Maz 23:1-6
Ev. Esra A Soru, STh
Dalam bagian pertama kita sudah membahas Mazmur 23 ini dengan menyoroti Tuhan sebagai gembala yang baik di mana Dia menggembalakan kita secara pribadi, Dia menggembalakan kita dengan me-menuhi kebutuhan kita, Dia menggem-balakan kita dengan menuntun kita, Dia menggembalakan kita di tengah-tengah kesulitan kita, dan Dia menggembalakan kita dengan setia. Sekarang kita akan membahas Mazmur ini lagi dengan menyoroti tanggung jawab kita sebagai domba-domba-Nya. Ini penting untuk menjaga keseimbangan antara apa yang menjadi bagian Tuhan dan apa yang menjadi tanggung jawab manusia. Kepincangan dalam hal ini akan me-ngakibatkan sikap-sikap dan pandangan yang ekstrim. Misalnya, ada orang yang berpikir bahwa Tuhan sudah memelihara kita jadi kita tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Toh semuanya tergantung Tuhan. Sebagian orang yang lain sebaliknya. Mereka berusaha mati-matian dengan ber-gantung pada kemampuan diri sendiri tanpa kesadaran bahwa Tuhan yang menentukan segala sesuatu. Perhatikan kata-kata A.W. Pink berikut ini ketika membahas masalah pro-vidensia Allah dalam hubungannya dengan kebebasan dan tanggung jawab manusia :
Arthur W. Pink: Dua hal tidak perlu diper-debatkan: Allah itu berdaulat, manusia itu ber-tanggung jawab…. Menekankan kedaulatan Allah, tanpa juga memelihara per-tanggungan jawab dari makhluk ciptaan, cenderung kepada fatalisme; terlalu memperhatikan pemeliharaan tanggung jawab manusia, sehingga tidak mengindahkan kedaulatan Allah, sama dengan meninggikan makhluk ciptaan dan merendahkan sang Pencipta.
Doktrin providensia mengajarkan bah-wa Tuhan telah menentukan dan menetap-kan segala sesuatu tetapi itu sama sekali tidak melepas tanggung jawab manusia. Contohnya :
Maz 127:1 – “…Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.
Perhatikan ayat ini dengan teliti. Siapakah yang membangun rumah? Kelihatannya rumah tersebut di bangun baik oleh Tuhan maupun oleh manusia. Dibangun oleh Tuhan nampak dari kalimat “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah…” dan dibangun oleh manusia nampak dari kalimat : “…usaha orang yang membangun-nya”. Lalu siapakah yang mengawal kota? Tuhan yang mengawal kota. Ini nyata dari kalimat “jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota…” tetapi juga pengawal manusianya. Lihat kalimat “…pengawal berjaga-jaga”. Jadi, sekalipun ada janji Tuhan dan kita percaya janji itu, itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha supaya janji itu tergenapi! Misalnya, Tuhan berjanji untuk mencukupi hidup kita seperti dalam Mat 6:25 :
Mat 6:25 – “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan jangan-lah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. …”
Tetapi itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu bekerja untuk mencari nafkah ataupun mengatur pengeluaran kita dengan bijak-sana.
2 Tes 3:10 – Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.
Tuhan berjanji bahwa orang Kristen tidak akan kehilangan keselamatannya.
Yoh 10:27-28 – (27) Domba-domba-Ku men-dengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (28) dan Aku mem-berikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan se-orang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.
Rom 5:9-10 – (9) Lebih-lebih, karena kita se-karang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. (10) Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamai-kan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!
Tetapi itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha untuk setia, untuk memelihara ke-selamatan dan menjauhi hal-hal yang mem-binasakan
Wah 2:10 – “…Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan me-ngaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.
Mat 24:13 – Tetapi orang yang ber-tahan sampai pada kesudahannya akan selamat.
Dengan demikian dalam Mazmur 23 kita sudah melihat janji penggembalaan Tuhan yang sempurna bagi kita tetapi semua itu tidak membuang tanggung jawab kita di dalamnya sebagai domba-domba-Nya.
