Maz 23:1-6
Ev.Esra A Soru,STh
Dalam bagian I kita sudah membahas tentang penggembalaan Tuhan atas kita, pada bagian II kita sudah membahas tanggung jawab kita sebagai domba-domba-Nya. Dua hal yang sudah kita bahas adalah : (1) Domba yang baik harus mem-punyai hubungan pribadi dengan gembala-nya. (2) Domba yang baik harus puas dengan apa yang diberikan oleh gembala-nya. Namun demikian ada hal yang perlu saya tambahkan agar konsep “puas” ini tidak menjadikan kita menjadi orang-orang yang akhirnya tidak dapat mengembangkan diri, pasif dan statis.
Satu hal yang harus dipikirkan adalah banyak orang tidak mengalami per-kembangan dan kemajuan dalam hidupnya, kariernya, pekerjaannya, bahkan pelayannya karena mereka terlalu cepat merasa puas dengan apa yang sudah diraih dan mulai berhenti mengejar kemajuan demi ke-majuan. Saya misalnya. Kemampuan saya dalam bermain gitar pas-pasan saja padahal saya sudah bisa bermain gitar sejak duduk di kelas 2 SD. Dilihat dari segi waktu seharusnya saya sekarang sudah bisa menjadi pakar dalam urusan bermain gitar. Tapi mengapa kemampuan saya pas-pasan saja? Karena saya cepat merasa puas. Jadi letak ke-salahannya adalah terlalu cepat merasa puas dengan apa yang sudah dicapai.
Kalau begitu kita “rasa puas” itu se-benarnya adalah sesuatu yang positif atau negatif? Bukankah dalam bagian II justru kita diajar untuk menjadi puas dengan apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita? Ini sama sekali tidak bertentangan! Intinya adalah kita harus tahu kapan harus menjadi puas dan bersyukur dan kapan tidak boleh puas dan menjadi statis. Jikalau apa yang kita inginkan itu hanya sekedar untuk memuaskan hawa nafsu dan egoisme manusia, maka kita harus belajar untuk menjadi puas dengan semua yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Tetapi jikalau keinginan bahkan ambisi itu bermuara kepada kemuliaan Tuhan, maka kita tidak boleh cepat menjadi puas. Terlalu cepat puas mungkin saja menjadi dosa. Kedua hal ini dapat berjalan beriringan. Kalau anda diberi suara yang bagus untuk menyanyi, syukuri itu tapi jangan dulu puas jikalau kemampuan itu masih bisa di-tingkatkan lagi (tentunya untuk kemuliaan Tuhan). Jikalau sudah tidak bisa ditingkatkan lagi (mencapai klimaks) maka syukuri itu dan puaslah dengan itu. Demikian juga dalam hal pekerjaan/usaha, potensi diri, karunia rohani seperti berkhotbah, mengajar, dll. Di sini dibutuhkan hikmat untuk mengetahui kapan menjadi puas dan kapan jangan cepat puas. Semuanya harus dikendalikan oleh kehendak Tuhan dengan tujuan kemuliaan-Nya dan bukan kemuliaan diri sendiri yang bersifat egosentris dan pemuasan nafsu belaka. Intinya adalah jangan dulu puas kalau itu membawa kemuliaan bagi Tuhan. Dan puaslah kalau itu juga membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.
Sekarang kita akan melanjutkan pem-bahasan kita tentang tanggung jawab kita sebagai domba. (Bagian I dan II sudah dibahas dalam bagian sebelumnya).
III. DOMBA YANG BAIK HARUS MAU DI-PIMPIN OLEH GEMBALA
Domba yang baik harus mau dipimpin oleh gembalanya. Ini nampak dari ayat 3.
