Keluaran 16:1-18 By.
Nehemia Soru
Ayat Renungan :
“Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka memungut; ada yang
banyak, ada yang sedikit. Ketika mereka menakarnya dengan
gomer, maka orang yang memungut banyak tidak kelebihan dan
orang yang memungut sedikit tidak kekurangan. Tiap-tiap orang
memungut menurut keperluannya.”
Dalam perlombaan hidup untuk mencari kedudukan dan rejeki di atas bumi ini, banyak kali kita berebut-rebutan, berdesak-desakan, berjuang habis-habisan. Ada yang sikut menyikut dengan semboyan :
• Siapa cepat dia dapat, siapa lambat dia tertiarap
• Siapa dahulu dia kenyang, siapa kemudian dia lapar
• Siapa kepala/pemuka dia berkuasa, siapa bawahan ia kosong
Dengan sikap yang demikian maka ada orang yang mendapat banyak sehingga ia mulai menimbun dan menabung. Ada pula yang mendapat sedikit lalu ia mulai mengeluh dan putus asa. Yang mendapat sedikit itu tentu ada sebabnya. Mungkin ada faktor-faktor kelalaian ikut memainkan peran, tetapi mungkin juga kekurangan si lemah disebabkan oleh kelebihan si kuat.
Dosa dunia ini sekarang dapat kita golongkan menjadi dua yakni dosa si kuat dan dosa si lemah. Dosa si kuat ialah tidak mau menghiraukan si lemah sedangkan dosa si lemah adalah ialah iri hati terhadap si kuat. Hal ini membuat dunia tidak pernah aman, dan dalam tiap jaman muncul teori-teori baru untuk mencari pemecahan, namun semuanya itu tidak akan pernah terpecahkan selama kedua belah pihak berdiri di luar sumber kasih yaitu Yesus Kristus.
Di padang belantara Sin terjadi hal yang hampir sama. Allah menghujani padang itu dengan semacam roti. “Manna” namanya. Israel waktu berada di antara Mesir dan Kanaan. Mereka sedang bersungut-sungut karena kehabisan makanan, lalu Allah mulai bertindak memelihara mereka dengan menurunkan roti (manna) itu setiap hari selama 40 tahun lamanya. Mereka disuruh mengambil secukupnya untuk tiap-tiap hari; masing-masing sesuai dengan jumlah anggota keluarganya. Allah meminta agar mereka jangan berebutan dan menimbun-nimbun karena pada besok hari akan turun pula manna itu. Namun demikian, ada pula yang tidak percaya akan firman itu. Didorong oleh rasa kuatir dan nafsu untuk mendapatkan lebih banyak, mereka akhirnya berebutan mengambil sebanyak-banyaknya.
Namun apakah yang terjadi? Setelah kembali ke kemahnya, apabila ditakarnya dengan gomer maka yang memungut banyak itu tidak berlebihan, dan yang memungut sedikit itu pun tidak berkekurangan. Masing-masing telah memungut sesuai dengan kebutuhan yaitu segomer seorang. Ini tentunya merupakan mujizat yang mengherankan sebab sewaktu berebut-rebutan, masing-masing telah berusaha melebihi kawannya. Setiap orang hendak mengambil yang sebanyak-banyaknya, tetapi akhirnya hasilnya sama jua. Si kuat tidak melebihi si lemah dan si lemah tidak kurang dari si kuat. Allah dengan cara itu hendak menyatakan kepada mereka bahwa percumalah semua tindakan rebut-rebutan itu dan tidak ada guna bermain sikut-sikutan. Selama di padang, diwaktu berebut-rebutan itu kelihatan perbedaan pendapatan. Si kuat kelihatan mendapat banyak dan si lemah kelihatan mendapat sedikit, tetapi setibanya di rumah dan ditakar, semuanya sama saja. Sesaat lamanya si kuat bangga akan kelebihannya, juga sesaat lamanya si lemah mengeluh akan kekurangannya, tetapi waktu disukat samalah perolehan mereka.
Sama halnya dengan perumpamaan orang yang bekerja dalam kebun anggur. Ada yang menyangka harus mendapat lebih banyak karena bekerja sejak pagi, ada pula yang menyangka akan memperoleh kurang karena baru bekerja pada pukul lima sore. Tetapi tuan kebun itu rupanya menyamakan mereka dengan memberikan upah seorang sedinar, secukupnya, tidak lebih dan tidak kurang.