Kita akan melihat tanggung jawab kita di dalam Mazmur 23 ini namun sebelumnya perlu ditambahkan bahwa semua janji penggembalaan dari Tuhan (yang sudah dibahas pada bagian sebelumnya) hanya berlaku bagi mereka yang adalah ‘domba’. Yang bukan domba tidak berhak men-dapatkan semuanya itu. Dalam peng-gambaran seperti ini, Alkitab membagi manusia menjadi 2 macam yakni domba dan kambing.
Mat 25: 32-34; 41, 46 – (32) Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di ha-dapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, (33) dan Ia akan menempatkan domba-domba di se-belah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. (34) Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya (domba) : Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan….(41) Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya (kambing): Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya…. (46) Dan me-reka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”
Yang di sebelah kanan adalah domba dan mereka masuk ke surga sedangkan di sebelah kiri adalah kambing yang akan masuk neraka. Berarti domba menunjuk pada orang percaya sedangkan kambing menunjuk pada orang yang tidak percaya / orang Kristen KTP. Jadi kalau anda belum menjadi Kristen sejati (menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi) maka anda masih Kristen KTP (kambing) dan dengan demikian semua penggembalaan Tuhan itu tidak berlaku bagi anda. Jadi kalau anda masih kambing, sebaiknya anda percaya kepada Kristus secara pribadi dan anda akan menjadi domba. Perhatikan bahwa Mazmur 23 yang adalah Mazmur penggembalaan ini didahului oleh Maz-mur 22 yang adalah Mazmur tentang salib.
Maz 22:2,8-9,16,17,19 – (2) Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggal-kan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. (8) Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: (9) “Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia ber-kenan kepadanya?” (16) kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kau-letakkan aku. (17) Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. (19) Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.
Jadi kalau saudara belum datang kepada Kristus yang tersalib (menerima Dia sebagai Juruselamat kita), maka saudara tidak bisa mengharapkan Dia sebagai Gembala saudara!
Sekarang kita akan membahas tang-gung jawab kita sebagai domba yang baik :
I. DOMBA YANG BAIK HARUS MEM-PUNYAI HUBUNGAN PRIBADI DE-NGAN GEMBALA
Ayat 1 mengatakan : “…TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Dalam bagian pertama sudah saya jelaskan bahwa penyebutan “gembalaku” menunjukkan bahwa Tuhan menggembalakan kita secara pribadi. Ia menggembalakan setiap kita, pribadi lepas pribadi sehingga tidak ada satu pun dari kita yang terabaikan. Tetapi dari sudut kita sebagai domba, ini menunjukkan bahwa kita juga harus mempunyai hubungan pribadi yang intim dengan Sang Gembala itu yakni Tuhan. Ada banyak orang yang mengaku orang Kristen dan mereka percaya kepada Tuhan tetapi tidak memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. Mereka mengenal Tuhan hanya sampai pada tahapan yang pernah dilalui oleh Ayub.
Ayub 42:5 – Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
Tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengenal-Nya secara pribadi sebagaimana yang sudah dialami Ayub.
Ayub 29:4 – seperti ketika aku me-ngalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku…
Mereka mungkin hanya mengenal-Nya dalam pengertian tahu tentang Dia (dari guru Sekolah Minggu, pendeta, penginjil, orang tua, dll) tetapi tidak mengenal dalam artian memahami yang sesungguhnya. Mereka tidak memiliki pengalaman hidup bersama Dia hari lepas hari padahal pengalaman-pengalaman hidup ber-sama dengan Tuhan itu yang membuat kita bisa mengenal Tuhan secara pribadi. Anda mungkin mengenal/tahu tentang saya tetapi jika tidak memiliki relasi pribadi dengan saya, anda tidak akan dapat memahami karakter saya, hobi saya, apa yang menyenangkan saya maupun apa yang menjengkelkan saya. Demikian juga dalam hubungannya dengan Tuhan dan ingat, pengenalan pribadi semacam ini hanya bisa terjadi melalui sebuah pergaulan. Demikian juga pengenalan pribadi akan Allah hanya bisa terjadi kalau kita belajar untuk hidup bergaul dengan Allah. Lihat contoh kehidupan Nuh :
Kej 6:9 – Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.
TL – Inilah riwayat Nuh….Nuh tidak berbuat salah, dan dia satu-satunya orang yang baik pada zamannya. Ia hidup akrab dengan Allah.