Maz 23:3 – Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
‘Ia menuntun aku di jalan yang benar’ menunjukkan apa yang dibuat oleh sang gembala kepada dombanya tetapi sebagai domba kita harus mempunyai kesediaan / kerelaan untuk dituntun / dipimpin di jalan yang benar itu. Bandingkan ini dengan :
Yoh 10:3, 4, 14, 27 – (3) Untuk dia pen-jaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya ma-sing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. (4) Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. (14) Aku-lah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku (27) Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa domba harus mendengar suara gembala dan mengikutinya / mentaatinya. Di bagian I sudah saya jelaskan bahwa “tuntunan” dari gembala yang dibicarakan dalam ayat 3 ini berkaitan dengan masalah kesesatan. ‘Jalan yang benar’ di sini sebagai kontras dengan ‘jalan yang sesat’. Bandingkan dengan terjemahan BCL di bawah ini :
The Bible In Contemporary Language (BCL) : rue to your word, you let me catch my breath and send me in the right direction (menuntun aku dalam arah/bimbingan/jurusan yang benar).
Jadi sebagai gembala kita, Tuhan senantiasa menjaga domba-domba-Nya sehingga ja-ngan ada yang tersesat di tengah begitu banyak arus kesesatan.
Meskipun demikian sesuai dengan prinsip keseimbangan antara providensia Allah dan tanggung jawab manusia maka sebagai domba Tuhan kita juga harus berusaha untuk tidak disesatkan. Dengan cara apa? Dengan cara mau dipimpin / dituntun oleh Sang Gembala itu. Kesesatan yang dibicarakan Alkitab biasanya berkaitan dengan masalah pengajaran
Ibr 13:9 – Janganlah kamu disesatkan oleh berbagai-bagai ajaran asing….’
2 Pet 2:1 – Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, …”
Karena itu supaya kita tidak tersesat, kita harus mau untuk diajar dengan ajaran yang benar sesuai Firman Tuhan/Kitab Suci.
Mat 22:29 – Yesus menjawab mereka: “Kamu sesat, sebab kamu tidak me-ngerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!
Karenanya jangan hanya puas hanya karena saudara sudah beriman kepada Yesus. Itu baru first step dalam tahapan pengenalan kepada Tuhan. Saudara harus bertumbuh dalam pengetahuan akan Firman Tuhan juga.
2 Pet 1:5-9 – “(5) Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh ber-usaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, (6) dan kepada pengetahuan penguasaan diri, ke-pada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, (7) dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. (8) Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalan-mu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. (9) Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapus-kan”.
Jadi untuk keselamatan memang hanya butuh iman saja tetapi untuk pengenalan yang lebih dalam kepada Tuhan dan terhindar dari kesesatan maka pengetahuan mutlak diperlukan / ditambahkan kepada iman. Kata-kata Yesus “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci” (Mat 22:29) sangat tepat. Berapa banyak orang yang karena tidak mengerti Kitab Suci menjadi tersesat? Contoh nyata untuk ini adalah adanya begitu banyak orang dari NTT yang tertipu oleh Mangapin Sibuea yang mengatakan bahwa Yesus akan datang tanggal 10 November 2003 yang lalu di mana menjual harta bendanya dan pergi menunggu Tuhan di Baleendah Bandung. Kalau saja orang mengerti Kitab Suci bahwa kedatangan Yesus yang kedua kalinya tidak bisa diketahui, mereka tidak akan termakan oleh tipu daya Mangapin Sibuea.
Mat 24:36, 44 – “(36) Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.’ … (44) Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.’”.
Contoh lain adalah adanya begitu banyak orang yang tertipu dengan penglihatan-penglihatan palsu dari Pdt. Yesaya Pariadji? Simak kata-kata Pdt. Yesaya Pariadji berikut ini :
Pdt. Yesaya Pariadji : “Saya diperlihatkan orang-orang yang masuk neraka, begitu mengerikan orang-orang yang berdosa dicabik-cabik dan diterkam setan-setan, dibawa ke neraka. Tuhan Yesus memandang wajah saya dan memperhatikan apa reaksi saya ter-hadap orang-orang yang meraung, terhadap orang-orang yang sangat menderita, dijarah dan dikeroyok setan-setan, dibawa ke neraka” – ‘Majalah Tiberias’, Edisi III / Tahun I, hal 7.