Si kaya dalam perumpamaan Tuhan Yesus berpakaian ungu yang mahal harganya, sedangkan Lazarus si miskin duduk di tanah dan memilih remah-remah yang jatuh dari meja si kaya. Nampaknya ada perbedaan yang menyolok, tetapi lonceng kematian menyamakan mereka. Si kaya mati meninggalkan kelebihan-kelebihannya dan si miskin mati meninggalkan kekurangannya. Kedua-duanya senasib, masing-masing diturunkan ke dalam kuburan yang lebih kecil dari kamar yang terkecil di dunia ini.
Selalu demikian! Di padang kelihatan berbeda, di kemah sama saja. Di padang berebut-rebutan, di rumah disamakan. Ada pula yang menimbun untuk hari besok, namun sebenarnya hanya segomer seorang untuk sehari. Ada pula yang menyusahkan diri dengan menyimpan separuhnya karena kurang yakin akan firman Allah bahwa besok “manna” itu akan turun pula, tetapi hasil yang disimpan itu pun rusak, berulat dan busuk. Manna yang lama tidak dapat dimakan pada hari yang baru. Yang di padang hilang, yang di rumah rusak.
Demikianlah bani Israel setiap hari dididik untuk menggantungkan harapannya pada Tuhan saja. Ajaran Kristus “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” sebenarnya sudah tersirat dalam peristiwa pencurahan manna di padang gurun Sin. Tuhan Yesus tidak mengajarkan “Berilah rejeki kami berkelimpahan untuk besok dan lusa” tetapi Ia mengajarkan cukup untuk “hari ini”. Setiap hari mempunyai kekuatirannya sendiri, demikianpun setiap hari mempunyai berkatnya sendiri. Allah itu adalah Tuhan untuk segala hari. Demikianlah Allah mendidik dan memelihara Israel selama masa pengembaraan 40 tahun.
Saudara-saudara yang kekasih dalam Yesus Kristus! Hidup kita tidak berbeda dengan Israel di padang gurun. Kita berada di tengah perjalanan hidup ini, dan setiap hari biasanya kita isi dengan sungut-sungutan. Kita teringat akan masa tertentu di mana kita masih berada dalam keadaan seperti di Mesir. Ketika hidup dalam kelimpahan meskipun secara rohani kita berada dalam perbudakan yang demikian. Tetapi Allah telah membawa kita ke padang belantara dan tetap memelihara kita sampai hari ini. Meskipun hanya dengan makanan perjalanan yaitu “manna” yang kita kumpulkan di padang kehidupan ini, namun Ia tetap memelihara kita.
Namun anehnya, tidak habis-habisnya kita berebut-rebutan, tidak habis-habisnya kita berdesak-desakan, tidak habis-habisnya kita sikut- menyikut dan ada yang menjadi sasaran. Si kuat menekan dan mengikis si lemah. Kita berusaha sekuat tenaga sampai kadang kita menginjak mati sesama kita. Kadang kita bersikap amoral terhadap mereka hanya karena persoalan mengumpulkan “manna” yang hanya segomer itu, yang hanya cukup untuk sehari sedang lebihnya rusak dan berulat di hari besok. Kita mempunyai nafsu yang besar sekali untuk mengalahkan orang lain. Untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya, untuk menimbun atau menabung sebanyak-banyaknya bagi hari besok, untuk menjadi yang terbesar dan terdepan. Kita ingin berkata “jiwaku ada padamu banyak barang tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya. Beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersukacitalah, bersenang-senanglah.” (Luk 12:19). Kita lupa bahwa sebentar lagi ketika perolehan kita ditakar, tidak akan lebih dari segomer, hanya cukup untuk hidup sekarang. Yang lebihnya akan menjadi rusak, dan tidak berguna bagi hidup akan datang. Kita selalu berjuang mati-matian sehingga tidak ada waktu untuk beristirahat dan berbakti kepada Tuhan. Kita mengumpul-ngumpul sampai akhirnya kita terkejut karena semuanya sudah berulat dan berbau busuk. Tuhan Yesus telah berfirman :
“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencuri, tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan diberikan kepadamu” (Mat 6:33).
