya Allah kami, apa yang akan kami katakan sesudah semuanya itu? Karena kami telah meninggalkan perintah-Mu,….. Sesudah semua yang kami alami oleh sebab perbuatan kami yang jahat, dan oleh sebab kesalahan kami yang besar, sedangkan Engkau, ya Allah kami, tidak menghukum setimpal dengan dosa kami, dan masih mengaruniakan kepada kami orang-orang yang terluput sebanyak ini, ….Lihatlah, kami menghadap hadirat-Mu dengan kesalahan kami. Bahwasanya, dalam keadaan demikian tidak mungkin orang tahan berdiri di hadapan-Mu.”
Jadi kelihatannya Ezra merasa bahwa kejatuhan dan kegagalan jemaatnya adalah kejatuhan dan kegagalannya juga. Ini berbeda dengan sikap kebanyakan orang. Kalau senang, senang bersama, kalau susah, susah sendiri-sendiri. Bagaimana dengan saudara?
Ketiga, akhirnya ia memberi nasihat kepada jemaatnya untuk kembali pada Tuhan (10:5,10-11).
Ez 10:5 : Kemudian bangkitlah Ezra dan menyuruh para pemuka imam dan orang-orang Lewi dan segenap orang Israel bersumpah, bahwa mereka akan berbuat menurut perkataan itu, maka bersumpahlah mereka.
Ez 10:10-11 : Maka bangkitlah imam Ezra, lalu berkata kepada mereka: “Kamu telah melakukan perbuatan tidak setia, karena kamu memperisteri perempuan asing dan dengan demikian menambah kesalahan orang Israel. Tetapi sekarang mengakulah di hadapan TUHAN, Allah nenek moyangmu, dan lakukanlah apa yang berkenan kepada-Nya dan pisahkanlah dirimu dari penduduk negeri dan perempuan-perempuan asing itu!”
Banyak orang hanya bisa protes dan menghakimi orang lain namun tidak pernah menuntun mereka kembali pada Tuhan. Tapi Ezra melakukan semuanya. Inilah sikap yang menarik dari Ezra, Sang Pembaharu itu.
Kita telah belajar dari Ezra tentang sikapnya terhadap Firman Tuhan, sikapnya dalam melaksanakan tugasnya, dan sikapnya terhadap dosa. Maukah kita meneladaninya ?

Kitab Ezra

Esra A Soru

Dalam sejarah bangsa Israel, ada 2 orang yang terkenal sebagai pembaharu Israel. Mereka adalah Ezra dan Nehemia. Ezra adalah orang yang melakukan suatu pembaharuan secara rohani yang menuntun Israel sampai pertobatan sedangkan Nehemia adalah orang yang melakukan pembaharuan secara fisik karena dialah yang membangun kembali tembok Yerusalem.(Silahkan baca kitab Ezra dan Nehemia). Kali ini kita tidak akan membahas kedua tokoh ini sekaligus, kita hanya akan membahas salah satunya yakni Ezra.

Nama Ezra artinya penolong / pertolongan (disebut 24 kali dalam Alkitab). Ia adalah seorang imam (7:11), seorang ahli kitab dan juga guru/pengajar Taurat (7:6,10-12), anak dari Seraya (Ez 7:1) yang lahir di Persia dan mati di Yerusalem. Ialah yang memimpin kelompok ke 2 dari 3 kelompok orang Yahudi yang pulang dari pembuangan di Persia (Irak). Ada 3 sikap yang menarik dari kehidupan Ezra yang perlu kita pelajari :

1. Sikap Ezra Dalam Hubungannya Dengan Firman Tuhan.

Kita dapat melihat tekad Ezra dalam kaitan dengan Firman Tuhan dalam Ezra 7:10 :

“Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.”

Jadi Ezra mempunyai tekad untuk meneliti, melakukan dan mengajarkan Firman Tuhan. Itulah sebabnya ia terkenal sebagai ahli kitab dan pengajar hukum Taurat (7:11) di mana raja Artahsasta pun mengakuinya (7:12,25) :

Ezra 7:25 : Maka engkau, hai Ezra, angkatlah pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allahmu yang menjadi peganganmu, supaya mereka menghakimi seluruh rakyat yang diam di daerah seberang sungai Efrat, yakni semua orang yang mengetahui hukum Allahmu; dan orang yang belum mengetahuinya haruslah kau ajar.