Kalau saja orang mengerti Kitab Suci bahwa saat ini setan belum ada di neraka dan kalau saja kita mengerti Kitab Suci bahwa kalau masuk neraka nanti setan yang disiksa bukan setan yang menyiksa maka kita tidak akan ditipu oleh pengajaran palsu dari Yesaya Pariadji ini.
Mat 8:29b – “Adakah Engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktu-nya?”.
Jadi mengapa orang bisa tersesat ? Karena mereka tidak mengerti Kitab Suci !
Selain itu juga, ada banyak orang juga setelah percaya kepada Yesus langsung giat di dalam pelayanan hanya dengan me-ngandalkan karunia-karunia roh yang spek-takuler dan pengalaman-pengalaman ro-hani saja. Itu baik tetapi tanpa diimbangi dengan pengetahuan Firman Tuhan yang memadai maka mereka akan gampang disesatkan atau bahkan menjadi penyesat.
Ams 19:2 – Tanpa pengetahuan kerajin-an pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.
CEV – Willingness and stupidity don’t go well together. If you are too eager, you will miss the road. (Kemauan dan kebodohan tidak dapat berjalan ber-sama. Jika engkau sangat tidak sabar, engkau akan kehilangan arah/jalan).
TEV – Enthusiasm without knowledge is not good; impatience will get you into trouble. (Antusiasme tanpa pengetahu-an tidak baik. Ketidaksabaran akan membawa engkau kepada kekacau-an)
Lebih celaka lagi ada banyak orang yang terjun dalam pelayanan khotbah dan mengajar padahal mereka sendiri tidak mau belajar atau memiliki pengetahuan yang memadai. Yang seperti ini bukan hanya bisa sesat tapi bisa menjadi penyesat.
1 Tim 1:6-7 – (6) Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia. (7) Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti per-kataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan.
Itulah sebabnya domba yang baik harus mau dituntun Tuhan. Tuhan menuntun kita lewat firman-Nya dan karenanya kita harus mau belajar firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Sayangnya hari ini hampir 90% gereja tidak memberikan pengajaran firman Tuhan (doktrin-doktrin Kristen) dengan baik. Hampir 100% berita mimbar hanyalah persoalan-persoalan moral belaka dan ini mengakibatkan jemaat tidak bertumbuh dalam pengetahuan firman yang baik akan dasar-dasar kekristenan. Itulah sebabnya saya mendirikan Revival Ministry, Sekolah Teologia (STA) “Pelangi Kasih”, melakukan siaran radio “Kutahu Yang Kupercaya” dan “Revival Voice”, menulis di koran-koran, menerbitkan buku-buku dan mempublikasi-kan CD khotbah, menulis lewat internet, dll. Semua itu untuk melengkapi jemaat dalam pengajaran Firman Tuhan yang ketat. Karena itu jangan malas kalau mendengar Firman Tuhan (walaupun lama). Ikuti Pemahaman Alkitab yang sudah kita adakan. Ikuti kelas STA “Pelangi Kasih”. Ajaklah orang lain untuk ikut belajar/kebaktian/PA, dll. Dengan me-lakukan itu maka saudara akan dibekali dengan pengajaran yang sehat dan tidak akan tersesat. Ingat, anda dapat me-ngetahui dengan cepat uang palsu itu seperti apa kalau anda tahu uang asli seperti apa. Demikian juga anda akan tahu mana ajaran yang palsu dan menyesatkan kalau anda sudah tahu mana ajaran yang benar. Ingat pula bahwa hanya ada 2 pilihan bagi saudara : tekun belajar Firman Tuhan atau tersesat!