KJV – These are the generations of Noah: Noah was a just man and perfect in his generations, and Noah walked with God. (= berjalan dengan Allah)
TEV – This is the story of Noah….Noah had no faults and was the only good man of his time. He lived in fellowship with God (= hidup dalam persekutuan dengan Allah)
Semua ini menunjukkan suatu relasi yang sangat intim antara Nuh dengan Allah.
Kalau begitu bagaimana caranya agar kita bisa mempunyai pergaulan yang intim dengan Allah? Caranya adalah banyak berbicara dengan Dia (berdoa). Kalau perlu berbicara dengan Dia bukan dalam suasana yang resmi dan kaku melainkan dalam suasana percakapan seperti dengan se-orang sahabat. Bahwa seseorang bisa berrelasi dengan Tuhan sebagai seorang sahabat dinyatakan dengan tegas dalam Kitab Suci
2 Taw 20:7 – Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya?
Yak 2:23 – Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.”
Yoh 15:15 – Aku tidak menyebut kamu lagi hamba,…tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
Kita juga mengenal lagu “Yesus kawan yang sejati yang menanggung dosaku…” Juga ada lagu “Sobat dari Galilea”. Semua itu menggambarkan Tuhan sebagai sahabat kita. Jadi berbicaralah dengan Tuhan sebagai sahabatmu. Ceritakanlah tentang kesedihan atau masalahmu, ceritakanlah kesenanganmu, ceritakanlah rencanamu, ceritakanlah kemajuanmu dalam iman, ce-ritakan kegagalanmu, ceritakan tentang pekerjaanmu, ceritakan tentang sakit hatimu, ceritakan juga tentang kekecewaanmu, dll. Ini semua akan membawa engkau pada tingkatan keakraban yang intim dengan Sang Gembala itu. Perhatikan sesuatu yang indah di dalam Mazmur 23 ini :
Maz 23:1-6 – (1) “…TUHAN adalah gembalaku,…. (2) Ia membaringkan aku …., Ia membimbing aku…. (3) Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku… (4) Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. (5) Engkau menyediakan hidangan bagiku,…; Engkau mengurapi kepalaku…. (6) Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidup-ku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Ayat 1 dan 6 menyebutkan nama TUHAN (YHWH). Jadi nama TUHAN (YHWH) dipakai di awal dan di akhir atau pada pembukaan dan penutupan mazmur. Ayat 2-3 meng-gunakan kata ganti orang ketiga tunggal (Ia) sebanyak 4 kali dan ayat 4-5 menggunakan kata ganti orang kedua tunggal (Engkau/Mu) sebanyak 5 kali. Ini sesuatu yang menarik terutama penggunaan bentuk ketiga tunggal (Ia) yang kemudian diganti dengan bentuk kedua tunggal (Engkau/Mu). Pada saat seseorang mempergunakan bentuk ketiga berarti ia sementara berbicara TENTANG sedangkan pada saat ia mem-pergunakan bentuk kedua berarti ia sementara berbicara DENGAN. Jadi dapat dikatakan bahwa di ayat 2-3 Daud se-mentara BERBICARA TENTANG Tuhan sebagai gembalanya tetapi dalam ayat 4-5 ia sementara BERBICARA DENGAN Tuhan se-bagai gembalanya. Ini menunjukkan bahwa Daud bukan hanya BERBICARA TENTANG TUHAN tetapi juga BERBICARA DENGAN TUHAN. Ada banyak orang saat ini yang hanya banyak BERBICARA TENTANG TUHAN tetapi sangat sedikit BERBICARA DENGAN TUHAN padahal dalam banyak BERBICARA DENGAN TUHAN itulah terletak hubungan pribadi yang intim dengan Dia.