Perhatikan urutan kronologi dari tekad Ezra ini. Yang paling pertama adalah meneliti Firman Tuhan, kedua melakukannya dan yang terakhir barulah mengajarkannya. Ini adalah 3 urutan kronologi yang sangat tepat. Orang harus meneliti Firman Tuhan, melakukannya dan kemudian baru mengajarkannya. Faktanya, ada banyak orang hanya mau meneliti saja tapi tidak mau melakukannya seperti ahli-ahli taurat zaman Yesus yang tidak bertobat (band, Mat 7). Orang seperti ini akan tahu banyak Alkitab, tapi bisa menjadi penyesat. Mereka meneliti Alkitab bukan untuk dilakukan tapi untuk dikritik atau dicari-cari kesalahannya saja.

Selain itu ada juga orang yang mau melakukan Firman Tuhan tanpa menelitinya dengan cermat.  Ini baik juga tapi bisa masuk ke dalam bahaya fanatisme buta (band. 1 Tim 1:6-7). Sebaliknya, ada juga yang mau mengajar Firman Tuhan tanpa terlebih dahulu meneliti dan melakukannya. Orang-orang seperti inilah yang akhirnya banyak menjadi penyesat dan nabi palsu. Lihat 1 Tim 1 :6-7 :

1 Tim 1:6-7 : Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia. Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan.

Karena itu, marilah kita sungguh-sungguh menjadi peneliti, pelaku dan pemberita/pengajar Firman Tuhan (Maz 1:1-2). Menjadi peneliti dengan cara rajin membaca Firman Tuhan dan juga buku-buku rohani lainnya, menjadi pelaku dengan melakukan semua perintah Firman Tuhan, menjadi pengajar dengan jalan mengkomunikasikan apa yang kita pelajari kepada orang lain.

2. Sikap Ezra Dalam Hubungan Dengan Tugasnya.

Dalam tugasnya Ezra tidak bekerja sendiri (one man show) tetapi melibatkan orang lain di dalamnya. Dalam Ezra 7:25, ada perintah dari Artahsasta kepada Ezra :

Ez 7:25 : Maka engkau, hai Ezra, angkatlah pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allahmu yang menjadi peganganmu, supaya mereka menghakimi seluruh rakyat yang diam di daerah seberang sungai Efrat, yakni semua orang yang mengetahui hukum Allahmu; dan orang yang belum mengetahuinya haruslah kau ajar.

Setelah perintah itu maka Ezra mulai meminta bantuan orang Lewi (8:15-20), ia juga memilih pemuka imam  sebanyak 12 orang (8:24), lalu memilih keluarga untuk bersidang (10:16-17). Ini berarti bahwa Ezra bisa bekerja sama dengan baik. Ia melibatkan orang lain dalam pekerjaan Allah yang besar. Ia tidak hanya mengandalkan dirinya sendiri dan mengabaikan orang lain.

Hal yang sama dilakukan oleh Yesus yang walaupun mampu melakukan misi-Nya sendiri tapi Ia memilih 12 murid. Yesus juga saat mengutus murid-murid-Nya, Ia mengutus mereka dua-dua orang. (Mark 6 :7). Tentu itu dimaksudkan agar mereka bisa bekerja sama satu dengan yang lain. Demikian juga seperti yang terjadi saat Yosua berperang, di mana Musa berdoa sedangkan Harun dan Hur menopang tangan Musa.

Kel 17:9-10 :  Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.” Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit.

Kel 17:11-12 :  Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam.

Marilah kita belajar bekerja sama. Ingat bahwa bekerja sama-sama atau sama-sama bekerja belum tentu bisa bekerja sama. Secara empiris, suatu tugas berat akan dengan mudah diselesaikan kalau itu dikerjakan bersama-sama. Visi Tuhan bagi kita akan tercapai kalau kita dapat bekerja sama.

3. Sikap Ezra Dalam Hubungan Dengan Dosa

Rupanya ada dosa kawin campur dalam jemaat Israel (9:1-2; 10)

Ez 9:1-2 : Sesudah semuanya itu terlaksana datanglah para pemuka mendekati aku dan berkata: “Orang-orang Israel awam, para imam dan orang-orang Lewi tidak memisahkan diri dari penduduk negeri dengan segala kekejiannya, yakni dari orang Kanaan, orang Het, orang Feris, orang Yebus, orang Amon, orang Moab, orang Mesir dan orang Amori. Karena mereka telah mengambil isteri dari antara anak perempuan orang-orang itu untuk diri sendiri dan untuk anak-anak mereka, sehingga bercampurlah benih yang kudus dengan penduduk negeri, bahkan para pemuka dan penguasalah yang lebih dahulu melakukan perbuatan tidak setia itu.”

Ada beberapa sikap yang menarik dari Ezra :

Pertama, Ezra begitu sedih dan terpukul dengan dosa jemaatnya sampai ia berkabung dan menyiksa dirinya (9:3)

Ez 9:3 : Ketika aku mendengar perkataan itu, maka aku mengoyakkan pakaianku dan jubahku dan aku mencabut rambut kepalaku dan janggutku dan duduklah aku tertegun.