IV. DOMBA YANG BAIK HARUS PER-CAYA, BERHARAP & BERSANDAR PADA GEMBALA
Sikap lain yang harus dimiliki oleh domba yang baik adalah percaya, berharap dan bersandar pada Sang Gembala itu. Domba yang baik harus percaya ke-butuhannya akan terpenuhi, ia tidak akan, bukan karena ia melihat banyak rumput dan air, tetapi karena ia melihat gembalanya. Banyak orang memang yakin bahwa ia tidak akan kekurangan. Tetapi alasannya salah. Misalnya karena orang tuanya kaya raya, karena depositonya di bank banyak, karena mempunyai pekerjaan yang baik, dll. Ini semua salah! Saudara harus yakin bahwa saudara tidak akan kekurangan karena Tuhan adalah gembala saudara!
Saudara mungkin yakin bahwa sau-dara tak mungkin tersesat. Tetapi mengapa yakin? Karena pendeta saudara orang yang hebat? Ini salah! Ayat 2-3 memberikan jawaban yaitu karena Tuhanlah yang mem-bimbing / menuntun saudara.
Maz 23-3 – “… Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Karena saudara adalah orang yang rajin belajar Firman Tuhan dan setia kepada Tuhan? Ini juga salah! Dalam ayat 3 ada kata-kata ‘oleh karena namaNya’.
Maz 23-3 – “… Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
New Century Version (NCV) - ‘…He leads me on paths that are right for the good of his name (untuk kebaikan nama-Nya).
New English Translation Bible (NETB) – “…He leads me down the right paths for the sake of his reputation (demi reputasi-Nya).
Maksudnya adalah Tuhan menjaga / menuntun kita karena semua itu berimbas pada kebaikan / reputasi-Nya. Ia dikenal sebagai Gembala yang baik. Jikalau ada domba yang sampai hilang/tersesat maka rupatasi dari gembala yang baik itu akan rusak. “Apa kata dunia?” Tuhan sudah berjanji bahwa Ia akan menjaga domba-domba-Nya dan Ia pasti melakukan itu karena Ia sementara mempertaruhkan reputasi-Nya di sana. Jadi Tuhan memimpin kita karena diri-Nya sendiri. Alasan mengapa ia memimpin kita terletak bukan pada diri kita, tetapi pada diri-Nya sendiri!
Saudara yakin takkan hancur / celaka dalam kesukaran / bahaya. Tetapi mengapa yakin? Jangan yakin hal itu karena kekuatan saudara sendiri atau pun kekuatan orang lain. Ayat 4 memberikan dasar keyakinan yang benar :
Maz 23:4 – Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Jadi ‘Engkau’, ‘gada’, ‘tongkat’ inilah yang melindungi domba. Kalau saudara menjadi domba yang matanya terus diarahkan kepada gembala (selalu bersandar dan berharap kepada Tuhan), maka saudara akan merasa aman! Rasa aman ini terlihat dari :
Ayat 4 : domba itu ‘berjalan’ dalam lem-bah bayang-bayang maut.
Maz 23:4 – Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, …”
Perhatikan bahwa ia bukannya lari terkencing-kencing karena ketakutan, tetapi berjalan dengan santai! Banding-kan ini dengan :
Ams 28:1 – “Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda”.
Maz 27:1 – ‘…TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, ke-pada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?
Maz 46:2-4 – (2) Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai pe-nolong dalam kesesakan sangat terbukti. (3) Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gu-nung-gunung goncang di dalam laut; (4) sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.
Ayat 5 : ia bisa makan dengan santai padahal ada musuh. Ia merasa aman di tengah-tengah bahaya / musuh.
Maz 23:5 – “Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; …’
Jadi semua rasa takut akan hilang kalau mata iman saudara diarahkan kepada Sang Gembala itu! Tapi persoalannya adalah maukah saudara mengarahkan mata sau-dara kepada Sang Gembala itu dalam hari-hari hidupmu?
- AMIN -