Dalam sebuah acara yang dihadiri oleh cukup banyak orang, seorang seniman yang pandai dalam membaca puisi diminta untuk membacakan Mazmur 23. Ia pun membacakannya dengan sangat baik dan semua yang hadir memberikan tepuk tangan yang meriah kepadanya. Di tempat itu juga ada seorang tua dan ia juga diberi kesempatan untuk membaca Mazmur 23 ini. Tidak seperti seniman muda tadi yang membaca dengan gaya seni yang tinggi, pak tua ini mengangkat wajahnya sedikit ke atas seolah menatap sesuatu. Pandangan-nya jauh ke depan seolah menembus batas-batas waktu. Dengan suara perlahan mulutnya mulai mengucapkan kata-kata dalam Mazmur 23. Suasana begitu hening dan ketika ia selesai mengucapkan Mazmur ini, orang-orang yang hadir hampir se-muanya meneteskan air mata termasuk sang seniman tadi. Tiba-tiba seniman itu naik ke panggung dan ia berkomentar tentang Mazmur 23 yang dibacakan pak tua tadi. Ia berkata : “Aku mengenal Mazmur 23 ini dengan baik dan itulah sebabnya ketika aku membacakannya, anda semua memberikan tepuk tangan kepadaku. Sedangkan pak tua ini bukan hanya mengenal Mazmur 23 ini dengan baik tapi ia mengenal gembala di dalam Mazmur 23 ini dengan baik. Itulah sebabnya kita semua meneteskan air mata ketika ia mengucapkannya”. Ya, ada banyak orang Kristen mengenal Mazmur 23 ini dengan baik seperti seniman tadi tapi tidak mengenal Sang Gembala yang dibicarakan dalam Mazmur 23 itu. Per-tanyaan bagi saudara adalah apakah saudara telah memperhatikan / menekankan hubungan pribadi saudara dengan Tuhan? Saudara mungkin rajin datang dalam kebaktian. Itu semua baik! Tetapi bagaimana dengan persekutuan pribadi saudara dengan Tuhan (Saat Teduh), dll? Jadilah domba yang baik yang mempunyai relasi pribadi dengan Sang Gembala itu.
II. DOMBA YANG BAIK HARUS PUAS DENGAN APA YANG DIBERIKAN GEMBALA
Perhatikan lagi ayat 1 : “…TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Dalam bagian sebelumnya sudah dijelaskan bahwa ini menunjukkan Tuhan menggem-balakan kita dengan cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Padang yang berumput hijau dan air yang tenang adalah kebutuhan dari seekor domba. Jadi Tuhan menjanjikan kecukupan bagi kebutuhan-kebutuhan kita bukan kelimpahan akan segala sesuatu yang kita inginkan.
Dari sisi gembala, Ia berjanji mencukupi kebutuhan domba-domba-Nya tetapi dari sisi domba, domba itu harus merasa puas dengan semua yang diberikan oleh gembalanya. Masalahnya adalah ada begitu banyak domba yang tidak merasa puas dengan apa yang sudah diberikan oleh gembalanya. Akhirnya mereka hidup bukan dengan rasa syukur melainkan pengeluhan-pengeluhan dan senantiasa merasa ke-kurangan. Jadi yang menyebabkan mereka merasa kekurangan bukan karena Tuhan tidak mencukupkan kebutuhan-kebutuhan mereka melainkan karena mereka tidak pernah puas dengan apa yang sudah diberikan oleh Tuhan. Dalam hal materi misalnya, banyak orang menjadi orang-orang yang mencintai uang/harta dan cinta pada uang/harta jelas membuat orang tidak akan pernah merasa puas.
Pengkh 5:9 – “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya”.
1 Tim 6:9-10 – (9) Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang me-nenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. (10) Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah me-nyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
Dalam ayat 9-10 dikatakan bahwa : “Orang yang ingin kaya terjatuh ke dalam berbagai pencobaan….akar segala kejahatan adalah cinta uang”. Artinya adalah ketidakpuasan itu menyebabkan mereka melakukan ber-macam-macam dosa untuk mendapatkan lebih banyak uang lagi. Contoh untuk hal ini dapat kita lihat pada diri Yudas Iskariot. Dikatakan bahwa ia sering mencuri / korupsi dari kas yang dipegangnya dan pada akhirnya ia menjual Yesus demi uang. Contoh lain adalah Akhan yang mengambil barang-barang Yerikho. Gehazi yang mendustai Naaman dan Elisa demi uang / harta. Lot yang rela tinggal di tempat yang sangat jahat demi uang/harta. Bileam yang ingin menuruti Balak demi uang. Nabi-nabi palsu yang memutarbalikkan kebenaran demi uang / keuntungan materi. Para koruptor di negara kita, hakim yang membalikkan keadilan karena disuap, dll. Karena perasaan tidak puas inilah akhirnya membuat mereka beranggapan bahwa Tuhan tidak men-cukupkan kebutuhan mereka. Dan memang bahwa salah satu sifat manusia adalah selalu merasa tidak puas.