Bandingkan :

Ez 10:1 : Sementara Ezra berdoa dan mengaku dosa, sambil menangis dengan bersujud di depan rumah Allah, berhimpunlah kepadanya jemaah orang Israel yang sangat besar jumlahnya, laki-laki, perempuan dan anak-anak. Orang-orang itu menangis keras-keras.

Ez 10:6 : Sesudah itu Ezra pergi dari depan rumah Allah menuju bilik Yohanan bin Elyasib, dan di sana ia bermalam dengan tidak makan roti dan minum air, sebab ia berkabung karena orang-orang buangan itu telah melakukan perbuatan tidak setia.

Para Hamba Tuhan, majelis, guru Sekolah Minggu, pengurus komisi gereja, dll, apakah kita bersedih seperti ini kalau ada jemaat yang berdosa? Ataukah kita hanya bersikap acuh saja? Ataukah kita malah semakin menghina dan menjelekkan mereka? Para guru, apakah kita bersedih jika ada murid-murid kita yang gagal/nakal? Para orang tua, apakah engkau bersedih melihat anak-anakmu hidup tidak beres? Atau engkau acuh saja? Teladani sikap Ezra dalam hal ini.

Kedua, Ia berdoa mengakui dosa itu dan memohon pengampunan Tuhan (9:5-15).

Menariknya adalah bukan Ezra yang berdosa tetapi ia berdoa seolah-olah ia yang berdosa. Perhatikan kata “kami” dalam doanya (9:6-15) :

Ez 9:6-15 : dan kataku: “Ya Allahku, aku malu dan mendapat cela, sehingga tidak berani menengadahkan mukaku kepada-Mu, ya Allahku, karena dosa kami telah menumpuk mengatasi kepala kami dan kesalahan kami telah membubung ke langit. Dari zaman nenek moyang kami sampai hari ini kesalahan kami besar, dan oleh karena dosa kami maka kami sekalian dengan raja-raja dan imam-imam kami diserahkan ke dalam tangan raja-raja negeri,….. Tetapi sekarang, ya Allah kami, apa yang akan kami katakan sesudah semuanya itu? Karena kami telah meninggalkan perintah-Mu,….. Sesudah semua yang kami alami oleh sebab perbuatan kami yang jahat, dan oleh sebab kesalahan kami yang besar, sedangkan Engkau, ya Allah kami, tidak menghukum setimpal dengan dosa kami, dan masih mengaruniakan kepada kami orang-orang yang terluput sebanyak ini, ….Lihatlah, kami menghadap hadirat-Mu dengan kesalahan kami. Bahwasanya, dalam keadaan demikian tidak mungkin orang tahan berdiri di hadapan-Mu.”

Jadi kelihatannya Ezra merasa bahwa kejatuhan dan kegagalan jemaatnya adalah kejatuhan dan kegagalannya juga. Ini berbeda dengan sikap kebanyakan orang. Kalau senang, senang bersama, kalau susah, susah sendiri-sendiri. Bagaimana dengan saudara?

Ketiga, akhirnya ia memberi nasihat kepada jemaatnya untuk kembali pada Tuhan (10:5,10-11).

Ez 10:5 : Kemudian bangkitlah Ezra dan menyuruh para pemuka imam dan orang-orang Lewi dan segenap orang Israel bersumpah, bahwa mereka akan berbuat menurut perkataan itu, maka bersumpahlah mereka.

Ez 10:10-11 : Maka bangkitlah imam Ezra, lalu berkata kepada mereka: “Kamu telah melakukan perbuatan tidak setia, karena kamu memperisteri perempuan asing dan dengan demikian menambah kesalahan orang Israel. Tetapi sekarang mengakulah di hadapan TUHAN, Allah nenek moyangmu, dan lakukanlah apa yang berkenan kepada-Nya dan pisahkanlah dirimu dari penduduk negeri dan perempuan-perempuan asing itu!”

Banyak orang hanya bisa protes dan menghakimi orang lain namun tidak pernah menuntun mereka kembali pada Tuhan. Tapi Ezra melakukan semuanya. Inilah sikap yang menarik dari Ezra, Sang Pembaharu itu.

Kita telah belajar dari Ezra tentang sikapnya terhadap Firman Tuhan, sikapnya dalam melaksanakan tugasnya, dan sikapnya terhadap dosa. Maukah kita meneladaninya ?

Selanjutnya :

Sebelumnya :

You must be logged in to post a comment.

Trackback URL for this entry

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.