Skenario Allah?

Tanya-jawab

Kita tahu bahwa kehidupan Yesus hingga matinya sudah difirmankan Allah lewat para nabi. Dan bagaimana dan melalui cara apa Yesus mati pun sudah diriwayatkan oleh para nabi.

Ā Jadi singkatnya kehidupan dan kematian-Nya ibarat suatu sandiwara. Berarti sudah ada sutradaranya yakni Allah dan para pemainnya dengan tugasnya masing-masing. Jadi apabila salah satu pemainnya membuat kesalahan maka gagallah sandiwara tersebut. Jadi kalau begitu Yudas dan penjahat yang lain pun sudah ditentukan oleh Allah, lalu mengapa kita umat Kristen harus menghujat Yudas ? Mengapa kita tidak berterima kasih kepada dia ? Karena tanpa pengkhianatannya maka proses penyelamatan umat manusia dari dosa tidak terlaksana. Jadi kalau saya seorang Yudas maka saya akan protes pada Allah mengapa harus saya yang diskenariokan untuk menjadi seorang yang sangat dibenci oleh orang Kristen. Jadi kalau kita pikir baik-baik maka Yudas dan penjahat yang lain tidak salah karena memang ini skenario yang diatur oleh Allah.Ā 

Jawaban Ev.Esra Soru:

Pertanyaan seperti ini tidak bisa dijawab dengan singkat karena akan menyisakan banyak persoalan terutama hubungan antara kebebasan manusia dan ketetapan Allah.Ā 

Dalam teologia, doktrin yang membahas masalah ini disebut predestinasi dan providensi Allah (Saya kira dibutuhkan 5 kali pertemuan untuk memahami secara benar doktrin ini). Inti dari doktrin ini adalah penetapan Allah tidak bertentangan dengan kebebasan manusia. Jadi penetapan Allah tidak menjadikan manusia menjadi pelaku-pelaku sejarah yang mau tidak mau harus melakukan ketetapan Allah itu. Jika Allah menetapkan sesuatu, itu pasti terjadi tetapi manusia yang melakukannya akan melakukannya secara sukarela dengan kebebasannya sendiri. Jadi tidak ada manusia yang terpaksa melakukan sesuatu karena Allah sudah menetapkan demikian. Karenanya dalam Kitab Suci kita melihat bahwa sekalipun segala sesuatu terjadi sesuai kehendak / rencana Allah, tetapi pada waktu manusianya melakukan hal itu, ia tidak dipaksa, tetapi melakukannya dengan sukarela. Contohnya :Ā 

1. Pada waktu Tuhan mengutus Musa kepada Firaun, Tuhan berkata bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun.

Kel 4:21Firman TUHAN kepada Musa: “Pada waktu engkau hendak kembali ini ke Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu, kau perbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi.

Kel 7:3Tetapi Aku akan mengeraskan hati Firaun, dan Aku akan memperbanyak tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang Kubuat di tanah Mesir.

Ini menunjukkan bahwa Tuhan sudah menentukan bahwa Firaun tidak akan melepaskan Israel. Tetapi pada waktu Musa sampai kepada Firaun, dikatakan bahwa ā€˜Firaun mengeraskan hatinya sendiri’ (Kel 7:22; 8:15,19,32; 9:34-35; 14:5).

Kel 7:22 - Tetapi para ahli Mesir membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu mantera mereka, sehingga hati Firaun berkeras dan ia tidak mau mendengarkan mereka keduanya seperti yang telah difirmankan TUHAN.

Kel 8:15, 19, 32 – (15) Tetapi ketika Firaun melihat, bahwa telah terasa kelegaan, ia tetap berkeras hati, dan tidak mau mendengarkan mereka keduanya — seperti yang telah difirmankan TUHAN. (19) Lalu berkatalah para ahli itu kepada Firaun: “Inilah tangan Allah.” Tetapi hati Firaun berkeras, dan ia tidak mau mendengarkan mereka — seperti yang telah difirmankan TUHAN. (32) Tetapi sekali ini pun Firaun tetap berkeras hati; ia tidak membiarkan bangsa itu pergi.

Perhatikan bahwa Firaun tidak terpaksa / dipaksa oleh Tuhan untuk mengeraskan hatinya. Tuhan menetapkan, tetapi Firaun tetap bebas dan ia dengan kebebasannya memilih untuk mengeraskan hatinya.Ā 

2. Orang-orang yang membunuh Yesus melakukan hal itu sesuai dengan apa yang sudah Allah tentukan dari semula.Ā 

Kis 4:27-28Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.

Tetapi pada waktu mereka melakukannya, mereka betul-betul bebas, dan melakukannya atas kehendak mereka sendiri.

Ay 27-28 jelas menunjukkan rencana Allah dan Providence of God! Orang-orang itu (Herodes dan Pontius Pilatus) berbuat dosa pada waktu mereka membunuh Yesus, tetapi dengan itu mereka melaksanakan Rencana Allah.

Ini tentu tidak bisa diartikan bahwa mereka mentaati Allah. Mereka melakukan dosa dengan tujuan / motivasi yang berbeda! Allah merencanakan kematian Yesus untuk menebus dosa manusia. Mereka membunuh Yesus bukan supaya Yesus menjadi Penebus dosa!

3. Yudas mengkhianati / menyerahkan Yesus sesuai dengan ketetapan Allah (Luk 22:22)

Luk 22:22 – Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!”

Tetapi pada waktu Yudas melakukan hal itu, ia betul-betul melakukannya dengan kehendaknya sendiri. Kita tidak melihat bahwa Allah memaksa dia untuk mengkhianati Yesus.

Semua data ini memperlihatkan bahwa ketetapan Allah tidak pernah bertentangan dengan kebebasan manusia. Atau dengan kata lain, ketetapan Allah tidak pernah menghancurkan kebebasan manusia. Nah, karena ketetapan Allah tidak membuang kebebasan manusia maka ketetapan Allah juga tidak membuang tanggung jawab manusia. Manusia harus bertanggung jawab / dihukum karena ketidaktaatannya. Kalau manusia tidak bebas (seperti robot / wayang), maka ia tidak bertanggung jawab atas tindakannya. Tetapi karena ia bebas, maka ia bertanggung jawab.

J. I. Packer: ā€œKedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia diajarkan berdampingan dalam Alkitab yang sama; bahkan kadang-kadang dalam text yang samaā€ – ā€˜Evangelism and the Sovereignty of God’, hal 22.

Luk 22:22 : ā€œSebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkanā€.

Kata-kata ā€˜Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan’ menunjukkan kedaulatan Allah, sedangkan kata-kata ā€˜celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan’ menunjukkan adanya tanggung jawab manusia pada waktu ia melakukan apa yang Tuhan tetapkan itu. Karena itu Yudas tetap bersalah karena menjual Yesus dan ia harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Yudas tidak berjasa kepada kita atau menjadi pahlawan dalam menjual Yesus. Ia menjual Yesus karena alasan yang lain dan bukan supaya Yesus bisa mati menebus dosa manusia. Jadi Yudas tetap berdosa! Karenanya kita tidak perlu berterima kasih kepada Yudas dan juga semua orang Yahudi yang membunuh Yesus.

You must be logged in to post a comment.

Trackback URL for this entry

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.