Saya pernah membaca sebuah cerita tentang seorang yang bangkrut. Ke-bangkrutannya diawali ketika ia membeli kursi baru. Ketika kursinya menjadi baru, itu tidak sepadan dengan mejanya. Karenanya ia lalu membeli meja baru. Ketika kursi meja sudah menjadi baru, itu menjadi tidak sepadan dengan isi ruangan yang lain. Ia pun membeli perabot-perabot yang baru. Ketika semua perabot menjadi baru, itu menjadi tidak sepadan dengan rumahnya. Ia lalu membangun rumah baru, dan begitulah seterusnya hingga semuanya baru dan ia bangkrut. Apa yang menyebabkan semua-nya itu? Perasaan tidak puas!
Mengapa kita sering tidak merasa puas dengan apa yang kita miliki?
a. Karena kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki.
Banyak orang sudah memiliki rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dll tetapi mereka tidak memfokuskan perhatian pada apa yang sudah mereka miliki melainkan pada apa yang belum mereka miliki (target dan keinginan) sehingga mereka terus saja merasa kurang. Karena itu mereka sering begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang men-datangkan lebih banyak uang. Mereka menginginkan ini dan itu. Dan bila tak mendapatkannya mereka terus me-mikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, mereka hanya menikmati kesenangan itu sesaat. Mereka tetap tak puas, mereka ingin yang lebih lagi. Dan begitulah seterusnya. Jadi, betapa pun banyaknya harta yang dimiliki, mereka tak pernah menjadi “kaya” dalam arti yang sesungguhnya. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apa pun yang mereka miliki.
Saya kenal seorang pengusaha di Malang yang sangat kaya. Dengan uangnya ia dapat membeli apa saja. Ia dapat membeli makanan yang paling lezat tapi sayang karena penyakit tertentu, dokter hanya mengizinkan dia untuk makan sayuran yang direbus saja. Dia bisa membeli mobil semewah apa saja. Tapi sayang karena ada masalah dengan tulang belakangnya sehingga ia tidak bisa duduk lebih dari 10 menit. Ia harus berdiri beberapa waktu dulu baru bisa duduk lagi. Lalu bagaimana ia bisa menikmati mobil mewahnya ? Itu juga membuat ia tidak bisa pergi ke mana-mana walaupun uangnya cukup untuk jalan-jalan ke seluruh dunia. Ia sangat kaya tapi tak bisa menikmati kekayaannya. Maka ia sama dengan orang miskin.
Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki dan syukurilah itu. Cobalah lihat keadaan di sekeliling anda, pikirkan yang anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.
Seorang anak penjual koran sementara menjajakan korannya di tempat pengisian bahan bakar. Tiba-tiba sebuah mobil mewah masuk dan tampak seorang anak kecil yang cantik duduk di depannya. Sambil sopirnya memesan bahan bakar, anak penjual koran ini menatap gadis cilik dalam mobil mewah itu dan ia berpikir betapa bahagianya anak gadis itu. Cantik, kaya dan tentu sangat bahagia. Keadaan itu tentu berbeda dengan dirinya yang miskin, bahkan ia tidak mempunyai cukup uang untuk membeli sandal sehingga ia telanjang kaki. Sementara ia berpikir seperti itu tiba-tiba gadis dalam mobil itu melambaikan tangan dan memanggilnya. Ia pun berlari mendekat, mengira gadis itu hendak membeli koran. Tiba-tiba gadis itu membuka kaca mobilnya dan berkata kepada penjual koran itu “Seandainya bisa, maukah engkau menggantikan aku di sini dan aku menggantikan engkau”. Anak penjual koran ini pun kaget dan berkata “Mengapa engkau katakan seperti itu? Tidakkah hidupmu bahagia? Sedangkan aku miskin dan kekurangan tak mempunyai apa-apa. Sandal saja aku tak punya”. Sebelum penjual koran ini melanjutkan kata-katanya, gadis kecil itu pun membuka pintu mobil dan penjual koran itu ternganga. Ternyata gadis itu tidak mempunyai satu buah kaki pun. Tanpa menunggu lebih lama, penjual koran ini pun lari secepatnya sambil berkata dalam hatinya “Aku mengeluh karena tidak mempunyai sandal untuk kakiku tapi orang lain sekalipun mampu membeli seribu sandal/sepatu untuk kakiknya tapi tidak mempunyai kaki. Tuhan, terima kasih untuk kaki yang sudah Engkau berikan kepadaku walaupun tanpa sandal”. Fokuskanlah perhatian anda pada apa yang anda miliki dan bukan pada apa yang anda ingin miliki. Dan berpuasalah dengan semua yang sudah Tuhan beri.
