Siapakah Penulis Surat Ibrani?

Biblika

By. Esra Alfred Soru, STh

Persoalan mengenai penulis surat Ibrani memang merupakan persoalan yang sangat rumit sebab di dalam surat ini tidak tertulis nama penulisnya melainkan hanya tercantum judulnya saja yaitu “Kepada orang-orang Ibrani”. Karena kesulitan inilah  maka surat Ibrani mengalami proses pertimbangan yang cukup lama untuk dimasukkan ke dalam kanon Perjanjian Baru. Origenes mengatakan bahwa hanya Tuhanlah yang mengetahui siapa sebenarnya penulis surat ini. Sekalipun demikian, sepanjang sejarah gereja para ahli telah memberikan usul-usul tentang penulis surat tersebut.

USUL-USUL YANG PERNAH DIBERIKAN

Usul-usul yang pernah diberikan tentang siapa penulis surat Ibrani ini antara lain :

1. Barnabas dari Siprus

Orang yang mengusulkan pendapat ini adalah Tertullian.
Alasannya :

  • Ia terkenal dengan kemahiran bahasa Yunaninya. Ini berkaitan erat dengan kualitas bahasa Yunani yang nampak dalam surat Ibrani.
  • Ia adalah seorang Lewi (Kis 4:36). Hal ini dikaitkan dengan dasar pemikiran surat Ibrani yang banyak menyinggung tata cara imamat dan korban.
  • Ia disebut anak nasihat. Ini dikaitkan dengan isi surat Ibrani yang sering disebut oleh penulisnya sebagai “kata-kata nasihat”

2. Apolos

Yang mengusulkannya adalah Marthen Luther.
Alasan :

  • Ia seorang Yahudi (lahir di Alexandria). Ini dikaitkan dengan isi surat Ibrani
  • Ia sangat mahir dalam soal-soal kitab suci (Kis 18:24; 1 Kor 1:12; 3:4). Hal ini dikaitkan dengan cara berpikir dan latar belakang si penulis.

3. Akwila dan Priskila

Yang mengusulkannya adalah Harnack
Alasan : Akwila adalah seorang guru (Kis 18:26) dan rumah mereka dipakai untuk beribadah (Roma 16:5). Hal ini dikaitkan dengan kemungkinan penerimanya adalah sekelompok orang terpelajar.

4. Paulus

Yang mengusulkan adalah Clemens dari Alexandria dan juga sebagian Gereja Katholik (pasca reformasi)
Alasan : Bahan yang dibicarakan dalam surat Ibrani mirip dengan bahan-bahan dalam surat-surat Paulus yang lain yang bersifat menentang tradisi Yahudi.

Itulah beberapa nama yang pernah diusulkan sebagai penulis surat Ibrani. Manakah yang benar di antara Usulan-usulan ini? Baiklah kita simak dulu beberapa keberatan.

KEBERATAN TERHADAP USULAN-USULAN

Berikut ini ada beberapa keberatan terhadap usulan-usulan yang disebutkan di atas :

1. Keberatan terhadap Barnabas

Dikemukakan oleh : Beberapa gereja pasca Reformasi
Keberatannya : Barnabas memang adalah orang Lewi tetapi penulis surat Ibrani lebih tertarik kepada kultus Biblika daripada kultus Bait Allah.   

2. Keberatan terhadap Apolos

Dikemukakan oleh : Saya sendiri (Esra)
Keberatannya : Menurut William Barclay, surat Ibrani ditulis oleh seorang guru saat terpisah dari murid-muridnya (Pemahaman Alkitab Setiap Hari-Ibrani; Hal.10). Itu berarti sekurang-kurangnya ada hubungan pribadi yang cukup erat antara penulis dan penerima surat tersebut. Jika ini dikaitkan dengan pendapat mayoritas bahwa surat ini ditujukan kepada jemaat di Roma, maka Apolos tak dapat diterima sebagai penulis surat Ibrani sebab tidak ada bukti yang kuat dalam Alkitab mengenai hubungan pribadi yang erat antara Apolos dan jemaat Roma. Data Alkitab tentang Apolos hanya mencatat adanya hubungan antara Apolos dan jemaat Efesus (Kis 18:24) dan jemaat Korintus (1 Kor 1:12; 3:4).

3. Keberatan terhadap Akwila dan Priskila

Dikemukakan oleh : Saya sendiri (Esra)
Keberatannya : Memang Akwila dan Priskila adalah pengajar dan rumah mereka dipakai untuk beribadah tetapi kedudukan sebagai pengajar belum dapat membuktikan bahwa mereka adalah penulis surat Ibrani. Apalagi jika dilihat dari latar belakang mereka di mana mereka hanya orang Yahudi awam saja (Kis 18:2).   

4. Keberatan terhadap Paulus

Dikemukakan oleh : Gereja Latin (menurut Hironimus dan Agustinus) dan Gereja Afrika Utara, Marthen Luther, Erasmus, Johanis Calvin, Hipolatus, Irenaeus, F.B. Clogg dan juga Gereja Katholik.
Keberatannya :

  • Surat Ibrani tidak mencerminkan pikiran Paulus
  • Gaya bahasa dan vocab, sikap terhadap hukum, konsep iman dan kedudukan Yesus sebagai imam besar, sungguh berbeda dengan konsep Paulus. Apalagi ps 2:3 memasukkan nama Paulus juga. Paulus tak mungkin mengakui bahwa ia menerima Injil dari orang lain sebagaimana yang tertulis dalam ps 2:3.
  • Gaya tulis dan bahasanya berbeda dengan surat-surat Paulus yang lain.