Sayang kita selalu lupa akan pesan Kristus ini sehingga padang belantara ini selalu menjadi padang perkelahian, medan pertempuran dan tempat merajalelanya cemburu dan iri hati. Darah selalu tertumpah dan meraung-rang di hadapan Tuhan karena kita saling berebutan “manna”. Banyak dendam dikobarkan, banyak rasa sentimen dipupuk, banyak ikatan persahabatan menjadi hancur, banyak kawan menjadi lawan, banyak perang mengguncangkan dunia, hanya karena saling berebutan “manna”.
Wahai saudara-saudaraku, bilakah selesai semuanya ini? Bilakah selesai kain memukul Habel? Bilakah selesai gembala Lot dan gembala Abraham bertengkar karena padang rumput? Bilakah kita sudi masuk ke kemah dan menakar bagian kita? Segomer saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Cukup untuk hari ini, cukup untuk hidup ini. Lebihnya akan rusak dan tidak terpakai.
Hal ini tidak berarti bahwa kita pasif saja. Tidak dimaksud bahwa kita hanya menanti nasib saja. Tidak! Mentalitas seperti itu pun salah. Kita harus bekerja secara aktif. Bukankah Israel disuruh memungut sendiri “manna” itu? Ini berarti bahwa mereka harus bekerja. “Manna” itu tidak jatuh langsung ke dalam mulut mereka. Ia jatuh di atas batu dan di atas rumput. Ia harus dikumpulkan dan dibawa pulang. Ia harus di olah menjadi tepung dan menjadi roti. Dibutuhkan suatu keaktifan, tetapi keaktifan itu harus bersifat kasih yaitu kasih si kuat terhadap si lemah, dan kasih si lemah terhadap kasih si kuat.
Dengki dan iri hati tidak akan pernah mencapai sesuatu yang baik. Dengki dan iri hati hanya melahirkan kejahatan, memupuk rasa dendam dan merupakan suatu perbuatan yang sangat bertentangan dengan Injil. Hanya dengan kasih dan hanya berdasarkan kasih segala jurang yang dalam dapat dijembatani.
Injil tidak pernah merasa puas dengan kepincangan-kepincangan yang ada. Injil selalu memperdengarkan kecaman-kecaman yang keras dan pedas terhadap ketidakadilan sosial. Injil memerintahkan supaya kelebihan si kuat disalurkan untuk mendukung si lemah. Injil tidak mau menerima jika kelebihan-kelebihan itu ditimbun untuk rusak dan tidak terpakai di hari besok, hari baru, hari kedatangan Kristus. Injil menyuruh kita bekerja dengan tekun bukan untuk diri sendiri tetapi untuk disalurkan kepada si lemah, tetapi Injil juga tidak mendidik orang untuk malas. Injil berkata juga : “Belajarlah kepada semut, hai pemalas” (Ams 6:6). Injil tidak membenarkan kalau si miskin bermalas-malas saja dan memupuk-mupuk rasa dendam dan iri hati. Injil tidak pernah berat sebelah. Ia tidak membela si kuat dan mempersalahkan si lemah. Juga ia tidak membela si lemah dan mempersalahkan yang kuat. Ia membela keduanya dan ia mempersalahkan keduanya di mana perlu karena Yesus telah mati bagi keduanya dan telah menyelamatkan keduanya. Yesus Kristus adalah “Roti Hidup” yang telah turun dari surga untuk membahagiakan hidup manusia. Di dalam Dia-lah semua manusia menjadi sama di hadapan Bapa. Semuanya sama di dalam dosa dan pemberontakan dan semuanya sama di dalam anugerah dan keselamatan. Si kuat dan si lemah sebenarnya harus sama-sama dibinasakan, tetapi karena salib Yesus Kristus keduanya sama-sama diselamatkan, Keduanya dapat bersatu dan dapat menikmati kasih karunia yang sama karena jasa Yesus Kristus. Hanya pada salib Kristus, patahlah kesombongan dan sifat egoisme si kuat dan hilanglah rasa dendam dan iri hari si lemah. Keduanya bersatu dan menjadi sama hanya oleh salib Kristus. Amin!