b. Karena kita cenderung membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.
Jika kita suka membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain maka kita akan merasa orang lain lebih beruntung dari kita. Kemana pun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, lebih bagus, lebih berpotensi dan lebih kaya dari kita. Pepatah berkata “rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri”. Itulah sebabnya orang sering menjadi tidak puas terhadap semua yang dimilikinya. Tuhan tahu bahayanya hal ini sehingga ia memberikan hukum ke 10 :
Kel 20:17 – Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledai-nya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.”
Berapa sering saudara menjadi tidak puas terhadap hidup saudara karena suka membandingkan diri dengan orang lain? Domba yang baik harus belajar menjadi puas dengan apa yang diberikan gembalanya. Kalau saudara sudah me-miliki kepuasan, maka yang akan lahir adalah rasa syukur dan bukanlah pe-ngeluhan-pengeluhan.
Saya pernah membaca sebuah kalimat indah dengan judul “Sebelum Anda Mengeluh”. Dikatakan demikian :
- Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali
- Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
- Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.
- Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.
- Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istrimu, pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.
- Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.
- Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pem-bantumu tidak mengerjakan tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan.
- Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
- Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa… - Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam ke-susahan, tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup !
Karena itu belajarlah untuk puas dengan semua yang sudah diberikan Tuhan kepadamu.
1 Tim 6:6-8 – (6) Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. (7) Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. (8) Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.
Kata ‘cukup’ dalam ayat 6 dan 8 oleh KJV diterjemahkan sebagai ‘puas’
KJV : ‘But godliness with contentment is great gain…. (8) And having food and raiment let us be therewith content’.
Ayat 7 berbunyi : “Sebab kita tidak mem-bawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar”.
Bandingkan ini dengan :
Ayub 1:21- “…Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’”.
Pengkh 5:14-15 – “(14) Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demi-kian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diper-olehnya dari jerih payahnya suatupun yang dapat dibawa dalam tangannya. (15) Inipun kemalangan yang me-nyedihkan. Sebagaimana ia datang, demikian pun ia akan pergi. Dan apakah keuntungan orang tadi yang telah berlelah-lelah menjaring angin?”.
Kita perlu memahami hal ini. Kita lahir dengan telanjang, tanpa membawa dan mempunyai apa-apa. Jadi, kalau sekarang kita mempunyai sesuatu, biarpun sedikit, itu sudah merupakan suatu keuntungan dan karenanya bersyukurlah ! Kita mati tanpa bisa membawa apa-apa. Jadi untuk apa mencari dan mempunyai banyak-banyak? Di surga semua itu tak ada gunanya. Kata-kata Daud : “takkan kekurangan aku” (Maz 23:1) baru akan saudara alami kalau saudara belajar menjadi puas dengan semua yang diberikan Tuhan. Jadilah puas !
Ibr 13:5-6 – (5) Janganlah kamu men-jadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (6) Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”
BIS – (5) Janganlah hidupmu dikuasai oleh cinta akan uang, tetapi hendak-lah kalian puas dengan apa yang ada padamu. Sebab Allah sudah berkata, “Aku tidak akan membiarkan atau akan meninggalkan engkau.” (6) Se-bab itu kita berani berkata, “Tuhan adalah Penolongku, aku tidak takut. Apa yang dapat manusia lakukan terhadapku?”
- AMIN -