Demikianlah keberatan-keberatan terhadap usulan-usulan tentang penulis surat Ibrani.

SIAPAKAH PENULIS SURAT IBRANI?

Sekarang sampailah kita pada inti persoalannya yakni siapakah sebenarnya penulis surat Ibrani? Sebelum kita mencapai kesimpulan dan kejelasan dari persoalan ini, baiklah kita melihat dulu syarat-syarat yang perlu dimiliki oleh seseorang yang diusulkan sebagai penulis  surat Ibrani  ditinjau dari isi surat tersebut. Syarat-syarat ini antara lain :

  1. Ia haruslah seorang Kristen Yahudi sebab isi surat tersebut memberikan kesan bahwa penulisnya sangat menguasai tata cara peribadatan Perjanjian Lama.
  2. Ia percaya bahwa kematian Kristus cukup untuk menghapus dosa manusia.
  3. Ia adalah orang yang pandai :
    - menguasai bahasa Yunani dengan baik
    - mengerti kebiasaan orang Yahudi, logika dan rabi. Hal ini dapat dilihat dari kesusastraan surat tersebut. Barclay mengungkapkan hal ini dengan mengatakan bahwa surat Ibrani ditulis oleh seorang guru yang terkenal untuk sekelompok kecil orang Kristen atau suatu Perguruan Tinggi Kristen di kota Roma. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari-Ibrani; Hal. 10). Dengan demikian pastilah ia seorang yang terpelajar.
  4. Ia adalah Rasul atau sekurang-kurangnya seorang yang cukup dekat dengan rasul-rasul.

Dengan melihat syarat-syarat di atas, menurut saya penulis surat ini adalah seorang yang dekat dengan Paulus. Ada 3 kemungkinan yang menghubungkan kedua pihak tersebut (Paulus dan si penulis) yaitu :

  1. Kemungkinan ide/pemikiran Paulus ini ditulis oleh sekretarisnya yang lebih pandai dalam segi kesusastraan.
  2. Penulis menulis sendiri idenya, tetapi idenya itu adalah ide yang sudah terpengaruh oleh pemikiran Paulus. Dengan kata lain si penulis mendalami teologia Paulus.
  3. Seperti yang dikatakan oleh Clemens bahwa Pauluslah yang menulis surat tersebut dalam bahasa Ibrani karena ditujukan kepada orang Yahudi, tetapi Lukas menterjemahkannya ke dalam bahasa Yunani. (Nancy Gill; Kitab Ibrani; Hal. 4)

Saya sependapat dengan Clemens bahwa kemungkinan si penulis adalah Lukas. Kalaupun bahasanya berbeda dengan tulisan Lukas yang lain (Injil Lukas dan Kisah Para Rasul), itu tidak menjadi persoalan sebab bukanlah tidak mustahil bahwa Lukas mengalami kemajuan pesat dalam kepandaiannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa munculnya surat Ibrani adalah hasil kerja sama  antara Paulus dan si penulis (kemungkinan Lukas).

Mengenai keberatan-keberatan terhadap Paulus yang telah dibicarakan di atas seperti kata Luther bahwa surat Ibrani tidak mencerminkan pikiran Paulus sepertinya sulit diterima. Justru sebaliknya, pikiran Paulus banyak nampak dalam surat tersebut  di mana ia begitu menentang upaya kaum Yahudi untuk mempengaruhi para jemaat agar kembali  pada tradisi Yudaisme. Cobalah kita bandingkan teologia dalam surat Ibrani dengan teologia dalam surat Roma (khusus mengenai pengorbanan Kristus dan dampak dari pengorbanan tersebut).

Jika keberatan-keberatan terhadap Paulus dari segi isi surat dapat dijelaskan, maka keberatan-keberatan dari segi struktur dan penulisan yang mengatakan bahwa berbeda dengan surat-surat Paulus yang lain  tak perlu dijelaskan lagi, sebab memang bukan Paulus yang menulis langsung.  Termasuk keberatan yang didasarkan pada ps 2:3 tidak lagi merupakan persoalan sebab ini berhubungan dengan si penulis dan bukan dengan Paulus.

KESIMPULAN

Sebagai kesimpulan dari pembahasan ini saya sepaham dengan apa yang dikatakan oleh Origenes yaitu bahwa ajarannya dari Paulus, tetapi susunan bahasa dan bahan  dari orang lain yang mempunyai bahasa yang lebih halus daripada Paulus.  (Nancy Gill; Kitab Ibrani; Hal.4) Sedangkan mengenai siapa penulisnya, saya condong ke pandangan Clemens yaitu Lukas, walaupun Origenes berkata bahwa ia tidak tahu siapa penulisnya (hanya tuhan yang tahu) (Nancy Gill; Kitab Ibrani; Hal.4). Jadi pilihan saya pada Paulus dan Lukas (terutama Paulus) didasarkan pada bukti yang cukup kuat dan bukan seperti pandangan beberapa orang sepanjang sejarah gereja yang mengaitkan surat Ibrani dengan Paulus hanya karena dugaan bahwa penulisnya mempunyai hubungan  dengan salah satu rasul, dan bahwa surat Ibrani sudah dikenal dan disenangi banyak gereja. (William Barclay; Pemahaman Alkitab Setiap Hari-Ibrani; Hal 11).

SUMBER-SUMBER

Dave Hagelberg; TAFSIRAN IBRANI; Kalam Hidup, 1996.

Nancy Gill; KITAB IBRANI; STAN, 1998.

William Barclay;  PEMAHAMAN ALKITAB SETIAP HARI (IBRANI); BPK.
Gunung Mulia, 1995.

Comments are closed.

Trackback URL for this entry

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.